






Arus dana asing bisa menjadi indikator kunci dalam menganalisis saham, karena aliran dana asing dari luar negeri dapat memberikan dampak signifikan terhadap sektor tertentu di pasar saham, termasuk perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, penting bagi investor untuk memahami cara menganalisis sektor yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari arus dana asing.
Untuk memantau arus dana asing yang masuk atau keluar dari pasar saham Indonesia, Anda dapat mengakses data melalui laman resmi Bursa Efek Indonesia (IDX) di idx.co.id. Pada menu “Data Pasar” dan submenu “Laporan Statistik”, Anda bisa menemukan laporan yang penting untuk dianalisis, yaitu “Daily Trading Chart by Type of Investor” yang memberikan informasi tentang transaksi investor asing dalam periode tertentu, di bawah ini merupakan contohnya:
Gambar 1. Daily Trading Volume IHSG Desember 2025

Sumber: IDX
Dalam laporan di atas, terdapat empat segmen yang menggambarkan aktivitas perdagangan di IHSG, di antaranya:
FI (Foreign Investor) adalah investor luar negeri yang melakukan transaksi di pasar modal Indonesia. Aktivitas ini mencerminkan perpindahan kepemilikan antar investor asing sehingga tidak mengubah posisi net foreign buy atau sell. Oleh karena itu, dampaknya terhadap pergerakan IHSG biasanya tidak sebesar ketika terjadi arus dana asing masuk atau keluar secara bersih.
Sebagai perbandingan, DI (Domestic Investor) adalah investor dalam negeri, baik individu maupun institusi, yang berpartisipasi dalam aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia.
Segmen ini menunjukkan transaksi antara sesama investor domestik. Hal ini juga tidak memberikan dampak besar pada pergerakan arus dana asing, melainkan memberikan gambaran tentang likuiditas dan sentimen pasar domestik.
Segmen ini mencerminkan transaksi di mana investor domestik menjual saham kepada investor asing. Hal ini merupakan indikator arus dana masuk (inflow) ke pasar saham Indonesia, karena saham berpindah dari tangan domestik ke asing.
Segmen ini menunjukkan transaksi di mana investor asing menjual saham kepada investor domestik. Aktivitas ini sering kali menandakan arus dana keluar (outflow) dari pasar Indonesia, karena saham berpindah dari asing ke domestik.
Dari grafik terlihat bahwa aktivitas perdagangan meningkat menjelang pertengahan bulan dan mencapai puncaknya pada tanggal 17 dan terutama 19 Desember 2025. Setelah tanggal 19, nilai transaksi harian mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga akhir bulan.
Arus dana asing masuk (inflow, warna biru) meningkat pada tanggal 10 dan mencapai level tertinggi pada tanggal 11. Pada tanggal 19 inflow juga tercatat tinggi, namun masih di bawah level tanggal 11.
Secara komposisi, sebagian besar volume perdagangan harian didominasi oleh transaksi antar investor domestik (DI–DI) serta antar investor asing (FI–FI), yang menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan lebih banyak terjadi di antara investor dengan kategori yang sama dibanding transaksi silang domestik–asing.
Sebagian besar volume perdagangan harian pada Desember 2025 didominasi oleh transaksi antar investor domestik dan transaksi antar investor asing. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar aktivitas perdagangan terjadi di antara investor yang berasal dari negara yang sama, baik domestik maupun asing.
Selain pergerakan harian, secara kumulatif sejak awal tahun hingga periode 2 Januari–23 Januari 2026, arus dana asing menunjukkan kinerja positif. Tercatat, arus dana asing masuk (foreign inflow) mencapai Rp4,03 triliun secara year-to-date (YTD). Capaian ini mencerminkan meningkatnya minat investor asing terhadap pasar saham domestik pada awal tahun, sekaligus menjadi sinyal sentimen yang relatif konstruktif terhadap prospek pasar ke depan.
