Consumer Price Index atau Indeks Harga Konsumen adalah indikator ekonomi yang mengukur perubahan rata-rata harga dari sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dari waktu ke waktu. CPI mencerminkan tingkat inflasi dalam suatu negara dan digunakan oleh pemerintah serta pelaku pasar sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi.
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa dari waktu ke waktu. Bagi investor, inflasi mempengaruhi daya beli, suku bunga, dan nilai riil pengembalian investasi. Oleh karena itu, memahami indikator inflasi sangat penting dalam pengambilan keputusan finansial.
Beberapa indikator dalam mengukur laju inflasi adalah Consumer Price Index (CPI) yang merepresentasikan rata-rata perubahan harga dari barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Selain CPI, terdapat pula Producer Price Index (PPI) yang mencerminkan perubahan harga dari sisi produsen. Meskipun keduanya digunakan untuk memantau inflasi, CPI lebih sering dijadikan acuan.
CPI merupakan salah satu indikator untuk mengukur inflasi. Jika CPI meningkat, berarti harga barang dan jasa konsumen mengalami kenaikan, yang artinya terjadi inflasi. Sebaliknya, jika laju CPI melambat dibandingkan periode sebelumnya, hal ini disebut disinflasi, yaitu kondisi saat inflasi tetap terjadi namun dengan tingkat yang menurun. Lalu, ketika laju inflasi menjadi negatif, hal itu dinamakan deflasi.
CPI diterbitkan secara berkala oleh lembaga statistik resmi setiap bulan. Di Indonesia, data ini disusun dan dipublikasikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Anda bisa ke web resminya jika ingin mencari data inflasi dan menghitung tingkat inflasi di periode tertentu.
Sebagai contoh menurut data BPS, CPI bulan Mei 2025 sebesar 108,07 dan bulan Mei 2024 sebesar 106,37, maka tingkat inflasi tahunan tersebut dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Tingkat Inflasi = ((CPI periode saat ini – CPI periode sebelumnya) /CPI periode sebelumnya) x 100 |
Tingkat Inflasi= ((108,07 – 106,37) / 106,37) × 100 = 1,59%
Dengan mengetahui angka tersebut, Anda dapat memahami arah pergerakan harga secara umum dan dampaknya terhadap nilai uang di masa depan.
Ada beberapa alasan mengapa Anda sebagai investor perlu mengetahui Consumer Price Index atau Indeks Harga Konsumen, di antaranya:
Bank sentral seperti Bank Indonesia (BI) menggunakan data CPI untuk menentukan kebijakan suku bunga. Jika inflasi naik signifikan dalam jangka waktu tertentu, bank sentral cenderung menaikkan suku bunga guna mengendalikan tekanan harga. Kenaikan suku bunga biasanya berdampak negatif terhadap pasar saham karena biaya pinjaman meningkat dan konsumsi cenderung menurun.
Sebaliknya, inflasi rendah memungkinkan bank sentral menurunkan suku bunga yang sering kali mendorong investor beralih ke saham karena imbal hasil obligasi menurun. Namun, tidak semua perubahan CPI secara otomatis memicu penyesuaian suku bunga. BI juga memperhatikan faktor lain seperti inflasi inti, ekspektasi inflasi jangka panjang, nilai tukar rupiah, serta kondisi ekonomi global. Oleh karena itu, Anda sebagai investor perlu memantau CPI untuk mengantisipasi arah kebijakan moneter.
Sebagai contoh, pada bulan Mei 2025, inflasi tahunan tercatat sebesar 1,60%. Dalam kondisi ini, BI menurunkan suku bunga dari 5,75% menjadi 5,50% karena inflasi masih berada dalam kisaran target yaitu 1,5 hingga 3,5%. Pada bulan Juni 2025, inflasi naik sedikit menjadi 1,87%. Meski demikian, BI memilih untuk mempertahankan suku bunga di level 5,50% karena inflasi masih terkendali. Selanjutnya, pada bulan Juli 2025, BI kembali menurunkan suku bunga menjadi 5,25% karena inflasi tetap stabil dan BI ingin memberikan stimulus tambahan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Beberapa sektor saham sangat sensitif terhadap perubahan inflasi. Misalnya, sektor consumer seperti ritel, makanan dan minuman akan terdampak langsung jika harga kebutuhan pokok naik. Kenaikan harga barang konsumsi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan pada akhirnya menekan pendapatan perusahaan.
