makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Saham yang Berpotensi Masuk MSCI Februari 2026, Investor Perlu Cermati Risiko dan Kriterianya

author
Content Management
author
26 Januari 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Rebalancing Indeks MSCI yang akan diumumkan pada Februari 2026 berpotensi memicu volatilitas tinggi, terutama pada saham yang masuk atau keluar dari indeks.
  • Empat emiten, yakni BUMI, PANI, PTRO, dan TINS berpotensi untuk masuk MSCI berdasarkan kapitalisasi pasar, free float, dan likuiditas. 
  • MSCI menilai saham berdasarkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float, rata-rata nilai transaksi harian, dan porsi free float.

Pasar modal Indonesia sedang bersiap menghadapi agenda penting, yaitu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan diumumkan pada 10 Februari 2026 dan efektif diberlakukan mulai 2 Maret 2026. Proses rebalancing ini rutin dilakukan oleh MSCI untuk memastikan bahwa indeks tetap representatif terhadap kondisi pasar global dan domestik.

Mengapa hal tersebut penting? Saham yang masuk dalam konstituen indeks MSCI biasanya menjadi target akumulasi oleh investor institusi global. Sebaliknya, saham yang keluar dari indeks berpotensi menghadapi tekanan jual. Oleh karena itu, investor perlu mencermati saham-saham yang berpeluang masuk dan juga memahami risiko serta kriteria penilaiannya.

MSCI adalah perusahaan riset yang menyediakan indeks dan data pasar saham global. Saat terjadi penyesuaian konstituen indeks, manajer investasi (MI) yang mengikuti indeks tersebut akan menyesuaikan portofolionya, baik dengan membeli maupun menjual saham-saham tertentu.

Saham yang Potensial Masuk MSCI Februari 2026

Terdapat beberapa saham yang diperkirakan memiliki peluang masuk dalam indeks MSCI, berdasarkan kriteria yang digunakan MSCI seperti kapitalisasi pasar, likuiditas harian atau Average Daily Trading Value (ADTV), serta porsi kepemilikan publik atau free float

1. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) adalah emiten publik Indonesia yang bergerak di sektor pertambangan batu bara dan merupakan salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia dengan pemegang saham pengendali berasal dari Salim grup dan Bakrie grup. 

Namun, mulai akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, Chengdong Investment Corp, bagian dari China Investment Corporation dan merupakan investor strategis di BUMI, secara bertahap melepas miliaran lembar saham BUMI di berbagai level harga, dengan total sekitar 3,7 miliar saham yang dijual, sehingga sisa kepemilikannya di BUMI hanya sebesar 4,99% dari sebelumnya kisaran 5,9%. Aksi jual saham oleh Chengdong Investment sejak Desember 2025 menyebabkan tekanan harga saham BUMI.

Meskipun demikian, kapitalisasi pasar BUMI mencapai USD8.94 juta dengan free float sebesar 31,2%. Saham ini juga mencatatkan rata-rata nilai transaksi harian sekitar USD40,7 juta. Kondisi ini membuat BUMI memenuhi ambang batas minimum likuiditas dan nilai pasar yang diperlukan untuk masuk dalam indeks MSCI. Jika BUMI masuk ke dalam indeks MSCI, arus beli dari investor asing berpotensi meningkat saat rebalancing dilakukan.

2. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)

PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) adalah emiten yang bergerak di sektor properti, khususnya pengembangan kawasan perumahan dan komersial di wilayah Jakarta. PANI memiliki kapitalisasi pasar tertinggi di antara kandidat lainnya, yaitu sebesar USD12.350 juta. Namun, tantangan terbesar emiten ini terletak pada free float yang hanya sebesar 15,9%. Nilai average daily trading value (ADTV) pun tergolong mencukupi, yaitu sekitar USD10,1 juta.

Meskipun nilai free float berada di batas bawah, PANI tetap memiliki peluang mengingat kapitalisasi pasarnya yang besar. Investor perlu mencermati apakah MSCI akan menganggap porsi free float tersebut cukup representatif untuk dikategorikan sebagai saham likuid dan layak masuk indeks.

3. PT Petrosea Tbk (PTRO)

PTRO adalah emiten yang bergerak di sektor jasa pertambangan, dengan fokus utama pada penyediaan layanan pertambangan dan kontraktor untuk industri energi, khususnya batu bara. Dengan kapitalisasi pasar mencapai USD6.890 juta, free float sebesar 29,2%, dan ADTV USD21,1 juta, PTRO menjadi salah satu kandidat kuat untuk masuk dalam indeks MSCI.

