






Dividen adalah bagian dari laba bersih perusahaan yang didistribusikan kepada para pemegang saham sebagai bentuk imbal hasil atas modal yang telah diinvestasikan. Besaran dividen yang diterima setiap investor ditentukan secara proporsional berdasarkan jumlah lembar saham yang dimiliki.
Dividen merupakan salah satu cara investor untuk memperoleh keuntungan dari investasi saham selain dari kenaikan harga saham. Dalam pasar modal, terdapat dua jenis dividen yang sering dibagikan, yaitu dividen interim dan dividen final. Memahami perbedaan dividen interim dan dividen final sangat penting bagi investor untuk dapat merencanakan strategi investasi dan mengoptimalkan hasil investasi.
Meskipun sama-sama berasal dari laba perusahaan, dividen interim dan dividen final memiliki perbedaan mendasar dalam hal waktu pembayaran, pengumuman, sumber laba, dan tujuan distribusinya, di bawah ini merupakan penjelasan detailnya:
Perbedaan dividen interim dan dividen final terlihat perbedaannya pada waktu pembayaran. Dividen interim biasanya dibayarkan pada tahun berjalan, umumnya setelah semester pertama berakhir. Sementara itu, dividen final merupakan pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham yang diputuskan dan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) setelah tahun buku perusahaan berakhir.
Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang tahun 2025 membagikan dividen final tahun buku 2024 sebesar Rp250 per lembar saham pada Maret 2025, kemudian memberikan dividen interim tahun buku 2025 sebesar Rp50 pada Desember 2025.
Dividen interim diumumkan lebih cepat, biasanya setelah laporan keuangan periode berjalan dipublikasikan dan hasil laba sementara tercatat, sehingga pembagiannya dapat dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, dividen final diumumkan setelah laporan keuangan tahunan diaudit dan dipublikasikan. Dividen interim bisa menjadi acuan untuk investor dalam menilai kinerja perusahaan sebelum tahun buku berakhir.
Dividen interim didasarkan pada hasil laba yang diperoleh perusahaan sepanjang periode berjalan (misalnya, Q1 atau Q2), sementara dividen final didasarkan pada laba tahunan yang sudah diaudit dan diselesaikan, serta biasanya dipublikasikan pada tahun berikutnya. Hal ini menunjukkan bahwa dividen final memberikan gambaran yang lebih akurat tentang stabilitas dan profitabilitas perusahaan sepanjang tahun.
Dividen interim bertujuan untuk memberikan distribusi laba lebih awal kepada investor, yang berguna untuk meningkatkan likuiditas dan memberikan insentif langsung bagi pemegang saham. Sementara itu, dividen final bertujuan untuk memberikan pembagian laba yang lebih adil berdasarkan kinerja tahunan yang telah selesai dan diaudit.
Perbedaan dividen interim dan dividen final juga dapat dilihat dari dampaknya. Dividen interim memberikan keuntungan bagi investor yang menginginkan aliran kas lebih cepat, sehingga investor dapat memperoleh imbal hasil lebih awal. Sebaliknya, dividen final memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja perusahaan untuk tahun tersebut.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai perbedaan dividen interim dan dividen final secara perhitungan, berikut adalah dividen yang akan diterima oleh seorang investor yang memiliki 50 lot (5.000 lembar) saham pada saham X. Di bawah ini merupakan simulasi data yang diketahui:
Untuk investor yang memiliki 50 lot, total dividen interim yang diterima adalah:
Untuk investor yang memiliki 50 lot, total dividen final yang diterima adalah:
Jadi, seorang investor yang memiliki 50 lot saham X akan menerima Rp100.000 dari dividen interim dan Rp700.000 dari dividen final, yang totalnya menjadi Rp800.000. Penting bagi investor untuk memahami perbedaan dividen interim dan dividen final karena keduanya memiliki tujuan, waktu pembayaran, dan mekanisme distribusi yang berbeda.
Namun, penting untuk diingat bahwa jumlah dividen bukanlah satu-satunya faktor yang dipertimbangkan dalam keputusan membeli saham. Analisis fundamental terhadap laporan keuangan emiten tetap menjadi hal yang esensial untuk mengevaluasi kinerja perusahaan.
Jika Anda ingin berinvestasi secara lebih efisien, Anda dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi melalui reksa dana saham. Dalam hal ini, manajer investasi (MI) akan melakukan analisis fundamental terhadap emiten sebelum memasukkannya ke dalam portofolio. Meskipun reksa dana saham juga berpotensi memberikan dividen, cara distribusinya bisa berbeda-beda, tergantung pada kebijakan yang diterapkan oleh MI.
Terdapat beragam produk reksa dana saham di Makmur, salah satunya adalah Trim Kapital Plus. Berdasarkan data per 05 Maret 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 26,11% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Makmur merupakan perusahaanAgen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan sudah berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menyediakan platform investasi terpadu untuk reksa dana dan saham.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo March Ramadhan dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Selain melalui aplikasi, Anda juga dapat mengakses Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Assets under management (AUM) atau total dana kelolaan dari suatu reksa dana saham dapat menjadi salah satu indikator kredibilitas, karena menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap manajer investasi (MI), termasuk investor institusi besar seperti dana pensiun yang telah melakukan due diligence atau proses penilaian untuk menempatkan dana. Namun, besarnya AUM tidak selalu menjamin kinerja […]
Key Takeaways: Evaluasi periode investasi menjadi aspek fundamental dalam pengelolaan portofolio. Keberhasilan investasi bergantung pada pemilihan produk dan kemampuan investor untuk secara objektif menilai kinerja dan menyesuaikan periode investasi dengan tujuan keuangan serta profil risiko pribadi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai indikator kinerja, risiko, dan karakteristik masing-masing jenis reksa dana menjadi krusial bagi setiap […]
Key Takeaways: Pada Senin, 20 April 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Keputusan ini menandai penundaan perubahan konstituen indeks, termasuk penambahan saham baru maupun penyesuaian bobot saham yang sudah ada. Langkah ini bukan pertama kalinya dilakukan. Pembekuan rebalancing MSCI sebelumnya juga terjadi pada 27 […]
Key Takeaways: Buy on weakness sering dipandang sebagai strategi investasi yang bisa dilakukan setiap investor, karena dianggap cukup dengan membeli saham saat harga mengalami penurunan, lalu bisa mendapatkan potensi imbal hasil ketika harga sahamnya sudah pulih. Padahal, tidak semua saham yang mengalami koreksi layak untuk dibeli. Selain itu, koreksi pasar bisa terjadi dalam jangka waktu […]
Key Takeaways: Sektor saham basic materials di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencakup emiten penyedia bahan baku industri, seperti logam, pertambangan, semen, dan kimia. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada […]
Key Takeaways: Memasuki kuartal II 2026, pasar keuangan global masih menunjukkan peningkatan volatilitas yang dipicu oleh berlanjutnya tekanan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Di tengah kondisi tersebut, peningkatan penerbitan utang negara (debt issuance) secara global turut menambah pasokan obligasi di pasar, sehingga memberikan tekanan pada harga dan mendorong pergerakan yield menjadi semakin […]