Setelah Anda memahami data arus dana asing, langkah selanjutnya adalah menganalisis sektor yang berpotensi diuntungkan oleh arus dana asing. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan untuk menganalisis sektor yang diuntungkan:
Langkah pertama adalah memantau indeks yang merepresentasikan sektor saham. Anda bisa melihatnya di Bursa Efek Indonesia, seperti:
Indeks ini mencakup saham perusahaan yang menyediakan barang atau layanan terkait energi, seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).
Indeks ini meliputi saham perusahaan yang memproduksi bahan baku dasar untuk perusahaan lain, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), dan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA).
Indeks ini meliputi saham perusahaan yang produknya digunakan oleh perusahaan lain, seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), dan PT United Tractors Tbk (UNTR).
Indeks saham ini berisi saham perusahaan yang menyediakan kebutuhan pokok bagi masyarakat, seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Indeks ini mencakup perusahaan yang penjualan produknya sangat bergantung pada tingkat daya beli masyarakat, seperti PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA).
Indeks ini mencakup saham perusahaan penyedia layanan keuangan seperti bank dan asuransi, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).
Indeks ini mencakup perusahaan yang menyediakan layanan infrastruktur publik, seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), dan PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL).
Indeks ini berisi saham perusahaan di bidang pengembangan dan pengelolaan properti, seperti PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Sentul City Tbk (BKSL).
Indeks ini mencakup saham perusahaan yang bergerak dalam produk atau layanan teknologi, seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT WIR Asia Tbk (WIRG), dan PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).
Indeks ini berisi saham perusahaan penyedia layanan atau produk kesehatan, seperti PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT Metro Healthcare Indonesia Tbk (CARE).
Indeks ini meliputi perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman barang dan mobilitas, seperti PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI), dan PT Blue Bird Tbk (BIRD).
Dengan memantau indeks di atas, investor dapat mengidentifikasi sektor saham yang berpotensi diuntungkan dari arus dana asing, karena pergerakan sektor tertentu sering kali identik dengan masuknya investasi asing.
Selain itu, Anda juga bisa menganalisis faktor makroekonomi yang memengaruhi minat investasi asing, seperti fluktuasi harga komoditas global yang dapat berdampak pada sektor energi dan bahan baku, serta kebijakan pemerintah yang mendukung sektor tertentu.
Kondisi ekonomi global dan geopolitik internasional, seperti perang dagang, juga dapat memengaruhi aliran dana asing ke sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan global yang kuat.
Meskipun arus dana asing dan sektor yang diuntungkan memberikan gambaran yang strategis, untuk memilih saham atau emiten yang tepat, analisis fundamental yang mendalam tetap diperlukan. Beberapa faktor yang harus dianalisis antara lain:
Langkah pertama dalam memilih saham yang tepat adalah dengan memperhatikan laporan keuangan perusahaan yang tergabung dalam sektor yang diuntungkan. Pastikan perusahaan tersebut menunjukkan kinerja keuangan yang solid, dengan pertumbuhan laba yang konsisten dari tahun ke tahun.
Selain itu, perhatikan juga arus kas perusahaan yang harus tetap sehat untuk mendukung kelangsungan operasional dan menghadapi ketidakpastian ekonomi. Perusahaan dengan kinerja keuangan yang kuat umumnya memiliki daya tahan yang lebih baik dalam menghadapi fluktuasi pasar, sehingga memberikan kepercayaan lebih kepada investor.
Valuasi saham adalah aspek penting yang perlu diperhatikan sebelum membuat keputusan investasi. Pastikan saham yang Anda pilih memiliki valuasi yang wajar berdasarkan rasio keuangan, seperti rasio Price-to-Earnings (PE ratio), Net Profit Margin, Liquidity Ratio, dan Asset Turnover Ratio. Selain itu, valuasi sebaiknya dibandingkan dengan perusahaan sejenis dalam industri yang sama agar Anda dapat menilai apakah suatu saham tergolong undervalued (murah) atau overvalued (mahal).
