






Ketika terjadi trading halt di pasar saham, tidak sedikit investor yang merasa cemas dan bingung menentukan langkah selanjutnya. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa trading halt merupakan penghentian sementara perdagangan saham di bursa efek dalam jangka waktu tertentu.
Meski kerap menimbulkan rasa panik, pemahaman yang baik mengenai trading halt, penyebabnya, serta tindakan yang tepat dapat membantu investor tetap tenang dan mengambil keputusan secara rasional.
Baru-baru ini, pada 28 Januari 2026, BEI melakukan trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 8% dalam satu sesi perdagangan. Penghentian sementara ini berlangsung selama 30 menit dan bertujuan memberi waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi serta menghindari kepanikan. Jika penurunan IHSG berlanjut hingga lebih dari 15%, perdagangan dapat dihentikan lebih lama atau masuk ke fase suspensi.
Trading halt merupakan kebijakan resmi bursa efek untuk menghentikan sementara perdagangan saham atau indeks tertentu demi menjaga stabilitas dan keteraturan pasar. Berikut beberapa faktor yang dapat memicu penerapan trading halt:
Trading halt pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat diberlakukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menjaga kestabilan pasar saham dan melindungi investor dari fluktuasi yang sangat tajam. Trading halt adalah penghentian sementara perdagangan saham, yang biasanya dilakukan guna memberikan waktu bagi investor untuk mencerna informasi penting yang baru saja diumumkan, atau untuk menghindari pasar yang terlalu volatil akibat faktor eksternal.
Berikut adalah beberapa contoh historis trading halt yang pernah terjadi di Indonesia beserta penyebabnya:
Krisis keuangan global yang dipicu oleh subprime mortgage dan kebangkrutan Lehman Brothers di Amerika Serikat, yang memengaruhi pasar saham secara global termasuk Indonesia. IHSG mengalami penurunan tajam, dan BEI melakukan trading halt untuk menghindari penurunan lebih lanjut.
Pandemi COVID-19 pertama kali teridentifikasi di Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 dan mulai menyebar secara global pada awal tahun 2020. Dampak penyebaran virus ini tidak hanya bersifat kesehatan masyarakat, tetapi juga memengaruhi pasar keuangan dunia secara signifikan.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada kuartal pertama 2020. Kondisi ini mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk memberlakukan kebijakan trading halt sebagai upaya memberikan waktu bagi investor untuk menilai ulang situasi pasar yang penuh ketidakpastian akibat pandemi.
Ketidakpastian yang terus berlanjut terkait dampak ekonomi dari pandemi COVID-19 menyebabkan IHSG kembali tertekan dengan fluktuasi tajam. Trading halt dilakukan untuk meredam kepanikan pasar.
Pasar saham Indonesia dan global mengalami lonjakan volatilitas, didorong oleh penurunan tajam harga saham-saham unggulan akibat ketidakpastian yang terus berlangsung seiring penyebaran pandemi COVID-19.
BEI kembali menghentikan sementara perdagangan (trading halt) sebagai upaya meredam gejolak pasar dan menjaga stabilitas perdagangan.
Di tengah kepanikan pasar akibat penyebaran pandemi COVID-19, terjadi penurunan signifikan pada IHSG. Banyak investor melakukan aksi jual secara masif karena kekhawatiran terhadap dampak ekonomi global.
Untuk meredam gejolak pasar dan memberi waktu bagi pelaku pasar untuk menilai ulang kondisi ekonomi dan keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali memberlakukan trading halt sebagai langkah stabilisasi.
Pandemi COVID-19 yang tak kunjung mereda terus menimbulkan tekanan besar terhadap perekonomian, termasuk pasar saham Indonesia. Tekanan jual yang sangat kuat membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan tajam. Sebagai langkah antisipatif untuk meredam gejolak dan melindungi investor, Bursa Efek Indonesia kembali memberlakukan trading halt.
