






Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi mengumumkan pembekuan sementara (interim freeze) rebalancing untuk seluruh indeks saham Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026. Langkah pembekuan rebalancing MSCI ini diambil menyusul kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia.
MSCI merupakan perusahaan riset asal Amerika Serikat yang menyediakan tools analysis portfolio dan berbagai indeks pasar saham global seperti MSCI Emerging Markets, MSCI World, dan MSCI All Country World Index, yang sering digunakan sebagai acuan oleh investor dalam mengukur kinerja pasar saham dan menyusun portofolio investasi.
Keputusan pembekuan sementara MSCI tersebut langsung berdampak pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang dibuka turun signifikan sebesar -6,53% pada pagi hari ini disebabkan saham-saham konglomerasi dan blue chip mengalami pelemahan signifikan.
IHSG dibuka melemah signifikan sebesar 6,53% pada perdagangan pagi, seiring tekanan jual pada saham-saham konglomerasi dan blue chip. Pada 28 Januari 2026, IHSG sempat mengalami trading halt selama 30 menit pada pukul 13.43.13 setelah indeks terkoreksi hingga 8,00%.
Langkah pembekuan rebalancing ini mencakup penangguhan seluruh perubahan indeks untuk periode rebalancing Februari 2026. Pembekuan ini meliputi pembatalan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan penundaan perpindahan saham dari kategori Small Cap ke Standard Index.
Perpindahan tersebut mengacu pada perubahan status saham dari kategori “Small Cap” atau saham dengan kapitalisasi pasar kecil ke kategori “Standard Index” yang mencakup saham dengan kapitalisasi pasar lebih besar dan lebih likuid.
MSCI menyebutkan bahwa keputusan pembekuan rebalancing ini dilatarbelakangi oleh masalah transparansi data free float di pasar modal Indonesia. Free float merupakan jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan di pasar atau yang likuid ditransaksikan oleh investor, ini menjadi salah satu indikator penting bagi investor asing.
MSCI mencatat bahwa data free float yang ada tidak cukup transparan. Ada kekhawatiran bahwa jumlah saham yang tercatat untuk diperdagangkan mungkin lebih kecil daripada yang dilaporkan secara publik. Kurangnya keterbukaan mengenai data ini menambah ketidakpastian di kalangan investor, yang tentu berpotensi berdampak pada kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Untuk itu, MSCI telah membekukan rencana kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares yang sebelumnya telah diusulkan, baik yang berasal dari tinjauan berkala maupun dari aksi korporasi. Pembekuan ini mencakup seluruh perubahan yang berkaitan dengan alokasi bobot saham dalam indeks, yang semestinya telah dilakukan pada rebalancing waktu mendatang, tepatnya pada Februari 2026.
Jika kondisi transparansi pasar tidak menunjukkan perbaikan yang signifikan hingga Mei 2026, MSCI berencana untuk meninjau kembali status aksesibilitas pasar Indonesia. Salah satu opsi yang mungkin diambil adalah menurunkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, atau bahkan menurunkan klasifikasi Indonesia menjadi Frontier Market.
MSCI Emerging Markets adalah klasifikasi MSCI untuk negara dengan pasar saham yang lebih berkembang dan memiliki akses yang lebih mudah bagi investor internasional. Negara-negara dalam kategori ini, termasuk Indonesia, dianggap memiliki pasar yang lebih likuid dan transparan, dengan infrastruktur yang lebih baik.
Sementara itu, Frontier Market merupakan klasifikasi MSCI untuk negara-negara dengan pasar yang lebih kecil, kurang likuid, dan memiliki perkembangan pasar yang lebih terbatas. Negara dalam kategori ini sering kali menghadapi tantangan terkait transparansi dan stabilitas pasar. Contoh negara yang berada pada frontier meliputi Vietnam, Bangladesh, hingga Sri Lanka.
Menanggapi keputusan MSCI, pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyatakan komitmennya untuk terus melakukan dialog intensif dengan MSCI guna memenuhi standar transparansi data yang diminta. Langkah komunikasi ini diambil untuk memastikan kredibilitas pasar modal Indonesia di mata investor asing dan menjaga stabilitas pasar modal Indonesia.
BEI menegaskan bahwa pihaknya berupaya keras untuk menyelesaikan masalah ini agar pasar Indonesia dapat kembali menunjukkan transparansi yang memadai. Dialog dengan MSCI diharapkan dapat menghasilkan solusi konkret agar Indonesia tetap berada dalam kategori Emerging Markets.
Dalam hal ini, OJK dan BEI sedang mengkaji penyempurnaan kebijakan terkait continuous free float dan penambahan porsi saham publik. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan likuiditas riil di pasar modal Indonesia dan memberikan kepastian lebih kepada investor asing. Kebijakan continuous free float merupakan aturan yang mewajibkan perusahaan tercatat untuk mempertahankan persentase saham yang dapat diperdagangkan di pasar (free float) dalam jumlah yang stabil dan berkelanjutan.