Free float yang relatif tinggi dan volume transaksi harian yang besar memberikan potensi aliran dana yang signifikan jika PTRO masuk ke dalam MSCI dan dapat menjadi sentimen positif jangka pendek bagi investor.

4. PT Timah Tbk (TINS)

PT Timah Tbk (TINS) adalah emiten yang bergerak di sektor logam, khususnya dalam industri timah, yang mencakup kegiatan penambangan, pengolahan, dan distribusi logam timah. TINS memiliki kapitalisasi pasar sebesar USD1.616 miliar, dengan free float 35% dan ADTV USD6,2 juta. Meski kapitalisasi pasarnya lebih kecil dibanding kandidat lain, nilai free float yang cukup tinggi menjadi salah satu keunggulan, dengan target masuk pada konstituen MSCI Small Cap Indexes.

Sebagai catatan, emiten yang terdapat pada penjelasan di atas bersifat indikatif. Informasi disajikan sebagai bahan referensi dan bukan rekomendasi beli atau jual. Anda disarankan untuk melakukan analisis fundamental dan riset secara komprehensif sebelum mengambil keputusan investasi.

*Sumber: KSEI dan BEI per 13 Januari 2026

Kriteria MSCI yang Perlu Anda Pahami

MSCI memiliki sejumlah kriteria dan evaluasi sebelum memasukkan saham dalam indeksnya, di antaranya:

1. Kapitalisasi pasar

Kapitalisasi pasar atau market capitalization adalah nilai total pasar dari seluruh saham yang beredar milik suatu perusahaan. Rumusnya:

Kapitalisasi Pasar = Harga saham x Jumlah saham beredar

Namun, MSCI hanya menghitung free float-adjusted market capitalization (MCFF), yaitu kapitalisasi pasar yang hanya memperhitungkan saham yang beredar di publik bukan saham milik perusahaan, pemegang saham mayoritas, maupun pemerintah. 

Free float sendiri berarti jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar sekunder, yang dimiliki oleh investor individu dan institusi, tidak mencakup saham terkunci dalam kepemilikan tertentu.

Terkait metode perhitungan free float akan diperbarui oleh MSCI dan diterapkan pada rebalancing index Mei 2026 mendatang. Hal ini berpotensi menciptakan volatilitas tinggi ketika penerapan dilaksanakan di pasar saham Indonesia. 

Contoh:

Jika harga saham PT XYZ adalah Rp5.000 dan jumlah saham beredar 10 miliar lembar, maka kapitalisasi pasarnya adalah Rp50 triliun. 

Namun, jika free float hanya 30%, maka nilai kapitalisasi pasar yang dipertimbangkan MSCI:

  • Free float 30% x 10 miliar lembar saham = 3 miliar lembar saham
  • Harga saham Rp5.000 x 3 miliar lembar saham = Rp15 triliun

Artinya, dari total saham beredar, nilai kapitalisasi pasar yang dipertimbangkan MSCI sekitar Rp15 triliun. MSCI menggunakan ambang batas kapitalisasi pasar minimum yang berbeda untuk setiap jenis indeks dan disesuaikan berdasarkan regional.

2. Rata-Rata Nilai Perdagangan (ADTV)

Likuiditas dinilai dari seberapa aktif saham diperdagangkan di pasar, dan ukuran yang digunakan MSCI adalah Average Daily Trading Value (ADTV), yaitu rata-rata nilai transaksi harian dalam satu periode tertentu (biasanya 3 atau 6 bulan terakhir).

Rumus ADTV = Total nilai transaksi dalam periode / Jumlah hari perdagangan

Contoh:

Jika saham PT XYZ mencatat total nilai transaksi Rp1,5 triliun selama 60 hari perdagangan, maka ADTV dalam rupiah adalah:

  • ADTV = Rp1.500.000.000.000 ÷ 60
  • ADTV = Rp25 miliar per hari

Jika kurs USD/IDR rata-rata adalah Rp16.500, maka ADTV dalam USD adalah sekitar USD1,51 juta. ADTV dihitung dalam satuan USD karena indeks MSCI digunakan oleh investor global. Oleh karena itu, nilai transaksi dalam rupiah dikonversi ke USD menggunakan kurs rata-rata selama periode evaluasi.

Meskipun beberapa saham yang telah disebutkan memiliki katalis positif karena berpeluang masuk MSCI, Anda tetap perlu mencermati potensi risikonya. Berikut beberapa hal yang bisa Anda perhatikan:

  • Volatilitas jangka pendek

Saham yang berpotensi masuk indeks MSCI biasanya menjadi incaran investor, baik lokal maupun asing. Hal ini bisa menyebabkan lonjakan harga yang sangat cepat, bahkan sebelum keputusan resmi MSCI diumumkan. Anda perlu berhati-hati karena kenaikan tersebut tidak selalu mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Lihat aspek rasio keuangan seperti price to earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) untuk menilai apakah lonjakan harga masih wajar secara fundamental.

