






Banyak investor menggunakan strategi yang sama sepanjang hidupnya, padahal kebutuhan dan toleransi risiko akan terus berubah seiring waktu. Salah satu cara yang dapat Anda gunakan untuk memaksimalkan hasil investasi adalah life-cycle investing. Pendekatan ini berfokus pada perubahan profil risiko dan tujuan keuangan seseorang seiring berjalannya waktu, sehingga memungkinkan Anda untuk menyesuaikan keputusan investasi sesuai dengan tahap kehidupan yang sedang dijalani.
Kebutuhan finansial seseorang akan berbeda seiring dengan perubahan usia dan fase kehidupan. Hal ini mirip dengan siklus pergerakan saham yang mengalami berbagai tahapan dalam perjalanan hidupnya.
Pada fase awal kehidupan atau awal investasi, seseorang umumnya berada dalam tahap akumulasi, dengan fokus pada pertumbuhan aset, toleransi risiko yang lebih tinggi, serta peningkatan pendapatan. Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya stabilitas finansial, pendekatan investasi beralih ke fase konsolidasi, yang memfokuskan keseimbangan antara pertumbuhan dan pengelolaan risiko.
Memasuki tahap berikutnya, prioritas investor cenderung bergeser pada preservasi modal dan optimalisasi hasil investasi, fokus menjaga kestabilan finansial dan memaksimalkan pendapatan dari investasi yang sudah ada. Oleh karena itu, strategi investasi juga harus disesuaikan dengan kondisi hidup dari waktu ke waktu. Berikut adalah penjelasan mengenai beberapa fase dalam life-cycle investing:
Pada fase akumulasi, yang biasanya terjadi di usia muda (20-an hingga 30-an), seseorang berada di awal karier dan memiliki waktu yang cukup panjang untuk menumbuhkan kekayaan. Tujuan utama pada fase ini adalah akumulasi kekayaan, dengan kemampuan yang lebih besar untuk menanggung risiko.
Oleh karena itu, investor di fase ini cenderung memilih instrumen berisiko tinggi, seperti saham atau reksa dana saham, yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi. Meskipun risikonya lebih besar, volatilitas pasar dapat dihadapi dengan harapan memperoleh imbal hasil optimal dalam jangka panjang, mengingat usia yang masih jauh dari usia pensiun.
Pada fase ini, alokasi portofolio investasi cenderung didominasi oleh saham, dengan proporsi sekitar 80%, karena memiliki potensi pertumbuhan yang lebih besar dalam jangka panjang. Sementara itu, 20% dari portofolio bisa dialokasikan pada reksa dana pasar uang sebagai dana darurat. Reksa dana pasar uang menawarkan likuiditas yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah, sehingga dapat digunakan untuk menghadapi kebutuhan mendesak.
Pada fase konsolidasi, yang umumnya terjadi pada usia 30-an hingga 40-an, Anda cenderung memiliki pendapatan yang lebih stabil dan kemampuan untuk menabung atau berinvestasi secara rutin. Namun, tanggung jawab yang lebih besar, seperti membiayai keluarga dan pendidikan anak, juga mulai muncul.
Investor yang berada pada fase ini mengelola kekayaan yang telah terakumulasi dan mempersiapkan kebutuhan jangka panjang, seperti dana pensiun. Pada fase ini, investor mulai meningkatkan porsi instrumen investasi berisiko lebih rendah, seperti obligasi atau reksa dana pendapatan tetap, untuk mengurangi volatilitas portofolio dan menjaga kestabilan finansial. Meskipun begitu, sebagian alokasi tetap dialokasikan pada saham yang masih memiliki potensi pertumbuhan dalam jangka panjang. Sebagai contoh, alokasi portofolio dapat dibagi sebagai berikut:
Memasuki fase persiapan pensiun (usia 50-an hingga 60-an), fokus utama investasi beralih ke perlindungan modal dan persiapan dana pensiun. Pada tahap ini, penting untuk mengurangi eksposur terhadap instrumen investasi yang memiliki risiko tinggi, seperti saham atau reksa dana saham.