Selain itu, OJK sedang mempercepat kebijakan terkait Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau kepemilikan manfaat akhir. Kebijakan ini diharapkan dapat mengatasi keraguan investor global terkait struktur kepemilikan saham emiten di Indonesia yang selama ini dianggap kurang transparan. Langkah ini diambil agar pasar Indonesia semakin terbuka dan bisa bersaing dengan pasar global.
Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga menyatakan kesiapan untuk memberikan data kepemilikan saham yang lebih mendalam. KSEI berencana untuk menyediakan data dari Monthly Holding Composition Report yang lebih lengkap, sehingga BEI dapat melakukan kalkulasi ulang free float sesuai dengan standar internasional. Hal ini merupakan langkah penting untuk mendukung reformasi pasar modal Indonesia menuju pasar yang lebih transparan dan efisien.
Keputusan MSCI untuk membekukan sementara rebalancing dan menunda perubahan indeks saham Indonesia merupakan langkah besar yang langsung berdampak pada kinerja IHSG. MSCI menekankan pentingnya transparansi data free float dan struktur kepemilikan saham yang jelas untuk memastikan aksesibilitas pasar saham Indonesia bagi investor internasional.
Pihak otoritas bursa dan pengawas keuangan Indonesia, termasuk BEI, OJK, dan KSEI, telah mengambil langkah untuk menanggapi masalah ini. Dengan rencana melakukan dialog intensif dengan MSCI, diharapkan Indonesia dapat kembali memenuhi standar transparansi yang diperlukan dan mempertahankan statusnya sebagai pasar emerging market. Ke depan, kebijakan-kebijakan yang mendukung transparansi dan likuiditas pasar diharapkan dapat memperkuat posisi pasar Indonesia di mata investor asing.
Di sisi lain, pada saat ini manajer investasi (MI) reksa dana saham berpotensi menyesuaikan portofolio dan melakukan evaluasi mendalam terhadap emiten yang ada dalam portofolionya. MI akan memastikan bahwa emiten-emiten dalam portofolio tersebut memenuhi standar transparansi yang diperlukan oleh MSCI dan memiliki struktur kepemilikan yang jelas, guna menghindari potensi risiko dan mempertahankan kinerja portofolio yang optimal di tengah ketidakpastian pasar.
Namun, di tengah ketidakstabilan dan koreksi pasar seperti saat ini, salah satu langkah bijak yang bisa Anda ambil adalah dengan berinvestasi ke reksa dana pendapatan tetap untuk meminimalisir risiko. Reksa dana pendapatan tetap (RDPT) mengalokasikan minimal 80% dana kelolaan ke surat utang atau obligasi, yang memberikan potensi imbal hasil yang lebih stabil dan risiko yang lebih rendah dibandingkan saham ataupun reksa dana saham.
Salah satu reksa dana pendapatan tetap yang dapat Anda pertimbangkan adalah Sucorinvest Bond Fund, yang tersedia pada aplikasi Makmur. Berdasarkan data per 27 Januari 2026, reksa dana ini memiliki kinerja positif sebesar 11,84% dalam 1 tahun terakhir, mencerminkan kemampuan untuk memberikan imbal hasil yang stabil. Reksa dana pendapatan tetap bisa menjadi pilihan yang baik bagi investor saat pasar saham mengalami fluktuasi yang tajam.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Saham blue chip merujuk pada saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar, stabil, dan sering ditransaksikan di pasar saham. Perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki rekam jejak yang panjang, kinerja keuangan yang solid, serta kemampuan untuk bertahan dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Istilah “blue chip” diambil dari permainan poker, di mana “blue chip” adalah chip dengan […]
Key Takeaways: Pasar modal Indonesia sedang bersiap menghadapi agenda penting, yaitu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif diberlakukan mulai 2 Maret 2026. Proses rebalancing ini rutin dilakukan oleh MSCI untuk memastikan bahwa indeks tetap representatif terhadap kondisi pasar global dan domestik. Mengapa hal tersebut penting? […]
Key Takeaways: Return on Investment (ROI) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu investasi. ROI menunjukkan seberapa efektif investasi yang dilakukan dalam menghasilkan keuntungan. Secara umum, semakin besar ROI yang diperoleh, semakin baik kinerja investasi tersebut. Namun, ROI yang besar tidak selalu mencerminkan investasi yang ideal karena masih terdapat faktor lain yang […]
Key Takeaways: Reksa dana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang mengalokasikan minimal 80% dana kelolaannya ke dalam instrumen seperti obligasi atau surat utang. Produk ini cocok bagi Anda yang menginginkan potensi imbal hasil yang stabil dengan tingkat risiko lebih rendah dibandingkan reksa dana saham. Salah satu manajer investasi yang menawarkan produk-produk reksa dana pendapatan […]
Key Takeaways: Market capitalization atau market cap sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai skala sebuah perusahaan. Namun, penting bagi Anda untuk memahami bahwa market cap yang besar tidak selalu mencerminkan kualitas fundamental suatu emiten. Investor yang hanya bergantung pada market cap dalam mengambil keputusan investasi berisiko mengabaikan aspek-aspek penting lainnya. Market cap adalah […]