






Investasi saham saat ini merupakan hal yang umum dilakukan oleh banyak orang, terutama dengan hadirnya program Yuk Nabung Saham yang diinisiasi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak tahun 2017. Program ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menabung saham sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Melalui program ini, BEI berupaya mendorong masyarakat untuk memulai investasi secara rutin di pasar saham. Menabung saham bisa menjadi sarana untuk belajar disiplin, namun apakah potensi keuntungannya optimal? Lalu, apa saja karakteristik perusahaan yang cocok untuk menerapkan strategi nabung saham? Mari kita bahas secara detail dan mendalam pada artikel ini.
Tidak semua saham bisa diinvestasikan dengan strategi nabung saham, berikut ini adalah beberapa kriteria yang perlu Anda perhatikan dalam memilih perusahaan untuk nabung saham, di antaranya:
Salah satu faktor dalam memilih saham adalah mengevaluasi fundamental perusahaan. Perusahaan dengan fundamental yang kuat cenderung lebih stabil dan memiliki prospek yang baik dalam jangka panjang. Beberapa indikator yang bisa digunakan untuk menilai fundamental perusahaan antara lain:
Rasio keuangan ini digunakan untuk mengukur harga saham relatif terhadap laba yang dihasilkan perusahaan. Semakin rendah P/E ratio, semakin murah saham tersebut dibandingkan dengan laba yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika harga saham perusahaan ABCD adalah Rp10.000 dan Earning per share (EPS)-nya adalah Rp500, maka:
Angka 20 ini menunjukkan bahwa harga saham perusahaan 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan laba yang dihasilkan per saham. P/E ratio yang dianggap ideal atau wajar dapat bervariasi tergantung pada sektor industri dan kondisi pasar. Berikut adalah acuannya:
Tabel 1. Acuan P/E Ratio
| P/E Ratio Rendah | Jika sebuah perusahaan memiliki P/E ratio yang lebih rendah, ini merupakan indikasi saham undervalued (murah) dibandingkan dengan laba yang dihasilkan. | |
| P/E Ratio Tinggi | P/E yang tinggi bisa mengindikasikan bahwa saham perusahaan tersebut overvalued (mahal), atau investor memiliki harapan tinggi terhadap pertumbuhan laba perusahaan tersebut di masa depan. | |
Sebagai catatan, setiap sektor industri memiliki P/E ratio ideal yang berbeda. Angka ideal diperoleh dari rata-rata P/E ratio dari saham di industri sejenis. Sebagai contoh, pada industri perbankan, Anda bisa mengelompokkan saham, seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI.
Dividend payout ratio (DPR) adalah ukuran yang digunakan untuk menilai seberapa besar laba bersih perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen.
Rasio ini dihitung dengan membagi total dividen yang dibayarkan dengan laba bersih perusahaan dan mengalikan hasilnya dengan 100%. Semakin tinggi rasio ini, semakin besar bagian laba yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) adalah contoh perusahaan yang memiliki laba bersih yang konsisten meningkat dari tahun ke tahun, disertai dengan peningkatan dividend payout ratio yang menunjukkan keberlanjutan kebijakan pembayaran dividen yang menguntungkan bagi para investor. Berikut adalah data laba bersih dan dividend payout ratio untuk tahun 2021-2024:
Tabel 2. Dividend payout ratio BBCA
| Tahun | Laba Bersih | Dividend Payout Ratio (DPR) |
| 2021 | Rp31,4 triliun | 56,9% dari laba bersih |
| 2022 | Rp40,7 triliun | 62,1% dari laba bersih |
| 2023 | Rp48,6 triliun | 68,5% dari laba bersih |
| 2024 | Rp54,8 triliun | 67,5% dari laba bersih |
Sumber: Investing.com
Terlihat, BBCA berhasil menjaga pertumbuhan laba bersih yang kuat, mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola operasi dan mencatatkan kinerja keuangan yang sehat. Kenaikan laba bersih yang konsisten ini mencerminkan stabilitas dan pertumbuhan yang menguntungkan bagi perusahaan dan para pemegang sahamnya.
