makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

Harga Minyak Naik di Atas US$100 per Barel, Eskalasi Konflik Timur Tengah yang Meluas Tekan Bursa Global

author
Content Management
author
11 Maret 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Harga minyak mentah dunia sempat mencapai US$118 per barel pada 9 Maret 2026, naik signifikan dari level US$90,90 pada 6 Maret 2026.
  • Di tengah kenaikan harga minyak, pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli masyarakat.
  • Ketidakpastian geopolitik memberikan tekanan terhadap pasar modal Indonesia. Dalam dua pekan terakhir, IHSG mengalami penurunan signifikan.

Harga minyak mentah dunia pada (9/3) sempat mencapai US$118 per barel, meningkat sekitar 29,81% dibandingkan harga penutupan di tanggal 6 Maret 2026 yang berada di US$90,90 per barel. Berdasarkan data pembukaan perdagangan (9/3), tren harga minyak mentah menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Tabel 1. Kenaikan harga minyak mentah dunia beberapa waktu terakhir

Sumber: Investing

Lonjakan harga minyak terjadi akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memengaruhi produksi serta distribusi minyak global. Iran diketahui menutup salah satu jalur perdagangan energi yang sangat vital. Jalur tersebut merupakan rute pengiriman sekitar 20–30% pasokan minyak dunia.

Selain itu, meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah juga menimbulkan ancaman terhadap fasilitas energi strategis di negara lain seperti kilang Ras Tanura di Arab Saudi, yang merupakan salah satu pusat pengolahan dan ekspor minyak terbesar di kawasan tersebut. Gangguan atau potensi serangan terhadap fasilitas ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya pasokan minyak dunia.

Dampaknya sangat dirasakan oleh negara importir minyak, salah satunya Indonesia. Nilai tukar rupiah bahkan sempat melemah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS pada pagi (9/3). Pelemahan rupiah ini dapat menambah tekanan terhadap kondisi fiskal, mengingat Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan energinya dalam denominasi dolar AS.

Upaya Pemerintah Menjaga Daya Beli Masyarakat

Lonjakan harga minyak mentah tentu berpotensi memengaruhi berbagai aspek ekonomi dalam negeri. Dalam kondisi seperti ini, Anda perlu memahami bahwa harga energi merupakan salah satu faktor penting yang dapat berdampak pada biaya produksi, distribusi, hingga harga barang konsumsi.

Salah satu dampak dari kenaikan harga minyak mentah tentu meningkatnya biaya transportasi dan logistik. Hal ini terjadi karena bahan bakar merupakan komponen utama dalam aktivitas distribusi barang. Pada pekan lalu, Pertamina telah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Kenaikan tersebut merupakan penyesuaian terhadap perubahan harga minyak mentah dunia yang terjadi sejak awal Maret 2026.

Pada tanggal 3 Maret 2026 Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi seperti Biosolar dan Pertalite tidak berubah meski harga minyak mentah dunia bergejolak. Ia juga menyatakan stok nasional berada dalam kondisi aman, yaitu di atas 21 hari kebutuhan menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026.

Di sisi lain, terdapat sinyal yang berbeda dari Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka opsi untuk menaikkan harga BBM subsidi jika harga minyak mentah dunia terus melonjak. Harga minyak mentah WTI pada pembukaan perdagangan (9/3) berada di level US$101,10 per barel, lebih tinggi 44,43% dibandingkan asumsi makroekonomi APBN 2026 yang dipatok di level US$70 per barel.

Selisih yang sangat jauh dari asumsi ini harus ditanggung oleh anggaran subsidi negara. Purbaya memperingatkan bahwa jika pemerintah tidak menyesuaikan ulang anggaran belanja dan harga minyak bertahan di kisaran US$90-92 per barel, APBN 2026 berpotensi mengalami defisit hingga 3,6% terhadap PDB, melampaui batas 3% terhadap PDB. Pemerintah saat ini masih menggunakan anggaran subsidi dalam APBN untuk menyerap tekanan kenaikan harga minyak dunia agar tidak langsung dirasakan oleh masyarakat.

