






Kenaikan harga emas 2025 menyita perhatian banyak investor. Pada awal Januari 2025, harga emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat dijual seharga Rp1.553.000 per gram. Namun per 31 Desember 2025, harga emas tersebut melonjak hingga Rp2.501.000 per gram. Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga sebesar sekitar 61,04% dalam waktu satu tahun. Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan, jika emas sudah bertumbuh signifikan di 2025, instrumen investasi apa saja yang berpotensi memberikan imbal hasil menarik di tahun 2026?
Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025, dengan kenaikan sekitar 22,13% sepanjang tahun. IHSG juga menutup akhir tahun di level 8.646,94, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ath) di level 8.778,73 pada 11 Desember 2025. Kinerja ini mencerminkan ketahanan pasar saham domestik sekaligus membuka peluang bagi investor untuk menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi investasi di tahun 2026.
Di sisi lain, berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang disepakati Pemerintah dan DPR, ada sejumlah catatan yang telah ditetapkan untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan perekonomian Indonesia di tahun 2026, di antaranya:
Apabila kondisi di atas terealisasi, kondisi makro cenderung kondusif, rupiah tidak terlalu terdepresiasi, inflasi terkendali, suku bunga stabil, dan permintaan dalam negeri bisa dibantu oleh dorongan belanja pemerintahan serta anggaran publik.
Selain kondisi ekonomi, proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menjadi acuan bagi investor di Indonesia dalam merencanakan strategi investasi. Berdasarkan riset terbaru dari J.P. Morgan, salah satu institusi keuangan global yang berbasis di Amerika Serikat, proyeksi IHSG di akhir 2026 menunjukkan beberapa skenario:
Dalam skenario dasar, IHSG diperkirakan mencapai sekitar 9.100. Skenario ini didorong oleh beberapa faktor sebagai berikut:
Dalam skenario bullish atau optimistis, IHSG diperkirakan bisa menembus angka 10.000. Faktor pendukung untuk skenario ini meliputi:
Dalam skenario bearish atau downside, IHSG diperkirakan dapat tertekan hingga 7.800. Faktor-faktor yang mendukung skenario ini antara lain:
Melihat kondisi ekonomi dan proyeksi IHSG di 2026 yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa kelas aset yang layak dipertimbangkan untuk tahun 2026, sesuai dengan skenario:
Apabila skenario optimis atau moderat terjadi, sektor saham berikut dapat menjadi pilihan:
Hal ini mendukung permintaan domestik yang terus meningkat dan berpotensi menggerakkan perekonomian. Selain itu, margin bunga yang stabil akan semakin memperkuat kinerja sektor perbankan.
Kebijakan moneter Bank Indonesia yang diperkirakan tetap dovish, dengan menjaga suku bunga tetap rendah, akan mendukung sektor ini dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan kredit yang lebih besar. Dengan situasi ini, sektor perbankan memiliki potensi yang baik untuk terus berkembang sepanjang 2026.
Selain itu, stabilitas harga dan peningkatan aktivitas ekonomi domestik akan mendukung kinerja emiten konsumsi, khususnya yang memiliki brand positioning yang kuat, jaringan distribusi luas, dan kemampuan menjaga margin keuntungan. Pemilihan saham sebaiknya dilakukan secara selektif dan berdasarkan analisis fundamental yang mendalam.
Bagi Anda yang mengutamakan kestabilan dan pendapatan tetap dalam portofolio investasi, obligasi dapat menjadi pilihan strategis di tahun 2026. Instrumen obligasi bisa jadi pilihan, khususnya obligasi pemerintah dan obligasi korporasi yang memiliki fundamental kuat serta peringkat kredit (credit rating) yang baik, dengan pertimbangan sebagai berikut:
Jika Bank Indonesia mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan, maka harga obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya akan mengalami kenaikan. Hal ini menciptakan potensi capital gain bagi Anda yang membeli obligasi pada periode suku bunga tinggi.
Dalam memilih obligasi, aspek fundamental penerbit sangat penting. Obligasi pemerintah memiliki risiko gagal bayar yang sangat rendah dan sering disebut sebagai instrumen investasi risk-free rate atau bebas risiko. Sementara itu, obligasi korporasi dari emiten bereputasi tinggi dengan investment grade tinggi juga dapat dipertimbangkan.
Dengan inflasi yang diperkirakan terjaga di sekitar 2,5%, daya beli kupon obligasi yang diterima oleh investor tetap akan terjaga. Jika inflasi tetap berada dalam target pemerintah, imbal hasil riil dari obligasi akan tetap menarik, terutama bagi investor konservatif.
Jika Anda tidak memiliki waktu, pengetahuan, atau sumber daya untuk menganalisis satu per satu saham, maka reksa dana merupakan aset investasi yang bisa dipertimbangkan pada tahun 2026. Melalui reksa dana, dana Anda dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang melakukan diversifikasi dan pengelolaan aset.
