






Saham blue chip merujuk pada saham yang diterbitkan oleh perusahaan besar, stabil, dan sering ditransaksikan di pasar saham. Perusahaan-perusahaan ini umumnya memiliki rekam jejak yang panjang, kinerja keuangan yang solid, serta kemampuan untuk bertahan dalam kondisi pasar yang fluktuatif. Istilah “blue chip” diambil dari permainan poker, di mana “blue chip” adalah chip dengan nilai tertinggi, konsep ini kemudian diadopsi di pasar saham untuk menggambarkan perusahaan dengan reputasi kuat, nilai fundamental tinggi, serta tingkat stabilitas yang kokoh dalam jangka panjang.
Jadi, saham blue chip merupakan saham dengan kapitalisasi pasar yang besar dan cenderung memberikan dividen yang stabil. Di Indonesia, beberapa contoh saham blue chip yang populer adalah saham dari perusahaan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM).
Saham blue chip sering dianggap sebagai pilihan yang aman untuk investasi jangka panjang. Namun, apakah benar saham blue chip cocok untuk investasi jangka panjang? Untuk mengetahui jawabannya, mari kita bahas lebih lanjut mengenai karakteristik saham blue chip dan contoh saham blue chip yang tepat untuk investasi jangka panjang.
Saham blue chip memiliki beberapa karakteristik utama yang membuatnya menjadi pilihan populer di kalangan investor, terutama untuk investasi jangka panjang. Berikut adalah beberapa karakteristik yang perlu Anda ketahui:
Perusahaan blue chip umumnya memiliki kondisi keuangan yang sehat dan stabil dalam 5-10 tahun terakhir. Keuangan yang sehat memungkinkan perusahaan untuk bertahan dalam berbagai siklus ekonomi dan pasar yang berfluktuasi. Perusahaan-perusahaan ini biasanya memiliki cadangan dana yang cukup besar, memungkinkan mereka untuk tetap beroperasi dan terus berkembang meskipun terjadi ketidakpastian ekonomi global atau domestik.
Sebagai contoh, BBCA menunjukkan stabilitas keuangan yang solid dengan laba bersih yang terus meningkat setiap tahunnya. Hingga 11M2025, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp52,7 triliun, naik 4,3% year-on-year (yoy) dari Rp50,4 triliun pada 11M2024. Sebelumnya, pada tahun 2023, laba bersih tercatat Rp48,6 triliun, pada 2022 sebesar Rp40,7 triliun, dan pada 2021 Rp31,4 triliun. Dengan kenaikan yang konsisten, rata-rata pertumbuhan tahunan laba bersih BCA selama lima tahun terakhir adalah sekitar 11,1%.
Salah satu daya tarik saham blue chip adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan dividen stabil dan cenderung meningkat setiap tahunnya. Pembayaran dividen yang konsisten menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kesehatan finansial suatu perusahaan. Bagi investor yang mencari pendapatan pasif, saham blue chip menawarkan peluang untuk memperoleh penghasilan dari dividen, yang sering kali lebih besar dibandingkan dengan instrumen investasi deposito atau reksa dana pasar uang.
Sebagai contoh saham TLKM, rata-rata dividend yield dalam rentang tahun 2013-2025 berkisar antara 3% hingga 9% per tahun. Dividen TLKM cenderung konsisten dan bahkan naik dari tahun ke tahun, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari pendapatan pasif melalui dividen.
Perusahaan blue chip telah beroperasi selama beberapa dekade dan memiliki rekam jejak yang terbukti dalam hal pertumbuhan dan profitabilitas. Rekam jejak yang solid ini memberikan keyakinan bagi investor bahwa perusahaan mampu melewati berbagai tantangan dan tetap tumbuh di masa depan. Keberhasilan yang konsisten dalam mencatatkan laba dan mengelola risiko menjadikan saham blue chip sebagai investasi yang lebih dapat diandalkan dalam jangka panjang. Sebagai contoh, TLKM adalah perusahaan blue chip yang telah beroperasi selama lebih dari 50 tahun di Indonesia dan terus menunjukkan pertumbuhan.
Saham blue chip memiliki volume perdagangan yang tinggi di pasar, yang memudahkan untuk membeli atau menjual saham tersebut. Likuiditas yang tinggi merupakan keunggulan karena investor dapat dengan mudah menjual saham pada harga saat ini. Sebagai perusahaan kapitalisasi pasar besar, saham blue chip sering kali diperdagangkan dalam jumlah besar setiap harinya, menjadikannya lebih mudah diakses dan lebih transparan dalam hal harga pasar.
Sebagai contoh, Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) merupakan salah satu saham blue chip yang memiliki likuiditas tinggi. Saham Telkom Indonesia sering diperdagangkan dengan volume harian yang besar, mencerminkan permintaan yang tinggi dan kepercayaan investor terhadap saham tersebut. Selama tahun 2025, rata-rata volume perdagangan harian saham TLKM mencapai lebih dari 100 juta lembar saham. Hal ini menunjukkan bahwa saham TLKM sangat likuid dan mudah diperdagangkan, baik untuk investor institusi maupun individu.
