






Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dikelompokkan ke dalam berbagai sektor. Pergerakan antar-sektor dapat berbeda, tergantung pada kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Beberapa sektor dapat tumbuh signifikan, sementara lainnya stagnan atau menurun, tergantung kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Oleh karena itu, pemahaman terhadap analisis sektoral penting, agar bisa menganalisis potensi imbal hasil dan risiko sebelum membeli suatu saham.
Berikut adalah daftar sektor saham di BEI, yang memberikan wawasan tentang kinerja dan faktor yang memengaruhinya:
Sektor teknologi mencatatkan kenaikan 138,35% sepanjang tahun 2025. Peningkatan ini dipengaruhi oleh kemajuan pesat dalam sektor digital dan teknologi informasi, khususnya perusahaan yang bergerak di bidang software, e-commerce, dan fintech. Sektor ini terus berkembang seiring tren digitalisasi global dan adopsi teknologi baru. Hal ini menjadikannya opsi menarik bagi investor yang mencari pertumbuhan jangka panjang.
Sektor industri menunjukkan kenaikan 108,11% selama tahun 2025. Peningkatan ini mencerminkan kuatnya pemulihan sektor manufaktur dan konstruksi, yang didorong oleh peningkatan belanja infrastruktur dan permintaan produk industri yang tinggi. Sektor ini terus berkembang seiring dengan pemulihan ekonomi domestik dan global, yang menjadikannya sektor dengan prospek pertumbuhan stabil.
Sektor infrastruktur tercatat mengalami kenaikan 80,62% sepanjang tahun 2025. Peningkatan ini didorong oleh permintaan yang terus berkembang untuk layanan telekomunikasi, energi, serta proyek-proyek infrastruktur besar lainnya. Investasi pemerintah dalam pembangunan infrastruktur dan teknologi yang semakin maju memberikan dukungan positif terhadap kinerja sektor ini, menjadikannya sektor yang stabil dan defensif.
Sektor Energi mencatatkan kenaikan 65,6% sepanjang tahun 2025. Sektor ini menguat seiring dengan kenaikan harga komoditas energi global, seperti minyak dan gas, serta permintaan yang terus tumbuh baik di pasar domestik maupun internasional. Kebijakan energi yang mendukung di beberapa negara penghasil energi turut memperkuat kinerja sektor ini.
Sektor bahan baku mencatatkan kenaikan sebesar 64,4% sepanjang tahun 2025. Kinerja positif sektor ini dipengaruhi oleh lonjakan harga komoditas global, seperti tembaga, nikel, dan batu bara, yang meningkatkan permintaan bahan baku untuk industri dan konstruksi, termasuk emas. Selain itu, kebijakan pemerintah terkait ekspor dan regulasi lingkungan juga berperan penting dalam memengaruhi harga serta permintaan bahan mentah tersebut.
Sektor properti mengalami kenaikan 54,98% selama tahun 2025. Penguatan sektor ini dipengaruhi oleh pemulihan pasar properti dan meningkatnya permintaan kredit untuk pembelian rumah dan properti komersial. Suku bunga yang stabil dan kebijakan pemerintah yang mendukung sektor properti turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhannya.
Sektor transportasi dan logistik mencatatkan kenaikan 51,15% sepanjang tahun 2025. Sektor ini mendapat dorongan dari pemulihan mobilitas ekonomi global dan kebijakan transportasi yang semakin mendukung. Peningkatan konsumsi domestik serta ekspansi sektor logistik dan transportasi internasional turut menguntungkan sektor ini.
Sektor konsumsi non-primer mengalami kenaikan 46,89% sepanjang tahun 2025. Meskipun lebih volatile, sektor ini tetap menunjukkan pertumbuhan yang stabil, dipengaruhi oleh peningkatan daya beli masyarakat dan kebijakan stimulus ekonomi yang mendukung konsumsi barang-barang non-pokok.
Sektor kesehatan mengalami kenaikan 46,89% pada tahun 2025. Peningkatan ini didorong oleh kebutuhan layanan kesehatan yang relatif stabil, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, serta ekspansi fasilitas dan layanan medis. Karakteristiknya yang cenderung defensif membuat sektor ini tetap menarik dalam berbagai fase siklus ekonomi.
Sektor keuangan mengalami kenaikan 11,31% sepanjang tahun 2025. Meskipun pertumbuhannya lebih kecil dibandingkan sektor lain, sektor keuangan tetap menunjukkan pertumbuhan positif berkat peranannya yang penting dalam perekonomian, mencakup industri perbankan, asuransi, dan pembiayaan.
Sektor konsumsi primer mengalami kenaikan 9,64% pada tahun 2025. Meskipun kenaikannya lebih rendah dibandingkan sektor lain, sektor ini tetap menunjukkan stabilitas karena permintaan terhadap produk kebutuhan pokok cenderung tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi yang buruk.
