






Charlie Munger adalah salah satu investor legendaris di dunia dan merupakan rekan dari Warren Buffett di Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan investasi (holding company) multinasional asal Amerika Serikat. Charlie Munger menjabat sebagai vice chairman sejak 1978. Ia adalah sosok yang meyakinkan Buffett untuk beralih dari strategi cigar butt menjadi berfokus pada perusahaan berkualitas dengan harga wajar.
Charlie Munger wafat pada 28 November 2023 lalu, di usia 99 tahun atau hanya sekitar satu bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-100. Pada saat wafatnya, kekayaannya diperkirakan mencapai US$2,6 miliar, yang sebagian besar berupa saham Berkshire Hathaway Kelas A. Meskipun telah tiada, filosofi investasi Charlie Munger dapat dipelajari dan diterapkan oleh setiap investor untuk membuat strategi investasi yang baik.
Prinsip investasi Charlie Munger yang pragmatis sangat membantu investor memiliki portofolio optimal dan meminimalkan risiko jangka panjang, di antaranya:
Charlie Munger membeli saham dengan tujuan untuk memiliki bagian dari sebuah bisnis, bukan berspekulasi atas naik turunnya harga saham. Hal ini menekankan pentingnya memahami fundamental dan prospek perusahaan sebelum berinvestasi. Seorang investor yang cermat akan berinvestasi pada perusahaan dengan model bisnis dan prospek jangka panjang yang baik. Pelajari terlebih dahulu produk atau layanan yang ditawarkan serta pasar yang menjadi sasaran perusahaan tersebut.
Selain itu, investor dapat meninjau laporan keuangan, seperti laporan laba rugi, neraca, dan berbagai rasio keuangan lainnya. Dari laporan tersebut, investor bisa menganalisis lebih jauh apakah saham yang akan dibeli sudah sesuai dengan karakter dan strategi investasi. Sebagai contoh, Charlie Munger adalah sosok yang meyakinkan Warren Buffett untuk berinvestasi di perusahaan otomotif listrik Build Your Dreams (BYD) asal Tiongkok pada tahun 2008. Ia melihat keunggulan BYD dalam teknologi baterai jauh sebelum tren mobil listrik berkembang pesat. Tren electric vehicle (EV) baru meningkat signifikan sekitar tahun 2021–2025, tetapi Charlie Munger dan Warren Buffett sudah membeli saham BYD sejak tahun 2008. Pada 2025, BYD bahkan menyalip Tesla sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia dengan penjualan sekitar 2,26 juta unit.
Charlie Munger lebih memilih untuk berinvestasi pada perusahaan dengan kinerja luar biasa dengan harga wajar, daripada membeli perusahaan dengan kinerja rendah dengan harga murah. Fokus pada kualitas jangka panjang perusahaan jauh lebih menguntungkan dibandingkan sekadar mengejar harga rendah.
Untuk investor pemula, pilih perusahaan yang memiliki rekam jejak baik, manajemen yang kompeten, dan prospek jangka panjang baik meskipun harganya mungkin sedikit lebih mahal. Selain itu, investor perlu melakukan perhitungan terhadap nilai intrinsik sebuah perusahaan.
Dua indikator yang dapat digunakan untuk menghitung valuasi saham adalah Price to Book Value (PBV) dan Price to Earnings Ratio (PER). Investor dapat membandingkan apakah nilai intrinsiknya lebih besar dari harga saham di bursa saat ini atau tidak. Jika nilai intrinsik lebih besar daripada harga saham saat ini, artinya saham tersebut tergolong undervalued.
Di Indonesia, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dapat menjadi contoh yang relevan untuk dianalisis dari sisi valuasi. Secara historis, valuasi BBCA saat ini berada di bawah rata-rata dalam 5 tahun terakhir.
Sebagai gambaran, per 29 April 2026, PER BBCA berada di kisaran 12,68x, lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahun sebesar 24,55x. Sementara itu, PBV tercatat sekitar 2,84x, di bawah rata-rata 5 tahun sebesar 4,62x, dengan harga saham berada di Rp5.975 per lembar.
Di sisi lain, BBCA juga didukung oleh kekuatan brand yang sangat kuat, berulang kali dinobatkan sebagai salah satu brand perbankan terkuat di dunia dengan skor Brand Strength Index (BSI) 97,1 dan peringkat brand tertinggi (AAA+) pada 2025, sekaligus diakui oleh Newsweek sebagai bank paling dipercaya di Indonesia, dalam daftar World’s Most Trustworthy Companies 2025.
Kondisi ini dapat menjadi pertimbangan awal dalam menilai apakah valuasi saham relatif lebih menarik dibandingkan historisnya, dengan tetap mempertimbangkan faktor fundamental dan prospek ke depan.
Charlie Munger juga menekankan pentingnya kesabaran dalam investasi. Menurutnya, “kekayaan besar bukan dihasilkan dari jual-beli secara cepat, melainkan dari kesabaran.” Keuntungan yang tumbuh secara perlahan namun pasti memberikan hasil yang lebih optimal dalam jangka panjang.
Dalam kurun waktu sekitar 54 tahun sejak Charlie Munger dan Warren Buffett menginvestasikan US$25 juta di See’s Candies pada tahun 1972, perusahaan tersebut telah menghasilkan laba sebelum pajak lebih dari US$2 miliar bagi Berkshire Hathaway. Secara kumulatif, jumlah ini setara dengan kira-kira 80 kali nilai investasi awal dari modal yang ditanamkan. Angka tersebut menggambarkan seberapa besar potensi keuntungan dari investasi jangka panjang pada bisnis yang berkualitas dan memiliki basis pelanggan yang loyal.
