






Dalam berinvestasi, tidak semua keputusan dapat menghasilkan keuntungan, karena beberapa fase ekonomi dapat memberikan hasil yang kurang menguntungkan. Oleh karena itu, pemahaman tentang siklus ekonomi sangatlah penting, karena membantu Anda dalam merencanakan strategi investasi yang lebih tepat.
Siklus ekonomi merupakan pola aktivitas ekonomi yang terjadi secara berulang dalam suatu periode perekonomian, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti kebijakan pemerintah, perubahan permintaan masyarakat, suku bunga acuan, serta faktor lainnya. Setiap fase dalam siklus ekonomi memiliki potensi kerugian dan peluang keuntungan yang berbeda. Kerugian bisa terjadi karena kesalahan timing seperti membeli aset di harga puncak, kekayaan tergerus inflasi, atau kesulitan likuiditas saat resesi.
Di sisi lain, peluang keuntungan muncul dari membeli aset undervalued saat pasar sedang resesi atau melambat, Dengan memahami dan mengelola risiko yang ada, Anda dapat memaksimalkan keuntungan dan menghindari kerugian dalam setiap fase siklus ekonomi.
Siklus ekonomi terdiri dari beberapa fase yang berpola, berikut adalah beberapa fase yang ada dalam siklus ekonomi:
Fase ekspansi dalam siklus ekonomi adalah periode di mana perekonomian tumbuh dan berkembang dengan pesat. Selama fase ini, produk domestik bruto (PDB) negara mengalami peningkatan, yang berarti ada pertumbuhan dalam output barang dan jasa. Angka pengangguran cenderung menurun karena perusahaan melakukan ekspansi bisnis, dan konsumsi masyarakat meningkat seiring dengan naiknya daya beli. Peningkatan daya beli ini mendorong lebih banyak pengeluaran untuk barang dan jasa, sehingga mendorong perusahaan untuk meningkatkan produksi dan investasi.
Contoh nyata dari fase ekspansi di Indonesia dimulai pada tahun 2001-2008 dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kenaikan signifikan secara bertahap dari 3,3% hingga 6,3%. Pemerintah Indonesia juga melaksanakan berbagai reformasi ekonomi yang mendukung perkembangan sektor industri dan investasi asing. Sebagai hasilnya, beberapa saham dari sektor konsumer dan sektor industri mengalami kenaikan.
Salah satu sektor saham konsumer, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), menunjukkan pertumbuhan harga yang luar biasa. Pada 3 Januari 2001, harga sahamnya tercatat sebesar Rp775, dan pada 2 Januari 2008, harga sahamnya telah mencapai Rp2.550, yang berarti mengalami kenaikan sekitar 220,03% dalam waktu 7 tahun.
Dalam periode yang sama, saham sektor industri manufaktur, salah satunya PT Astra International Tbk (ASII) juga mengalami kenaikan 1260%. Pada 3 Januari 2001, harga sahamnya sebesar Rp200, dan pada 2 Januari 2008, harga sahamnya melonjak menjadi Rp2.720. Peningkatan ini mencerminkan bagaimana sektor tertentu bisa memberikan keuntungan besar selama fase ekspansi, seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil dan meningkatnya kepercayaan investor.
Fase puncak ekonomi merupakan titik tertinggi dalam siklus ekonomi, pada fase ini indikator ekonomi seperti produk domestik bruto (PDB), tingkat pengangguran, dan permintaan barang serta jasa berada pada level yang baik. Kegiatan ekonomi mengalami lonjakan, dengan konsumsi masyarakat dan investasi yang sangat tinggi.
Setelah Indonesia pulih dari krisis ekonomi Asia 1997-1998, ekonomi Indonesia mengalami fase ekspansi yang panjang pada awal 2000-an. Pada periode 2001 hingga 2007, perekonomian Indonesia mencapai bisa dibilang mencapai puncaknya. Pada 2007, Indonesia tercatat mengalami pertumbuhan ekonomi 6,3%, yang mencerminkan kondisi perekonomian yang sangat baik. Tingkat pengangguran juga menurun signifikan, di angka sekitar 9,1% pada Agustus 2007 dari 11,2% pada 2005.
Selama periode 2001-2008, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada 02 Januari 2001, IHSG berada di kisaran 415,4 dan empat tahun kemudian, pada 02 Januari 2008, IHSG tercatat di angka 2.739,6, mencatatkan kenaikan sebesar 559,5% dalam empat tahun.
Namun, meskipun perekonomian Indonesia terlihat sangat kuat pada periode ini, ada beberapa faktor yang perlu diwaspadai. Peningkatan permintaan yang sangat tinggi menyebabkan inflasi juga meningkat, mencapai sekitar 6% pada 2007.
