Dalam beberapa dekade terakhir, pergerakan harga komoditas global telah menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan pelaku pasar, pemangku kebijakan, dan analis ekonomi di berbagai negara. Fluktuasi harga minyak, batu bara, serta berbagai komoditas lainnya tidak hanya mencerminkan dinamika penawaran dan permintaan jangka pendek, tetapi juga menggambarkan kondisi serta arah perekonomian global secara lebih luas.
Di balik naik turunnya harga tersebut, terdapat pola jangka panjang yang menarik untuk dicermati, yaitu sebuah siklus yang berdampak signifikan terhadap struktur ekonomi dunia. Fenomena ini dikenal sebagai commodity supercycle, yakni periode jangka panjang yang ditandai oleh tren kenaikan harga komoditas secara signifikan dan berkelanjutan.
Commodity supercycle umumnya dipicu oleh perubahan struktural berskala besar dalam perekonomian global, seperti proses industrialisasi masif di negara berkembang atau transformasi teknologi yang mengubah pola permintaan dan penawaran komoditas. Untuk memahami fenomena ini secara lebih mendalam, penting untuk melihat data historis commodity supercycle serta dampak ekonominya terhadap berbagai sektor dan negara.
Commodity supercycle memiliki sejarah yang dapat ditelusuri melalui beberapa periode di masa lampau, di mana harga komoditas menunjukkan tren kenaikan yang berlangsung lama. Berikut adalah beberapa contoh commodity supercycle yang tercatat dalam sejarah ekonomi dunia:
1. Pasca-Perang Dunia II, tahun 1940-an hingga 1970-an
Setelah Perang Dunia II, perekonomian global memasuki fase pemulihan yang sangat pesat. Proses rekonstruksi besar-besaran di Eropa, Jepang, dan Amerika Serikat mendorong lonjakan kebutuhan bahan baku untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan industri. Akibatnya, harga komoditas seperti baja, tembaga, dan minyak bumi mengalami kenaikan signifikan. Pada awal 1970-an, harga minyak bumi masih berada di kisaran US$2–3 per barel. Namun, setelah krisis minyak dan embargo OPEC pada 1973, harga minyak melonjak tajam hingga mencapai sekitar US$11 per barel hanya dalam beberapa tahun, yang berarti kenaikan sekitar 450% jika dibandingkan dengan level terendah awal dekade tersebut.
Di Indonesia, meskipun kondisi pasca-perang diwarnai oleh perjuangan mempertahankan kemerdekaan (1945–1949), dampak pemulihan ekonomi global tetap terasa. Pada awal 1950-an, Indonesia mulai memanfaatkan tingginya permintaan dunia terhadap komoditas primer. Ekspor hasil bumi seperti karet, timah, dan komoditas perkebunan lainnya menjadi sumber devisa utama negara. Kenaikan harga karet misalnya, didorong oleh meningkatnya kebutuhan industri otomotif dan militer global, terutama selama Perang Korea (1950–1953).
Selain itu, sektor minyak bumi Indonesia menunjukkan peran strategis sejak awal kemerdekaan. Produksi dan ekspor minyak menjadi salah satu penopang penting penerimaan negara, yang kemudian diperkuat melalui nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing pada akhir 1950-an. Meskipun industrialisasi domestik masih terbatas pada periode tersebut, momentum kenaikan harga komoditas global memberikan fondasi awal bagi pembangunan ekonomi Indonesia untuk masa selanjutnya.
2. Tahun 2000 hingga 2008
Periode 2000 hingga 2008 dikenal juga sebagai era commodity supercycle, yang ditandai oleh pertumbuhan ekonomi global yang sangat kuat, khususnya di negara-negara berkembang seperti China dan India. Pada tahun 2000, perekonomian China memiliki GDP nominal sekitar US$1,22 triliun, dan berkembang pesat hingga mencapai sekitar US$4,67 triliun pada tahun 2008, menunjukkan kenaikan hampir empat kali lipat selama periode tersebut.
