Key Takeaways:
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah DPR mengesahkan APBN 2027 pada 29 September 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi 6%. Target tersebut berada dalam kisaran 5,8% hingga 6,5% yang sebelumnya diusulkan pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026.
Sebagai pembanding, ekonomi Indonesia tumbuh 5,45% pada semester I 2026. Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan pada semester II 2026 berada di kisaran 5,5% hingga 5,6%, sedangkan target APBN 2026 sebesar 5,4%.
Meski demikian, tantangan tetap besar, mulai dari perlambatan ekonomi global yang diperkirakan IMF hanya tumbuh 3,0% pada 2026, fluktuasi harga komoditas, hingga pelemahan rupiah yang menurut Bank Indonesia mencapai 7,74% sepanjang 2026 hingga akhir September.
Pemerintah tetap memandang target tersebut dapat dicapai dengan mendorong peran sektor swasta sebagai motor pertumbuhan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut investasi perlu tumbuh sekitar 7% untuk mendukung target tersebut. Selain itu, capaian ini diposisikan sebagai langkah menuju target pertumbuhan 8% pada 2029, yang akan ditopang peningkatan investasi, produktivitas, serta penguatan sektor industri nasional.
Bagi investor, arah kebijakan ini menjadi sinyal penting karena setiap perubahan fiskal, moneter, dan perdagangan akan berdampak langsung pada kinerja instrumen investasi. Oleh karena itu, memahami sektor yang diuntungkan serta memilih instrumen yang tepat menjadi kunci untuk menangkap peluang sekaligus mengelola risiko di tengah dinamika ekonomi.
Pemerintah saat ini memfokuskan strategi ekonomi pada penguatan sektor berbasis komoditas bernilai tambah tinggi. Strategi ini tidak lagi bertumpu pada ekspor bahan mentah, melainkan mendorong hilirisasi untuk menambah nilai ekonomi dalam negeri seperti kelapa sawit, mineral, dan energi yang memiliki daya saing di pasar global. Hilirisasi dan industrialisasi juga menjadi salah satu prioritas kebijakan dalam KEM-PPKF 2027.
Penguatan sektor ini membuka peluang besar bagi emiten yang berada dalam rantai nilai industri, khususnya yang telah terintegrasi dari hulu hingga hilir. Berikut adalah beberapa sektor strategis yang perlu diperhatikan.
Kelapa sawit tetap menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia. Sepanjang 2025, volume ekspor mencapai 32,34 juta ton dengan nilai sekitar 35,87 miliar dolar AS atau setara Rp590 triliun. Menariknya, struktur ekspor saat ini didominasi oleh produk hilir dengan komposisi sekitar 92%, sementara porsi ekspor crude palm oil (CPO) menyusut hingga tersisa di kisaran 8%.
Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan hilirisasi mulai memberikan hasil nyata. Produk seperti oleofood dan oleokimia menjadi kontributor penting dalam peningkatan nilai tambah.
Tabel 1. Emiten Kelapa Sawit dan Keunggulan Strategisnya

Melihat data tersebut, emiten di sektor kelapa sawit masih memiliki prospek yang cukup menarik. Permintaan global yang relatif stabil serta tingginya kebutuhan biodiesel domestik menjadi faktor yang dapat mendukung permintaan produk sawit dalam jangka menengah.
Namun, investor juga perlu memperhatikan bahwa kinerja emiten sawit tidak terlepas dari fluktuasi harga komoditas global. Karena itu, emiten yang memiliki integrasi dari hulu hingga hilir umumnya berada pada posisi yang lebih baik untuk mengelola biaya dan menjaga profitabilitas di tengah perubahan harga komoditas.
Selain itu, ekspansi ke produk turunan bernilai tambah seperti oleokimia, biodiesel, dan produk konsumen berbasis sawit berpotensi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan jangka panjang.
Sektor mineral dan batu bara menjadi fokus utama dalam agenda hilirisasi nasional. Komoditas seperti nikel, tembaga, dan logam tanah jarang memiliki peran penting dalam rantai pasok global, terutama untuk industri kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Ekspor batu bara turun 3,66% menjadi 390,93 juta ton pada 2025, sementara arah kebijakan pemerintah berfokus pada peningkatan nilai tambah melalui pengolahan di dalam negeri. Di sisi lain, Indonesia masih mengekspor konsentrat tembaga sebesar 65.940 ton pada November 2025, yang menunjukkan bahwa pengolahan tembaga di dalam negeri masih memiliki ruang untuk dikembangkan.
Tabel 2. Emiten Mineral dan Energi serta Peran Hilirisasi

