makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

PPN dan UMR Naik di 2025, Simak Tips Memilih Investasi yang Tepat

author
Content Management
author
10 Desember 2024
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Hai, Sobat Makmur! Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya, tahun depan pemerintah akan menaikkan pajak pertambahan nilai (PPN) dari semula 11% menjadi 12%. Di sisi lain, pemerintah juga baru saja mengumumkan adanya kenaikan rata-rata upah minimum provinsi (UMP) sebesar 6,5% yang juga akan dibarengi dengan kenaikan upah minimum regional (UMR). Kenaikan PPN yang dibarengi dengan kenaikan UMR tentu akan sedikit banyak akan berdampak ke kehidupan masyarakat, termasuk dampaknya ke pasar modal. Dalam artikel kali ini, Makmur akan memberimu tips memilih instrumen investasi di tengah rencana kenaikan PPN dan kenaikan UMR. Yuk, disimak!

Kenapa PPN dan UMR Naik Tahun Depan?

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, terdapat beberapa alasan di balik rencana kenaikan tarif PPN tahun depan. Pertama, kenaikan PPN bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara, mengingat PPN berperan penting dalam membiayai berbagai program pemerintah. Kedua, kenaikan PPN dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada utang luar negeri, yang saat ini masih digunakan untuk menutupi defisit anggaran. Ketiga, kenaikan PPN bertujuan menyesuaikan tarif PPN dengan standar internasional, mengingat tarif PPN di Indonesia saat ini masih lebih rendah dibandingkan negara-negara maju.

Sementara itu, kenaikan UMR sebesar 6,5% didapat dengan menghitung komponen inflasi ditambah pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024. Menurut Presiden Prabowo, kenaikan upah minimum merupakan salah satu bentuk jaringan pengaman sosial yang penting bagi pekerja, terutama bagi pekerja yang bekerja kurang dari 12 bulan. Kenaikan ini diharapkan dapat meningkatkan daya beli pekerja, sambil tetap memperhatikan daya saing dunia usaha di Indonesia.

Bagaimana Dampaknya ke Pasar Modal?

Kenaikan PPN dan UMR akan berdampak ke sektor riil yang pada akhirnya berdampak ke pasar modal. Misal, kenaikan PPN menyebabkan harga barang dan jasa menjadi lebih mahal, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Penurunan konsumsi dapat berdampak negatif pada pendapatan perusahaan-perusahaan di sektor tersebut, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga saham di pasar modal.

Di satu sisi, peningkatan UMR dapat mendongkrak daya beli masyarakat, yang berpotensi mengangkat laju pertumbuhan konsumsi. Dalam kondisi ini, sektor ritel dan barang konsumsi akan cenderung diuntungkan. Akan tetapi, Sobat Makmur perlu ingat bahwa kenaikan UMR dapat meningkatkan beban operasional perusahaan, terutama yang berbasis padat karya seperti sektor manufaktur, tekstil, dan transportasi. Hal ini dapat mengurangi margin laba perusahaan, sehingga memengaruhi valuasi sahamnya di pasar modal.

Oleh karena itu, kombinasi kenaikan PPN dan UMR tahun depan dapat menciptakan sentimen campuran (mixed) di pasar modal. Dalam jangka pendek, investor akan mempertimbangkan dampak kenaikan biaya operasional dan potensi penurunan daya beli dengan melihat peluang pertumbuhan sektor-sektor tertentu. Kondisi ini kemungkinan bisa membuat pasar modal mengalami volatilitas jangka pendek. Pelaku pasar akan cenderung melihat kebijakan mitigasi yang diambil pemerintah untuk menyeimbangkan dampak negatif dari kenaikan PPN serta kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan (simultan).