Sementara itu, India mencatat GDP sekitar US$469 miliar pada tahun 2000, yang meningkat menjadi sekitar US$1,25 triliun pada tahun 2008, lebih dari dua setengah kali lipat pertumbuhan ekonominya dalam rentang waktu yang sama.
Sebagai dampaknya, harga komoditas global mengalami kenaikan signifikan. Harga minyak mentah, misalnya, meningkat dari kisaran US$20 per barel di awal 2000-an hingga mencapai puncaknya di atas US$140 per barel pada pertengahan 2008. Harga logam industri dan energi juga mencatat rekor tertinggi sebelum akhirnya terkoreksi tajam akibat krisis keuangan global 2008.
Bagi Indonesia, commodity supercycle ini memberikan dampak ekonomi yang sangat positif. Sebagai negara pengekspor komoditas, Indonesia menikmati:
Namun, berakhirnya commodity supercycle pada 2008 akibat krisis keuangan global juga menegaskan tingginya ketergantungan Indonesia terhadap komoditas, yang membuat perekonomian rentan terhadap volatilitas harga global. Hal ini kemudian menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk mendorong diversifikasi ekonomi dan hilirisasi sumber daya alam di tahun-tahun berikutnya.
3. Pasca-krisis keuangan global, tahun 2009 hingga 2014
Setelah krisis keuangan global 2008, perekonomian dunia memasuki fase pemulihan yang ditandai oleh kembali meningkatnya aktivitas ekonomi, terutama di negara-negara berkembang. Pemulihan ini mendorong lonjakan permintaan terhadap komoditas utama seperti minyak, logam, dan produk pertanian.
Pertumbuhan pesat negara-negara berkembang, khususnya China dan India, menjadi pendorong commodity supercycle komoditas pada periode ini. Permintaan besar untuk energi dan bahan baku industri meningkatkan harga minyak mentah, batu bara, tembaga, dan nikel di pasar global.
Bagi Indonesia, periode ini memberikan dampak positif yang cukup signifikan. Sebagai negara pengekspor komoditas, Indonesia memperoleh manfaat dari kenaikan harga batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan mineral logam. Pada rentang 2010–2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif kuat, dengan rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di kisaran 6% per tahun.
Kontribusi sektor pertambangan dan perkebunan terhadap penerimaan ekspor dan pendapatan negara juga meningkat, seiring membaiknya terms of trade, yaitu perbandingan antara harga ekspor dan harga impor suatu negara. Peningkatan terms of trade menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia tumbuh lebih cepat dibandingkan nilai impornya, sehingga memperkuat daya beli nasional dan meningkatkan penerimaan devisa.
Pada tahun 2012, ekspor sektor perkebunan mencapai US$24,8 miliar, sementara ekspor migas pada tahun 2011 tercatat sebesar US$41,4 miliar, yang turut berperan besar dalam mendongkrak kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan.
Namun demikian, ketergantungan pada komoditas juga membawa risiko. Fluktuasi harga global menyebabkan ketidakstabilan penerimaan ekspor dan fiskal, terutama ketika harga mulai melemah menjelang akhir periode commodity supercycle pada 2014. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi ekonomi dan peningkatan nilai tambah industri domestik untuk mengurangi kerentanan terhadap siklus harga komoditas global.
Commodity supercycle memiliki dampak yang signifikan terhadap berbagai aspek perekonomian, baik pada tingkat makro maupun mikro seperti:
1. Inflasi dan tekanan harga
Salah satu dampak utama commodity supercycle adalah inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga komoditas. Ketika harga minyak bumi, batu bara, dan bahan baku lainnya naik, biaya produksi barang dan jasa juga akan ikut meningkat. Hal ini dapat menyebabkan lonjakan harga barang konsumsi dan jasa, sehingga menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan inflasi di banyak negara.