Terjadi penurunan signifikan pada IHSG akibat faktor eksternal, seperti ketegangan geopolitik atau perubahan dalam kebijakan moneter global yang memengaruhi sentimen pasar.
Setelah libur panjang, pasar kembali dibuka dengan penurunan tajam pada saham dengan kapitalisasi pasar yang besar, menyebabkan IHSG mengalami tekanan dan trading halt diberlakukan untuk menenangkan pasar.
MSCI mengumumkan pembekuan sementara rebalancing seluruh indeks saham Indonesia, yang langsung berdampak pada kinerja pasar. Sentimen negatif ini memicu penurunan yang signifikan, sehingga BEI memberlakukan trading halt.
Lonjakan atau penurunan harga saham maupun indeks dalam waktu singkat dapat menciptakan volatilitas signifikan dan meningkatkan risiko kerugian bagi investor ritel. Untuk meredam kondisi ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan mekanisme trading halt berbasis penurunan indeks, yaitu:
Kebijakan ini bertujuan memberi waktu bagi pelaku pasar untuk menenangkan diri dan menilai ulang kondisi secara objektif sebelum perdagangan dilanjutkan.
Trading halt juga dapat diberlakukan dalam kondisi luar biasa seperti krisis ekonomi global, bencana alam besar, gangguan sistem keuangan, atau ketegangan geopolitik yang berdampak luas terhadap pasar modal. Dalam situasi seperti ini, penghentian sementara perdagangan berfungsi sebagai mekanisme perlindungan untuk mengurangi kepanikan massal serta mencegah pembentukan harga yang tidak mencerminkan nilai fundamental aset.
Ketiga aspek tersebut memberikan gambaran mengenai situasi yang dapat memicu terjadinya trading halt. Sebagai contoh, pada 27 Januari 2026, pengumuman pembekuan sementara proses rebalancing indeks saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyebabkan penurunan IHSG hingga 8%, yang kemudian memicu trading halt. Keputusan MSCI ini diambil setelah terungkap bahwa kurangnya transparansi mengenai jumlah free float yang dimiliki oleh emiten yang terdaftar di IHSG. Berdasarkan peraturan yang berlaku, penurunan IHSG sebesar 8% mengakibatkan trading halt selama 30 menit.
Saat trading halt terjadi, investor perlu tetap bersikap rasional dan terstruktur dalam mengambil keputusan. Kondisi ini tidak selalu mencerminkan situasi pasar yang memburuk, melainkan sering kali bertujuan memberi ruang bagi bursa atau emiten untuk menyampaikan informasi penting kepada publik.
Investor sebaiknya tidak bereaksi secara emosional atau terburu-buru mengambil keputusan. Menunggu klarifikasi resmi dari otoritas bursa atau perusahaan terkait sangat penting untuk memahami penyebab trading halt serta potensi dampaknya terhadap kinerja saham. Informasi yang akurat membantu investor membuat keputusan yang lebih objektif dan terukur.
Gunakan waktu selama trading halt untuk mengevaluasi kembali portofolio investasi. Perhatikan apakah saham yang dimiliki terdampak langsung oleh penghentian perdagangan dan apakah terdapat perubahan fundamental yang perlu dicermati. Langkah ini membantu investor menilai kembali profil risiko serta kesesuaian aset dengan tujuan keuangan jangka panjang.
Keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada analisis fundamental dan teknikal yang matang, bukan pada spekulasi atau reaksi sesaat terhadap kondisi pasar. Menghindari tindakan impulsif dapat meminimalkan risiko kerugian yang tidak diinginkan.
Setelah perdagangan kembali dibuka, investor perlu memantau pergerakan harga saham secara cermat. Perhatikan apakah terjadi penyesuaian harga yang wajar berdasarkan informasi terbaru atau justru muncul volatilitas lanjutan. Pemahaman menyeluruh terhadap penyebab trading halt akan membantu investor menilai prospek saham secara lebih akurat.