Di Indonesia, BBCA juga menjadi salah satu contoh saham yang bertumbuh dalam jangka panjang. Selama kurang lebih 20 tahun, sejak 30 September 2005 di mana harganya tercatat di kisaran Rp345, hingga mencapai Rp7.300 per 23 Februari 2026, saham BBCA telah mengalami kenaikan sekitar 2.016% atau tumbuh kurang lebih 21 kali lipat. Angka ini menunjukkan betapa besar potensi pertumbuhan jangka panjang bagi investor yang sabar. Bahkan, kenaikan tersebut belum dihitung dengan dividen yang dibagikan oleh BBCA di setiap tahun.
Bagi Munger, prinsip utama investasi adalah menghindari kerugian besar. Fokus utama bukan hanya pada keuntungan yang tinggi, tetapi pada pengelolaan risiko dan upaya untuk melindungi modal dari kerugian signifikan. Investor perlu memahami efek asimetris dalam investasi, di mana semakin besar kerugian, pertumbuhan yang dibutuhkan akan semakin besar. Di bawah ini merupakan contoh efek asimetris dalam investasi:
Tabel 1. Efek asimetris dalam investasi

Dari tabel di atas, investor bisa melihat bahwa semakin besar kerugian yang dialami, semakin berat untuk kembali ke titik break even atau balik modal. Kerugian dalam investasi merupakan hal yang wajar, namun perlu dikelola agar tidak menjadi signifikan.
Jangan terjebak dalam investasi yang sangat berisiko, fokuslah pada investasi yang lebih stabil, terutama ketika baru memulai investasi saham. Investor dapat memilih saham blue chip yang memiliki aspek fundamental baik dan potensi keuntungan jangka panjang yang optimal. Saham seperti itu cenderung memberikan potensi imbal hasil yang lebih stabil, meskipun mungkin tidak memberikan keuntungan besar secara cepat.
Charlie Munger percaya bahwa integritas dan reputasi adalah elemen yang tidak dapat dipisahkan dalam investasi. Berinvestasi kepada individu atau entitas yang memiliki integritas tinggi adalah langkah penting untuk memastikan keberhasilan jangka panjang.
Salah satu faktor penting dalam memilih perusahaan adalah kualitas manajemennya. Pilih perusahaan dengan manajemen yang jujur, berintegritas, dan memiliki visi jangka panjang yang jelas. Hindari berinvestasi di perusahaan dengan manajemen yang buruk atau yang terlibat dalam masalah hukum yang dapat merusak reputasinya.
BBCA misalnya, berhasil bangkit dengan melakukan aksi buyback Rp5 triliun untuk menyerap tekanan jual investor asing pasca sentimen negatif terkait pembekuan rebalancing MSCI. Selain itu, transparansi manajemen dan proyeksi laba sekitar Rp57,6 triliun telah menarik minat investor domestik untuk membeli saham saat harga koreksi. Strategi tersebut membantu memulihkan kepercayaan investor di tengah dinamika pasar.
Pendekatan investasi Charlie Munger menekankan pentingnya disiplin, kualitas, dan pengelolaan risiko. Dengan menerapkan prinsip tersebut, investor dapat membangun portofolio yang lebih solid untuk jangka panjang.
Filosofi ini juga dapat diterapkan dalam investasi reksa dana. Investor dapat memilih reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) dengan kompetensi tinggi, reputasi yang baik, serta rekam jejak kinerja yang konsisten dalam menghasilkan imbal hasil optimal dalam jangka panjang.
Tersedia beragam reksa dana saham di Makmur yang bisa dipertimbangkan, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Berdasarkan data per 4 Mei 2026, reksa dana tersebut mencatatkan kinerja positif sebesar 60,05% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo April Resilience dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Mulai Januari 2026, terdapat perubahan fundamental di pasar modal Indonesia. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas investasi saham bagi perusahaan asuransi dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada institusi pengelola dana, tetapi juga berpotensi memengaruhi kinerja portofolio investasi investor. Perubahan batas investasi dapat memengaruhi dinamika harga […]
Key Takeaways: Sepanjang year-to-date (YTD) 2026 hingga 22 Juni 2026, pasar obligasi Indonesia menghadapi tekanan dari faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan moneter dan tensi geopolitik yang masih berlanjut meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas […]
Key Takeaways: Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 18 Juni 2026 menjadi 5,75% dari sebelumnya 5,50%. Kenaikan ini merupakan yang ketiga sejak Mei 2026 setelah BI lebih dulu menaikkan suku bunga pada 20 Mei dan 9 Juni 2026. Langkah tersebut diambil sebagai […]
Key Takeaways: Dalam ekosistem pasar modal Indonesia, terdapat dua lembaga yang berperan penting dalam mendukung kelancaran transaksi efek, yaitu Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Berdasarkan POJK Nomor 31 Tahun 2025 tentang Penerapan Tata Kelola Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, baik KSEI maupun KPEI […]
Key Takeaways: Capital outflow atau arus keluar modal asing menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menarik dana dari pasar saham, obligasi, maupun instrumen finansial lainnya, dampaknya dapat dirasakan secara luas terhadap nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga kondisi likuiditas di Indonesia. Di bawah ini merupakan […]
Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]