Sebagai contoh, pada periode 2008, ketika harga minyak mentah mencapai puncaknya hingga US$145 per barel, harga bensin di banyak negara termasuk Amerika Serikat, mengalami lonjakan signifikan. Di AS, harga bensin naik hingga lebih dari US$4 per galon, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan harga sebelumnya. Kenaikan harga bensin ini memicu inflasi, karena bensin adalah komponen penting dalam biaya transportasi, yang mempengaruhi harga barang dan layanan secara keseluruhan.
2. Pertumbuhan ekonomi negara
Negara-negara yang bergantung pada ekspor komoditas seperti Indonesia, cenderung mengalami peningkatan pendapatan ketika harga komoditas global naik. Kenaikan pendapatan tersebut dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memperbaiki neraca perdagangan, meningkatkan penerimaan negara, serta memperkuat stabilitas fiskal dan nilai tukar.
Sebagai contoh, ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,03% pada tahun 2024. Salah satu komoditas utama Indonesia, minyak kelapa sawit (CPO), mencatatkan kenaikan harga yang signifikan sepanjang tahun 2024, sekitar 21%. Pada tahun yang sama, Indonesia mengekspor sekitar 21,64 juta ton CPO dengan nilai mencapai US$20,05 miliar, menjadikan CPO sebagai salah satu kontributor utama devisa dalam perekonomian Indonesia.
3. Perubahan struktur industri
Commodity supercycle juga dapat mendorong investasi besar-besaran di sektor-sektor yang bergantung pada komoditas, seperti sektor energi dan pertambangan. Perusahaan-perusahaan ini seringkali melakukan ekspansi untuk memenuhi permintaan yang meningkat, yang dapat menghasilkan pertumbuhan jangka panjang dalam sektor-sektor tersebut. Namun, jika commodity supercycle berakhir secara tiba-tiba, sektor-sektor ini mungkin menghadapi dampak negatif, seperti penurunan investasi dan kebangkrutan perusahaan yang tidak dapat bertahan dalam kondisi pasar yang lebih lemah.
Commodity supercycle merupakan fenomena jangka panjang yang mencerminkan fluktuasi harga komoditas secara global. Sepanjang sejarah, Anda dapat melihat bahwa perubahan struktural dalam ekonomi dunia serta peningkatan permintaan dari negara-negara berkembang menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan harga komoditas. Fenomena ini berdampak signifikan terhadap perekonomian, mulai dari mendorong laju inflasi hingga mempercepat pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara.
Apabila Anda belum sepenuhnya memahami berbagai kondisi ekonomi, reksa dana menjadi instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan karena dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang berpengalaman dalam menghadapi berbagai kondisi ekonomi dan siklus pasar. Di bawah ini merupakan jenis reksa dana yang Anda perlu ketahui:
Produk reksa dana pasar uang mengalokasikan sebagian besar dana kelolaan pada instrumen pasar uang, seperti deposito dan obligasi jangka pendek. Jenis reksa dana ini tepat dipilih pada saat ketidakpastian ekonomi meningkat, misalnya ketika terjadi gejolak harga komoditas atau di awal fase perlambatan ekonomi.
Selain itu, reksa dana pasar uang juga menarik ketika suku bunga acuan berada pada level tinggi atau cenderung meningkat, karena imbal hasilnya relatif stabil. Instrumen ini juga sesuai bagi investor yang mengutamakan likuiditas serta menjaga stabilitas nilai investasi dalam jangka pendek.
Mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan pada instrumen surat utang, seperti obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. Reksa dana pendapatan tetap lebih optimal dimiliki ketika inflasi mulai terkendali dan terdapat sinyal penurunan atau stabilisasi suku bunga, yang biasanya terjadi setelah fase tekanan inflasi akibat kenaikan harga komoditas.