Salah satu kriteria dalam memilih perusahaan untuk strategi nabung saham adalah prospek bisnis yang baik. Perusahaan yang memiliki prospek bisnis yang cerah di masa depan tidak hanya mampu menghasilkan laba yang stabil, tetapi juga dapat beradaptasi dengan perubahan industri. Prospek bisnis yang baik mencerminkan kemampuan perusahaan untuk tumbuh dan berkembang, bahkan dalam kondisi ekonomi yang menantang.
Selain itu, perusahaan yang mampu berinovasi dan beradaptasi dengan teknologi memiliki keunggulan kompetitif yang lebih kuat. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), misalnya, telah menunjukkan kemampuannya dalam beradaptasi dengan tren digital melalui layanan seperti BCA mobile dan KlikBCA, yang mengakomodasi pertumbuhan transaksi digital.
Manajemen risiko yang baik dan kebijakan keuangan yang sehat sangat penting untuk memastikan perusahaan tetap stabil dan menguntungkan meskipun menghadapi tantangan ekonomi. BCA juga mencatatkan laba bersih yang terus meningkat dan kebijakan dividen yang konsisten, yang menunjukkan prospek bisnis yang stabil dan menguntungkan bagi para investor.
Manajemen perusahaan yang baik memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan perusahaan di masa depan. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih perusahaan yang dipimpin oleh tim manajemen yang berpengalaman, profesional, dan memiliki visi yang jelas untuk masa depan.
Salah satu contoh perusahaan yang menunjukkan kualitas manajemen yang luar biasa adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang dikenal sebagai salah satu bank swasta terbesar dan paling terpercaya di Indonesia. BCA telah berhasil meraih penghargaan HR Asia Best Companies to Work for in Asia selama 7 tahun berturut‑turut, yang mencerminkan komitmen manajemennya dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan menciptakan lingkungan kerja yang positif.
Sebelumnya sudah membahas beberapa data tentang PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bagaimana hasilnya jika Anda nabung saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) selama 5 tahun terakhir? Apakah menguntungkan? Di bawah ini merupakan daftar tanggal simulasi Anda membeli saham BBCA di setiap awal bulan selama periode 2021 hingga 2025.
Tabel 3. Periode Pembelian Saham BBCA

Sumber: Investing.com
Apabila Anda nabung saham BBCA 1 lot setiap bulan dari Januari 2021 hingga Desember 2025 dengan harga penutupan di setiap awal bulan. Maka, total uang yang dikeluarkan untuk membeli saham BBCA selama 5 tahun tersebut sebesar Rp50.431.500. Jumlah total yang Anda keluarkan untuk membeli saham BBCA sebanyak 60 lot (6.000 lembar) selama periode tersebut.
Setelah menghitung harga pembelian rata-rata dari semua pembelian yang dilakukan setiap bulan, harga rata-rata saham yang Anda beli adalah Rp8.405,25 per lembar. Berarti, meskipun harga saham bervariasi setiap bulan, Anda membeli saham BBCA dengan harga rata-rata sekitar Rp8.405,25 per lembar.
Pada 15 Januari 2026, harga penutupan saham BBCA tercatat sebesar Rp8.075 per lembar. Karenakan harga saham BBCA pada Januari 2026 lebih rendah dari harga rata-rata yang Anda beli di angka Rp8.405,25, maka Anda mengalami kerugian sebesar Rp1.981.500 atau -3,9% dalam 5 tahun.
