Artikel

Emas Naik Signifikan di 2025, Instrumen Investasi Apa yang Berpotensi di 2026?

author
Content Management
author
05 Januari 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Kenaikan signifikan harga emas di 2025 menunjukkan bahwa aset safe haven tetap memiliki daya tarik.
  • Proyeksi IHSG 2026 terbagi dalam tiga skenario, optimis, moderat, dan konservatif, bergantung pada stabilitas makroekonomi domestik, kebijakan suku bunga, serta kondisi pasar global. 
  • Sektor saham yang berpotensi mencatatkan kinerja positif di 2026 mencakup perbankan, komoditas logam, dan konsumsi.
  • Obligasi menjadi pilihan instrumen investasi untuk diversifikasi, cocok untuk Anda yang mengutamakan stabilitas.

Kenaikan harga emas 2025 menyita perhatian banyak investor. Pada awal Januari 2025, harga emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tercatat dijual seharga Rp1.553.000 per gram. Namun per 31 Desember 2025, harga emas tersebut melonjak hingga Rp2.501.000 per gram. Kenaikan ini mencerminkan lonjakan harga sebesar sekitar 61,04% dalam waktu satu tahun. Fenomena ini menimbulkan satu pertanyaan, jika emas sudah bertumbuh signifikan di 2025, instrumen investasi apa saja yang berpotensi memberikan imbal hasil menarik di tahun 2026? 

Proyeksi IHSG di 2026

Indeks harga saham gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja yang solid sepanjang 2025, dengan kenaikan sekitar 22,13% sepanjang tahun. IHSG juga menutup akhir tahun di level 8.646,94, setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ath) di level 8.778,73 pada 11 Desember 2025. Kinerja ini mencerminkan ketahanan pasar saham domestik sekaligus membuka peluang bagi investor untuk menjadikannya sebagai salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi investasi di tahun 2026.

Di sisi lain, berdasarkan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang disepakati Pemerintah dan DPR, ada sejumlah catatan yang telah ditetapkan untuk mendukung perencanaan dan pengelolaan perekonomian Indonesia di tahun 2026, di antaranya:

  • Nilai tukar rupiah dipatok di sekitar Rp16.500 per dolar AS.
  • Target pertumbuhan ekonomi 2026 ditetapkan di angka 5,4% year-on-year (yoy).
  • Inflasi diasumsikan terjaga di sekitar 2,5%.
  • Yield Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun dipatok di sekitar 6,9%.
  • Pendapatan negara dalam RAPBN 2026 ditargetkan meningkat, bisa mencapai Rp3.153,6 triliun.

Apabila kondisi di atas terealisasi, kondisi makro cenderung kondusif, rupiah tidak terlalu terdepresiasi, inflasi terkendali, suku bunga stabil, dan permintaan dalam negeri bisa dibantu oleh dorongan belanja pemerintahan serta anggaran publik.

Selain kondisi ekonomi, proyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menjadi acuan bagi investor di Indonesia dalam merencanakan strategi investasi. Berdasarkan riset terbaru dari J.P. Morgan, salah satu institusi keuangan global yang berbasis di Amerika Serikat, proyeksi IHSG di akhir 2026 menunjukkan beberapa skenario:

1. Skenario dasar (base scenario)

Dalam skenario dasar, IHSG diperkirakan mencapai sekitar 9.100. Skenario ini didorong oleh beberapa faktor sebagai berikut:

  • Pemulihan ekonomi domestik yang didukung oleh pertumbuhan sektor konsumsi dan infrastruktur, serta perekonomian yang tumbuh sekitar 5,4% pada 2026.
  • Peningkatan kinerja emiten, dengan laba bersih dan pendapatan yang tumbuh moderat. Hal ini didukung oleh basis tahun 2025 yang relatif rendah, sehingga memberikan ruang untuk rebound kinerja emiten.
  • Kebijakan fiskal pemerintah yang meningkat, termasuk belanja publik yang mendorong konsumsi domestik dan memperkuat permintaan terhadap saham di sektor-sektor tertentu.
  • Sentimen global yang stabil, seperti tidak adanya ketegangan geopolitik besar dan inflasi yang terkendali, memberikan suasana yang mendukung pertumbuhan pasar saham.
  • Pelonggaran kebijakan moneter dari Bank Indonesia (BI), yang diperkirakan dapat menjaga suku bunga tetap rendah untuk mendorong likuiditas dan investasi.