Hindari terjebak dalam euforia pasar yang dapat mendorong harga saham naik terlalu tinggi tanpa didukung kinerja fundamental yang kuat. Memilih saham dengan valuasi yang wajar dan relatif lebih menarik dibandingkan kompetitornya dapat membantu menekan risiko investasi sekaligus meningkatkan potensi imbal hasil dalam jangka panjang.
Sentimen pasar memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan harga saham. Sentimen yang positif terhadap sektor atau emiten tertentu dapat mendorong harga saham naik, sebaliknya, sentimen negatif dapat menyebabkan penurunan harga.
Untuk itu, penting untuk selalu memantau perkembangan eksternal yang dapat memengaruhi pasar secara keseluruhan, seperti perubahan kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi global, atau peristiwa politik yang signifikan. Mengetahui dan memahami sentimen pasar dapat membantu Anda untuk memanfaatkan momentum yang ada, baik untuk membeli saham saat harga rendah atau menjual saham saat harga tinggi.
Dengan melakukan analisis fundamental, Anda dapat mengidentifikasi emiten yang berpotensi bertumbuh ketika terjadi arus dana asing masuk ke pasar. Selain itu, faktor eksternal seperti kondisi makroekonomi dan tren global juga harus diperhitungkan dalam mengambil keputusan investasi dengan bijak. Bagi Anda yang ingin memaksimalkan potensi investasi namun tidak memiliki waktu atau keahlian untuk melakukan analisis secara mendalam, berinvestasi melalui reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang tepat.
Manajer investasi (MI) profesional memiliki pemahaman yang mendalam dan pengalaman untuk melihat sektor-sektor yang berpotensi berkembang saat masuknya arus dana asing, serta dapat mengelola portofolio secara efisien untuk mencapai hasil yang optimal. Anda bisa membeli beragam produk reksa dana saham di Makmur, salah satunya Bahana Icon Syariah Kelas G. Berdasarkan data per 11 Februari 2026, reksa dana tersebut memiliki pertumbuhan sebesar 72,68% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja di masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune 2026 dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Ketika berinvestasi di saham, memahami laporan keuangan perusahaan bisa saja belum cukup untuk mengambil keputusan yang tepat. Investor juga perlu memperhatikan berbagai indikator makroekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk membaca kondisi ekonomi adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK merupakan hasil survei yang mengukur tingkat […]
Key Takeaways: Perubahan nilai tukar US Dollar (USD) terhadap rupiah bukan sekadar indikator makroekonomi yang jauh dari aktivitas sehari-hari. Bagi pelaku pasar modal, pergerakan USD memiliki implikasi langsung terhadap kinerja keuangan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan nilai tukar dapat menjadi katalis positif maupun negatif terhadap kinerja emiten, bergantung pada karakteristik bisnis masing-masing […]
Key Takeaways: Dinamika pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada 27 Januari 2026. Keputusan tersebut tidak terlepas dari isu transparansi free float serta struktur kepemilikan saham yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar. Sebagai respons, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa […]
Key Takeaways: Proses cleansing dalam reksa dana syariah merupakan mekanisme yang memastikan seluruh keuntungan yang diperoleh investor bersumber dari aktivitas yang halal dan sesuai dengan prinsip Islam. Proses ini sangat penting untuk menjaga agar portofolio investasi tetap selaras dengan ketentuan syariah, sebagaimana ditetapkan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis […]
Key Takeaways: Sepanjang Juli 2026, sejumlah emiten secara resmi menyatakan kesiapannya menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dua nama yang cukup mencuri perhatian adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), yang pada 6 Juli 2026 mulai melaksanakan distribusi saham kepada para investor. Distribusi ini menandai bahwa […]
Key Takeaways: Berinvestasi pada saham yang ditawarkan melalui Initial Public Offering (IPO) menjadi salah satu pilihan yang banyak dipertimbangkan oleh investor ritel di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya aktivitas di pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sebanyak 50 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2026. Pada awal Juli 2026, sudah ada sejumlah perusahaan dijadwalkan untuk melakukan IPO, antara […]