Tahun 2026 diprediksi akan tetap menghadirkan dinamika ekonomi, oleh karena itu pemilihan jenis reksa dana sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, serta proyeksi kondisi pasar. Berikut adalah empat jenis reksa dana yang dapat Anda pertimbangkan:
Reksa dana saham mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan ke instrumen saham, sehingga memiliki potensi imbal hasil yang tinggi, namun juga disertai volatilitas yang lebih besar. Perlu dicatat bahwa tidak semua reksa dana saham akan mencatatkan kinerja optimal di 2026, karena hasil investasi sangat dipengaruhi oleh pemilihan sektor dan saham dalam portofolio.
Pada 2026, reksa dana saham yang berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik adalah yang memiliki eksposur lebih besar pada sektor-sektor dengan prospek pertumbuhan positif, seperti perbankan, konsumsi, dan komoditas logam. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat return historis, tetapi juga mencermati:
Reksa dana saham lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko agresif dengan horizon investasi jangka panjang, untuk mendapatkan potensi pertumbuhan nilai investasi.
Reksa dana ini mengalokasikan dana secara proporsional ke tiga jenis aset seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Maksimal 79% untuk masing-masing jenis aset dari total portofolio. Jadi, reksa dana campuran cocok untuk Anda yang memiliki profil risiko moderat dan tujuan jangka menengah hingga panjang. Di 2026, reksa dana campuran yang berpotensi memberikan kinerja lebih optimal adalah reksa dana yang:
Produk reksa dana ini cocok bagi investor dengan profil risiko moderat, yang menginginkan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas dalam jangka menengah hingga panjang.
Produk reksa dana ini mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan pada surat utang atau obligasi, sehingga cocok bagi Anda yang ingin imbal hasil lebih tinggi dibanding pasar uang, namun tetap menjaga volatilitas pada tingkat moderat.
Selain itu, reksa dana obligasi dapat digunakan sebagai instrumen diversifikasi portofolio untuk membantu meminimalisir risiko, karena pergerakan nilainya cenderung stabil dibandingkan instrumen lainnya.
Apabila di tahun 2026 suku bunga diproyeksi berlanjut turun, reksa dana pendapatan tetap berpotensi memberikan imbal hasil yang cukup baik, terutama dari sisi capital gain atau kenaikan nilai asetnya.
Kenaikan signifikan harga emas di 2025 memberikan pelajaran bahwa peluang investasi dapat datang dari sektor yang tak terduga. Untuk di tahun 2026, Anda bisa menyusun strategi investasi berdasarkan skenario pasar yang mungkin terjadi. IHSG diprediksi tetap tumbuh, meski dengan dinamika yang bergantung pada kondisi ekonomi domestik dan global.
Pada akhirnya, perencanaan tetap menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian pasar di tahun mendatang. Apabila Anda ingin diversifikasi, reksa dana pendapatan tetap seperti Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A bisa menjadi pilihan. Berdasarkan data per 02 Januari 2026, reksa dana ini memiliki return 9,81% dalam 1 tahun terakhir.
Pastikan Anda berinvestasi melalui Makmur, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh produk reksa dana dan MI yang ada di Makmur sudah dikurasi secara profesional.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Pada Januari 2026, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tercatat mengalami defisit. Berdasarkan pengumuman Kementerian Keuangan pada 23 Februari 2026, pendapatan negara tercatat sebesar Rp172,7 triliun dan belanja negara sebesar Rp227,3 triliun. Selisih tersebut menghasilkan defisit sebesar Rp54,6 triliun atau setara 0,21% terhadap produk domestik bruto (PDB). Gambar 1. Realisasi APBN per Januari […]
Key Takeaways: Ketika terjadi trading halt di pasar saham, tidak sedikit investor yang merasa cemas dan bingung menentukan langkah selanjutnya. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa trading halt merupakan penghentian sementara perdagangan saham di bursa efek dalam jangka waktu tertentu. Meski kerap menimbulkan rasa panik, pemahaman yang baik mengenai trading halt, penyebabnya, […]
Key Takeaways: Ketika berinvestasi saham, penting untuk memahami karakteristik jenis saham yang Anda beli karena setiap saham memiliki potensi imbal hasil yang berbeda, khususnya antara saham growth dan saham value. Di Indonesia, saham growth merupakan saham dari perusahaan yang menunjukkan pertumbuhan laba bersih di atas rata-rata industri atau terus melakukan ekspansi secara agresif. Sebaliknya, saham […]
Key Takeaways: Banyak investor yang ingin membeli saham kerap tidak menyadari adanya notasi khusus yang diberikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Notasi tersebut merupakan simbol atau kode yang digunakan untuk mengidentifikasi saham suatu perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Notasi ini sangat penting karena memudahkan investor dalam melakukan transaksi jual beli saham serta memudahkan pengawasan […]
Key Takeaways: Dalam berinvestasi pada reksa dana, banyak investor yang lebih fokus pada return atau imbal hasil yang dapat diperoleh. Meskipun return merupakan salah satu pertimbangan utama, penting untuk tidak mengabaikan aspek risiko yang menyertainya. Risiko pada reksa dana dapat berasal dari berbagai faktor yang memengaruhi kinerja investasi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai […]
Key Takeaways: Keberhasilan dalam berinvestasi saham melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah menilai apakah saham dengan free float rendah layak untuk investasi jangka panjang. Free float saham merujuk pada jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka, yang tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali ataupun pihak korporasi. Saham dengan free float rendah dapat memengaruhi […]