Dari sisi investasi, emiten yang terlibat dalam proyek hilirisasi memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang menarik untuk dicermati. Transformasi dari eksportir bahan mentah menjadi produsen produk bernilai tambah dapat membuka sumber pendapatan baru sekaligus memperluas posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Upaya peningkatan nilai tambah tersebut juga sejalan dengan target pemerintah untuk memperkuat kinerja ekspor dan mendukung surplus neraca perdagangan Indonesia. Namun, kinerja emiten tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk harga komoditas, permintaan global, serta keberhasilan proyek hilirisasi yang dijalankan.
Di sisi lain, sejak 1 Juni 2026 pemerintah memberlakukan aturan baru penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) melalui PP Nomor 21 Tahun 2026. Untuk sektor nonmigas, kewajiban penempatan mencapai 100% dengan durasi minimal 12 bulan, sementara sektor migas sebesar 30% selama minimal 3 bulan.
Dana tersebut pada prinsipnya wajib ditempatkan di bank Himbara, dengan pengecualian terbatas bagi eksportir yang memiliki pembeli dari negara mitra dengan perjanjian bilateral. Konversi ke rupiah dibatasi hingga 50%. Kebijakan ini bertujuan memperkuat cadangan devisa serta stabilitas nilai tukar, namun berdampak pada likuiditas perusahaan.
Bagi emiten dengan posisi kas yang kuat, dampaknya cenderung lebih mudah dikelola. Sementara itu, bagi sebagian emiten lainnya, kebijakan tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor dalam menilai kondisi keuangan dan kebutuhan pendanaan perusahaan ke depan.
Selain saham, obligasi pemerintah menjadi instrumen yang perlu dicermati karena imbal hasilnya menjadi salah satu asumsi dasar dalam APBN 2027. Pemerintah dan DPR menetapkan asumsi yield SBN tenor 10 tahun sebesar 6,9% untuk 2027, dari kisaran 6,5% hingga 7,3% dalam KEM-PPKF. Per 7 Oktober 2026, yield SBN 10 tahun di pasar berada di 7,17%.
Namun, perlu dipahami bahwa angka tersebut merupakan asumsi makroekonomi dalam penyusunan anggaran negara, bukan tingkat imbal hasil yang dijamin kepada investor. Realisasi imbal hasil SBN di pasar dapat berbeda tergantung kondisi ekonomi, suku bunga, dan permintaan pasar.
Selain itu, jumlah obligasi yang diterbitkan pemerintah juga menjadi faktor penting. Target defisit 2027 ditetapkan sebesar 2,40% terhadap PDB atau sekitar Rp671,2 triliun, masih di bawah batas 3% PDB. Meski demikian, kebutuhan penerbitan SBN tetap besar, sehingga permintaan investor di pasar perlu terus dicermati.
Kebijakan suku bunga acuan turut memengaruhi daya tarik SBN. Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026, lalu 25 bps menjadi 5,50% pada 9 Juni, dan 25 bps lagi menjadi 5,75% pada RDG 17–18 Juni 2026 demi menstabilkan rupiah. Sejak itu, BI-Rate bertahan di 5,75%, termasuk pada RDG 22–23 September 2026. Kenaikan suku bunga menekan harga obligasi yang sudah beredar, sehingga investor perlu membedakan antara imbal hasil yang menarik dan risiko penurunan harga di pasar sekunder.
Selisih antara asumsi imbal hasil SBN tenor 10 tahun dan suku bunga acuan mencerminkan potensi kompensasi tambahan bagi investor yang bersedia berinvestasi pada instrumen dengan tenor lebih panjang.
Berikut adalah contoh seri SBN beserta sisa tenornya:
Tabel 3. Contoh Seri SBN dan Sisa Tenornya (per Oktober 2026)

Instrumen ini dapat menjadi pilihan bagi investor yang mencari instrumen pendapatan tetap dan berencana menahan hingga jatuh tempo, karena pembayaran kupon dan pokoknya dijamin oleh negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Namun jaminan tersebut berlaku atas pokok saat jatuh tempo, bukan atas harga di pasar sekunder, yang tetap berfluktuasi mengikuti suku bunga dan sentimen pasar.
Memahami keterkaitan antara kebijakan pemerintah dan kinerja instrumen investasi penting untuk menyusun strategi yang adaptif dalam perjalanan ekonomi Indonesia menuju target pertumbuhannya.
Salah satu cara memperoleh eksposur ke instrumen pendapatan tetap tanpa memilih seri satu per satu adalah melalui reksa dana pendapatan tetap. Melalui platform wealth-tech seperti Makmur, Anda dapat menemukan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana dengan beragam produk yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berkompeten.
Di antaranya adalah Insight Elite Fund yang mencatat kinerja positif 7,21% dalam satu tahun terakhir per 20 Oktober 2026.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda dapat berinvestasi sambil memanfaatkan promo seperti Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui tautan di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat mengakses Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik tautan di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik tautan di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Kebutuhan pembiayaan pemerintah merupakan salah satu faktor yang menentukan arah imbal hasil di pasar obligasi domestik. Semakin besar utang yang harus diterbitkan, semakin ketat persaingan memperebutkan dana yang tersedia di pasar. APBN 2027 yang disahkan DPR pada September 2026 menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp833,7 triliun. Angka tersebut naik 4,28% […]
Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas menjadi 7% secara asimetris melalui Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A. ARB merupakan batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Ketentuan yang mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berlaku di Pasar Reguler dan […]
Key Takeaways: Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah […]
Harga saham perdana ditetapkan sebelum saham diperdagangkan di pasar, sehingga penilaian investor terutama bertumpu pada informasi dalam prospektus. Ketelitian membaca dokumen tersebut menjadi pembeda utama dalam menilai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Pada 2026, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak muncul dalam proses IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per […]
Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]