Memilih Instrumen Yang Tepat

Dari penjelasan di atas, Sobat Makmur bisa menyimpulkan bahwa kenaikan PPN dan UMR berpotensi menghasilkan volatilitas jangka pendek di pasar modal. Oleh karena itu, penting bagi Sobat Makmur untuk memilih instrumen investasi yang tepat. Berikut sejumlah instrumen yang bisa kamu cermati menjelang kenaikan PPN dan UMR

1. Obligasi Pemerintah dan Surat Utang Negara (SUN)

Obligasi Pemerintah dan Surat Utang Negara (SUN) menjadi salah satu instrumen investasi yang tepat saat PPN dan UMR naik, terutama karena faktor stabilitas dan keamanannya. SUN menjadi pilihan yang relatif aman bagi investor, terutama di tengah ketidakpastian pasar akibat dampak kenaikan pajak atau biaya operasional pada sektor bisnis. SUN juga menawarkan imbal hasil yang kompetitif, terutama untuk tenor menengah hingga panjang, memberikan peluang keuntungan tetap bagi investor. Dalam kondisi seperti ini, SUN memberikan keuntungan stabil tanpa terpengaruh langsung oleh volatilitas pasar saham atau dampak jangka pendek dari kebijakan ekonomi lainnya.

2. Saham Yang Terdampak Positif Kenaikan UMR

PPN memang memiliki dampak negatif berupa tertekannya daya beli. Akan tetapi, dampak negatif kenaikan PPN disinyalir akan tertutupi oleh kenaikan UMR. Dalam kondisi ini, kamu bisa mencermati saham-saham yang bergerak di sektor barang konsumsi primer (sektor non-cyclical). Saham sektor consumer merupakan saham yang bersifat defensive, yakni saham yang cenderung tahan banting di segala kondisi. Selain itu, dengan meningkatnya pendapatan pekerja akibat kenaikan UMR, daya beli masyarakat akan mengalami kenaikan,yang berpotensi mendorong permintaan terhadap barang konsumsi. Kondisi ini dapat meningkatkan pendapatan dan laba emiten di sektor tersebut, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi valuasi saham dan harga saham emiten.

3. Reksa Dana

Reksa dana menjadi instrumen investasi yang tepat saat terjadi kenaikan PPN dan UMR. Ini karena instrumen reksa dana menawarkan diversifikasi risiko yang lebih baik dibandingkan investasi langsung pada saham atau obligasi. Reksa dana dikelola oleh manajer investasi yang profesional, sehingga memungkinkan investor untuk memiliki portofolio yang terdiversifikasi di berbagai sektor.

Dalam situasi kenaikan PPN dan UMR, dimana volatilitas pasar cenderung meningkat, reksa dana memberikan fleksibilitas bagi investor untuk tetap mendapatkan hasil yang optimal sesuai profil risiko mereka. Akan tetapi, untuk memaksimalkan potensi keuntungan (return), penting bagi Sobat Makmur untuk memilih jenis reksa dana yang sesuai dengan profil risiko . 

Reksa dana pasar uang menjadi pilihan ideal bagi investor yang mengutamakan keamanan dan likuiditas di tengah ketidakpastian pasar akibat kenaikan biaya dan perubahan daya beli. Reksa dana pasar uang berinvestasi pada instrumen jangka pendek seperti deposito dan obligasi jangka pendek yang mana memiliki volatilitas yang minim. Instrumen ini cocok bagi kamu yang memiliki profil risiko rendah (konservatif).

Beberapa reksa dana pasar uang favorit nasabah Makmur yang bisa kamu cermati diantaranya KISI Money Market Fund, TRIM Kas 2 Kelas A, STAR Sharia Money Market, Insight Money, dan Capital Money Market Fund.

Kamu juga bisa mencermati reksa dana pendapatan tetap. Reksa dana jenis ini menginvestasikan mayoritas dananya pada instrumen surat utang (obligasi dan atau sukuk), termasuk obligasi pemerintah. Dengan portofolio yang didominasi oleh obligasi, reksa dana pendapatan tetap cenderung menghasilkan imbal hasil yang relatif stabil, terlepas dari tekanan ekonomi jangka pendek yang mungkin muncul akibat kebijakan kenaikan PPN dan UMR.

