makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

Jangan Hanya Lihat Return, Ini Aspek Risiko Reksa Dana yang Perlu Dipertimbangkan

author
Content Management
author
23 Februari 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Meskipun return merupakan salah satu pertimbangan memilih reksa dana, penting juga untuk mengevaluasi aspek risiko yang mungkin terjadi.
  • Risiko yang dapat memengaruhi kinerja reksa dana meliputi risiko pasar, likuiditas, wanprestasi, inflasi, dan valuasi.
  • Untuk mengurangi risiko, penting untuk memahami profil risiko, melakukan diversifikasi portofolio, dan memantau kinerja reksa dana secara berkala.

Dalam berinvestasi pada reksa dana, banyak investor yang lebih fokus pada return atau imbal hasil yang dapat diperoleh. Meskipun return merupakan salah satu pertimbangan utama, penting untuk tidak mengabaikan aspek risiko yang menyertainya. Risiko pada reksa dana dapat berasal dari berbagai faktor yang memengaruhi kinerja investasi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai risiko ini sangat penting agar investor dapat membuat keputusan yang lebih bijak dan mengelola potensi kerugian dengan lebih efektif.

Aspek Risiko Reksa Dana

Berikut ini aspek risiko yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda memutuskan untuk berinvestasi dalam reksa dana.

1. Risiko pasar

Risiko pasar adalah risiko yang timbul akibat fluktuasi harga pasar yang memengaruhi nilai investasi dalam reksa dana. Fluktuasi ini bisa disebabkan oleh gejolak ekonomi maupun sentimen pasar. Selain itu, risiko pasar juga dapat dipengaruhi oleh faktor politik, seperti perubahan kebijakan pemerintah yang dapat memengaruhi kinerja pasar secara keseluruhan. Dalam reksa dana saham, risiko pasar sangat berpengaruh karena pergerakan harga saham yang dinamis.

Sebagai contoh sentimen pasar yang baru terjadi beberapa minggu lalu, MSCI secara resmi mengumumkan kebijakan pembekuan sementara terhadap indeks saham Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026. Lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot tajam hingga 8,0% pada 28 Januari 2026, yang memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt.

Berdasarkan data per 19 Februari 2026, IHSG -8,25% dalam 1 bulan terakhir. Beberapa reksa dana saham juga mencatatkan kinerja yang searah dengan pelemahan pasar. Sucorinvest Sharia Equity Fund, misalnya, dalam 1 bulan terakhir kinerjanya tercatat -4,88%. Namun, secara 1 tahun terakhir, kinerjanya masih berada di level positif sebesar 42,85%.

Risiko pasar tidak dapat dipisahkan dari investasi reksa dana, terutama pada reksa dana saham. Fluktuasi pasar yang terjadi dapat memengaruhi kinerja jangka pendek, namun potensi return jangka panjang tetap dapat terjaga.

2. Risiko likuiditas

Risiko likuiditas muncul ketika reksa dana kesulitan menjual asetnya dalam waktu singkat tanpa harus menurunkan harga secara signifikan. Risiko ini sering terjadi pada reksa dana yang berinvestasi dalam aset dengan likuiditas rendah. Dalam kondisi pasar yang tidak mendukung atau saat terjadi krisis ekonomi, reksa dana mungkin kesulitan mengonversi aset menjadi uang tunai, yang dapat memengaruhi kemampuan investor untuk mencairkan investasinya dengan harga yang wajar.

Sebagai contoh, pada akhir tahun 2019, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memerintahkan pembubaran (likuidasi) beberapa produk reksa dana Minna Padi. Salah satu kendala yang dihadapi saat itu adalah risiko likuiditas. Ketika produk reksa dana tersebut harus dibubarkan dan asetnya dijual untuk mengembalikan uang kepada investor, manajer investasi (MI) mengalami kesulitan dalam menjual saham tersebut karena tidak ada pembeli di pasar. 

Akibatnya, proses pengembalian dana ke investor memakan waktu lama dan nilai yang diterima jauh di bawah ekspektasi. Pada saat OJK memerintahkan pembubaran dan likuidasi enam produk reksa dana PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM) pada November 2019, portofolionya mencakup aset senilai sekitar Rp6 triliun. Sebagian besar saham dalam portofolio tersebut merupakan saham dengan likuiditas rendah atau kapitalisasi pasar kecil hingga menengah, yang sering disebut sebagai saham lapis kedua atau ketiga.

