Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas menjadi 7% secara asimetris melalui Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A. ARB merupakan batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan.
Ketentuan yang mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berlaku di Pasar Reguler dan Pasar Tunai pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Ketentuan ini disebut asimetris karena batas turun lebih sempit dibandingkan batas naik atau auto rejection atas (ARA).
Kebijakan tersebut terbit setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 11,57% pada 16 Oktober 2026. Pada pembukaan hari itu, indeks turun 8,01% ke level 5.393,92 dan langsung memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 08.58 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS).
Penurunan tersebut menyusul langkah penyedia indeks global MSCI yang membuka konsultasi untuk mereklasifikasi MSCI Indonesia Indexes dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menyoroti kekhawatiran pelaku pasar terhadap investability, yaitu kemudahan investor untuk mengakses dan berinvestasi di pasar saham Indonesia.
Dalam kondisi ini, terdapat empat hal yang perlu dicermati, yaitu isi perubahan aturan, pemicunya, konsekuensi mekanisnya bagi investor, serta data yang perlu dipantau ke depan.
Perubahan ini hanya menyasar batas bawah, sehingga ruang kenaikan dan ruang penurunan harga harian kini menjadi jauh lebih timpang.
Tabel 1. Batas ARA dan ARB Saham Berdasarkan Rentang Harga

Sumber: Bursa Efek Indonesia, diolah. ARB lama merujuk pada ketentuan yang berlaku sejak 28 September 2026.
Batas ARA tidak berubah, sedangkan batas ARB untuk saham dengan harga >Rp10 ditetapkan sebesar 7% di Pasar Reguler dan Pasar Tunai. Dengan demikian, ruang penurunan harian menyempit 8 poin persentase, atau sekitar 53,3% lebih sempit dibandingkan ketentuan sebelumnya.
Tingkat asimetrinya berbeda di setiap rentang harga. Pada saham Rp11–Rp200, batas naik 35% berhadapan dengan batas turun 7% atau rasio 5 kali, sedangkan pada rentang >Rp200–Rp5.000 rasionya 3,57 kali dan >Rp5.000 sebesar 2,86 kali.
Saham pada rentang Rp1–Rp10 tetap menggunakan batas nominal Rp1, bukan persentase. Sebagai ilustrasi, penurunan dari Rp2 menjadi Rp1 setara dengan 50%. Dengan demikian, pengetatan ARB menjadi 7% tidak berlaku secara seragam di seluruh rentang harga. Ketentuan ini mengikuti perubahan batas harga terendah saham dari Rp50 menjadi Rp1 pada 28 September 2026.
Pada 28 September 2026, BEI justru melonggarkan ketentuan perdagangan. Selain menurunkan batas harga terendah, bursa menetapkan ARB 15% sebagai masa transisi menuju ARB simetris penuh pada 1 Januari 2027, yakni batas turun yang disamakan dengan batas naik sebesar 35%, 25%, dan 20%.
Tiga pekan kemudian, BEI kembali memperketat batas penurunan harian melalui penerapan ARB 7%. Ketentuan ARB 7% ini pun nantinya akan berakhir 31 Desember 2026, hanya satu hari sebelum rezim simetris dijadwalkan dimulai. BEI menyatakan ketentuan baru akan dievaluasi sesuai perkembangan pasar, tetapi belum menjelaskan kelanjutan rencana ARB simetris tersebut.
Keputusan bursa tidak berdiri sendiri, melainkan merespons tekanan jual yang berawal dari pengumuman penyedia indeks global.
MSCI membuka konsultasi reklasifikasi pada 15 Oktober 2026 waktu New York. Alasan yang dinyatakan mencakup struktur kepemilikan saham yang tidak transparan, kepemilikan terkonsentrasi, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta belum adanya bukti penegakan yang memadai meski reformasi telah diumumkan sejak Februari 2026.
Masa umpan balik berlangsung hingga 30 April 2027 dan keputusan final akan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027. Status Standalone Market berarti indeks Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari indeks komposit MSCI Emerging Markets maupun Frontier Markets. Status ini berbeda dari Frontier Market, yang negaranya masih dapat menjadi bagian dari indeks komposit pasar frontier.
IHSG dibuka turun 8,01% dari penutupan sebelumnya di 5.863,78, sehingga memicu trading halt selama 30 menit sesuai ketentuan bursa untuk penurunan lebih dari 8%. Indeks kemudian ditutup di 5.185,11, turun 11,57% atau 678,67 poin. Penurunan ini merupakan yang terdalam sejak 1998.