Resesi adalah fase ketika perekonomian mulai melambat, yang ditandai dengan meningkatnya tingkat pengangguran, menurunnya produksi, dan penurunan kinerja di banyak sektor ekonomi. Selama fase ini, daya beli masyarakat menurun, dan perusahaan-perusahaan kesulitan mempertahankan pendapatan (revenue).
Pada tahun 2008, dunia mengalami resesi global yang dipicu oleh krisis subprime mortgage di AS. Meskipun Indonesia tidak terpengaruh seburuk negara-negara maju, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia tetap merasakan dampak yang signifikan. IHSG sempat terkoreksi sangat dalam hingga -54,1%, turun dari 2.739,6 pada Januari 2008 menjadi 1.256,7 pada Oktober 2008.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melambat pada tahun 2009, dengan angka pertumbuhan PDB yang hanya mencapai 4,5%, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan di tahun 2007-2008 di atas 6%. Sektor seperti manufaktur dan perbankan mengalami tekanan yang cukup besar akibat dampak dari krisis global tersebut.
Selain mengalami dampak signifikan dari krisis keuangan global 2008, Indonesia juga menghadapi resesi pada tahun 2020-2021, yang kali ini disebabkan oleh pandemi COVID-19. Pandemi ini mengakibatkan penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pembatasan mobilitas, sosial, serta penghentian sementara berbagai sektor kegiatan ekonomi menyebabkan perekonomian Indonesia mengalami kontraksi yang mendalam pada kuartal II – 2020, dengan PDB Indonesia terkontraksi sebesar -5,32% dan kuartal III – 2020 juga kontraksi -3,49% year-on-year (yoy), yang merupakan penurunan terburuk sejak krisis moneter 1998.
Kehadiran pandemi COVID-19 menyebabkan guncangan ekonomi yang sangat cepat. Beberapa industri, seperti penerbangan, tekstil, dan ritel, mengalami tekanan yang luar biasa. Salah satu contoh dampaknya dapat dilihat pada saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), yang bergerak di bidang perdagangan pakaian, sepatu, aksesoris, tas, dan peralatan olahraga. Pada tahun 2020, saham MAPI mengalami koreksi yang sangat dalam. Hanya dalam waktu 3 bulan, harga saham MAPI anjlok 59,2%, turun dari Rp1.055 pada Januari 2020 menjadi Rp472 pada Maret 2020.
Akibat perlambatan ekonomi yang disebabkan oleh pandemi, tingkat pengangguran di Indonesia juga meningkat tajam. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa sepanjang Agustus 2020, tingkat pengangguran terbuka Indonesia mencapai 7,07%, meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama berada pada angka 5,28%.
Pemulihan adalah fase ketika perekonomian mulai pulih setelah mengalami kontraksi. Pertumbuhan ekonomi mulai kembali meningkat, pengangguran menurun, dan konsumsi masyarakat mulai naik. Meskipun pemulihan sering kali lambat, fase ini memberikan peluang investasi yang sangat baik karena harga aset yang rendah mulai pulih.
Fase pemulihan ekonomi juga terlihat pada tahun 2010 hingga 2012, setelah krisis global 2008. Indonesia menunjukkan kinerja ekonomi yang kuat dengan pertumbuhan PDB yang rata-rata mencapai 6% per tahun. Pemerintah juga cenderung meningkatkan pengeluaran untuk pembangunan infrastruktur, yang menciptakan peluang investasi di sektor konstruksi dan terkait. Perusahaan infrastruktur yang berkaitan dengan pembangunan dan operasional jalan tol, bandara, dan pelabuhan di Indonesia diincar banyak investor pada waktu itu.
Contohnya terlihat dari harga saham PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR), perusahaan yang bergerak dalam pengelolaan jasa jalan tol, termasuk perencanaan, konstruksi, pengoperasian, pemeliharaan, serta pengembangan bisnis terkait seperti properti, rest area (Travoy), periklanan, dan layanan digital. Saham JSMR mengalami pertumbuhan yang signifikan, naik 161% dari harga Rp1.805 pada Januari 2010 menjadi Rp4.710 pada Desember 2013, seiring dengan menariknya sektor infrastruktur di mata investor.
Berikut adalah beberapa prinsip yang dapat membantu Anda dalam menyusun strategi investasi berdasarkan siklus ekonomi:
Diversifikasi portofolio adalah langkah penting untuk mengurangi risiko investasi. Dengan memahami siklus ekonomi, Anda dapat mendiversifikasi portofolio dengan berbagai jenis aset yang sesuai dengan fase ekonomi yang sedang berlangsung.