  • Keputusan MSCI 

Meskipun data seperti kapitalisasi pasar, likuiditas, dan free float terlihat memenuhi syarat, keputusan tetap berada di MSCI. MSCI menggunakan metodologi dan pendekatan internal yang tidak sepenuhnya terbuka kepada publik. Selain itu, MSCI bisa mempertimbangkan faktor tambahan seperti sektor saham hingga stabilitas regulasi. Pantau situs resmi MSCI dan dokumen consultation report atau semi-annual review untuk melihat pendekatan yang dilakukan oleh MSCI, tetap hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan rumor pasar.

  • Likuiditas bisa menurun pasca euforia

Ketika saham resmi masuk indeks MSCI dan dana asing mulai mengalir masuk, biasanya terjadi lonjakan harga dalam jangka pendek. Namun setelah euforia tersebut berlalu, minat beli bisa mulai menurun, terutama jika sentimen pasar berubah atau tidak ada katalis baru yang menopang harga. Amati volume transaksi pasca pengumuman MSCI dan hindari membeli saham saat harga sudah terlalu tinggi jika tidak ada dukungan fundamental yang kuat.

Dalam berinvestasi saham, Anda perlu bersikap cermat dan tidak hanya terpaku pada sentimen jangka pendek seperti peluang masuk indeks MSCI. Meskipun rebalancing MSCI bisa menjadi katalis positif bagi pergerakan harga saham tertentu, tetap ada risiko volatilitas dan ketidakpastian yang perlu diperhitungkan secara matang.

Memahami kriteria seleksi MSCI mulai dari kapitalisasi pasar, rata-rata nilai perdagangan (ADTV), hingga porsi free float, akan membantu Anda menilai secara objektif saham mana yang benar-benar berpotensi mendapat perhatian dari investor global. Selain itu, Anda juga perlu mencermati performa keuangan emiten, struktur kepemilikan, serta dinamika sektoral sebelum mengambil keputusan investasi.

Namun jika Anda kesulitan melakukan analisis fundamental secara mandiri atau tidak memiliki waktu untuk memantau pasar secara aktif, investasi di reksa dana saham bisa menjadi solusi yang lebih praktis. Salah satu pilihan yang dapat Anda pertimbangkan adalah reksa dana Syailendra MSCI Indonesia Value Index Fund Kelas A yang tersedia di Makmur. 

Reksa dana tersebut dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional dan sebagian besar portofolionya terdiri dari kumpulan saham yang menjadi bagian dari MSCI Value Index. Artinya, MI secara aktif menyesuaikan portofolio mengikuti indeks yang menjadi acuan MSCI, sehingga Anda tetap bisa mendapatkan eksposur saham yang ada di indeks MSCI secara optimal.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itureksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Bright January dan promo Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Menggali Potensi Saham Prajogo Pangestu dan Cara Menilai Risikonya

Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]

author
Content Management
calendar
06 Agustus 2026
Artikel

Cara Menggunakan Excess Returns Model (ERM) untuk Menilai Kinerja Saham 

Key Takeaways: Seorang investor perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara menilai kinerja sebuah saham. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menilai kinerja saham adalah Excess Returns Model (ERM). Model ini membantu investor mengukur kinerja saham dengan membandingkan actual return dengan expected return berdasarkan risiko pasar. Mari kita bahas lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan […]

author
Content Management
calendar
05 Agustus 2026
Artikel

Efek Musiman Menawarkan Peluang, Ini Cara Investor Mengoptimalkan Timing Investasi

Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]

author
Content Management
calendar
04 Agustus 2026
Artikel

Dampak Ketegangan Geopolitik Global terhadap Proyeksi PDB Indonesia 2026

Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]

author
Content Management
calendar
03 Agustus 2026
Artikel

5 Reksa Dana Pasar Uang Terbaik per Juli 2026

RDPU merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dibanding […]

author
Content Management
calendar
31 Juli 2026
Artikel

5 Reksa Dana Pendapatan Tetap Terbaik per Juli 2026

Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp223,37 triliun per Juni 2026. Meskipun turun 7,19% dibandingkan Mei 2026, AUM RDPT masih menjadi yang terbesar di antara jenis reksa dana konvensional lainnya. Untuk memastikan […]

author
Content Management
calendar
31 Juli 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0