






Keberhasilan dalam berinvestasi saham melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah menilai apakah saham dengan free float rendah layak untuk investasi jangka panjang. Free float saham merujuk pada jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka, yang tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali ataupun pihak korporasi. Saham dengan free float rendah dapat memengaruhi likuiditas, volatilitas, dan potensi pengembalian investasi. Oleh karena itu, memahami dampak free float terhadap saham sangat penting bagi investor.
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai apakah saham dengan free float rendah layak untuk investasi jangka panjang, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan saham dengan free float rendah.
Free float saham adalah saham yang beredar di masyarakat yang dimiliki oleh pihak selain pengendali dan afiliasinya, serta bisa diperdagangkan di pasar. Misalnya, jika sebuah perusahaan memiliki 1 juta saham yang tercatat di bursa dan 300 ribu saham dimiliki oleh publik (selain pengendali), maka free float-nya adalah 30%.
Sebagai contoh PT Pelayaran National Bina Buana Raya Tbk (BBRM) pada 30 Desember 2025, memiliki saham free float sebanyak 758.356.183 saham atau 8,9% dari total saham yang tercatat di bursa, yang berjumlah 8.479.490.328 saham. Saham ini dimiliki oleh pemegang saham dengan kepemilikan kurang dari 5% dan bukan oleh pengendali atau afiliasi pengendali.
Free float menjadi acuan dalam menilai sebuah saham karena memengaruhi beberapa faktor fundamental, di antaranya:
Saham dengan free float yang rendah cenderung memiliki likuiditas yang lebih kecil, karena hanya sedikit saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka. Berdasarkan data rata-rata nilai transaksi saham BBRM dalam 1 bulan terakhir tercatat sebesar Rp24,5 miliar atau jauh di bawah kompetitornya HUMI di angka Rp112,4 miliar. Hal ini menjadi perbedaan yang signifikan dari segi likuiditas dari kedua saham untuk dipertimbangkan oleh investor.
Saham dengan free float rendah seringkali lebih volatil. BBRM, misalnya, pada 23 Januari 2026 mengalami penurunan harga sebesar -12,9% dalam satu hari. Sebagai perbandingan, saham blue chip dengan market cap besar dan likuiditas tinggi umumnya memiliki pergerakan harga yang relatif lebih stabil dibandingkan saham dengan free float rendah. Pergerakan harga saham BBRM yang lebih agresif menunjukkan betapa sensitifnya saham ini terhadap fluktuasi pasar, menjadikannya lebih berisiko untuk investor konservatif.
Untuk mengidentifikasi saham dengan free float rendah, Anda perlu memperhatikan beberapa faktor, seperti kepemilikan saham oleh institusi besar atau afiliasi. Saham dengan free float rendah biasanya dimiliki oleh kelompok pemegang saham yang besar, seperti pengendali atau afiliasi pendiri perusahaan, sementara pemegang saham publik hanya memiliki sebagian kecil saham.
Dalam BBRM, 758.356.183 lembar saham atau 8,9% dari total saham yang tercatat dimiliki oleh pemegang saham dengan kepemilikan kurang dari 5%. Selain itu, 21.595.698 saham dimiliki oleh dewan komisaris. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar saham BBRM dimiliki oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan, dengan free float yang rendah untuk investor publik.
Saham dengan free float rendah perlu dipertimbangkan dengan cermat sebelum membuat keputusan investasi jangka panjang. Berikut adalah beberapa faktor penting yang perlu dievaluasi untuk memastikan kesesuaian saham tersebut:
Saham dengan free float rendah cenderung memiliki likuiditas yang lebih kecil, yang berarti harga saham dapat bergerak lebih volatil. Di sisi lain, hal ini memberi peluang bagi investor untuk memanfaatkan momentum pergerakan harga. Namun, investor perlu waspada terhadap risiko yang terkait dengan rendahnya likuiditas yang bisa menyebabkan pergerakan harga saham yang tajam.
