Hai, Sobat Makmur! Ketegangan perdagangan global kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan rencana menggandakan tarif impor aluminium dan baja dari 25% menjadi 50%. Kebijakan ini akan mulai berlaku pada 4 Juni 2025. Pada artikel kali ini, Makmur akan membahas alasan Trump menggandakan tarif aluminium dan baja, dampak kebijakan ini terhadap pasar global, dan bagaimana strategi investasi yang dapat dipertimbangkan di tengah gejolak perdagangan. Yuk, disimak!
Langkah ini diumumkan Trump saat ia berada di Pittsburgh, negara bagian yang dikenal sebagai basis industri baja AS, dalam kunjungannya ke pabrik milik U.S. Steel yang baru saja diakuisisi oleh Nippon Steel senilai US$14,9 miliar pada Jumat (30/5). Trump menyampaikan bahwa kebijakan ini merupakan strategi untuk mendorong kapasitas produksi aluminium dan baja lokal, serta mempertahankan lapangan kerja dalam negeri, terutama di tengah aksi korporasi akuisisi tersebut.
Pengumuman tarif ini dilakukan hanya beberapa jam setelah Trump menuduh sepihak bahwa Tiongkok melanggar kesepakatan untuk bersama-sama mencabut tarif, termasuk pembatasan perdagangan atas mineral penting.
Keputusan Trump ini langsung mendapat tanggapan tegas dari mitra dagang utama AS. Komisi Eropa menilai langkah Trump tersebut mengganggu proses negosiasi yang masih berlangsung. Sebelumnya, Uni Eropa (UE) telah menunda penerapan tarif balasan demi memberi ruang bagi diplomasi (upaya penyelesaian melalui negosiasi antar negara). Namun, kini Trump tengah memfinalisasi skema pembalasan yang lebih luas. UE menyatakan siap mengambil tindakan balasan paling lambat 14 Juli 2025 jika tidak ada kesepakatan bersama.
Dari sisi Kanada, Kamar Dagang Negara tersebut menyatakan kebijakan ini sebagai tekanan terhadap ekonomi kawasan yang berpotensi berdampak negatif pada kedua negara. Sementara itu, serikat pekerja United Steelworkers di Kanada menyebut kebijakan ini sebagai ancaman terhadap keberlangsungan industri dan tenaga kerja Kanada.
Berdasarkan data Departemen Perdagangan, impor baja Amerika Serikat sepanjang 2024 tercatat sebesar 26,2 juta ton, menjadikannya negara pengimpor baja terbesar di dunia. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan mengenakan tarif 50% terhadap baja asal Kanada, namun kemudian menarik ancaman tersebut. Meskipun demikian, kenaikan tarif yang berlaku saat ini diperkirakan akan mendorong lonjakan harga di pasar global.
Keputusan ini direspon negatif oleh pelaku pasar. Usai pengumuman tersebut, bursa saham Asia kompak terkoreksi pada perdagangan Senin (2/6). Indeks Shanghai (Tiongkok) ditutup melemah 0,47%, Nikkei 225 (Jepang) turun 1,30%, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga melemah 1,54% ke level 7,065, setelah sempat menyentuh 7,035 menjelang akhir sesi II perdagangan hari ini.
Jika kebijakan kenaikan tarif ini terealisasi, dampaknya berpotensi mengganggu rantai pasok global, mengingat baja dan aluminium merupakan bahan baku penting di berbagai sektor industri, mulai dari otomotif hingga konstruksi. Kenaikan tarif akan mendorong biaya impor, memaksa produsen mencari alternatif pemasok, dan menurunkan efisiensi produksi. Selain itu, lonjakan harga bahan baku dapat memicu inflasi biaya produksi, yang menambah tekanan ke sektor manufaktur dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global.
Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian saat ini, investor perlu mempertimbangkan instrumen alternatif yang lebih stabil. Salah satu pilihan yang bisa dicermati adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT). Reksa dana ini mengalokasikan minimal 80% dananya pada surat utang atau obligasi, sehingga imbal hasil yang ditawarkan cenderung lebih stabil dibandingkan instrumen lainnya seperti saham.
Hingga April 2025, RDPT masih menjadi reksa dana unggulan di antara jenis reksa dana lainnya. Mengacu pada data Statistik Infovesta, nilai dana kelolaan atau asset under management (AUM) RDPT masih menjadi yang terbesar yakni mencapai Rp152,47 triliun per April 2025, naik 1,50% dibandingkan posisi akhir Maret 2025 sebesar Rp150,23 triliun. Kenaikan ini mencerminkan minat investor pada reksa dana pendapatan tetap masih tinggi.
RDPT juga cocok bagi investor yang menginginkan pendapatan berkala dari kupon obligasi. Keunggulan lain RDPT adalah risiko fluktuasi harga cenderung lebih rendah, dan cocok untuk investasi jangka menengah.
Nah, Sobat Makmur, itu dia alasan Trump menaikkan tarif aluminium dan baja menjadi 50%, dampak kebijakan tersebut terhadap pasar keuangan global, serta pilihan instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan di tengah tensi dagang yang kembali meningkat.
Di Makmur, kamu juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Sobat Makmur bisa membeli reksa dana pilihanmu dengan memanfaatkan promo seperti promo June Invest, promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Yuk, unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan jangan lupa berikan ulasan terbaikmu.
Perlu diketahui, selain melalui ponsel, kamu juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Kamu juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link berikut:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]
Key Takeaways: Nilai tukar rupiah merupakan salah satu indikator makroekonomi yang memengaruhi stabilitas harga di Indonesia. Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), harga berbagai barang dan jasa cenderung ikut meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai inflasi impor atau imported inflation, yaitu kenaikan harga yang berasal dari meningkatnya biaya barang impor akibat pelemahan mata uang […]
Key Takeaways: Bagi investor global, keputusan mengalokasikan dana ke suatu negara sering kali dimulai dari indeks acuan, bukan dari analisis emiten satu per satu. MSCI merupakan salah satu penyedia indeks global yang dijadikan patokan oleh banyak investor institusional, sehingga perubahan perlakuannya terhadap suatu pasar dapat memengaruhi komposisi indeks dan alokasi dana yang mengikutinya. Sepanjang 2026, […]
Key Takeaways: Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi perhatian investor. Konflik yang melibatkan kawasan produsen energi penting ini bukan hanya berdampak pada stabilitas politik, tetapi juga memicu kenaikan harga komoditas, nilai tukar, hingga pasar saham. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung mencari saham tahan gejolak yang mampu menjaga kinerja di tengah tekanan eksternal. Perlu […]
Key Takeaways: Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali menjadi sorotan setelah bertahan di sekitar level psikologis Rp18.000/USD sepanjang Juli 2026. Tekanan ini merupakan kelanjutan dari tren pelemahan yang memuncak pada 8 Juni 2026, ketika JISDOR BI mencapai rekor terlemah Rp18.171/USD. Sementara kurs spot kemudian menyentuh sekitar Rp18.209/USD pada 9 Juni 2026. Nilai tukar […]
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]