Jika penyebab trading halt bersifat sementara dan tidak memengaruhi fundamental perusahaan secara signifikan, investor jangka panjang tidak selalu perlu melakukan perubahan besar dalam strategi. Fokus tetap pada tujuan investasi awal dan disiplin terhadap rencana yang telah disusun akan membantu menjaga konsistensi kinerja portofolio.
Trading halt dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi investor yang aktif memantau pergerakan pasar. Namun, kondisi ini sejatinya merupakan bagian dari cara pasar untuk menjaga stabilitas dan melindungi investor. Dengan pemahaman yang tepat, trading halt dapat disikapi secara cermat.
Perlu disadari bahwa tidak semua investor memiliki waktu, pengetahuan, atau pengalaman yang cukup untuk melakukan analisis fundamental secara mendalam terhadap setiap emiten di pasar saham. Dalam situasi seperti ini, berinvestasi melalui reksa dana saham dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan.
Melalui reksa dana saham, dana investor dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang memiliki keahlian dalam menganalisis saham, mulai dari menilai kinerja dan fundamental perusahaan, strategi bisnis, hingga risiko jangka panjang. Manajer investasi tidak hanya mempertimbangkan besar kecilnya kapitalisasi pasar, tetapi juga memperhatikan kekuatan keuangan, potensi pertumbuhan, serta daya saing perusahaan di industrinya.
Salah satu platform yang menyediakan beragam pilihan reksa dana saham adalah Makmur. Di dalamnya, investor dapat menemukan produk seperti Syailendra Equity Opportunity Fund Kelas A, yang berinvestasi pada berbagai saham unggulan, termasuk saham dengan kapitalisasi pasar besar.
Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu saham dengan porsi terbesar dalam portofolio reksa dana ini, dengan alokasi sebesar 6,96% dari total dana kelolaan (fund fact sheet per Desember 2025).
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune 2026 dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Ketika berinvestasi saham, penting untuk memahami karakteristik jenis saham yang Anda beli karena setiap saham memiliki potensi imbal hasil yang berbeda, khususnya antara saham growth dan saham value. Di Indonesia, saham growth merupakan saham dari perusahaan yang menunjukkan pertumbuhan laba bersih di atas rata-rata industri atau terus melakukan ekspansi secara agresif. Sebaliknya, saham […]
Key Takeaways: Banyak investor yang ingin membeli saham kerap tidak menyadari adanya notasi khusus yang diberikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Notasi tersebut merupakan simbol atau kode yang digunakan untuk mengidentifikasi saham suatu perusahaan yang terdaftar di bursa efek. Notasi ini sangat penting karena memudahkan investor dalam melakukan transaksi jual beli saham serta memudahkan pengawasan […]
Key Takeaways: Dalam berinvestasi pada reksa dana, banyak investor yang lebih fokus pada return atau imbal hasil yang dapat diperoleh. Meskipun return merupakan salah satu pertimbangan utama, penting untuk tidak mengabaikan aspek risiko yang menyertainya. Risiko pada reksa dana dapat berasal dari berbagai faktor yang memengaruhi kinerja investasi. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai […]
Key Takeaways: Keberhasilan dalam berinvestasi saham melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah menilai apakah saham dengan free float rendah layak untuk investasi jangka panjang. Free float saham merujuk pada jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar terbuka, yang tidak dimiliki oleh pemegang saham pengendali ataupun pihak korporasi. Saham dengan free float rendah dapat memengaruhi […]
Key Takeaways: Dalam berinvestasi reksa dana, keputusan membeli atau menjual sering dipengaruhi oleh kondisi pasar pada hari tertentu. Namun, harga yang digunakan dalam transaksi bukanlah harga saat instruksi diberikan, melainkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) pada tanggal efektif sesuai ketentuan cut-off time. Jika transaksi dilakukan setelah batas waktu tersebut, maka akan menggunakan NAB hari bursa berikutnya. […]