makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

INDF vs ICBP: Mana Saham Anthoni Salim yang Lebih Menarik?

author
Content Management
author
15 Oktober 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Pada semester I 2026, penjualan ICBP dan INDF tumbuh masing-masing 11,3% dan 9,5%, tetapi laba bersih keduanya turun akibat rugi selisih kurs yang belum terealisasi.
  • ICBP berfokus pada produk konsumen bermerek atau Fast-Moving Consumer Goods (FMCG), sedangkan INDF merupakan induk usaha dengan bisnis pangan terintegrasi dari hulu ke hilir.
  • Dividen yang dibagikan pada 2026 naik menjadi Rp265 per saham untuk ICBP dan Rp290 per saham untuk INDF.

Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).

Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah mendunia, serta Indomilk, merek susu yang telah lama menjadi pilihan keluarga Indonesia.

Namun, kedua perusahaan memiliki karakteristik dan struktur bisnis yang berbeda. Karena itu, investor perlu memahami fokus usaha masing-masing sebelum menilai mana yang lebih sesuai untuk jangka panjang. Mari kita bahas perbandingan kinerja saham kedua emiten tersebut.

Profil Perusahaan INDF dan ICBP

ICBP didirikan pada 2 September 2009 sebagai hasil pemisahan usaha (spin-off) divisi produk konsumen bermerek dari INDF. Pemisahan ini menjadi momen penting dalam sejarah pengembangan kedua perusahaan. Setahun kemudian, tepatnya pada 7 Oktober 2010, ICBP mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) untuk memperkuat kemandirian perusahaan.

Aksi korporasi tersebut tidak hanya memberikan pendanaan yang lebih besar bagi ICBP, tetapi juga membawa dampak positif bagi INDF yang tetap menjadi pemegang saham pengendali ICBP dengan kepemilikan mayoritas sebesar 80,53% per 2025.

Berikut adalah dampak bagi kedua perusahaan pasca-spin-off:

1. Fokus bisnis

Pemisahan operasional antara ICBP dan INDF merupakan strategi spesialisasi bisnis untuk memperkuat posisi pasar masing-masing perusahaan. ICBP mendedikasikan sumber dayanya untuk memproduksi dan memasarkan produk konsumen bermerek yang termasuk kategori Fast-Moving Consumer Goods (FMCG), yaitu barang kebutuhan sehari-hari yang cepat terjual.

ICBP sering disebut sebagai bagian dari sektor FMCG karena produk-produknya seperti Indomie, Indomilk, dan Chitato terjual dengan cepat dan dikonsumsi secara rutin oleh masyarakat luas.

Di sisi lain, INDF berperan sebagai induk usaha dengan bisnis pangan yang terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari perkebunan dan pengolahan minyak nabati (agribisnis), penggilingan tepung terigu melalui divisi Bogasari, hingga jaringan distribusi skala nasional. Divisi Bogasari memiliki merek sendiri, seperti tepung Segitiga Biru, sementara divisi distribusi menyalurkan produk grup ke berbagai wilayah Indonesia.

Selain ICBP, INDF juga memiliki anak usaha PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang memproduksi minyak goreng dengan merek seperti Bimoli, Delima, dan Happy, serta PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) yang bergerak di bidang perkebunan. Sebagai induk usaha, kinerja seluruh anak usaha tersebut tercermin dalam laporan keuangan konsolidasi INDF.

2. Kemandirian finansial

Pemisahan entitas membuat PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki kemandirian dalam mengatur keuangannya sendiri. Sebagai perusahaan publik yang berdiri terpisah, ICBP dapat mencari pendanaan secara langsung, misalnya melalui penerbitan obligasi atau pinjaman bank, tanpa harus bergantung pada dana dari induk usahanya.

Dengan pendanaan yang terpisah, ICBP dapat mengelola utang untuk ekspansinya sendiri. Namun, karena INDF merupakan pemegang saham pengendali, laporan keuangan ICBP tetap dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan INDF, sehingga utang ICBP juga tercermin pada neraca konsolidasi INDF. Bagi investor, pemisahan ini memudahkan untuk melihat dan menilai kinerja keuangan masing-masing perusahaan secara lebih jelas.

Selain itu, kemandirian ini juga membuat ICBP lebih leluasa dalam mengambil keputusan bisnis, termasuk ketika ingin melakukan ekspansi ke pasar internasional.

3. Efisiensi manajerial

Pemisahan antara INDF dan ICBP membuat struktur manajemen keduanya menjadi lebih fokus. Dengan berdiri sebagai entitas terpisah, proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat karena tidak perlu melalui jalur koordinasi yang terlalu panjang.

Di ICBP, manajemen lebih berkonsentrasi pada pengembangan produk, strategi pemasaran, dan memahami kebiasaan belanja masyarakat. Fokus ini penting karena ICBP bergerak di produk kebutuhan sehari-hari yang sangat bergantung pada selera dan daya beli konsumen.

