makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Potensi Imported Inflation Indonesia, Mengapa Biaya Hidup Makin Mahal Saat Rupiah Melemah?

author
Content Management
author
08 Oktober 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor dan memicu imported inflation, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
  • Sekitar 71,56% impor Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 berupa bahan baku dan barang penolong.
  • Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat dan mendukung stabilitas ekonomi.

Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator makroekonomi yang memengaruhi stabilitas harga di Indonesia. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga berbagai barang dan jasa cenderung ikut meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai inflasi impor atau imported inflation, yaitu kenaikan harga yang berasal dari meningkatnya biaya barang impor akibat pelemahan mata uang domestik.

Pelemahan rupiah masih menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan hingga akhir kuartal III 2026. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.877 per dolar AS pada 30 September 2026, melemah sekitar 6,52% dibandingkan posisi akhir 2025 di level Rp16.782 per dolar AS. Di sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate secara kumulatif 100 basis poin sejak awal 2026 dan mempertahankannya di level 5,75% dalam tiga Rapat Dewan Gubernur (RDG) berturut-turut, terakhir pada 22–23 September 2026. Sementara itu, inflasi tahunan tercatat 3,28% per September 2026, lebih tinggi dibandingkan 2,65% pada September 2025.

Fenomena imported inflation penting dipahami karena Indonesia masih mengandalkan impor di berbagai sektor strategis. Ketergantungan ini mencakup bahan baku industri, energi, transportasi, pangan, hingga kebutuhan hunian. Saat rupiah melemah, biaya impor dalam rupiah cenderung meningkat karena banyak transaksi perdagangan internasional menggunakan dolar AS. Kenaikan biaya tersebut kemudian dapat diteruskan ke konsumen melalui harga barang dan jasa.

Bagi investor, imported inflation juga penting diperhatikan karena berpotensi memengaruhi margin laba dan profitabilitas emiten, terutama perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Di sisi lain, emiten yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS justru dapat memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah.

Sebagai negara berkembang dengan struktur ekonomi yang masih membutuhkan pasokan global, Indonesia tidak hanya mengimpor barang konsumsi akhir, tetapi juga bahan baku dan barang modal untuk mendukung aktivitas produksi domestik. Struktur ini terlihat jelas pada data terbaru.

Tabel 1. Nilai Impor Indonesia Januari–Agustus 2026 Menurut Golongan Penggunaan Barang

Sumber: Badan Pusat Statistik, rilis 1 Oktober 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar impor Indonesia bukan barang jadi, melainkan bahan baku dan barang modal yang digunakan untuk berproduksi. Jika dirinci berdasarkan klasifikasi Harmonized System (HS) 2 digit, tiga golongan barang utama impor nonmigas sepanjang Januari–Agustus 2026 adalah sebagai berikut.

Tabel 2. Golongan Barang Utama Impor Nonmigas Berdasarkan HS 2 Digit, Januari–Agustus 2026

Sumber: Badan Pusat Statistik, rilis 1 Oktober 2026. Ketiga golongan tersebut berkontribusi 37,93% terhadap total impor nonmigas Januari–Agustus 2026.

Sebagai informasi, HS atau Harmonized System adalah sistem kode angka internasional yang digunakan untuk mengklasifikasikan komoditas ekspor dan impor di seluruh dunia. Sistem ini membantu identifikasi jenis barang yang diperdagangkan antarnegara.

Besarnya nilai impor pada berbagai golongan tersebut menunjukkan bahwa stabilitas rupiah memiliki pengaruh terhadap harga kebutuhan sehari-hari masyarakat. Pelemahan rupiah meningkatkan biaya impor sehingga memperbesar risiko terjadinya imported inflation yang mendorong kenaikan harga domestik.

Alasan Biaya Hidup Makin Mahal Saat Rupiah Melemah

Pelemahan rupiah tidak hanya memengaruhi aktivitas perdagangan internasional, tetapi juga berdampak terhadap harga kebutuhan masyarakat. Kenaikan biaya impor membuat produsen, distributor, hingga pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memperoleh barang atau bahan baku dari luar negeri.