Ketika biaya bahan bakar meningkat, biaya transportasi dan logistik biasanya ikut naik. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang bergantung pada distribusi antarwilayah. Sebagai contoh, beras, telur, dan cabai merupakan komoditas yang sensitif terhadap perubahan biaya logistik. Jika biaya transportasi meningkat, maka harga komoditas tersebut juga berpotensi mengalami kenaikan.

Bursa Saham Global Terkoreksi

Selain berdampak pada harga BBM dan nilai tukar, lonjakan harga minyak serta konflik geopolitik juga memengaruhi sentimen investor di pasar saham. Bursa saham global terkoreksi pada perdagangan (9/3) akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel. Di Wall Street, Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) sempat turun hampir 900 poin, S&P 500 terkoreksi hingga 1,5% pada sesi pembukaan, dan Nasdaq Composite juga ikut tertekan sebelum akhirnya berbalik menguat di akhir sesi.

Di kawasan Asia, tekanan dirasakan oleh Indeks KOSPI yang turun lebih dari 8% hingga memicu circuit breaker, yaitu penghentian perdagangan selama 20 menit. Indeks lain seperti Indeks Nikkei 225 (Jepang) turun 5,20% ke level 52.728,72, Indeks Hang Seng (Hong Kong) melemah 1,35% ke level 25.408,46, Indeks Shanghai Composite (China) terkoreksi 0,67% ke level 4.096,60, serta Indeks Straits Times (Singapura) turun 1,89% ke level 4.756,61.

Sejalan dengan bursa global, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan cukup signifikan. Sebelumnya, pada Sabtu, 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke sejumlah kota di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Tabriz. Serangan tersebut menargetkan instalasi militer serta fasilitas nuklir. Pada saat itu, IHSG mengalami koreksi cukup tajam pada pembukaan perdagangan di 2 Maret 2026. 

Pada pembukaan pekan lalu, (2/3) IHSG langsung terkoreksi 142,59 poin atau −1,73% dari penutupan 27 Februari di level 8.235,49 menjadi 8.092,90. Di pekan ini, IHSG pada penutupan (9/3) berada di level 7.337,37, yang berarti secara month-to-date (MTD) IHSG sudah terkoreksi sebesar 755,53 poin atau −9,34% dari tanggal (2/3) di level 8.092,90. 

Penurunan dalam dua pekan berturut-turut pada Maret menunjukkan bahwa sentimen geopolitik Timur Tengah masih menekan pasar saham Indonesia. Selain IHSG, koreksi juga terjadi pada seluruh indeks sektor saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan penutupan perdagangan (9/3) menunjukkan bahwa semua sektor mengalami penurunan.

Tabel 2. Kinerja indeks sektor saham di BEI (9/3)

Sumber: Bursa Efek Indonesia

Dari data di atas, sektor IDX Basic Materials atau sektor bahan baku mencatatkan penurunan persentase terbesar dengan -4,59%, sementara IDX Energy atau sektor energi mengalami penurunan -4,43%. Kondisi tersebut mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. 

Lonjakan harga minyak yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian di Indonesia. Tekanan ini terlihat dari nilai tukar rupiah serta koreksi pada IHSG dan seluruh indeks sektor saham di BEI. Meskipun pada perdagangan 10 Maret 2026, harga minyak mentah WTI dibuka pada level 88,66 per barel dan sempat mereda, namun ketidakpastian masih membayangi kepercayaan investor.

Dalam kondisi yang cenderung bergejolak, Anda bisa mempertimbangkan instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko relatif rendah. Salah satu opsi yang dapat Anda pilih adalah reksa dana pasar uang, yang dikenal memiliki karakteristik stabil dan cocok untuk menjaga likuiditas dana dalam jangka pendek. Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan jenis reksa dana yang mengalokasikan dana kelolaan pada berbagai instrumen pasar uang, seperti deposito, surat utang jangka pendek, dan instrumen keuangan dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun.