2. Skenario moderat (bullish scenario)

Dalam skenario bullish atau optimistis, IHSG diperkirakan bisa menembus angka 10.000. Faktor pendukung untuk skenario ini meliputi:

  • Kebijakan moneter dan fiskal yang mendukung, dengan suku bunga domestik tetap rendah meskipun tidak ada stimulus moneter besar, memberikan dukungan terhadap pertumbuhan pasar saham.
  • Pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) yang moderat namun tetap positif, seiring dengan profitabilitas yang terjaga meskipun margin keuntungan sedikit menurun.
  • Rebound ekonomi domestik dan global yang lebih kuat, diikuti oleh peningkatan konsumsi dan belanja publik yang lebih besar.
  • Stabilitas politik dan ekonomi domestik, yang memberikan kepercayaan lebih kepada investor, serta mendorong aliran modal masuk.
  • Skenario bullish ini melihat IHSG berpotensi mencapai level 10.000, jika seluruh faktor ini tercapai dan mendukung pasar saham.

3. Skenario konservatif (bear scenario)

Dalam skenario bearish atau downside, IHSG diperkirakan dapat tertekan hingga 7.800. Faktor-faktor yang mendukung skenario ini antara lain:

  • Tekanan eksternal, seperti melemahnya harga komoditas, yang dapat memengaruhi sektor-sektor tertentu yang bergantung pada ekspor dan harga bahan baku.
  • Krisis geopolitik atau ketegangan global, yang dapat menambah ketidakpastian dan menyebabkan arus keluar modal dari pasar saham Indonesia.
  • Kenaikan suku bunga global, yang berpotensi mengurangi daya tarik pasar saham Indonesia, terutama di sektor yang sangat bergantung pada likuiditas dan biaya pinjaman.
  • Fluktuasi nilai tukar rupiah yang bisa menekan kepercayaan investor domestik dan asing.

Instrumen Investasi Potensial di 2026

Melihat kondisi ekonomi dan proyeksi IHSG di 2026 yang sudah dijelaskan sebelumnya, ada beberapa kelas aset yang layak dipertimbangkan untuk tahun 2026, sesuai dengan skenario:

1. Saham sektor tertentu

Apabila skenario optimis atau moderat terjadi, sektor saham berikut dapat menjadi pilihan:

  • Sektor keuangan, khususnya saham perbankan, berpotensi diuntungkan dari lanjutnya penurunan suku bunga pada 2026, seiring dengan konsensus yang diperkirakan oleh Bloomberg. Jika suku bunga tetap rendah, maka pertumbuhan kredit akan berpotensi meningkat. Selain itu, valuasi saham perbankan, terutama big-banks masih menarik dan dividend yield yang kompetitif, sehingga memiliki daya tarik bagi investor. 

Hal ini mendukung permintaan domestik yang terus meningkat dan berpotensi menggerakkan perekonomian. Selain itu, margin bunga yang stabil akan semakin memperkuat kinerja sektor perbankan. 

Kebijakan moneter Bank Indonesia yang diperkirakan tetap dovish, dengan menjaga suku bunga tetap rendah, akan mendukung sektor ini dalam memanfaatkan peluang pertumbuhan kredit yang lebih besar. Dengan situasi ini, sektor perbankan memiliki potensi yang baik untuk terus berkembang sepanjang 2026.

  • Sektor komoditas logam diperkirakan tetap menarik pada 2026 seiring potensi berlanjutnya pemangkasan suku bunga global dan ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung. Kondisi tersebut mendorong permintaan aset lindung nilai, khususnya emas, yang juga didukung oleh pembelian berkelanjutan dari bank sentral, terutama negara berkembang, sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa. Faktor tersebut menjadikan sektor komoditas logam layak dipertimbangkan dalam strategi diversifikasi investasi.
  • Sektor konsumsi, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang terjaga, serta dukungan kebijakan suku bunga yang mendukung. Kondisi ini berpotensi menjaga dan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga mendorong permintaan terhadap barang dan jasa konsumsi. 

