Di tengah ketidakpastian global, kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menjadi sorotan pasar. Trump secara resmi mengonfirmasi telah menandatangani surat berisi pemberlakuan tarif ekspor terhadap 12 negara mitra dagang. Surat tersebut dijadwalkan dikirim hari ini, Senin (7/7), dan menjadi penanda berakhirnya masa negosiasi tarif yang diberikan AS sejak April lalu. Ketegangan ini memicu reaksi negatif di pasar keuangan Asia dan menambah kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan global. Dalam artikel ini, Makmur akan membahas perkembangan terbaru kebijakan tarif Trump, respons pasar, posisi Indonesia dalam negosiasi, serta strategi investasi yang dapat dipertimbangkan oleh investor di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Presiden AS Donald Trump menyatakan telah menandatangani surat kepada 12 negara yang berisi rincian tarif atas barang ekspor dari mitra dagang ke AS. Dalam surat tersebut, negara-negara mitra diminta untuk langsung menyetujui persyaratan dari AS tanpa ruang negosiasi lebih lanjut. Jika tidak disetujui, mitra dagang tersebut harus siap menghadapi tarif lebih tinggi. Langkah ini mencerminkan sikap sepihak AS setelah menilai proses negosiasi perdagangan dengan sejumlah mitra utama, termasuk Jepang dan Uni Eropa yang mengalami stagnasi atau belum menghasilkan kemajuan yang signifikan.
Sejak April, AS telah mengumumkan tarif dasar 10% dan tarif tambahan terhadap produk impor dari sejumlah negara. Namun sebagian besar tarif tersebut ditangguhkan selama 90 hari untuk membuka ruang negosiasi. Masa jeda tersebut akan berakhir pada 9 Juli. Menurut pernyataan Trump dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, tarif akan mulai diberlakukan efektif pada 1 Agustus, dengan besaran yang bisa mencapai 70%.
Di tengah proses pengiriman surat tarif dan menjelang berakhirnya masa jeda negosiasi, Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan baru yang berpotensi memperluas ketegangan perdagangan global. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu malam (6/7), Trump menyatakan bahwa AS akan memberlakukan tambahan tarif sebesar 10% terhadap negara-negara yang bergabung dengan kebijakan anti-Amerika dari kelompok BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Adapun saat ini, anggota BRICS telah diperluas yang terdiri dari: Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Indonesia, Mesir, Etiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Pernyataan ini berpotensi menambah ketidakpastian global, terutama karena BRICS tengah menginisiasi pembentukan sistem pembayaran lintas negara yang tidak bergantung pada dolar AS. Di sisi lain, langkah tersebut berpotensi memperluas risiko geopolitik, khususnya bagi negara-negara berkembang yang memiliki hubungan dagang aktif dengan anggota BRICS.
Mayoritas bursa saham Asia-Pasifik melemah pada Senin (7/7). Indeks Nikkei 225 (Jepang) terkoreksi 0,56%, Kospi (Korea Selatan) sempat tertekan hingga menyentuh level 3.032 sebelum akhirnya ditutup menguat tipis 0,17%. Indeks Hang Seng (Hong Kong) turun 0,12%, sementara indeks Shanghai (Tiongkok) ditutup flat di 0,00%. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah ke level 6.844 pada sesi I sebelum akhirnya ditutup menguat 0,52% ke level 6.900. Ketegangan dagang yang meningkat, terutama setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait pengiriman surat tarif ke 12 negara, dinilai menjadi pemicu utama pelemahan sentimen terhadap aset berisiko di kawasan.
Kondisi ini turut tercermin dari pergerakan VIX Index (Volatility Index), yang dikenal sebagai indikator volatilitas pasar global. Dalam sepekan terakhir, VIX tercatat naik 7,44% dan secara harian (7/7), melonjak 5,05% menjadi 17,48. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gejolak pasar. VIX Index, sering disebut sebagai indeks ketakutan (fear index) karena mencerminkan ekspektasi volatilitas pasar saham AS (khususnya indeks S&P 500) dalam 30 hari ke depan. Peningkatan VIX umumnya menandakan naiknya persepsi risiko dan ketidakpastian yang mendorong pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.
Hingga saat ini, Indonesia belum termasuk dalam daftar negara yang mencapai kesepakatan tarif dengan AS. Pemerintah masih dalam proses negosiasi, dengan menawarkan beberapa langkah untuk meredakan tekanan tarif 32% dari AS, di antaranya:
Ketegangan perdagangan global berpotensi meningkatkan volatilitas di pasar keuangan dan menekan kinerja aset berisiko. Oleh karena itu, investor disarankan menyusun strategi portofolio yang lebih defensif dan terukur. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah reksa dana pendapatan tetap (RDPT) yang relatif lebih stabil karena berfokus pada instrumen obligasi dengan profil risiko moderat – konservatif.
RDPT merupakan jenis reksa dana yang mengalokasikan minimal 80% dari portofolionya ke efek bersifat utang, seperti obligasi pemerintah maupun obligasi korporasi. Instrumen ini dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional, sehingga menawarkan potensi imbal hasil yang kompetitif dengan tingkat risiko yang relatif lebih terkendali dibandingkan instrumen saham.
Menariknya, di tengah tekanan pasar saham, investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp15,14 triliun pada 30 Juni–3 Juli 2025 di instrumen Obligasi (Surat Berharga Negara/SBN). Secara year-to-date (YTD), inflow asing ke pasar SBN mencapai Rp53,07 triliun, menunjukkan bahwa minat terhadap instrumen pendapatan tetap masih tinggi dari investor global.
Berikut tiga RDPT unggulan di Aplikasi Makmur, dengan kinerja solid dalam 1 tahun terakhir per 7 Juli 2025:
*Disclaimer: kinerja masa lalu tidak menjamin hasil masa depan
Itulah pembahasan mengenai perkembangan terbaru kebijakan tarif Presiden Trump dan dampaknya terhadap pasar global. Reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi untuk menghadapi kondisi pasar yang fluktuatif. Dengan diversifikasi, investor tetap dapat menjaga keseimbangan portofolio meskipun pasar sedang menghadapi tekanan global.
Di Makmur, Anda juga dapat memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda dapat memilih dan membeli reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Juicy July dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik sepanjang Juli 2026 bergerak dengan volatilitas yang cukup tinggi. Pada awal bulan, IHSG masih diproyeksikan mencatatkan kinerja positif, didukung pemulihan laba sektor perbankan pada Semester I 2026 serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3%. Di sisi lain, masuknya pasar modal Indonesia ke dalam watchlist S&P Global dinilai belum memberikan dampak […]