Misalnya, selama fase ekspansi, saham dengan potensi pertumbuhan tinggi, seperti yang ada di sektor konsumer dan industri, mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik. Namun, pada fase resesi, ketika pasar sedang mengalami tekanan, berinvestasi pada aset yang lebih rendah risiko, seperti reksa dana pendapatan tetap atau reksa dana pasar uang dapat menjadi pilihan yang lebih bijak.
Memahami setiap fase dalam siklus ekonomi sangat penting untuk menentukan waktu yang tepat dalam berinvestasi, termasuk saat yang tepat untuk profit taking atau keluar dari pasar. Pada fase puncak ekonomi, perekonomian berada dalam kondisi terbaiknya dan harga saham cenderung mengalami lonjakan, ini adalah saat yang tepat untuk melakukan merealisasikan keuntungan. Pada fase ini, banyak saham yang telah mencapai nilai tertinggi, dan kondisi pasar yang sangat baik memberi kesempatan untuk merealisasikan keuntungan yang telah terakumulasi.
Sebaliknya, pada fase resesi atau kontraksi ekonomi, meskipun harga saham banyak yang tertekan, ini justru bisa menjadi kesempatan untuk membeli saham dengan harga diskon, terutama saham perusahaan dengan fundamental dan prospek jangka panjang yang baik. Menentukan waktu yang tepat untuk masuk atau keluar dari pasar berdasarkan pemahaman fase ekonomi ini sangat penting untuk memaksimalkan keuntungan dan meminimalisir kerugian.
Meskipun siklus ekonomi berulang, investasi jangka panjang merupakan pilihan yang ideal. Anda dapat tetap tenang meskipun pasar mengalami fluktuasi, yang sering terjadi pada fase tertentu dalam siklus ekonomi. Memahami siklus ekonomi dengan baik memungkinkan Anda untuk membuat keputusan investasi yang lebih rasional dan merancang strategi yang sesuai dengan tujuan jangka panjang. Jadi, keputusan Anda tidak didasarkan pada spekulasi jangka pendek yang dipengaruhi oleh fluktuasi pasar sementara, karena hal tersebut seringkali memperbesar tingkat risiko.
Memahami siklus ekonomi adalah langkah penting yang dapat membantu dalam membuat keputusan investasi yang lebih strategis. Setiap fase dalam siklus ekonomi, mulai dari ekspansi hingga resesi memiliki karakteristik yang berbeda, yang dapat memengaruhi arah dan hasil investasi Anda. Bagi Anda yang ingin berinvestasi secara efektif, reksa dana saham dapat menjadi pilihan yang tepat.
Manajer investasi (MI) akan mengelola portofolio saham, melakukan riset, dan analisis fundamental yang mendalam. MI akan menentukan waktu yang paling tepat untuk berinvestasi, sesuai dengan kondisi pasar dan fase siklus ekonomi. Sehingga, Anda dapat mencapai tujuan investasi jangka panjang dengan lebih optimal.
Ada beragam produk reksa dana saham yang ada di Makmur, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Dalam jangka panjang, reksa dana saham ini telah bertumbuh secara optimal. Berdasarkan data per 28 Januari 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 71,99% dalam 5 tahun terakhir.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Investasi saham saat ini merupakan hal yang umum dilakukan oleh banyak orang, terutama dengan hadirnya program Yuk Nabung Saham yang diinisiasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2017. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menabung saham sebagai instrumen investasi jangka panjang. Melalui program ini, BEI berupaya mendorong masyarakat […]
Key Takeaways: Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi mengumumkan pembekuan sementara (interim freeze) rebalancing untuk seluruh indeks saham Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026. Langkah pembekuan rebalancing MSCI ini diambil menyusul kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia. MSCI merupakan perusahaan riset asal Amerika Serikat […]
Key Takeaways: Saham blue chip merujuk pada saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar, stabil, dan sering ditransaksikan di pasar saham. Perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki rekam jejak yang panjang, kinerja keuangan yang solid, serta kemampuan untuk bertahan dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Istilah “blue chip” diambil dari permainan poker, di mana “blue chip” adalah chip dengan […]
Key Takeaways: Pasar modal Indonesia sedang bersiap menghadapi agenda penting, yaitu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif diberlakukan mulai 2 Maret 2026. Proses rebalancing ini rutin dilakukan oleh MSCI untuk memastikan bahwa indeks tetap representatif terhadap kondisi pasar global dan domestik. Mengapa hal tersebut penting? […]
Key Takeaways: Return on Investment (ROI) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu investasi. ROI menunjukkan seberapa efektif investasi yang dilakukan dalam menghasilkan keuntungan. Secara umum, semakin besar ROI yang diperoleh, semakin baik kinerja investasi tersebut. Namun, ROI yang besar tidak selalu mencerminkan investasi yang ideal karena masih terdapat faktor lain yang […]