Setelah memahami masing-masing sektor, penting untuk mengetahui peran analisis sektoral dalam penyusunan portofolio. Berikut beberapa alasan mengapa analisis sektoral perlu dilakukan:
Dengan menganalisis berbagai sektor, investor dapat memilih saham berbeda sehingga portofolio lebih tahan terhadap tekanan jika satu sektor menurun. Sebagai contoh, dengan menggabungkan saham dari sektor teknologi yang sedang tumbuh pesat dan sektor utilitas yang lebih stabil, investor dapat mengurangi potensi kerugian jika salah satu sektor mengalami penurunan kinerja.
Melalui analisis sektoral, investor dapat mengidentifikasi sektor-sektor yang berpotensi menunjukkan kinerja yang baik dalam kondisi ekonomi tertentu. Misalnya, pada saat terjadi resesi, sektor kesehatan dan konsumsi primer (barang kebutuhan pokok) cenderung lebih tahan terhadap dampak negatif ekonomi. Hal ini karena permintaan terhadap produk dan layanan kesehatan serta barang-barang kebutuhan tetap stabil. Sebaliknya, sektor yang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi, seperti transportasi dan otomotif, mungkin mengalami penurunan signifikan. Hal ini umumnya dipicu turunnya daya beli konsumen, sehingga kebutuhan kendaraan baru dan layanan transportasi berkurang.
Dalam kondisi pasar tertentu, terjadi pergeseran minat investor dari satu sektor ke sektor lain. Analisis sektoral membantu investor membaca pola rotasi tersebut sehingga dapat mengambil keputusan investasi yang lebih tepat.
Untuk melakukan analisis sektoral, investor perlu menganalisis kondisi makroekonomi, seperti inflasi, suku bunga, dan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi sektor tertentu. Selain itu, penting untuk menilai prospek jangka panjang dari sektor yang akan dipilih.
Dengan pendekatan tersebut, investor dapat menyusun portofolio saham yang optimal, meminimalisir risiko, dan memaksimalkan potensi imbal hasil. Namun, jika Anda tidak memiliki waktu dan pengetahuan yang cukup untuk melakukan analisis tersebut, investasi melalui reksa dana saham dapat menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan.
Melalui reksa dana saham, dana Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) yang mampu menyusun portofolio dan memilih sektor saham yang berpotensi di masa depan. Ada beragam reksa dana saham di Makmur yang dapat Anda pilih, salah satunya Sucorinvest Equity Fund Kelas A.
Berdasarkan fund fact sheet 30 Januari 2026, reksa dana tersebut memiliki portofolio saham dari berbagai sektor seperti sektor industri dengan emiten PT Astra International Tbk (ASII). Sektor keuangan dengan emiten PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).
Di sektor energi terdapat emiten PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Terakhir, pada sektor bahan baku terdapat emiten PT Timah Tbk (TINS) dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP). Berdasarkan data per 10 Maret 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 32,46% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo March Ramadhan dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Ketika berinvestasi di saham, memahami laporan keuangan perusahaan bisa saja belum cukup untuk mengambil keputusan yang tepat. Investor juga perlu memperhatikan berbagai indikator makroekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk membaca kondisi ekonomi adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK merupakan hasil survei yang mengukur tingkat […]
Key Takeaways: Perubahan nilai tukar US Dollar (USD) terhadap rupiah bukan sekadar indikator makroekonomi yang jauh dari aktivitas sehari-hari. Bagi pelaku pasar modal, pergerakan USD memiliki implikasi langsung terhadap kinerja keuangan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan nilai tukar dapat menjadi katalis positif maupun negatif terhadap kinerja emiten, bergantung pada karakteristik bisnis masing-masing […]
Key Takeaways: Dinamika pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada 27 Januari 2026. Keputusan tersebut tidak terlepas dari isu transparansi free float serta struktur kepemilikan saham yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar. Sebagai respons, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa […]
Key Takeaways: Proses cleansing dalam reksa dana syariah merupakan mekanisme yang memastikan seluruh keuntungan yang diperoleh investor bersumber dari aktivitas yang halal dan sesuai dengan prinsip Islam. Proses ini sangat penting untuk menjaga agar portofolio investasi tetap selaras dengan ketentuan syariah, sebagaimana ditetapkan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis […]
Key Takeaways: Sepanjang Juli 2026, sejumlah emiten secara resmi menyatakan kesiapannya menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dua nama yang cukup mencuri perhatian adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), yang pada 6 Juli 2026 mulai melaksanakan distribusi saham kepada para investor. Distribusi ini menandai bahwa […]
Key Takeaways: Berinvestasi pada saham yang ditawarkan melalui Initial Public Offering (IPO) menjadi salah satu pilihan yang banyak dipertimbangkan oleh investor ritel di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya aktivitas di pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sebanyak 50 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2026. Pada awal Juli 2026, sudah ada sejumlah perusahaan dijadwalkan untuk melakukan IPO, antara […]