Sepanjang pekan perdagangan 12 hingga 16 Oktober 2026, kapitalisasi pasar menyusut Rp1.544 triliun atau 14,43%, dari Rp10.701 triliun pada penutupan 9 Oktober menjadi Rp9.157 triliun. Pada 16 Oktober, investor asing mencatat jual bersih Rp3,34 triliun yang terkonsentrasi pada saham konstituen MSCI Indonesia Index.
Jual bersih pada BBCA Rp2,33 triliun, BBRI Rp1,15 triliun, dan BMRI Rp868 miliar secara gabungan mencapai sekitar Rp4,35 triliun, melampaui total jual bersih harian. Sebaliknya, GOTO, yang keluar dari MSCI Indonesia Index sejak 1 September 2026, mencatat beli bersih Rp288,32 miliar.
Bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets turun dari 1,16% pada akhir Desember 2025 menjadi 0,43% per 30 September 2026. Jumlah konstituen Indonesia dalam indeks tersebut juga berkurang dari 18 menjadi 9 emiten. Artinya, sebagian penyesuaian bobot Indonesia di indeks telah berlangsung sebelum pengumuman terbaru MSCI.
Estimasi arus keluar yang beredar berkisar US$3 miliar hingga US$19 miliar, bergantung pada asumsi porsi dana pasif dan besarnya dana aktif yang ikut keluar.
Tabel 2. Estimasi Arus Keluar Dana Asing dan Perbandingannya dengan Cadangan Devisa

Sumber: Estimasi analis per 16 hingga 17 Oktober 2026 dan Bank Indonesia, diolah. Cadangan devisa sebesar US$146,3 miliar per akhir September 2026. Angka merupakan estimasi, bukan proyeksi resmi.
Estimasi arus keluar tersebut perlu dibaca sebagai skenario, bukan kepastian. Nilai aktual akan bergantung pada keputusan akhir MSCI, eksposur investor terhadap indeks terkait, dan keputusan pengelola dana aktif.
Salah satu konsekuensi penting dari batas yang lebih ketat adalah perubahan pola penurunan harga, bukan hilangnya potensi kerugian.
Tabel 3. Ilustrasi Akumulasi Penurunan Harga pada ARB 7%

Perhitungan menggunakan formula 1-(0,93)n, dengan n sebagai jumlah hari. Angka merupakan ilustrasi mekanis, bukan proyeksi harga.
Sebagai pembanding, satu hari perdagangan pada batas lama 15% sudah menghasilkan penurunan 15%. Pada batas baru, dua hari beruntun menghasilkan penurunan 13,51%, sedangkan tiga hari beruntun menghasilkan 19,56%.
Artinya, ARB mengatur batas penurunan dalam satu hari perdagangan, bukan menentukan titik berhenti harga. Batas ini juga tidak menjamin saham dapat diperdagangkan kembali dengan mudah jika tekanan jual berlanjut.
Ketika batas penurunan diperketat sementara tekanan jual tetap ada, antrean jual berpotensi menumpuk pada batas bawah tanpa penawaran beli yang memadai. Dalam kondisi tersebut, investor yang ingin keluar menghadapi kesulitan menemukan lawan transaksi, bukan sekadar harga yang lebih rendah.
Konsekuensinya, waktu keluar dari suatu posisi menjadi tidak pasti. Risiko tidak serta-merta hilang, tetapi dapat muncul dalam bentuk berbeda, yaitu penurunan harga secara bertahap yang disertai keterbatasan likuiditas.
ARB asimetris 7% pernah diberlakukan pada Maret 2020 sebagai respons terhadap tekanan pasar pada masa pandemi. Batas tersebut baru dinaikkan menjadi 15% pada 5 Juni 2023 dan kembali simetris dengan ARA pada 4 September 2023, sehingga rezim asimetris berlangsung sekitar 3,5 tahun.
Ketentuan kali ini dijadwalkan berlaku selama 74 hari kalender. Perbedaan durasi tersebut relevan sebagai konteks untuk menilai sifat sementara suatu kebijakan. Namun, perbedaan kondisi pasar dan tujuan kebijakan pada kedua periode membuat pola sebelumnya tidak dapat dianggap sebagai prediksi untuk periode sekarang.
Dengan konsultasi MSCI yang berjalan hingga pertengahan 2027, kerangka pemantauan lebih berguna dibandingkan upaya menebak hasil akhirnya.