Dalam kasus BBRM, dengan free float yang hanya sekitar 8,9%, saham ini cenderung memiliki volatilitas yang lebih tinggi. Pergerakan harga saham yang tajam (-12,9% pada 23 Januari 2026) menunjukkan bahwa saham ini sangat sensitif terhadap dinamika pasar, yang menjadi pertimbangan penting untuk investor jangka panjang.
Saham dengan free float rendah berpotensi menghasilkan imbal hasil lebih tinggi. Namun, disertai risiko yang juga lebih besar. Oleh karena itu, investor perlu mempertimbangkan tingkat likuiditas serta konsentrasi kepemilikan saham, karena struktur free float yang rendah umumnya membuat saham lebih sensitif terhadap pergerakan pasar dan terkonsentrasi pada pemegang saham pengendali.
Investor dengan kepemilikan besar terhadap saham dengan free float rendah berpotensi mendapatkan keuntungan strategis, seperti memiliki pengaruh besar dalam pengambilan keputusan perusahaan atau dalam aksi korporasi seperti akuisisi. Dalam kasus BBRM, dengan free float sekitar 8,9%, sebagian besar saham tetap berada di tangan pemegang saham utama. Struktur kepemilikan yang terkonsentrasi ini menunjukkan bahwa mayoritas hak suara berada pada pemegang saham pengendali, sehingga peran investor publik dalam menentukan arah strategis perusahaan relatif terbatas.
Saham dengan free float rendah, seperti yang terjadi pada BBRM, lebih cocok untuk investor yang memiliki pendekatan jangka panjang dan siap menahan volatilitas harga. Meskipun cenderung lebih volatil dan kurang likuid, saham tersebut dapat menawarkan peluang keuntungan jika dikelola dengan bijak, khususnya bagi investor dengan kepemilikan besar dan mampu memanfaatkan potensi pengaruh dalam pengambilan keputusan perusahaan melalui akuisisi atau aksi korporasi lainnya.
Saham dengan free float rendah dapat menjadi pilihan investasi jangka panjang jika investor dapat mengelola risiko dengan baik dan memahami dinamika pasar serta perannya dalam perusahaan tersebut. Namun, Anda juga perlu mengedepankan diversifikasi dan pemilihan saham yang tepat agar potensi keuntungan optimal.
Apabila Anda tidak memiliki waktu untuk menganalisis dan memperhitungkan free float sebuah saham, investasi reksa dana saham dapat menjadi pilihan yang dapat Anda pertimbangkan. Melalui reksa dana saham, dana Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang dapat membantu Anda meminimalkan risiko yang bisa terjadi, seperti pergerakan harga pasar yang cukup besar.
Terdapat beragam produk reksa dana saham di Makmur, salah satunya Syailendra Equity Opportunity Fund Kelas A. Berdasarkan data per 18 Februari 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan 25,13% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]
Key Takeaways: Dalam investasi reksa dana, investor umumnya ingin memahami potensi imbal hasil, termasuk pada reksa dana saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur potensi tersebut adalah expected return atau potensi imbal hasil yang diharapkan. Expected return digunakan untuk memperkirakan rata-rata imbal hasil yang dapat diperoleh di masa […]
Key Takeaways: Revisi aturan royalti mineral sempat diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) pada konsultasi publik pada 8 Mei 2026. Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyesuaian tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya royalti sektor mineral. Melalui revisi tersebut, pemerintah ingin meningkatkan penerimaan negara dari […]
Key Takeaways: Akuisisi perusahaan merupakan aksi korporasi yang berdampak material terhadap harga saham dan kinerja keuangan pihak-pihak yang terlibat, di mana suatu perusahaan membeli atau mengendalikan perusahaan lain untuk memperluas bisnis atau meningkatkan nilai. Bagi investor yang memiliki saham pada perusahaan pengakuisisi, penting untuk mengevaluasi berbagai aspek untuk memahami implikasi jangka pendek dan jangka panjang dari […]