Sementara itu, sektor seperti energi atau komoditas bisa mendapatkan keuntungan dari inflasi karena harga jual produknya juga ikut naik. Dengan memahami tren CPI, Anda dapat menyesuaikan portofolio investasi sesuai dengan prospek sektor yang diuntungkan atau dirugikan oleh inflasi.
CPI yang tinggi atau melebihi ekspektasi pasar bisa saja menyebabkan volatilitas di pasar saham. Sebaliknya, CPI yang sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi bisa meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong harga saham naik. Oleh karena itu, memahami jadwal rilis dan hasil CPI penting agar Anda tidak membuat keputusan mendadak yang berdasarkan sentimen pasar jangka pendek.
Sebagai ilustrasi, jika ekspektasi pasar terhadap inflasi bulanan adalah 0,3%, tetapi realisasinya mencapai 0,6%, pasar dapat merespons negatif karena ada risiko percepatan kenaikan suku bunga.
Sebagai investor, Anda dapat mengembangkan strategi berdasarkan arah inflasi:
Consumer Price Index (CPI) merupakan data yang memberikan wawasan mendalam tentang kondisi ekonomi suatu negara dan dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan investasi.
Sebagai investor saham, memahami dampak CPI terhadap kebijakan suku bunga, sektor-sektor tertentu, serta pergerakan pasar secara keseluruhan akan membantu Anda merumuskan strategi investasi yang lebih matang dan mengelola risiko dengan lebih baik.
Namun, selain saham, ada satu lagi instrumen investasi yang perlu Anda pertimbangkan juga, yaitu reksa dana saham. Investasi reksa dana saham memberikan kesempatan untuk diversifikasi portofolio dengan risiko yang lebih terkelola, berkat pengelolaan profesional dari manajer investasi. Reksa dana saham merupakan instrumen investasi yang tepat untuk memanfaatkan potensi pasar saham tanpa harus langsung terjun memilih saham sendiri.
Jika Anda tertarik, ada beragam produk investasi reksa dana saham di Makmur, salah satunya adalah Bahana Icon Syariah Kelas G. Berdasarkan data per tanggal 28 Agustus 2025, reksa dana saham tersebut dalam 1 tahun terakhir memiliki return di angka 26,22%.
*Disclaimer: Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga dapat memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda dapat memilih dan membeli reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo August Financial Freedom, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Neraca perdagangan adalah selisih antara nilai ekspor dan impor suatu negara. Surplus terjadi saat ekspor melebihi impor, dan defisit saat impor lebih besar dari ekspor. Neraca perdagangan merupakan komponen utama dari neraca pembayaran yang mencerminkan posisi ekonomi suatu negara dalam hubungan perdagangan internasional. Data ini biasanya disajikan bulanan, kuartalan, atau tahunan oleh lembaga […]
Key Takeaways: Ketika berinvestasi saham, memahami kesehatan keuangan suatu perusahaan sangat penting sebelum Anda memutuskan untuk membeli sahamnya. Salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur struktur permodalan perusahaan adalah Debt to Equity Ratio atau DER. Rasio ini menunjukkan seberapa besar proporsi utang terhadap ekuitas yang dimiliki suatu emiten. Lantas, bagaimana cara Anda mengecek apakah […]
Key Takeaways: FTSE Russell, lembaga global penyusun indeks saham, merilis hasil semi-annual review untuk Global Equity Index Series (GEIS) edisi September 2025. Perubahan komposisi indeks akan efektif setelah penutupan perdagangan 19 September 2025 dan berlaku mulai 22 September 2025. Dalam artikel ini, Makmur akan membahas detail perubahan indeks FTSE Russell untuk pasar Indonesia, saham-saham yang […]
Key Takeaways: M2 atau uang beredar adalah indikator penting dalam sistem moneter suatu negara. Di Indonesia, M2 mencakup uang kartal dan giral (M1), ditambah dengan simpanan berjangka dan tabungan dalam rupiah serta valuta asing di bank umum. Data ini diterbitkan secara rutin oleh Bank Indonesia dan menjadi salah satu tolok ukur dalam menilai arah kebijakan […]
Key Takeaways: Reksa dana merupakan salah satu instrumen investasi yang populer di Indonesia karena kemudahan akses dan variasi produknya. Di antara berbagai jenis reksa dana, reksa dana terproteksi (RDT) dapat menjadi pilihan terutama bagi Anda yang menginginkan proteksi modal pada saat jatuh tempo dengan potensi imbal hasil tetap. Sebagian besar portofolio reksa dana terproteksi ditempatkan […]