Sementara itu, INDF lebih fokus pada pengelolaan bahan baku, produksi dalam skala besar, serta jaringan distribusi yang luas. Perusahaan ini berperan memastikan pasokan dan proses produksi berjalan efisien dari hulu hingga ke tangan konsumen.

Dengan pembagian fokus tersebut, masing-masing perusahaan dapat menyusun strategi jangka panjang yang lebih jelas dan sesuai dengan bidang usahanya. Bagi investor, kondisi ini menunjukkan bahwa setiap entitas dapat bergerak lebih terarah dan memaksimalkan potensi bisnisnya masing-masing.

Kinerja Keuangan INDF dan ICBP Semester I 2026

Berikut adalah ringkasan data terbaru berdasarkan laporan keuangan semester I 2026 (periode Januari–Juni 2026):

Tabel 1. Ringkasan Kinerja Keuangan ICBP dan INDF Semester I 2026 (Rp triliun)

Sumber: Laporan keuangan ICBP dan INDF per 30 Juni 2026, diolah. *Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Berdasarkan data yang tercantum pada tabel di atas, terdapat perbandingan yang jelas pada skala operasional, fokus aset, dan potensi keuntungan. Berikut adalah analisis detail berdasarkan data tersebut:

1. Skala aset dan struktur pendanaan

INDF memiliki total aset Rp231,24 triliun per 30 Juni 2026, lebih besar dibandingkan ICBP sebesar Rp143,98 triliun. Hal ini wajar karena INDF merupakan induk usaha yang mengonsolidasikan seluruh lini bisnisnya, termasuk ICBP, Bogasari, agribisnis, dan distribusi.

Dari sisi struktur pendanaan, rasio liabilitas terhadap ekuitas ICBP sekitar 0,91 kali, sedikit di atas INDF sekitar 0,85 kali. Artinya, kedua perusahaan sama-sama masih didanai lebih besar oleh ekuitas dibandingkan liabilitas.

2. Penjualan dan laba

Penjualan ICBP sebesar Rp41,86 triliun setara sekitar 64% dari penjualan konsolidasi INDF sebesar Rp65,53 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa produk konsumen bermerek, seperti mi instan, produk susu, dan makanan ringan, masih menjadi penopang utama pendapatan grup.

Meski penjualan keduanya tumbuh, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk justru turun 33,1% untuk ICBP dan 19,1% untuk INDF. Penurunan tersebut terutama disebabkan rugi selisih kurs yang belum terealisasi akibat pelemahan rupiah, bukan oleh melemahnya kegiatan usaha. Hal ini terlihat dari core profit ICBP yang naik 1% menjadi Rp5,40 triliun dan INDF yang naik 7% menjadi Rp6,18 triliun.

Dengan basis laba atribusi tersebut, net profit margin (NPM) ICBP pada semester I 2026 sekitar 8,8%, lebih tinggi dibandingkan INDF sekitar 7,2%. Sebagai pembanding, sepanjang 2025 laba bersih ICBP tercatat Rp9,22 triliun dan INDF Rp10,68 triliun.

Imbal Hasil Saham INDF vs ICBP

Untuk mengetahui potensi imbal hasil yang dapat diperoleh dari kedua saham INDF dan ICBP, Anda bisa menganalisis pertumbuhan harga saham serta kebijakan pembagian dividen yang diterapkan.

1. Kinerja saham

Berikut adalah perbandingan kinerja saham INDF dan ICBP secara year-on-year (yoy) selama lima tahun terakhir:

Tabel 2. Kinerja Harga Saham ICBP dan INDF 2021–2025

Sumber: Investing.com, diolah.

Berdasarkan data pergerakan harga saham periode 2021–2025, kinerja saham ICBP dan INDF cukup fluktuatif. Pada 2021, kedua saham melemah, dengan ICBP turun 9,14% dan INDF turun 7,66%. Pada 2022 dan 2024, keduanya mencatat kenaikan, sedangkan pada 2023 ICBP naik 5,75% saat INDF turun 4,09%.

Tahun 2025 menjadi periode koreksi bagi kedua emiten. ICBP turun cukup dalam sebesar 27,91%, sedangkan INDF terkoreksi 12,01%. Penurunan ini sejalan dengan tekanan pada saham sektor consumer non-cyclical di tengah melemahnya daya beli masyarakat.

Secara keseluruhan, ICBP memiliki rentang pergerakan tahunan yang lebih lebar, dari naik 14,94% hingga turun 27,91%, dibandingkan INDF yang bergerak antara naik 19,38% hingga turun 12,01%. Kenaikan tahunan terbesar justru dicatat INDF pada 2024, tetapi koreksi ICBP pada 2025 jauh lebih dalam.