Untuk meminimalkan risiko likuiditas, investor perlu melakukan pengecekan terhadap fund fact sheet reksa dana yang ingin mereka investasikan. Dengan melihat fund fact sheet, investor dapat mengetahui jenis aset yang dimiliki oleh reksa dana tersebut, termasuk likuiditas dan kapitalisasi pasar dari saham-saham yang ada dalam portofolio. Selain itu, investor juga dapat memeriksa informasi terkait rasio likuiditas, track record manajer investasi, dan kinerja reksa dana selama periode yang berbeda. 

3. Risiko wanprestasi

Risiko wanprestasi merupakan potensi gagal bayar yang terjadi ketika pihak yang berutang, atau emiten yang menjadi aset dalam reksa dana, tidak dapat memenuhi kewajibannya, seperti gagal membayar bunga atau pokok utang. Risiko ini lebih relevan bagi reksa dana pendapatan tetap yang berinvestasi dalam obligasi atau instrumen surat utang. 

Ketika emiten gagal memenuhi kewajibannya, nilai investasi reksa dana dapat mengalami penurunan, sehingga meningkatkan risiko bagi investor dan berpotensi menyebabkan kerugian, baik sebagian maupun seluruhnya, dari dana yang diinvestasikan.

Sebagai contoh, pada 3 Februari 2026, Pefindo menurunkan peringkat obligasi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menjadi idD (Default) setelah perusahaan gagal membayar kupon yang jatuh tempo. 

Sebelumnya, pada Februari 2025, WIKA juga gagal melunasi pokok obligasi dan sukuk senilai Rp1,75 triliun dan Rp750 miliar. Akibat kegagalan pembayaran tersebut, reksa dana yang memiliki obligasi WIKA terpaksa menurunkan nilai asetnya, yang berdampak pada penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tersebut.

4. Risiko inflasi

Meskipun reksa dana dapat memberikan imbal hasil positif, jika return yang diperoleh tidak cukup untuk mengimbangi tingkat inflasi, nilai riil investasi akan menurun. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan inflasi sebagai salah satu faktor dalam menilai imbal hasil investasi reksa dana, terutama untuk reksa dana yang memiliki risiko rendah atau cenderung memberikan return stabil.

Berdasarkan data tahun 2025, angka inflasi di Indonesia tercatat sebesar 2,92% year-on-year (YoY). Ketika mempertimbangkan investasi reksa dana pasar uang, pastikan performanya dalam satu tahun berada di atas tingkat inflasi tersebut. Jika return yang diperoleh berada di bawah angka inflasi, maka imbal hasil yang diperoleh tidak akan optimal.

Reksa dana pasar uang memiliki probabilitas lebih tinggi untuk menghasilkan return di bawah tingkat inflasi, karena dana kelolaannya sebagian besar ditempatkan pada instrumen pasar uang seperti deposito dan instrumen surat utang atau obligasi jangka pendek, yang cenderung memberikan imbal hasil yang relatif stabil. Maka dari itu, reksa dana pasar uang lebih cocok untuk investasi jangka pendek. 

Cara Meminimalisir Risiko Reksa Dana

Untuk mengurangi risiko reksa dana, penting bagi Anda untuk memahami cara yang efektif dalam mengelola dana dan meminimalkan dampak risiko tersebut.

1. Pahami profil risiko

Sebelum berinvestasi, penting untuk memahami profil risiko Anda. Profil risiko mencerminkan sejauh mana Anda siap menghadapi risiko dalam investasi. Setiap jenis reksa dana memiliki tingkat risiko yang berbeda sehingga penting untuk memilih reksa dana yang sesuai dengan toleransi risiko Anda. 

Sebagai contoh, jika Anda cenderung memiliki profil risiko rendah atau konservatif, maka jenis reksa dana pasar uang akan lebih cocok. Sementara itu, jenis reksa dana campuran dan reksa dana saham lebih tepat bagi investor dengan profil risiko agresif atau memiliki toleransi risiko yang lebih tinggi. 

2. Diversifikasi portofolio reksa dana

Diversifikasi portofolio adalah salah satu strategi paling efektif untuk mengurangi risiko investasi. Dengan mendiversifikasi dana Anda ke dalam berbagai jenis reksa dana, seperti reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, dan saham, Anda dapat mengurangi potensi kerugian yang mungkin terjadi akibat penurunan nilai salah satu aset dalam portofolio.

Strategi ini membantu menyebarkan risiko di antara berbagai kelas aset, sehingga fluktuasi pasar yang memengaruhi satu jenis aset tidak langsung memengaruhi keseluruhan portofolio. Dengan demikian, portofolio yang terdiversifikasi akan lebih mampu bertahan dalam berbagai kondisi pasar, meningkatkan peluang untuk mencapai tujuan investasi jangka panjang Anda.