Pada kondisi tersebut, harga obligasi berpotensi menguat sehingga meningkatkan kinerja reksa dana. Reksa dana pendapatan tetap cocok bagi investor yang menginginkan pendapatan relatif stabil dengan tingkat risiko moderat.
Reksa dana campuran mengalokasikan dana secara proporsional ke instrumen pasar uang, surat utang, dan saham, dengan porsi maksimal 79% pada masing-masing instrumen. Jenis reksa dana ini sesuai untuk kondisi ekonomi yang berada pada fase transisi, misalnya ketika perekonomian bergerak dari perlambatan menuju pemulihan.
Pada situasi di mana kondisi pasar belum sepenuhnya jelas tetapi peluang pertumbuhan mulai terbuka, reksa dana campuran memberikan fleksibilitas bagi MI untuk menyesuaikan alokasi aset. Reksa dana ini cocok bagi investor yang menginginkan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan pengelolaan risiko.
Jenis reksa dana saham mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan pada instrumen saham dan umumnya memberikan potensi imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang. Reksa dana ini paling tepat dibeli ketika ekonomi memasuki fase ekspansi, yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang kuat serta meningkatnya permintaan komoditas.
Selain itu, peluang investasi juga lebih menarik ketika valuasi pasar saham masih relatif wajar, khususnya pada sektor-sektor yang diuntungkan oleh commodity supercycle, seperti sektor energi. Reksa dana saham sesuai bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang dan toleransi risiko yang lebih tinggi.
Anda dapat membeli berbagai jenis reksa dana melalui Makmur, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh produk reksa dana dan MI yang ada di Makmur telah terkurasi secara profesional.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Banyak investor menggunakan strategi yang sama sepanjang hidupnya, padahal kebutuhan dan toleransi risiko akan terus berubah seiring waktu. Salah satu cara yang dapat Anda gunakan untuk memaksimalkan hasil investasi adalah life-cycle investing. Pendekatan ini berfokus pada perubahan profil risiko dan tujuan keuangan seseorang seiring berjalannya waktu, sehingga memungkinkan Anda untuk menyesuaikan keputusan investasi […]
Key Takeaways: Dividen merupakan salah satu sumber pendapatan pasif bagi investor saham, khususnya Anda yang menerapkan strategi investasi jangka panjang. Namun, besarnya dividen saja tidak cukup untuk menilai kualitas suatu emiten. Anda juga perlu memahami apakah dividen tersebut bertumbuh secara konsisten dari waktu ke waktu. Salah satu perhitungan yang dapat digunakan untuk menilainya adalah Dividend […]
Key Takeaways: Sebagai seorang investor, memahami berbagai metrik keuangan yang digunakan untuk menilai suatu saham merupakan langkah penting dalam proses pengambilan keputusan investasi yang cerdas. Salah satu metrik yang layak Anda pertimbangkan untuk menilai apakah saham suatu perusahaan tergolong overvalued atau undervalued adalah Price to Cash Flow (P/CF). Metrik P/CF memberikan indikasi yang relatif akurat […]
Key Takeaways: Loss aversion merupakan bias psikologis di mana seseorang cenderung memiliki rasa sakit yang lebih besar akibat kerugian dibandingkan dengan kebahagiaan yang dirasakan dari keuntungan dengan nilai yang sama. Dalam investasi saham, bias ini bisa sangat merugikan, sehingga berpotensi membuat keputusan yang tidak rasional atau menunda tindakan yang seharusnya segera diambil. Dampak Loss Aversion […]
Key Takeaways: Dalam berinvestasi saham, dibutuhkan pemahaman yang mendalam terhadap berbagai aspek fundamental perusahaan untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan. Salah satu pendekatan penting dalam analisis ini adalah dengan menilai seberapa sehat kondisi keuangan suatu perusahaan. Memahami kondisi keuangan perusahaan secara mendalam merupakan langkah yang penting, karena nilai sebuah perusahaan tidak selalu tercermin dari […]