Dalam jangka waktu tertentu, kenaikan biaya tersebut biasanya diteruskan ke harga jual akhir. Akibatnya, masyarakat merasakan peningkatan biaya hidup pada berbagai kebutuhan, mulai dari makanan, transportasi, listrik, hingga kebutuhan rumah tangga. Berikut sejumlah sektor yang rentan terdampak.

1. Sektor industri

Sektor industri menjadi salah satu sektor yang paling terdampak ketika rupiah melemah. Indonesia masih mengimpor banyak bahan baku, mesin, serta peralatan produksi dari luar negeri untuk menunjang kegiatan manufaktur domestik.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, impor mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya (HS 84) naik 15,26% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, atau bertambah sekitar US$3,55 miliar. Impor mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya (HS 85) mencatat tambahan nilai terbesar di antara golongan barang nonmigas, yaitu sekitar US$4,58 miliar atau naik 22,94%, sedangkan plastik dan barang dari plastik (HS 39) naik 20,70% atau bertambah sekitar US$1,42 miliar. Ketiganya merupakan golongan barang utama impor nonmigas dengan porsi gabungan 37,93% dari total impor nonmigas pada periode tersebut.

Ketergantungan terhadap impor tersebut membuat pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan biaya produksi secara luas. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor manufaktur besar, tetapi juga pelaku usaha kecil dan menengah yang menggunakan bahan baku impor.

Dalam praktiknya, kenaikan biaya produksi dapat memengaruhi harga makanan kemasan, alat elektronik, perlengkapan rumah tangga, pakaian, hingga kebutuhan konstruksi. Apabila kenaikan biaya tidak dapat sepenuhnya dialihkan kepada konsumen, margin laba perusahaan juga berpotensi tertekan.

2. Sektor energi

Sektor energi memiliki peran penting dalam menentukan biaya hidup masyarakat karena berkaitan langsung dengan aktivitas transportasi, industri, dan konsumsi rumah tangga. Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas energi, terutama bahan bakar mineral.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, impor migas mencapai US$29,30 miliar atau naik 39,03% secara tahunan, jauh di atas pertumbuhan impor nonmigas sebesar 16,83%. Pada Agustus 2026, impor migas tercatat US$3,53 miliar atau naik 30,73% dibandingkan Agustus 2025. Selain itu, bahan bakar mineral yang tercatat dalam impor nonmigas juga naik 46,85% sepanjang Januari–Agustus 2026 dan menjadi salah satu pendorong kenaikan impor bahan baku dan barang penolong.

Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, biaya pembelian energi impor meningkat karena transaksi perdagangan energi internasional umumnya menggunakan dolar AS. Perlu digarisbawahi bahwa kenaikan nilai impor tersebut tidak hanya dipengaruhi nilai tukar, tetapi juga pergerakan harga komoditas dan volume pembelian.

Kenaikan biaya impor energi dapat memengaruhi banyak aspek ekonomi. Biaya distribusi menjadi lebih mahal karena transportasi membutuhkan bahan bakar, sementara industri yang menggunakan energi dalam proses produksi menghadapi peningkatan biaya operasional. Ketika tarif logistik naik, harga barang di pasar ikut terdorong, sehingga imported inflation dari sektor energi dapat menyebar ke sektor lainnya.

3. Sektor transportasi

Sektor transportasi juga sensitif terhadap pelemahan rupiah karena masih bergantung pada impor kendaraan, suku cadang, dan perlengkapan transportasi lainnya. Salah satu golongan yang berkaitan adalah barang modal, yang mencakup berbagai mesin dan peralatan, termasuk untuk kebutuhan transportasi. Sepanjang Januari–Agustus 2026, impor barang modal mencapai US$36,75 miliar atau 19,72% dari total impor, naik 18,82% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Agustus 2026, impor barang modal naik 10,63% dibandingkan Agustus 2025.

Meski demikian, impor kendaraan dan bagiannya (HS 87) justru turun 7,49% secara tahunan sepanjang Januari–Agustus 2026, atau berkurang sekitar US$551,9 juta. Golongan ini menjadi satu-satunya yang nilainya turun di antara sepuluh golongan barang utama impor nonmigas. Artinya, tekanan di sektor ini tidak semata berasal dari besarnya impor kendaraan, tetapi juga dari biaya energi dan komponen lainnya.