Beberapa reksa dana pendapatan tetap favorit nasabah Makmur yang bisa kamu cermati diantaranya KISI Fixed Income Fund Plus, Trimegah Fixed Income Plan, Insight Renewable Energy Fund, Syailendra Pendapatan Total Return Kelas A, dan STAR Stable Amanah Sukuk. Reksa dana pendapatan tetap cocok buat Sobat Makmur yang punya profil risiko menengah (moderat).

Jika kamu adalah investor dengan toleransi risiko tinggi (agresif), kamu bisa mencermati reksa dana saham. Adapun produk reksa dana saham yang kamu pilih bisa berupa reksa dana yang berfokus pada sektor yang terkena dampak positif kenaikan UMR. Kenaikan harga saham akibat kenaikan kinerja emiten tentu akan berdampak positif bagi reksa dana saham pilihanmu.

Beberapa reksa dana saham yang memiliki saham-saham consumer dalam portofolionya diantaranya Allianz Indo Asia Equity Fund Kelas A, BNI-AM IDX Sharia Growth Kelas R1, TRIM Syariah Saham, dan BNI-AM Indeks IDX Growth30 Kelas R1.

Nah Sobat Makmur, itu dia penjelasan mengenai instrumen investasi yang bisa kamu pilih di tengah wacana kenaikan PPN dan UMR tahun 2025. Artikel ini bisa menjadi navigator kamu dalam mewujudkan target dan resolusi keuangan tahun depan. Tentunya, reksa dana menjadi salah satu instrumen yang bisa membantu kamu mewujudkan target finansial di 2025.

Di Makmur, kamu bisa juga memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur juga bisa memaksimalkan kinerja portofolio dengan memanfaatkan sejumlah promo dari Makmur seperti promo December Wealth, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Semakin Makmur.


Kamu juga bisa memanfaatkan promo-promo Makmur yang tertera pada link di bawah ini untuk mendapatkan keuntungan tambahan dan menemani perjalanan investasimu dalam mencapai tujuan finansial di masa depan.

Link: Promo-Promo di Makmur

Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:

Website: Makmur.id


Editor: Benrik Anthony (bersertifikasi WAPERD dan WMI)
Penulis: Akhmad Sadewa Suryahadi

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

BI Rate Naik 25 bps ke 5,50% di Luar Jadwal RDG, Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]

author
Content Management
calendar
11 Juni 2026
Artikel

Tips Memilih Reksa Dana Saham: Evaluasi Konsistensi Kinerja dan Bandingkan dengan Benchmark

Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]

author
Content Management
calendar
09 Juni 2026
Artikel

Gaji Terasa Cepat Habis? Ini Cara Melakukan Review Keuangan Bulanan Agar Optimal

Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]

author
Content Management
calendar
08 Juni 2026
Artikel

Perusahaan dengan WACC Rendah Dianggap Efisien, Benarkah Selalu Menguntungkan Investor?

Key Takeaways: Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar? WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal […]

author
Content Management
calendar
05 Juni 2026
Artikel

Tertarik Investasi di Reksa Dana Indeks? Pahami Mekanisme Replikasi dan Rebalancing Portofolio

Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]

author
Content Management
calendar
03 Juni 2026
Artikel

Bagaimana Cara Mendeteksi Akumulasi Saham Menggunakan Data Broker Flow? Ini Penjelasannya

Key Takeaways: Sebagai investor, pemahaman terhadap pergerakan saham sangat diperlukan untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik. Salah satu fitur yang dapat membantu investor untuk memprediksi pergerakan saham adalah data broker flow. Broker Flow adalah data yang merangkum aktivitas transaksi (beli dan jual) yang dilakukan oleh perusahaan sekuritas atau broker dalam periode waktu tertentu. Data […]

author
Content Management
calendar
03 Juni 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0