Reksa dana pasar uang dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang melakukan analisis pasar, memilih instrumen yang sesuai, serta mengelola portofolio sesuai dengan kondisi ekonomi. Selain itu, RDPU juga menawarkan tingkat likuiditas yang relatif tinggi sehingga investasi Anda dapat dicairkan kapan saja ketika dibutuhkan. Ada beragam produk reksa dana pasar uang di Makmur yang bisa dipertimbangkan, salah satunya Insight Retail Cash Fund

Berdasarkan data per (9/3), reksa dana tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,14% dalam 1 tahun terakhir. Anda bisa menggunakan Makmur yang merupakan perusahaan wealth tech berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk reksa dana dan saham. Seluruh produk reksa dana yang ada di Makmur telah terkurasi secara profesional.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo March Ramadhan dan Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Tidak Semua Sektor Bergerak Sejalan, Inilah Pentingnya Analisis Sektoral dalam Menyusun Portofolio Saham

Key Takeaways: Saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dikelompokkan ke dalam berbagai sektor. Pergerakan antar-sektor dapat berbeda, tergantung pada kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Beberapa sektor dapat tumbuh signifikan, sementara lainnya stagnan atau menurun, tergantung kondisi ekonomi dan sentimen pasar. Oleh karena itu, pemahaman terhadap analisis sektoral penting, agar bisa menganalisis potensi imbal hasil dan […]

author
Content Management
calendar
10 Maret 2026
Artikel

Memahami Perbedaan Dividen Interim dan Dividen Final Bagi Investor

Key Takeaways: Dividen adalah bagian dari laba bersih perusahaan yang didistribusikan kepada para pemegang saham sebagai bentuk imbal hasil atas modal yang telah diinvestasikan. Besaran dividen yang diterima setiap investor ditentukan secara proporsional berdasarkan jumlah lembar saham yang dimiliki.  Dividen merupakan salah satu cara investor untuk memperoleh keuntungan dari investasi saham selain dari kenaikan harga […]

author
Content Management
calendar
06 Maret 2026
Artikel

Ramadan Sering Jadi Momentum Seasonal, Ini Strategi Beli Saham yang Perlu Dipertimbangkan

Key Takeaways: Ramadan merupakan bulan penuh berkah dan menjadi momen yang bermakna bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama Ramadan, terjadi perubahan pola konsumsi, sehingga mendorong peningkatan jumlah uang yang beredar di masyarakat, karena banyaknya tradisi dan kebutuhan yang perlu dipenuhi selama bulan suci tersebut. Aktivitas ekonomi tersebut mendorong kinerja perusahaan di sektor tertentu. Oleh […]

author
Content Management
calendar
05 Maret 2026
Artikel

Cara Memeriksa Pemegang Saham di Atas 1% dan Mengapa Hal ini Penting bagi Investor

Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) secara resmi mulai mempublikasikan data kepemilikan saham emiten di atas 1% kepada publik sejak 3 Maret 2026. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 1/KDK.04/2026 yang menetapkan BEI dan KSEI sebagai penyedia data kepemilikan saham perusahaan terbuka bagi publik. […]

author
Content Management
calendar
04 Maret 2026
Artikel

Gejolak Pasar Meningkat Akibat Eskalasi AS‑Iran, Ini Strategi Investasi yang Bisa Dicermati

Key Takeaways: Pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer yang menargetkan pusat pemerintahan dan fasilitas militer di Teheran serta sejumlah provinsi lain di Iran. Pemerintah Iran kemudian mengumumkan wafatnya Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, pada 1 Maret 2026 dan di hari yang sama Iran merespons dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan […]

author
Content Management
calendar
03 Maret 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0