Tekanan harga di sektor ini juga tercermin pada data inflasi. Kelompok transportasi mengalami inflasi 4,84% secara tahunan pada September 2026 dengan andil 0,58% terhadap inflasi nasional. BPS mencatat kenaikan tersebut terutama dipicu bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, biaya pemeliharaan atau servis, dan mobil.

Rupiah yang melemah membuat biaya impor unit kendaraan maupun suku cadang berpotensi meningkat, sehingga harga kendaraan baru maupun biaya servis dapat mengalami penyesuaian. Dampaknya tidak hanya dirasakan produsen otomotif, tetapi juga konsumen yang membutuhkan kendaraan atau perawatannya.

Di sisi lain, pelaku usaha transportasi umum dan logistik menghadapi kenaikan biaya perawatan armada serta pengadaan suku cadang, yang pada akhirnya dapat memengaruhi tarif transportasi dan distribusi barang.

4. Sektor pangan

Sektor pangan menjadi sektor yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik, mulai dari serealia, gula, susu dan produk turunannya, hingga bahan baku pakan ternak.

Sebagian produk pangan impor tercatat dalam golongan barang konsumsi. Sepanjang Januari–Agustus 2026, impor barang konsumsi mencapai US$16,27 miliar atau naik 15,48% secara tahunan. Pada Agustus 2026, nilainya tercatat US$2,10 miliar atau naik 11,93% dibandingkan Agustus 2025, meski turun 5,95% dibandingkan Juli 2026. Kelompok ini merupakan porsi terkecil dari total impor, yaitu 8,73%, tetapi dampaknya terhadap harga konsumen relatif langsung karena barangnya sampai ke pasar tanpa banyak tahap pengolahan.

Saat rupiah melemah, harga pangan impor menjadi lebih mahal karena biaya pembelian dari luar negeri meningkat. Selain barang konsumsi langsung, imported inflation pada sektor pangan juga memengaruhi biaya produksi industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku impor.

Meski begitu, tidak seluruh kenaikan harga pangan berasal dari impor. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37% secara tahunan pada September 2026 dengan andil 1,28%, menjadikannya penyumbang terbesar inflasi nasional. Pendorong utamanya antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, rokok kretek mesin, dan daging sapi, yang sebagian besar dipasok dari dalam negeri. Faktor cuaca, panen, dan distribusi domestik tetap berperan besar, sehingga nilai tukar hanya salah satu dari beberapa penyebab.

Karena pangan merupakan kebutuhan utama masyarakat, kenaikan harga pada sektor ini tetap sangat memengaruhi daya beli rumah tangga. Masyarakat dengan porsi pengeluaran makanan yang tinggi biasanya merasakan dampaknya lebih cepat.

5. Sektor hunian

Pelemahan rupiah juga dapat memengaruhi biaya hunian secara tidak langsung, terutama melalui material dan perlengkapan konstruksi yang mengandung komponen impor.

Kebutuhan impor yang berkaitan dengan hunian antara lain mencakup golongan garam, belerang, batu, dan semen (HS 25), serta kaca, keramik, barang dari batu dan asbes, kayu, hingga perabot dan lampu. Sebagian besar golongan tersebut masuk kategori bahan baku dan barang penolong. Impor golongan HS 25 melonjak 130% sepanjang Januari–Agustus 2026 atau bertambah sekitar US$1,96 miliar. Namun, lonjakan ini tidak sepenuhnya berkaitan dengan konstruksi, karena golongan tersebut juga mencakup bahan seperti belerang yang banyak digunakan industri pengolahan.

Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan bangunan berpotensi meningkat sehingga dapat memengaruhi harga material konstruksi, perlengkapan rumah tangga, hingga biaya pembangunan dan renovasi rumah. Meski begitu, besarnya dampak bergantung pada porsi komponen impor dalam material yang digunakan, karena banyak bahan bangunan juga diproduksi di dalam negeri.

Kesimpulan

Imported inflation menjadi salah satu risiko ekonomi yang perlu diperhatikan ketika rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Ketergantungan Indonesia terhadap impor di berbagai sektor strategis membuat perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang dan jasa secara luas.