Selain itu, stabilitas harga dan peningkatan aktivitas ekonomi domestik akan mendukung kinerja emiten konsumsi, khususnya yang memiliki brand positioning yang kuat, jaringan distribusi luas, dan kemampuan menjaga margin keuntungan. Pemilihan saham sebaiknya dilakukan secara selektif dan berdasarkan analisis fundamental yang mendalam.

2. Obligasi 

Bagi Anda yang mengutamakan kestabilan dan pendapatan tetap dalam portofolio investasi, obligasi dapat menjadi pilihan strategis di tahun 2026. Instrumen obligasi bisa jadi pilihan, khususnya obligasi pemerintah dan obligasi korporasi yang memiliki fundamental kuat serta peringkat kredit (credit rating) yang baik, dengan pertimbangan sebagai berikut:

  • Suku bunga stabil atau menurun

Jika Bank Indonesia mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga acuan, maka harga obligasi yang telah diterbitkan sebelumnya akan mengalami kenaikan. Hal ini menciptakan potensi capital gain bagi Anda yang membeli obligasi pada periode suku bunga tinggi.

  • Risiko gagal bayar yang rendah

Dalam memilih obligasi, aspek fundamental penerbit sangat penting. Obligasi pemerintah memiliki risiko gagal bayar yang sangat rendah dan sering disebut sebagai instrumen investasi risk-free rate atau bebas risiko. Sementara itu, obligasi korporasi dari emiten bereputasi tinggi dengan investment grade tinggi juga dapat dipertimbangkan.

  • Inflasi yang terkendali

Dengan inflasi yang diperkirakan terjaga di sekitar 2,5%, daya beli kupon obligasi yang diterima oleh investor tetap akan terjaga. Jika inflasi tetap berada dalam target pemerintah, imbal hasil riil dari obligasi akan tetap menarik, terutama bagi investor konservatif.

3. Reksa dana 

Jika Anda tidak memiliki waktu, pengetahuan, atau sumber daya untuk menganalisis satu per satu saham, maka reksa dana merupakan aset investasi yang bisa dipertimbangkan pada tahun 2026. Melalui reksa dana, dana Anda dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang melakukan diversifikasi dan pengelolaan aset.

Tahun 2026 diprediksi akan tetap menghadirkan dinamika ekonomi, oleh karena itu pemilihan jenis reksa dana sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, serta proyeksi kondisi pasar. Berikut adalah empat jenis reksa dana yang dapat Anda pertimbangkan:

  • Reksa dana saham

Reksa dana saham mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan ke instrumen saham, sehingga memiliki potensi imbal hasil yang tinggi, namun juga disertai volatilitas yang lebih besar. Perlu dicatat bahwa tidak semua reksa dana saham akan mencatatkan kinerja optimal di 2026, karena hasil investasi sangat dipengaruhi oleh pemilihan sektor dan saham dalam portofolio.

Pada 2026, reksa dana saham yang berpotensi mencatatkan kinerja lebih baik adalah yang memiliki eksposur lebih besar pada sektor-sektor dengan prospek pertumbuhan positif, seperti perbankan, konsumsi, dan komoditas logam. Oleh karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat return historis, tetapi juga mencermati:

  • Komposisi sektor dalam portofolio.
  • Konsistensi kinerja manajer investasi.
  • Strategi pengelolaan yang adaptif terhadap siklus ekonomi.

Reksa dana saham lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko agresif dengan horizon investasi jangka panjang, untuk mendapatkan potensi pertumbuhan nilai investasi.

  • Reksa dana campuran

Reksa dana ini mengalokasikan dana secara proporsional ke tiga jenis aset seperti saham, obligasi, dan pasar uang. Maksimal 79% untuk masing-masing jenis aset dari total portofolio. Jadi, reksa dana campuran cocok untuk Anda yang memiliki profil risiko moderat dan tujuan jangka menengah hingga panjang. Di 2026, reksa dana campuran yang berpotensi memberikan kinerja lebih optimal adalah reksa dana yang:

  • Memiliki alokasi saham pada sektor prospektif.
  • Dikombinasikan dengan obligasi rating tinggi.
  • Fleksibel dalam menyesuaikan porsi aset sesuai kondisi pasar.

Produk reksa dana ini cocok bagi investor dengan profil risiko moderat, yang menginginkan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas dalam jangka menengah hingga panjang.

