






Di tengah kondisi ekonomi global yang belum stabil, pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kekhawatiran pasar. Trump mengisyaratkan tidak akan memperpanjang jeda tarif impor yang dijadwalkan berakhir pada 9 Juli 2025. Keputusan ini dinilai berpotensi memicu ketegangan perdagangan dan berdampak terhadap perekonomian negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia. Dalam artikel ini, Makmur akan membahas perkembangan kebijakan tarif Trump, potensi risiko global yang dapat terjadi, serta bagaimana investor dapat menyikapinya melalui strategi portofolio yang lebih terukur dan defensif.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menyatakan tidak akan memperpanjang masa jeda tarif impor selama 90 hari yang sebelumnya diberlakukan sejak April 2025. Kebijakan jeda tersebut semula dimaksudkan sebagai ruang negosiasi dagang antara AS dan negara-negara mitranya. Namun, dengan tenggat waktu yang semakin dekat, Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan penerapan tarif baru tanpa penundaan lebih lanjut.
Hingga akhir Juni 2025, AS baru mencapai kesepakatan dagang resmi dengan dua negara, yakni Inggris dan China. Sementara itu, proses negosiasi dengan negara lain, termasuk Indonesia, Jepang, dan beberapa mitra strategis lainnya, masih berjalan.
Trump juga menyebut India sebagai salah satu negara yang berpotensi segera merampungkan perjanjian dagang. Hal ini menyusul kunjungan delegasi perdagangan India ke Washington pada pekan lalu. Di sisi lain, Pemerintah Indonesia melalui Sekretariat Kabinet menyampaikan bahwa diskusi dengan AS telah mengarah pada kesepakatan prinsip, meskipun rincian dan finalisasi implementasinya belum diumumkan secara resmi. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperkirakan seluruh proses negosiasi dagang akan rampung pada September 2025.
Pernyataan Trump mengenai potensi percepatan pemberlakuan tarif baru memicu kembali kekhawatiran pelaku pasar terhadap terganggunya stabilitas global. Risiko lonjakan biaya impor, gangguan rantai pasok, hingga tekanan terhadap inflasi menjadi isu yang kembali menguat saat ini. Kondisi ini juga memperbesar ketidakpastian, terutama di pasar negara berkembang.
Di tengah ketegangan dagang ini, pemerintah Indonesia menyatakan bahwa negosiasi dengan AS telah mengarah pada hasil yang positif. Prinsip kesepakatan saling menguntungkan disebut telah tercapai, meski implementasinya masih menunggu hasil akhir perundingan. Dengan demikian, pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati perkembangan lanjutan terkait realisasi kesepakatan tersebut.
Kondisi global yang masih diliputi ketidakpastian, membuat investor perlu mencermati strategi investasi yang lebih defensif. Menjelang hasil akhir negosiasi antara AS dan mitra dagang dan volatilitas pasar saham yang masih tinggi, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) dapat menjadi pilihan strategi investasi.
RDPT merupakan reksa dana yang minimal 80% alokasinya diinvestasikan pada instrumen obligasi, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) maupun obligasi korporasi. Di samping itu, real yield saat ini masih berada >4%, salah satu yang tertinggi di kawasan. Stabilitas makroekonomi Indonesia serta potensi berlanjutnya pemangkasan suku bunga pada semester II 2025 oleh Bank Indonesia memberikan peluang capital gain dari apresiasi kenaikan harga obligasi. Di samping itu, RDPT juga memiliki volatilitas yang lebih rendah dibandingkan instrumen saham.
Misalnya, Investor Makmur berinvestasi dengan menempatkan dana awal sebesar Rp30.000.000 di KISI Fixed Income Fund Plus dan rutin berinvestasi Rp3.000.000 per bulan. Dalam waktu 3 tahun, nilai investasinya dapat tumbuh menjadi sekitar Rp154.771.512 dengan estimasi return +14,65% (setara dengan pertumbuhan dana sebesar Rp19.771.512).
Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Itulah pembahasan terkait kebijakan tarif terbaru dari AS dan dampaknya terhadap pasar global. Di tengah ancaman tarif, ketegangan geopolitik, dan risiko inflasi yang masih membayangi, menjaga portofolio yang seimbang dan terdiversifikasi tetap menjadi kunci. RDPT dapat menjadi pilihan strategis bagi Anda terutama yang mengutamakan stabilitas imbal hasil tanpa terpapar langsung pada volatilitas pasar saham.
Di Makmur, Anda juga dapat memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda dapat memilih dan membeli reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Invest dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Evaluasi periode investasi menjadi aspek fundamental dalam pengelolaan portofolio. Keberhasilan investasi bergantung pada pemilihan produk dan kemampuan investor untuk secara objektif menilai kinerja dan menyesuaikan periode investasi dengan tujuan keuangan serta profil risiko pribadi. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai indikator kinerja, risiko, dan karakteristik masing-masing jenis reksa dana menjadi krusial bagi setiap […]
Key Takeaways: Pada Senin, 20 April 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) kembali mengumumkan pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Keputusan ini menandai penundaan perubahan konstituen indeks, termasuk penambahan saham baru maupun penyesuaian bobot saham yang sudah ada. Langkah ini bukan pertama kalinya dilakukan. Pembekuan rebalancing MSCI sebelumnya juga terjadi pada 27 […]
Key Takeaways: Buy on weakness sering dipandang sebagai strategi investasi yang bisa dilakukan setiap investor, karena dianggap cukup dengan membeli saham saat harga mengalami penurunan, lalu bisa mendapatkan potensi imbal hasil ketika harga sahamnya sudah pulih. Padahal, tidak semua saham yang mengalami koreksi layak untuk dibeli. Selain itu, koreksi pasar bisa terjadi dalam jangka waktu […]
Key Takeaways: Sektor saham basic materials di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencakup emiten penyedia bahan baku industri, seperti logam, pertambangan, semen, dan kimia. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Trimegah Bangun Persada […]
Key Takeaways: Memasuki kuartal II 2026, pasar keuangan global masih menunjukkan peningkatan volatilitas yang dipicu oleh berlanjutnya tekanan geopolitik serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Di tengah kondisi tersebut, peningkatan penerbitan utang negara (debt issuance) secara global turut menambah pasokan obligasi di pasar, sehingga memberikan tekanan pada harga dan mendorong pergerakan yield menjadi semakin […]
Key Takeaways: Harga minyak dunia kembali melonjak setelah pernyataan dari Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait kebijakan geopolitik. Pada (13/4) pagi, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mencapai level US$105 per barel, mencerminkan respons pasar terhadap meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Kenaikan ini dipicu oleh instruksi langsung kepada Angkatan Laut AS untuk memulai […]