3. Pantau kinerja reksa dana secara berkala

Sebelum berinvestasi, pastikan untuk membaca prospektus reksa dana yang berisi informasi penting mengenai strategi investasi, biaya, dan risiko terkait. Meskipun reksa dana dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional, tidak ada salahnya untuk secara berkala mengevaluasi kinerja reksa dana yang Anda miliki. 

Pastikan untuk membaca laporan kinerja yang diterbitkan secara berkala oleh MI, yang mencakup informasi mengenai imbal hasil, risiko, dan perubahan dalam strategi investasi. Jika kinerja reksa dana tidak memenuhi ekspektasi atau jika ada perubahan signifikan dalam kondisi pasar yang dapat memengaruhi hasil investasi, Anda mungkin perlu melakukan penyesuaian atau switching reksa dana, yaitu proses memindahkan investasi dari satu reksa dana ke reksa dana lainnya tanpa menarik dana ke rekening pribadi.

4. Fokus pada tujuan investasi

Fokus pada tujuan investasi Anda atau terapkan pendekatan Life-Cycle Investing, baik itu untuk pensiun, membeli rumah, atau dana pendidikan anak. Setiap tujuan investasi membutuhkan strategi yang berbeda sehingga penting untuk memilih reksa dana yang sesuai dengan tujuan tersebut. Selain mempertimbangkan potensi return, pastikan juga bahwa reksa dana yang dipilih sejalan dengan jangka waktu investasi dan profil risiko Anda.

Jika Anda tertarik untuk berinvestasi dalam reksa dana, Anda dapat melakukannya melalui Makmur, perusahaan wealth technology berizin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang menghadirkan layanan investasi reksa dana dan saham dalam satu platform terpadu. Produk reksa dana dan MI yang tersedia di Makmur telah terkurasi secara profesional untuk memastikan kualitas dan kesesuaian dengan kebutuhan investasi Anda.


Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Saham dengan Free Float Rendah, Apakah Layak untuk Investasi Jangka Panjang?

Key Takeaways: Keberhasilan dalam berinvestasi saham melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah menilai apakah saham dengan free float rendah layak untuk investasi jangka panjang. Free float saham merujuk pada jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka, yang tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali ataupun pihak korporasi. Saham dengan free float rendah dapat memengaruhi […]

author
Content Management
calendar
19 Februari 2026
Artikel

Sebelum Membeli atau Menjual Reksa Dana, Ketahui Pentingnya Memahami Cut-Off Time NAB

Key Takeaways: Dalam berinvestasi reksa dana, keputusan membeli atau menjual sering dipengaruhi oleh kondisi pasar pada hari tertentu. Namun, harga yang digunakan dalam transaksi bukanlah harga saat instruksi diberikan, melainkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada tanggal efektif sesuai ketentuan cut-off time. Jika transaksi dilakukan setelah batas waktu tersebut, maka akan menggunakan NAB hari bursa berikutnya. […]

author
Content Management
calendar
18 Februari 2026
Artikel

Banyak Investor Mengandalkan Broker Summary, Padahal Ada Hal Lain yang Perlu Dipahami

Key Takeaways: Broker summary adalah laporan yang mencakup informasi terkait volume transaksi yang dilakukan oleh broker, harga beli dan jual saham, perubahan harga saham yang dipengaruhi oleh aktivitas broker, serta akumulasi dan distribusi saham yang dilakukan oleh market maker. Market maker merupakan pihak berupa institusi atau individu yang menyediakan likuiditas di pasar keuangan. Meskipun broker […]

author
Content Management
calendar
13 Februari 2026
Artikel

Cara Menganalisis Sektor yang Diuntungkan Ketika Ada Arus Dana Asing

Key Takeaways: Arus dana asing bisa menjadi indikator kunci dalam menganalisis saham, karena aliran dana asing dari luar negeri dapat memberikan dampak signifikan terhadap sektor tertentu di pasar saham, termasuk perubahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Oleh karena itu, penting bagi investor untuk memahami cara menganalisis sektor yang berpotensi mendapatkan keuntungan dari arus dana asing.  […]

author
Content Management
calendar
12 Februari 2026
Artikel

Menghadapi Saham dengan Status Full Call Auction (FCA), Apa Strategi Investor yang Tepat?

Key Takeaways: Status Full Call Auction (FCA) merupakan mekanisme perdagangan khusus yang diterapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) terhadap saham yang masuk dalam Papan Pemantauan Khusus (PPK). Melalui mekanisme ini, perdagangan saham tidak lagi dilakukan seperti biasa di Pasar Reguler, melainkan hanya pada waktu tertentu melalui proses lelang. Bagi investor yang memiliki saham dengan status […]

author
Content Management
calendar
11 Februari 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0