






Hai, Sobat Makmur! Saat ini reksa dana pendapatan tetap masih menjadi pilihan utama investor yang menginvestasikan uangnya di reksa dana. Hal ini terbukti dari dana kelolaan alias asset under management (AUM) reksa dana pendapatan tetap yang paling besar dibandingkan jenis reksa dana lain seperti reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Pada artikel kali ini, Makmur akan membahas mengenai hal-hal yang perlu kamu cermati sebelum memilih reksa dana pendapatan tetap. Pastinya artikel ini akan menambah pengetahuanmu dalam berinvestasi. Yuk disimak!
Reksa dana pendapatan tetap masih menjadi primadona bagi investor. Mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), per Juli 2024 reksa dana pendapatan tetap menjadi jenis reksa dana dengan nilai AUM terbesar, yakni mencapai Rp145,65 triliun. Jumlah ini setara 18,11% dari total dana AUM secara keseluruhan yang mencapai Rp804,24 triliun. Di urutan kedua ada reksa dana terproteksi dengan AUM senilai Rp109,48 triliun atau setara 13,61% dari total AUM. Sementara di posisi ketiga yakni reksa dana pasar uang sebesar Rp84,55 triliun atau setara 10,51% dari total dana AUM.
Besarnya dana kelolaan reksa dana pendapatan tetap tidak terlepas dari sejumlah keunggulan reksa dana ini. Pertama, reksa dana pendapatan tetap mampu memberikan return yang lebih tinggi dan optimal jika dibandingkan dengan instrumen lain seperti deposito atau reksa dana pasar uang. Sebab, penyaluran investasi reksa dana pendapatan tetap sebagian besar ditempatkan pada obligasi atau surat utang yang fluktuasinya cukup stabil. Sebagai contoh, kamu bisa melihat sejumlah reksa dana pendapatan yang dijual di Makmur, salah satunya Insight Renewable Energy Fund yang merupakan produk dari PT Insight Investments Management. Per 26 Agustus 2024, reksa dana pendapatan tetap ini menghasilkan return hingga 6,97% dalam setahun dan 27,10% dalam 3 tahun. Contoh lainnya yakni reksa dana Syailendra Pendapatan Total Return Kelas A dari Manajer Investasi (MI) Syailendra Capital. Sejak awal tahun alias secara year-to-date (YTD), reksa dana pendapatan tetap ini memberi return hingga 4,11% (per 26 Agustus 2024).
Kedua, reksa dana pendapatan tetap cukup sensitif terhadap perubahan suku bunga. Sebab, reksa dana ini mayoritas portofolionya merupakan efek yang bersifat utang (baik obligasi atau sukuk). Ketika suku bunga turun, harga obligasi akan cenderung naik. Penurunan tingkat suku bunga acuan akan menyebabkan bunga tabungan dan deposito di perbankan menjadi tidak menarik, sehingga akan membuat investor lebih tertarik berinvestasi di instrumen obligasi dibandingkan dengan menaruh uangnya di deposito. Era suku bunga rendah yang sebentar lagi terjadi tentu bisa memaksimalkan potensi return dari reksa dana pendapatan tetap.
Sejak awal tahun hingga saat ini alias secara year-to-date (YTD), terdapat beberapa reksa dana pendapatan tetap yang mencatatkan kinerja terbaik. Berikut adalah 10 reksa dana pendapatan tetap dengan return tertinggi (per 26 Agustus 2024).
1. STAR Stable Amanah Sukuk, return 4,99% YTD
2. Trimegah Fixed Income Plan Syariah, return 4,81% YTD
3. Avrist Prime Income Fund, return 4,69% YTD
4. Insight Government Fund, return 4,54% YTD
5. Capital Fixed Income Fund, return 4,42% YTD
6. Insight Renewable Energy Fund, return 4,34% YTD
7. Capital Sharia Fixed Income, return 4,26% YTD
8. I-Hajj Syariah Fund, return 4,25% YTD
9. Sucorinvest Monthly Income Fund, return 4,18% YTD10.
10. STAR Stable Income Fund, return 4,18% YTD
Berikut hal-hal yang harus kamu cermati sebelum memutuskan untuk membeli reksa dana pendapatan tetap.
1. Perhatikan Risiko
Dibanding reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap memang kerap dianggap sebagai investasi yang relatif aman dan stabil. Namun, bukan berarti instrumen ini tidak memiliki risiko sama sekali. Sebelum memilih reksa dana pendapatan tetap, kamu harus mencermati risiko yang terkandung dalam reksa dana ini, seperti risiko penurunan nilai unit penyertaan karena turunnya harga surat utang, risiko likuiditas, dan risiko gagal bayar perusahaan atau lembaga penerbit obligasi.
