






Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat pada 2025. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional menjadi 4,5%, lebih rendah dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 5,2% maupun proyeksi Bank Indonesia (BI) di kisaran 4,6%–5,4%. Pemangkasan ini mencerminkan tekanan yang belum mereda, baik dari faktor global maupun domestik. Dalam artikel ini, Makmur akan membahas faktor-faktor di balik revisi proyeksi ini, serta strategi investasi yang dapat dicermati di tengah potensi perlambatan ekonomi ke depan.
Institute for Development of Economics and Finance, atau disingkat Indef, adalah lembaga riset independen yang berdiri sejak 1995 dan berfokus pada penelitian serta analisis kebijakan publik di bidang ekonomi. Lembaga ini menjadi salah satu rujukan dalam menilai efektivitas kebijakan pemerintah dan tren ekonomi nasional, khususnya dari sudut pandang yang kritis dan berbasis data.
Pada awal juli 2025 indef memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 menjadi 4,5% dari proyeksi sebelumnya sebesar 5%. Penurunan ini mencerminkan tekanan domestik maupun global yang masih membayangi perekonomian nasional.
Sebelumnya, sejumlah lembaga internasional juga telah memangkas outlook ekonomi global. International Monetary Fund (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan global menjadi 2,8% dari sebelumnya sebesar 3,3%, sementara Bank Dunia (World Bank) menjadi 2,3% dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,7%. Ketidakpastian ini menciptakan tekanan tambahan bagi negara berkembang seperti Indonesia, terutama karena ketergantungan terhadap ekspor dan aliran investasi asing.
Di samping itu, Indef menyebutkan salah satu faktor utama dibalik pemangkasan proyeksi ekonomi domestik adalah melemahnya kinerja ekspor, tensi geopolitik global termasuk kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, memberikan tekanan pada permintaan ekspor Indonesia. Hal ini turut diperburuk oleh tren penurunan harga komoditas yang menjadi penopang utama neraca perdagangan nasional.
Efisiensi anggaran sebesar Rp306,69 triliun yang dilakukan pemerintah pada awal tahun justru menjadi penghambat pemulihan. Indef menilai bahwa pengalihan belanja ke program jangka panjang seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak memberikan dampak langsung terhadap percepatan pertumbuhan. Konsumsi pemerintah bahkan tercatat tumbuh negatif sebesar -1,38% secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal I-2025, menunjukkan lemahnya dorongan belanja negara terhadap ekonomi.
Tekanan domestik juga tercermin dari sisi konsumsi rumah tangga. Pada kuartal I-2025, konsumsi hanya tumbuh 4,89% yoy, lebih rendah dibandingkan kuartal I-2024 yang sebesar 4,91% yoy. Capaian ini tergolong rendah, mengingat periode tersebut mencakup momentum Ramadhan dan Idul Fitri. Indef menilai tren ini mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat yang menjadi tantangan struktural dan dapat membatasi ruang pemulihan ekonomi.
Di tengah perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global yang masih berlangsung, investor perlu menerapkan strategi defensif untuk menjaga keseimbangan portofolio tetap optimal. Adapun instrumen defensif yang dapat dipertimbangkan adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) dan Reksa Dana Pasar Uang (RDPU).
RDPT merupakan reksa dana yang menempatkan minimal 80% dananya pada instrumen pendapatan tetap seperti obligasi atau sukuk, baik dari pemerintah maupun korporasi. Instrumen ini cenderung memberikan imbal hasil yang lebih stabil dibandingkan saham, sehingga dapat dijadikan sebagai strategi defensif dalam kondisi pasar yang volatile.
Berikut 3 reksa dana pendapatan tetap unggulan Makmur yang memiliki kinerja solid dalam satu tahun terakhir per 16 Juli 2025:
*Disclaimer: kinerja masa lalu tidak menjamin hasil masa depan
Sementara itu, bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan berfokus pada instrumen jangka pendek, RDPU dapat menjadi alternatif. RDPU mengalokasikan 100% portofolionya ke instrumen pasar uang seperti deposito, surat utang yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun, dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Berikut 3 reksa dana pasar uang unggulan Makmur yang memiliki kinerja solid dalam satu tahun terakhir per 16 Juli 2025:
*Disclaimer: kinerja masa lalu tidak menjamin hasil masa depan
Itulah pembahasan mengenai sejumlah faktor di balik pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 oleh Indef, serta strategi investasi yang dapat dipertimbangkan di tengah ketidakpastian global dan potensi perlambatan ekonomi ke depan.
Di Makmur, Anda juga dapat memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda dapat memilih dan membeli reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Juicy July dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam membangun portofolio investasi saham, salah satu tantangan terbesar bagi investor adalah membedakan antara saham yang benar-benar berkualitas (best buy) dan saham yang sebaiknya dihindari (worst buy). Tidak semua saham yang harganya murah layak dibeli, dan tidak semua saham yang populer menjamin keuntungan. Memahami perbedaan fundamental antara kedua kategori ini adalah langkah krusial […]
Key Takeaways: Strategi buy and hold pada reksa dana merupakan pendekatan investasi jangka panjang, di mana investor mempertahankan investasinya tanpa melakukan penjualan atau pencairan. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan aset secara bertahap dan optimal. Berbeda dengan trading aktif yang mengandalkan timing pasar, strategi ini lebih konsisten dan disiplin. Dalam reksa dana, strategi investasi ini didukung oleh […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp266,82 triliun per Februari 2026, naik 5,05% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak volatil sepanjang year-to-date (YTD) per 31 Maret 2026 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, berlanjutnya konflik Timur Tengah mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 79% YTD, disertai kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dari sisi domestik, sentimen dipengaruhi kekhawatiran fiskal dan pembekuan rebalancing […]