Agar porsi investasi lebih optimal, investor bisa meningkatkan eksposur pada obligasi atau reksa dana pendapatan tetap, untuk menjaga nilai kekayaan yang telah terkumpul. Sebagai contoh, alokasinya dapat dibagi sebagai berikut:
Sebagai catatan, Anda juga perlu menghitung proyeksi kebutuhan dan pengeluaran di masa depan, agar dapat memastikan ketersediaan dana yang cukup untuk kebutuhan hidup di masa pensiun.
Pada fase pensiun, di usia sekitar 60-an hingga 70-an, prioritas keuangan adalah mengelola pengeluaran dan pendapatan yang berasal dari dana pensiun atau investasi lainnya. Oleh karena itu, alokasi investasi sebaiknya lebih difokuskan pada instrumen yang memiliki risiko rendah dan likuid, seperti reksa dana pasar uang dan obligasi. Sebagai contoh, alokasinya dapat dibagi sebagai berikut:
Pada fase mewariskan kekayaan, yang biasanya terjadi setelah memasuki usia lanjut atau lebih dari 70 tahun, fokus beralih pada perencanaan warisan untuk memastikan kekayaan dapat dialihkan kepada ahli waris dengan cara yang efisien. Pada tahap ini, penting untuk memilih instrumen investasi yang likuid dan mudah dicairkan, guna memastikan kelancaran proses meneruskan kekayaan kepada generasi berikutnya. Sebagai contoh, alokasi investasinya sebagai berikut:
Berikut ini merupakan cara memaksimalkan hasil investasi menggunakan pendekatan life-cycle investing dengan cara yang efektif dan bijak, di antaranya:
Setiap investor memiliki tujuan keuangan yang berbeda pada setiap fase kehidupan dan life-cycle investing berfokus untuk menetapkan tujuan yang realistis sesuai dengan fase hidup yang sedang dijalani.
Pada awal karier, tujuan keuangan cenderung lebih fokus pada akumulasi kekayaan jangka panjang, sementara seiring bertambahnya usia, fokus tersebut beralih ke perlindungan kekayaan dan persiapan untuk pensiun.
Menentukan tujuan yang jelas dan menyesuaikan strategi investasi dengan perubahan fase kehidupan sangat penting untuk memastikan hasil investasi optimal dan sesuai dengan kebutuhan di setiap tahap kehidupan.
Diversifikasi portofolio investasi merupakan langkah penting dalam life-cycle investing, karena dengan membagi investasi ke berbagai jenis aset seperti saham, obligasi, reksa dana, dan deposito, Anda dapat mengurangi risiko yang dapat berdampak pada hasil investasi secara keseluruhan.
Pendekatan ini juga memungkinkan Anda untuk memanfaatkan peluang di berbagai sektor dan pasar, yang dapat meningkatkan potensi keuntungan. Seiring berjalannya waktu, Anda dapat menyesuaikan alokasi aset dalam portofolio Anda sesuai dengan perubahan tujuan keuangan dan tingkat risiko yang dapat diterima.
Salah satu tujuan dari memahami life-cycle investing adalah mempersiapkan finansial ketika pensiun. Meskipun pada usia muda Anda mungkin tidak terlalu memikirkan pensiun, sangat penting untuk mulai berinvestasi sejak dini untuk memastikan kondisi finansial yang sehat di masa depan.
Perencanaan pensiun perlu disusun secara cermat dengan memperhitungkan perkiraan pengeluaran dan sumber penghasilan di masa pensiun, sekaligus mempertimbangkan faktor inflasi serta kebutuhan hidup yang dapat berubah seiring waktu.
Memantau dan mengevaluasi kinerja investasi secara berkala sangat penting karena kondisi ekonomi dan tujuan keuangan dapat berubah seiring waktu. Mengevaluasi kinerja investasi secara rutin bermanfaat untuk menilai apakah pertumbuhannya selaras dengan tujuan keuangan dan profil risiko Anda.
Jika diperlukan, lakukan penyesuaian dengan menyesuaikan jenis aset dalam portofolio agar tetap sesuai dengan kondisi pasar dan tujuan jangka panjang. Langkah ini akan membantu Anda mengoptimalkan hasil investasi dan menjaga agar investasi tetap menguntungkan di masa depan.