2. Pantau Kinerja Historis
Penting bagi kamu untuk mengetahui kinerja historis dari reksa dana yang akan kamu beli. Kamu bisa mencermati aspek maximum drawdown, yakni istilah untuk mengukur tingkat penurunan kinerja maksimal suatu reksa dana selama periode waktu tertentu dari puncak tertinggi hingga titik terendah sebelum kembali pulih. Misal, drawdown pada reksa dana I-Hajj Syariah Fund sebesar -0.01% dalam 1 tahun (per 23 Agustus 2024). Angka ini menandakan bahwa penurunan dari titik tertinggi ke titik terendah pada reksa dana I-Hajj Syariah Fund selama periode 1 tahun sebesar -0.01%. Selain dari drawdown, kamu juga bisa melihat kinerja reksa dana pendapatan tetap yang akan kamu beli dan membandingkannya dengan benchmark yang tertuang dalam fund fact sheet reksa dana.
3. Cermati Komposisi Portofolio
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, mayoritas portofolio dari reksa dana pendapatan tetap merupakan efek yang bersifat utang (obligasi). Oleh sebab itu, kamu harus cermat dalam membedah komposisi portofolio dalam reksa dana pendapatan tetap. Kamu bisa mencermati komposisi portofolio reksa dana pendapatan tetap dalam top holding yang terlampir pada fund fact sheet yang diterbitkan MI secara berkala. Pastikan surat utang yang menjadi portofolio dalam reksa dana pendapatan tetap merupakan obligasi yang memiliki peringkat atau rating yang baik dari lembaga pemeringkat yang kompeten. Saat ini terdapat empat lembaga pemeringkat obligasi yang diakui oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni PT Pemeringkat Efek Indonesia, Moody’s Investor Service, Standard & Poor’s, dan Fitch Ratings. Selain itu, kamu juga harus memastikan bahwa perusahaan yang menerbitkan surat utang sedang tidak dalam kondisi pailit dan gagal bayar.
4. Nilai AUM Bisa Jadi Pertimbangan
AUM merupakan total nilai pasar yang didapatkan setiap kali investor mempercayakan investasinya kepada MI. Nah, besaran AUM bisa kamu jadikan sebagai salah satu indikator untuk memilih reksa dana. Semakin banyak investor yang menaruh dananya di suatu reksa dana, maka menandakan produk tersebut banyak diminati serta dipercaya masyarakat. Selain itu, besaran AUM juga bisa menjadi indikator likuiditas. Sebab, semakin besar AUM, maka semakin tinggi jaminan adanya kesediaan dana jika terjadi pencairan reksa dana dalam jumlah besar.
5. Perhatikan Timing
Timing atau waktu menjadi salah satu aspek penting sebelum kamu membeli reksa dana pendapatan tetap. Timing yang tepat akan membuat portofolio investasi kamu berkinerja optimal. Potensi pemangkasan suku bunga The Fed pada September 2024 bisa menjadi momentum yang tepat bagi Sobat Makmur untuk mengakumulasi reksa dana pendapatan tetap.
Sobat Makmur, setelah membaca artikel ini apakah kamu sudah semakin yakin untuk membeli reksa dana pendapatan tetap pilihanmu? Untuk memaksimalkan kinerja portofoliomu, kamu juga bisa membeli reksa dana pilihan dengan memanfaatkan promo August Financial Freedom 2024, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur. Namun perlu diingat, sebelum berinvestasi kamu harus menentukan tujuan investasi dengan jelas dan juga memahami profil risiko investasi terlebih dahulu.
Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.
Link: Promo-Promo di Makmur
Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:
Website: Makmur.id
Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi
Key Takeaways: Dalam membangun portofolio investasi saham, salah satu tantangan terbesar bagi investor adalah membedakan antara saham yang benar-benar berkualitas (best buy) dan saham yang sebaiknya dihindari (worst buy). Tidak semua saham yang harganya murah layak dibeli, dan tidak semua saham yang populer menjamin keuntungan. Memahami perbedaan fundamental antara kedua kategori ini adalah langkah krusial […]
Key Takeaways: Strategi buy and hold pada reksa dana merupakan pendekatan investasi jangka panjang, di mana investor mempertahankan investasinya tanpa melakukan penjualan atau pencairan. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan aset secara bertahap dan optimal. Berbeda dengan trading aktif yang mengandalkan timing pasar, strategi ini lebih konsisten dan disiplin. Dalam reksa dana, strategi investasi ini didukung oleh […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp266,82 triliun per Februari 2026, naik 5,05% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak volatil sepanjang year-to-date (YTD) per 31 Maret 2026 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, berlanjutnya konflik Timur Tengah mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 79% YTD, disertai kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dari sisi domestik, sentimen dipengaruhi kekhawatiran fiskal dan pembekuan rebalancing […]