Namun, selama 5 tahun berinvestasi Anda mendapatkan dividen, perhitungannya sebagai berikut:
Tabel 4. Histori Pembagian Dividen BBCA
| Tanggal ex-dividend | Dividen per lembar saham | Jumlah lembar saham | Dividen yang diperoleh |
| 08/04/2021 | 432 | 400 | Rp172.800 |
| 17/11/2021 | 25 | 1.100 | Rp27.500 |
| 28/03/2022 | 120 | 1.500 | Rp180.000 |
| 02/12/2022 | 35 | 2.400 | Rp84.000 |
| 29/03/2023 | 170 | 2.700 | Rp459.000 |
| 04/12/2023 | 42,5 | 3.600 | Rp153.000 |
| 25/03/2024 | 227,5 | 3.900 | Rp887.250 |
| 21/11/2024 | 50 | 4.700 | Rp235.000 |
| 21/03/2025 | 250 | 5.100 | Rp1.275.000 |
| 03/12/2025 | 55 | 6.000 | Rp330.000 |
Sumber: Investing.com
Total dividen yang Anda peroleh selama periode tersebut adalah Rp3.803.550. Meskipun secara capital gain Anda mengalami kerugian sebesar Rp1.981.500 atau -3,9% dalam 5 tahun, namun Anda masih memperoleh keuntungan berkat adanya dividen yang dibagikan. Sehingga, Anda tetap mendapatkan keuntungan bersih dari investasi sebesar Rp1.822.050, atau sekitar 3,61% dari modal Anda sebesar Rp50.431.500.
Menabung saham dapat memberikan hasil yang menguntungkan, namun apakah keuntungannya optimal? Hal itu tergantung dari analisis fundamental dan pemilihan saham yang Anda lakukan. Apabila Anda ingin mengoptimalkan potensi keuntungan dan meminimalkan risiko, reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang bisa dipertimbangkan.
Manajer investasi (MI) yang berpengalaman akan mengelola portofolio investasi, termasuk dalam menentukan waktu pembelian yang tepat, berdasarkan analisis fundamental dan penilaian terhadap sektor yang berpotensi tumbuh. Hal tersebut berpotensi memberikan Anda keuntungan yang lebih maksimal.
Di Makmur, ada berbagai pilihan reksa dana saham, salah satunya Bahana Icon Syariah Kelas G. Reksa dana ini memiliki kinerja yang solid secara historis, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berdasarkan data per 29 Januari 2026, reksa dana ini memiliki return sebesar 10,21% dalam 3 bulan terakhir dan 70,80% dalam 3 tahun terakhir.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itureksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dalam berinvestasi, tidak semua keputusan dapat menghasilkan keuntungan, karena beberapa fase ekonomi dapat memberikan hasil yang kurang menguntungkan. Oleh karena itu, pemahaman tentang siklus ekonomi sangatlah penting, karena membantu Anda dalam merencanakan strategi investasi yang lebih tepat. Siklus ekonomi merupakan pola aktivitas ekonomi yang terjadi secara berulang dalam suatu periode perekonomian, yang dipengaruhi […]
Key Takeaways: Morgan Stanley Capital International (MSCI) secara resmi mengumumkan pembekuan sementara (interim freeze) rebalancing untuk seluruh indeks saham Indonesia pada Selasa, 27 Januari 2026. Langkah pembekuan rebalancing MSCI ini diambil menyusul kekhawatiran MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham dan potensi praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia. MSCI merupakan perusahaan riset asal Amerika Serikat […]
Key Takeaways: Saham blue chip merujuk pada saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar, stabil, dan sering ditransaksikan di pasar saham. Perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki rekam jejak yang panjang, kinerja keuangan yang solid, serta kemampuan untuk bertahan dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Istilah “blue chip” diambil dari permainan poker, di mana “blue chip” adalah chip dengan […]
Key Takeaways: Pasar modal Indonesia sedang bersiap menghadapi agenda penting, yaitu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif diberlakukan mulai 2 Maret 2026. Proses rebalancing ini rutin dilakukan oleh MSCI untuk memastikan bahwa indeks tetap representatif terhadap kondisi pasar global dan domestik. Mengapa hal tersebut penting? […]
Key Takeaways: Return on Investment (ROI) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu investasi. ROI menunjukkan seberapa efektif investasi yang dilakukan dalam menghasilkan keuntungan. Secara umum, semakin besar ROI yang diperoleh, semakin baik kinerja investasi tersebut. Namun, ROI yang besar tidak selalu mencerminkan investasi yang ideal karena masih terdapat faktor lain yang […]