Perkembangan konsultasi MSCI menjadi salah satu indikator utama, termasuk bukti perbaikan tata kelola dan fungsi pasar yang dinilai material. Menurut MSCI, keputusan atas usulan reklasifikasi akan mempertimbangkan hasil konsultasi dan bukti perbaikan yang dinilai memadai. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Selain itu, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 20 hingga 21 Oktober 2026 dan arah BI-Rate yang saat ini sebesar 5,75% juga relevan. Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) tercatat Rp18.052 per dolar AS pada 16 Oktober 2026. Kelanjutan rencana ARB simetris juga perlu dicermati.
Konsentrasi menjadi salah satu variabel yang perlu ditinjau. Sektor keuangan mencakup sekitar 71,7% bobot MSCI Indonesia Index per 30 September 2026. Karena itu, portofolio yang terkonsentrasi pada sektor tersebut dapat memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap perubahan sentimen dan penyesuaian dana berbasis indeks.
Horizon investasi juga menentukan relevansi informasi ini. Investor dengan horizon panjang menghadapi kebutuhan yang berbeda dari investor yang memerlukan dananya dalam waktu dekat. Keputusan untuk mengubah alokasi portofolio tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, tujuan investasi, dan kebutuhan likuiditas masing-masing.
Ketika mekanisme perdagangan membatasi kecepatan keluar dari suatu posisi, dana yang dapat dicairkan dengan cepat membantu investor menghindari penjualan aset lain pada harga yang kurang menguntungkan. Fungsi ini berkaitan dengan fleksibilitas, bukan upaya meningkatkan imbal hasil.
Reksa dana pasar uang berinvestasi pada instrumen pasar uang, deposito, dan/atau efek utang dengan jatuh tempo atau sisa jatuh tempo tidak lebih dari satu tahun. Jenis reksa dana ini umumnya memiliki fluktuasi nilai aktiva bersih yang relatif rendah dibandingkan jenis reksa dana lainnya, tetapi tetap mengandung risiko investasi.
Porsi reksa dana pasar uang dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari pengelolaan likuiditas portofolio. Namun, investor tetap perlu memperhatikan ketentuan dan waktu pencairan produk karena dana tidak selalu tersedia secara instan.
Usulan MSCI juga belum merupakan keputusan. Masa umpan balik berlangsung hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027, sehingga estimasi arus keluar yang beredar masih bergantung pada asumsi.
Bagi investor, pertanyaan yang lebih dapat dikelola bukan menebak hasil konsultasi, melainkan memastikan portofolio memiliki fleksibilitas untuk menghadapi perubahan kondisi pasar. Salah satunya dengan menjaga porsi aset likuid yang dapat digunakan saat dibutuhkan. Untuk tujuan ini, reksa dana pasar uang dapat menjadi salah satu pilihan karena fluktuasi nilainya secara umum cenderung lebih rendah dibandingkan jenis reksa dana lainnya.
Makmur sebagai platform wealth-tech menyediakan beragam pilihan investasi, mulai dari saham hingga reksa dana. Bagi investor yang ingin mempertimbangkan reksa dana pasar uang sebagai bagian dari portofolionya, salah satu pilihan yang tersedia adalah Danapathi Money Market Fund, yang mencatatkan imbal hasil 5,42% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 16 Oktober 2026.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan. Investasi pada reksa dana mengandung risiko. Baca prospektus sebelum berinvestasi.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah DPR mengesahkan APBN 2027 pada 29 September 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi 6%. Target tersebut berada dalam kisaran 5,8% hingga 6,5% yang sebelumnya diusulkan pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Sebagai […]
Key Takeaways: Kebutuhan pembiayaan pemerintah merupakan salah satu faktor yang menentukan arah imbal hasil di pasar obligasi domestik. Semakin besar utang yang harus diterbitkan, semakin ketat persaingan memperebutkan dana yang tersedia di pasar. APBN 2027 yang disahkan DPR pada September 2026 menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp833,7 triliun. Angka tersebut naik 4,28% […]
Key Takeaways: Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah […]
Harga saham perdana ditetapkan sebelum saham diperdagangkan di pasar, sehingga penilaian investor terutama bertumpu pada informasi dalam prospektus. Ketelitian membaca dokumen tersebut menjadi pembeda utama dalam menilai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Pada 2026, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak muncul dalam proses IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per […]
Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]