Saat investasi reksa dana, yang terpenting bukan hanya mempertimbangkan imbal hasil, melainkan juga harus melihat potensi risikonya. Dikarenakan, setiap investasi memiliki ketidakpastian dan peluang yang perlu diukur serta dianalisis secara objektif. Oleh karena itu, Anda juga perlu mengevaluasi apakah imbal hasil tersebut sebanding dengan risiko yang diambil. Salah satu analisis yang bisa membantu Anda mendapatkan jawaban atas hal tersebut adalah sharpe ratio.
Lalu, bagaimana cara menghitung dan penerapan sharpe ratio agar dapat membantu Anda membuat keputusan investasi yang lebih baik?
Sebelum membahas cara perhitungannya, ada baiknya Anda memahami terlebih dahulu apa manfaat dari Sharpe ratio itu sendiri. Melalui rasio ini, investor dapat menilai efektivitas kinerja investasi secara lebih menyeluruh—tidak hanya dari sisi return, tetapi juga seberapa efisien risiko yang diambil untuk mencapai hasil tersebut.
Ada beberapa manfaat dari perhitungan sharpe ratio yang memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan investasi, di antaranya:
Sharpe ratio adalah ukuran yang digunakan untuk menilai seberapa efektif suatu investasi dalam memberikan keuntungan dibandingkan dengan risiko yang ditanggung. Rasio ini menghitung imbal hasil tambahan yang dihasilkan sebuah aset (misalnya reksa dana saham) di atas investasi rendah risiko, seperti deposito, kemudian membandingkannya dengan tingkat volatilitas atau risiko investasi tersebut.
Semakin tinggi nilai sharpe ratio, semakin baik kinerja investasi tersebut, karena menunjukkan bahwa investor mendapatkan imbal hasil yang lebih besar untuk setiap risiko yang diambil. Dengan kata lain, rasio ini membantu Anda menilai apakah keuntungan yang diperoleh sepadan dengan tingkat ketidakpastian yang harus dihadapi.
Contoh:
Reksa dana saham A menghasilkan return 12% per tahun dengan standar deviasi (risiko) 10% dan reksa dana saham B menghasilkan return 10% dengan risiko 5%. Jika tingkat imbal hasil bebas risiko (deposito) adalah 2%, maka kita akan menghitung sharpe ratio-nya.
Catatan:
Perhitungan:
Meskipun reksa dana saham A memberikan return lebih tinggi secara absolut, reksa dana saham B memberikan imbal hasil yang lebih efisien terhadap risiko. Dengan menggunakan sharpe ratio, Anda dapat memilih investasi yang lebih menguntungkan secara proporsional.
Banyak investor tertarik pada suatu aset investasi dengan potensi return tinggi tanpa mempertimbangkan fluktuasi ekstrem. Padahal, investasi yang terlalu fluktuatif cenderung menimbulkan tekanan psikologis yang besar dan potensi kerugian yang tinggi. Dari perhitungan pada pembahasan sebelumnya, pasti Anda bisa melihat bahwa dengan menghitung sharpe ratio, Anda tidak hanya melihat potensi imbal hasil saja, tetapi juga mempertimbangkan fluktuasi atau besaran tingkat perubahan return.
Reksa dana dengan return yang sama bisa saja memiliki tingkat risiko yang berbeda. Di sinilah sharpe ratio berperan sebagai salah satu alat evaluasi untuk menilai “imbal hasil per unit risiko” dari suatu investasi. Dengan menggunakan sharpe ratio, Anda dapat melakukan perbandingan yang lebih baik.
Misalnya, saat mempertimbangkan jenis reksa dana yang sama, sharpe ratio bisa membantu untuk menjawab pertanyaan, mana yang memberikan keuntungan lebih optimal dengan risiko yang lebih efisien? Hasilnya, keputusan investasi yang Anda ambil menjadi lebih rasional dan terukur, karena tidak hanya berfokus pada return, tetapi juga pada risiko yang menyertainya.
Diversifikasi adalah strategi untuk menyebar investasi ke berbagai aset dengan tujuan mengurangi risiko sekaligus menjaga potensi imbal hasil. Dengan memiliki portofolio yang beragam, kerugian dari satu aset dapat diimbangi oleh kinerja aset lainnya.
Melalui penggunaan sharpe ratio, investor dapat mengevaluasi kinerja portofolio sebelum dan sesudah diversifikasi. Jika nilai sharpe ratio meningkat setelah diversifikasi, hal ini menunjukkan bahwa portofolio menjadi lebih efisien, memberikan imbal hasil yang lebih baik untuk setiap unit risiko yang ditanggung.
Sebagai seorang investor, Anda perlu bersikap objektif dan terukur dalam menilai suatu aset. Return tinggi memang menarik, tetapi tanpa memperhitungkan risiko, Anda bisa saja terjebak dalam keputusan investasi yang buruk. Di sinilah pentingnya menggunakan sharpe ratio untuk menilai efisiensi imbal hasil terhadap risiko, membandingkan reksa dana secara objektif, menghindari bias terhadap return tinggi, mengelola dan menilai portofolio untuk diversifikasi.
Oleh karena itu, sebelum berinvestasi pada sebuah aset, pastikan Anda menghitung dan memahami nilai sharpe ratio. Dengan cara ini, Anda dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak, rasional, dan terukur.
Perhitungan sharpe ratio dapat dimanfaatkan saat berinvestasi di reksa dana dengan risiko tinggi, seperti reksa dana campuran maupun reksa dana saham. Reksa dana campuran mengalokasikan dana kelolaan secara proporsional hingga maksimal 79% pada instrumen pasar uang, obligasi, dan saham. Sementara itu, reksa dana saham menempatkan minimal 80% dana kelolaan pada instrumen saham. Diversifikasi yang dilakukan manajer investasi (MI) turut membantu memperkuat portofolio Anda, karena risiko tidak bertumpu pada satu aset saja.
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo October Boost, promo Semua Bisa Makmur dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]
Key Takeaways: Seorang investor perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara menilai kinerja sebuah saham. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menilai kinerja saham adalah Excess Returns Model (ERM). Model ini membantu investor mengukur kinerja saham dengan membandingkan actual return dengan expected return berdasarkan risiko pasar. Mari kita bahas lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan […]
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]
RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]