Perusahaan yang tergolong dalam saham blue chip biasanya merupakan pemimpin di industri masing-masing. Mereka memiliki posisi yang sangat kuat di pasar, dengan produk atau layanan yang diandalkan oleh banyak konsumen dan bisnis. Daya saing yang tinggi di pasar global dan domestik memungkinkan perusahaan blue chip untuk terus berkembang meskipun menghadapi persaingan yang ketat. Kepemimpinan pasar ini menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas kinerja dan potensi pertumbuhan jangka panjang bagi perusahaan.
Sebagai contoh, TLKM adalah pemain utama dengan pangsa pasar besar dan infrastruktur jaringan terluas di Indonesia, termasuk Telkomsel (seluler) dan IndiHome (broadband). Sebagai Badan Usaha Milik Negara, TLKM juga memiliki dukungan fundamental dan posisi strategis yang kuat dalam ekosistem digital nasional, termasuk untuk terus berinovasi dalam teknologi baru (5G, cloud, big data) untuk mempertahankan keunggulan kompetitif dan pertumbuhan masa depan.
Untuk memahami potensi keuntungan dari investasi saham blue chip, sebagai contoh Anda membeli saham TLKM tanggal 02 Januari 2025 di harga Rp2.710 per lembar saham. TLKM membagikan dividen sebesar Rp212,47 per lembar saham pada 20 Juni 2025. Bila ingin melihat kinerjanya di sepanjang 2025, Anda harus mengetahui harga penutup di akhir tahun, per tanggal 30 Desember 2025, yaitu Rp3.480. Rumus untuk menghitungnya adalah:
| Return = (Harga akhir periode – harga awal + dividen) / harga awal x100% |
Berikut adalah detail perhitungannya:
Selisih harga saham (Capital Gain/Loss)
= 3.480−2.710
= 770
Dividen yang diterima
Total keuntungan (Capital Gain + dividen)
= 770+212,47=982,47
Menghitung return
= 982,47/2.710 x 100%
=36,25%
Return investasi saham Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) selama tahun 2025 adalah 36,25%, yang mencakup kenaikan harga saham sebesar Rp770 dan dividen sebesar Rp212,47. Dengan cara ini, Anda bisa memperkirakan berapa keuntungan yang dapat diperoleh dari saham blue chip dalam jangka panjang sekalipun. Sebagai catatan, meskipun saham blue chip relatif lebih stabil, investasi di pasar saham tetap mengandung risiko, dan oleh karena itu, penting untuk selalu melakukan analisis fundamental yang mendalam sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
Bagi Anda yang ingin memanfaatkan potensi saham blue chip namun tidak memiliki waktu atau keahlian untuk memilih saham dan mengelola portofolio secara langsung, berinvestasi melalui reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang bijak. Manajer investasi (MI) profesional yang akan mengelola dan memilih saham-saham terbaik, termasuk saham blue chip ke dalam portofolio.
Ada beragam produk reksa dana di Makmur, seperti Sucorinvest Equity Fund Kelas A misalnya. Berdasarkan data per 26 Januari 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan 37,15% dalam 1 tahun terakhir.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itureksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Pasar modal Indonesia sedang bersiap menghadapi agenda penting, yaitu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif diberlakukan mulai 2 Maret 2026. Proses rebalancing ini rutin dilakukan oleh MSCI untuk memastikan bahwa indeks tetap representatif terhadap kondisi pasar global dan domestik. Mengapa hal tersebut penting? […]
Key Takeaways: Return on Investment (ROI) merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu investasi. ROI menunjukkan seberapa efektif investasi yang dilakukan dalam menghasilkan keuntungan. Secara umum, semakin besar ROI yang diperoleh, semakin baik kinerja investasi tersebut. Namun, ROI yang besar tidak selalu mencerminkan investasi yang ideal karena masih terdapat faktor lain yang […]
Key Takeaways: Reksa dana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang mengalokasikan minimal 80% dana kelolaannya ke dalam instrumen seperti obligasi atau surat utang. Produk ini cocok bagi Anda yang menginginkan potensi imbal hasil yang stabil dengan tingkat risiko lebih rendah dibandingkan reksa dana saham. Salah satu manajer investasi yang menawarkan produk-produk reksa dana pendapatan […]
Key Takeaways: Market capitalization atau market cap sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk menilai skala sebuah perusahaan. Namun, penting bagi Anda untuk memahami bahwa market cap yang besar tidak selalu mencerminkan kualitas fundamental suatu emiten. Investor yang hanya bergantung pada market cap dalam mengambil keputusan investasi berisiko mengabaikan aspek-aspek penting lainnya. Market cap adalah […]
Key Takeaways: Dalam beberapa dekade terakhir, pergerakan harga komoditas global telah menjadi faktor penting yang memengaruhi keputusan pelaku pasar, pemangku kebijakan, dan analis ekonomi di berbagai negara. Fluktuasi harga minyak, batu bara, serta berbagai komoditas lainnya tidak hanya mencerminkan dinamika penawaran dan permintaan jangka pendek, tetapi juga menggambarkan kondisi serta arah perekonomian global secara lebih […]