  • Reksa dana pendapatan tetap

Produk reksa dana ini mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan pada surat utang atau obligasi, sehingga cocok bagi Anda yang ingin imbal hasil lebih tinggi dibanding pasar uang, namun tetap menjaga volatilitas pada tingkat moderat. 

Selain itu, reksa dana obligasi dapat digunakan sebagai instrumen diversifikasi portofolio untuk membantu meminimalisir risiko, karena pergerakan nilainya cenderung stabil dibandingkan instrumen lainnya. 

Apabila di tahun 2026 suku bunga diproyeksi berlanjut turun, reksa dana pendapatan tetap berpotensi memberikan imbal hasil yang cukup baik, terutama dari sisi capital gain atau kenaikan nilai asetnya.

Kenaikan signifikan harga emas di 2025 memberikan pelajaran bahwa peluang investasi dapat datang dari sektor yang tak terduga. Untuk di tahun 2026, Anda bisa menyusun strategi investasi berdasarkan skenario pasar yang mungkin terjadi. IHSG diprediksi tetap tumbuh, meski dengan dinamika yang bergantung pada kondisi ekonomi domestik dan global.

Pada akhirnya, perencanaan tetap menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian pasar di tahun mendatang. Apabila Anda ingin diversifikasi, reksa dana pendapatan tetap seperti Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A bisa menjadi pilihan. Berdasarkan data per 02 Januari 2026, reksa dana ini memiliki return 9,81% dalam 1 tahun terakhir. 

Pastikan Anda berinvestasi melalui Makmur, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh produk reksa dana dan MI yang ada di Makmur sudah dikurasi secara profesional. 


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan promo Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Pencapaian Strategis Bursa Efek Indonesia 2025 Menuju Penguatan Pasar Modal Indonesia 2026

Key Takeaways: Tahun 2025 menjadi periode penting Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memperkuat pasar modal Indonesia, seiring implementasi berbagai kebijakan yang mendorong perubahan struktural secara berkelanjutan. Melalui fokus pada pendalaman likuiditas, peningkatan transparansi perdagangan, serta pengembangan inovasi produk yang relevan bagi investor pasar modal, BEI tidak hanya memperkokoh fondasi domestik, tetapi juga meningkatkan daya saing […]

author
Content Management
calendar
06 Januari 2026
Artikel

Mengapa DuPont Analysis Penting untuk Evaluasi Saham Jangka Panjang? Ini Penjelasannya

Key Takeaways: DuPont Analysis merupakan metode yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja keuangan perusahaan secara lebih mendalam. Dikenalkan pertama kali oleh perusahaan kimia DuPont pada tahun 1920-an, analisis ini bisa dimanfaatkan investor untuk memecah return on equity (ROE), menjadi beberapa komponen yang lebih spesifik.  Dengan demikian, DuPont Analysis memberikan wawasan yang lebih jelas tentang faktor apa […]

author
Content Management
calendar
02 Januari 2026
Artikel

Mengenal Aksi Korporasi yang Memengaruhi Harga Saham

Key Takeaways: Pergerakan harga saham tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan sentimen pasar, tetapi juga oleh aksi korporasi yang dilakukan oleh emiten. Setiap aksi korporasi mencerminkan langkah strategis perusahaan yang berpotensi memengaruhi nilai saham serta arah pengambilan keputusan pemegang saham. Memahami jenis-jenis aksi korporasi dan dampaknya terhadap pasar menjadi langkah penting untuk membangun keputusan […]

author
Content Management
calendar
01 Januari 2026
Artikel

5 Reksa Dana Pendapatan Tetap dengan Return Tertinggi Sepanjang 2025

Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp243,41 triliun per November 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari manajer investasi (MI) bereputasi baik, […]

author
Content Management
calendar
31 Desember 2025
Artikel

5 Reksa Dana Pasar Uang dengan Return Tertinggi Sepanjang 2025

Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito berjangka dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi […]

author
Content Management
calendar
31 Desember 2025
Bergabunglah dengan lebih dari 500 ribu investor yang telah berinvestasi di Makmur
ios-app-storeandroid-googleplay-store
Hak Cipta ©2019 - 2025 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT INOVASI FINANSIAL TEKNOLOGI (Makmur) adalah perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Semua investasi mengandung risiko dan kemungkinan kerugian nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan. Simulasi investasi disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi. Reksa dana adalah produk Manajer Investasi (MI) dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh MI.