Sektor industri, energi, transportasi, pangan, hingga hunian memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas impor. Ketika biaya impor meningkat, produsen dan pelaku usaha dari berbagai sektor berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya berdampak terhadap harga jual kepada konsumen.

Perlu dicatat bahwa besarnya dampak tersebut tidak seragam antarsektor dan tidak selalu terjadi seketika. Pelaku usaha dapat menahan kenaikan harga untuk sementara waktu, menyesuaikan margin, atau mencari pemasok alternatif. Karena itu, imported inflation umumnya terlihat secara bertahap dan bercampur dengan faktor domestik seperti pasokan, permintaan, dan kebijakan harga yang diatur pemerintah.

Bagi investor, hal yang relevan dipantau bukan hanya arah nilai tukar, melainkan juga data pendukungnya, yaitu perkembangan impor bahan baku, inflasi inti, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah, serta arah suku bunga acuan. Sebagai gambaran, pada September 2026 inflasi inti tercatat 2,84%, komponen harga yang diatur pemerintah 3,25%, dan komponen bergejolak 5,03% secara tahunan. Kombinasi indikator tersebut memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai seberapa besar tekanan biaya yang benar-benar sampai ke harga konsumen dan ke laporan keuangan emiten.

Potensi kenaikan harga akibat inflasi juga perlu diperhatikan karena dapat menggerus nilai riil aset. Investor dapat mempertimbangkan instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas, salah satunya reksa dana pasar uang. Karena portofolionya ditempatkan pada deposito dan surat utang jangka pendek, reksa dana pasar uang cenderung memiliki volatilitas yang relatif rendah dibandingkan jenis reksa dana lainnya.

Jika tertarik, Makmur sebagai platform wealth-tech menyediakan berbagai produk reksa dana pasar uang, termasuk Insight Retail Cash Fund. Produk ini mencatat kinerja positif 5,15% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 7 Oktober 2026.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Yield Lelang SRBI Turun ke Kisaran 6,5%, Apa Artinya bagi Likuiditas Pasar dan Imbal Hasil Instrumen Domestik?

Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]

author
Content Management
calendar
12 Oktober 2026
Artikel

Reformasi Free Float dan Transparansi Jadi Sorotan MSCI, Sejauh Mana Progresnya Menentukan Nasib Pasar Saham Indonesia?

Key Takeaways: Bagi investor global, keputusan mengalokasikan dana ke suatu negara sering kali dimulai dari indeks acuan, bukan dari analisis emiten satu per satu. MSCI merupakan salah satu penyedia indeks global yang dijadikan patokan oleh banyak investor institusional, sehingga perubahan perlakuannya terhadap suatu pasar dapat memengaruhi komposisi indeks dan alokasi dana yang mengikutinya. Sepanjang 2026, […]

author
Content Management
calendar
07 Oktober 2026
Artikel

Sektor yang Cenderung Tahan Gejolak di Tengah Konflik Timur Tengah, Ini Analisisnya

Key Takeaways: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian investor. Konflik yang melibatkan kawasan produsen energi penting ini bukan hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga memicu kenaikan harga komoditas, nilai tukar, hingga pasar saham. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari saham tahan gejolak yang mampu menjaga kinerja di tengah tekanan eksternal. Perlu […]

author
Content Management
calendar
05 Oktober 2026
Artikel

Mengapa Rupiah Melemah hingga Rp18.000/USD? Ini Penyebabnya dan Jenis Reksa Dana yang Relatif Stabil di Tengah Tekanan Pasar

Key Takeaways: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan setelah bertahan di sekitar level psikologis Rp18.000/USD sepanjang Juli 2026. Tekanan ini merupakan kelanjutan dari tren pelemahan yang memuncak pada 8 Juni 2026, ketika JISDOR BI mencapai rekor terlemah Rp18.171/USD. Sementara kurs spot kemudian menyentuh sekitar Rp18.209/USD pada 9 Juni 2026. Nilai tukar […]

author
Content Management
calendar
01 Oktober 2026
Artikel

Reksa Dana Pasar Uang Terbaik Berdasarkan Return 1 Tahun Terakhir per September 2026

Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]

author
Content Management
calendar
30 September 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0