Setelah memahami bahwa pendekatan life-cycle investing berfokus pada penyesuaian keputusan investasi sesuai dengan perubahan fase kehidupan, kini saatnya Anda mempertimbangkan instrumen investasi yang tepat.
Salah satu pilihan yang relevan untuk setiap tahap kehidupan adalah reksa dana, yang menawarkan fleksibilitas, diversifikasi, dan potensi imbal hasil yang dapat disesuaikan dengan tujuan keuangan Anda. Terdapat empat jenis reksa dana yang dapat Anda pilih, di antaranya:
Reksa dana pasar uang merupakan pilihan yang tepat jika Anda mencari instrumen dengan risiko relatif rendah. Sebagian besar dana kelolaannya dialokasikan pada instrumen pasar uang, seperti deposito dan surat berharga jangka pendek.
Selain itu, reksa dana pasar uang memiliki likuiditas yang tinggi, sehingga cocok untuk Anda yang berada di fase kehidupan yang membutuhkan stabilitas, seperti saat mendekati pensiun. Instrumen ini juga sangat sesuai bagi Anda yang memiliki profil risiko konservatif.
Jika Anda mencari investasi dengan pendapatan yang lebih stabil namun dengan tingkat risiko yang tidak terlalu besar, maka reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi pilihan. Sebagian besar dana kelolaannya yakni minimal 80% dialokasikan pada instrumen surat utang atau obligasi, yang biasanya memberikan tingkat imbal hasil yang lebih baik dibandingkan dengan tabungan atau deposito. Reksa dana ini cocok bagi investor yang memiliki profil risiko moderat.
Reksa dana campuran merupakan jenis reksa dana yang mengalokasikan dana kelolaannya secara proporsional, maksimal 79% untuk setiap instrumen pasar uang, surat utang, dan saham. Reksa dana campuran memberikan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok jika Anda berada di fase pertengahan karier dan memiliki profil risiko agresif.
Jika Anda memiliki tujuan jangka panjang dan siap dengan tingkat risiko yang lebih tinggi, reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang tepat. Reksa dana ini mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan ke instrumen saham, sehingga berpotensi memberikan imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang. Meskipun risikonya juga tinggi, reksa dana saham dapat memberikan potensi pertumbuhan signifikan, terutama bagi Anda yang berada di awal karier dan memiliki profil risiko agresif.
Pastikan Anda membeli reksa dana melalui Makmur, perusahaan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Semua investasi mengandung risiko dan kemungkinan kerugian nilai investasi. Semua manajer investasi dan produk reksa dana di Makmur juga sudah dikurasi secara profesional.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itureksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Mulai Januari 2026, terdapat perubahan fundamental di pasar modal Indonesia. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas investasi saham bagi perusahaan asuransi dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada institusi pengelola dana, tetapi juga berpotensi memengaruhi kinerja portofolio investasi investor. Perubahan batas investasi dapat memengaruhi dinamika harga […]
Key Takeaways: Sepanjang year-to-date (YTD) 2026 hingga 22 Juni 2026, pasar obligasi Indonesia menghadapi tekanan dari faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan moneter dan tensi geopolitik yang masih berlanjut meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas […]
Key Takeaways: Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 18 Juni 2026 menjadi 5,75% dari sebelumnya 5,50%. Kenaikan ini merupakan yang ketiga sejak Mei 2026 setelah BI lebih dulu menaikkan suku bunga pada 20 Mei dan 9 Juni 2026. Langkah tersebut diambil sebagai […]
Key Takeaways: Dalam ekosistem pasar modal Indonesia, terdapat dua lembaga yang berperan penting dalam mendukung kelancaran transaksi efek, yaitu Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Berdasarkan POJK Nomor 31 Tahun 2025 tentang Penerapan Tata Kelola Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, baik KSEI maupun KPEI […]
Key Takeaways: Capital outflow atau arus keluar modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham, obligasi, maupun instrumen finansial lainnya, dampaknya dapat dirasakan secara luas terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga kondisi likuiditas di Indonesia. Di bawah ini merupakan […]
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]