Secara kumulatif sepanjang 2021–2025, harga saham ICBP turun sekitar 14,4%, sedangkan INDF relatif datar dengan penurunan sekitar 1,1%. Angka ini belum memperhitungkan dividen yang diterima pemegang saham.

2. Dividen INDF dan ICBP

Berikut adalah data historis pembagian dividen dari saham INDF dan ICBP dalam enam tahun terakhir:

Tabel 3. Dividen Tunai per Saham ICBP dan INDF Berdasarkan Tahun Pembayaran

Sumber: Investor Relations INDF dan ICBP serta keterbukaan informasi emiten, diolah.

Berdasarkan data di atas, dividen ICBP naik dalam tiga tahun terakhir, dari Rp188 per saham pada 2023 menjadi Rp265 per saham pada 2026. Dividen INDF bergerak lebih moderat dan mencapai Rp290 per saham pada 2026. Dengan harga saham pada akhir Juni 2026, imbal hasil dividen keduanya diperkirakan sekitar 4,0% untuk ICBP dan 4,3% untuk INDF.

Tidak ada yang secara mutlak lebih baik di antara saham INDF dan ICBP. Pilihan bergantung pada profil risiko dan tujuan investasi masing-masing. Keduanya merupakan perusahaan besar dengan bisnis yang mapan, namun menawarkan karakter imbal hasil yang berbeda.

ICBP dikenal memiliki pola pembagian dividen yang relatif konsisten, didukung oleh basis konsumen dan permintaan produk yang stabil. Sementara itu, INDF sebagai perusahaan induk menunjukkan pergerakan harga saham yang cenderung lebih stabil karena ditopang oleh struktur bisnis yang terdiversifikasi di berbagai lini usaha.

Untuk menentukan pilihan saham yang tepat, Anda perlu melakukan pemantauan pasar secara cermat dan evaluasi portofolio secara berkala agar dapat membuat keputusan yang lebih baik dan mendapatkan imbal hasil yang optimal.

Namun, apabila Anda belum memiliki banyak waktu dan pengalaman untuk melakukan analisis fundamental saham secara mendalam, investasi melalui reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berpengalaman bisa menjadi pilihan. Terdapat beragam reksa dana saham di Makmur yang bisa Anda pilih, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund Kelas A.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Yield Lelang SRBI Turun ke Kisaran 6,5%, Apa Artinya bagi Likuiditas Pasar dan Imbal Hasil Instrumen Domestik?

Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]

author
Content Management
calendar
12 Oktober 2026
Artikel

Potensi Imported Inflation Indonesia, Mengapa Biaya Hidup Makin Mahal Saat Rupiah Melemah?

Key Takeaways: Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator makroekonomi yang memengaruhi stabilitas harga di Indonesia. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga berbagai barang dan jasa cenderung ikut meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai inflasi impor atau imported inflation, yaitu kenaikan harga yang berasal dari meningkatnya biaya barang impor akibat pelemahan mata uang […]

author
Content Management
calendar
08 Oktober 2026
Artikel

Reformasi Free Float dan Transparansi Jadi Sorotan MSCI, Sejauh Mana Progresnya Menentukan Nasib Pasar Saham Indonesia?

Key Takeaways: Bagi investor global, keputusan mengalokasikan dana ke suatu negara sering kali dimulai dari indeks acuan, bukan dari analisis emiten satu per satu. MSCI merupakan salah satu penyedia indeks global yang dijadikan patokan oleh banyak investor institusional, sehingga perubahan perlakuannya terhadap suatu pasar dapat memengaruhi komposisi indeks dan alokasi dana yang mengikutinya. Sepanjang 2026, […]

author
Content Management
calendar
07 Oktober 2026
Artikel

Sektor yang Cenderung Tahan Gejolak di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Analisisnya

Key Takeaways: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian investor. Konflik yang melibatkan kawasan produsen energi penting ini bukan hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga memicu kenaikan harga komoditas, nilai tukar, hingga pasar saham. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari saham tahan gejolak yang mampu menjaga kinerja di tengah tekanan eksternal. Perlu […]

author
Content Management
calendar
05 Oktober 2026
Artikel

Mengapa Rupiah Melemah hingga Rp18.000/USD? Ini Penyebabnya dan Jenis Reksa Dana yang Relatif Stabil di Tengah Tekanan Pasar

Key Takeaways: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan setelah bertahan di sekitar level psikologis Rp18.000/USD sepanjang Juli 2026. Tekanan ini merupakan kelanjutan dari tren pelemahan yang memuncak pada 8 Juni 2026, ketika JISDOR BI mencapai rekor terlemah Rp18.171/USD. Sementara kurs spot kemudian menyentuh sekitar Rp18.209/USD pada 9 Juni 2026. Nilai tukar […]

author
Content Management
calendar
01 Oktober 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0