Key Takeaways:
Dalam berinvestasi, kebijakan ekonomi suatu negara seringkali menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah pergerakan pasar dan peluang investasi. Salah satu konsep yang cukup sering dibahas dalam ekonomi makro adalah trickle down economics, yaitu teori yang menyatakan bahwa ketika kelompok ekonomi atas memperoleh insentif seperti pemotongan pajak, kemudahan investasi, atau deregulasi bisnis, maka aktivitas ekonomi akan meningkat dan manfaatnya pada akhirnya dapat mengalir ke lapisan ekonomi yang lebih luas melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan konsumsi masyarakat.
Konsep trickle down economics berangkat dari asumsi bahwa pelaku bisnis besar akan menggunakan tambahan modal atau keuntungan untuk memperluas bisnis, membuka lapangan kerja baru, meningkatkan produksi, dan mendorong aktivitas ekonomi lainnya. Pada akhirnya, pertumbuhan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara lebih luas.
Bagi investor, penting untuk memahami bagaimana kebijakan yang mencerminkan teori trickle down economics dapat memengaruhi sektor dan instrumen tertentu yang mampu memberikan peluang investasi yang potensial.
Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang memberikan insentif finansial, beberapa sektor biasanya memperoleh manfaat lebih awal dibanding sektor lainnya. Dampak awal ini sering kali tercermin pada peningkatan pendapatan emiten, ekspansi bisnis, hingga peningkatan permintaan terhadap berbagai instrumen keuangan.
Secara umum, alur dampaknya dapat digambarkan sebagai berikut.
Tabel 1. Alur Pengaruh Trickle Down Economics terhadap Investasi

Memahami alur tersebut membantu investor mengidentifikasi sektor yang kemungkinan memperoleh manfaat lebih awal maupun sektor yang baru merasakan dampaknya pada tahap berikutnya. Dengan memahami pola ini, investor dapat menyusun strategi yang lebih terarah saat menghadapi kebijakan yang sejalan dengan prinsip trickle down economics.
Saat ini, pemerintah Indonesia tidak secara eksplisit menyatakan menggunakan teori trickle down economics sebagai landasan kebijakan ekonomi nasional. Namun, berdasarkan definisinya, terdapat sejumlah kebijakan yang memberikan insentif finansial kepada sektor-sektor tertentu guna mendorong investasi, ekspansi bisnis, dan pertumbuhan ekonomi.
Bagi investor, kebijakan semacam ini dapat menjadi petunjuk awal untuk mengidentifikasi sektor dan instrumen yang berpotensi memperoleh keuntungan.
Berikut beberapa cara memilah sektor dan instrumen yang sering menjadi perhatian.
Salah satu contoh yang dapat dianalisis adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 69 Tahun 2024 yang ditandatangani pada 8 Oktober 2024. Peraturan ini memperpanjang jangka waktu pemberian fasilitas pengurangan Pajak Penghasilan (PPh) badan atau tax holiday hingga 31 Desember 2025, sebagai perubahan atas PMK Nomor 130/PMK.010/2020 yang berakhir pada 9 Oktober 2024.
Fasilitas ini memberikan pengurangan PPh badan sebesar 50% untuk investasi Rp100 miliar hingga kurang dari Rp500 miliar selama 5 tahun, serta sebesar 100% untuk investasi minimal Rp500 miliar dengan jangka waktu 5 hingga 20 tahun, bergantung pada nilai investasi. Penerimanya adalah Wajib Pajak badan berstatus badan hukum Indonesia yang melakukan penanaman modal baru minimal Rp100 miliar pada salah satu dari 18 kelompok industri pionir. Di samping fasilitas tax holiday tersebut, pemerintah juga menyediakan berbagai skema insentif perpajakan untuk mendorong investasi pada lokasi strategis, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Ibu Kota Nusantara (IKN), sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Industri pionir sendiri merupakan sektor bisnis yang memiliki keterkaitan luas, memperkenalkan teknologi baru, memberikan nilai tambah dan eksternalitas tinggi, serta memiliki nilai strategis bagi perekonomian nasional.
Sebagai gambaran, berikut sejumlah kelompok industri pionir beserta contoh emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang bergerak pada bidang tersebut.
Tabel 2. Contoh Kelompok Industri Pionir dan Emiten yang Bergerak di Bidangnya

Sumber: Kementerian Keuangan (PMK Nomor 69 Tahun 2024) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perlu ditegaskan bahwa daftar emiten di atas bersifat ilustratif untuk menggambarkan bidang usaha pada tiap kelompok industri pionir, dan bukan merupakan daftar penerima tax holiday maupun rekomendasi investasi. Fasilitas tax holiday diberikan kepada perusahaan yang mengajukan penanaman modal baru dan memenuhi persyaratan, sehingga penerimanya belum tentu berstatus emiten publik. Dalam kerangka analisis trickle down economics, kelompok industri pionir dapat dipandang sebagai sektor yang berpotensi memperoleh manfaat lebih awal dari kebijakan fiskal, karena pengurangan beban pajak dapat meningkatkan efisiensi biaya dan membuka ruang bagi ekspansi bisnis.
Penting untuk diketahui bahwa batas waktu penyampaian usulan pemberian fasilitas tax holiday berdasarkan PMK 69/2024 adalah 31 Desember 2025. Meski demikian, pemerintah juga terus menyesuaikan skema insentif perpajakan dengan implementasi Global Minimum Tax (GMT). Hal ini menunjukkan bahwa dukungan fiskal terhadap investasi masih menjadi salah satu bagian dari kebijakan pemerintah, sehingga investor tetap perlu mencermati perkembangan regulasi yang dapat memengaruhi prospek sektor-sektor tertentu.
Kebijakan insentif finansial tidak hanya memengaruhi sektor yang secara langsung terdampak. Dalam praktiknya, aktivitas investasi dan ekspansi bisnis yang meningkat juga akan menciptakan kebutuhan pembiayaan yang lebih besar.
Ketika emiten memperluas kapasitas produksi, membangun fasilitas baru, atau menjalankan proyek bisnis jangka panjang, kebutuhan modal kerja dan pendanaan eksternal umumnya ikut meningkat. Kondisi ini dapat mendorong permintaan kredit korporasi maupun berbagai layanan keuangan lainnya.
Karena itulah sektor perbankan sering menjadi salah satu sektor yang memperoleh manfaat pada tahap awal meskipun tidak secara langsung menerima insentif. Perbankan berperan sebagai penyalur dana yang mendukung berbagai aktivitas investasi dan ekspansi bisnis di sektor riil.
Pendanaan eksternal tersebut dapat diperoleh melalui kredit perbankan, termasuk pembiayaan sindikasi yang melibatkan beberapa bank. Sejumlah bank besar yang menjadi emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara lain: PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Selain sektor keuangan, efek lanjutan dari kebijakan yang mencerminkan prinsip trickle down economics juga dapat terlihat pada sektor konsumsi. Ketika investasi meningkat dan lapangan kerja bertambah, peluang masyarakat untuk memperoleh penghasilan yang lebih tinggi ikut meningkat, baik melalui pekerjaan maupun kegiatan bisnis.
Peningkatan pendapatan tersebut berpotensi mendorong daya beli yang kemudian tercermin pada peningkatan penjualan emiten di sektor konsumsi. Namun, hubungan tersebut tidak selalu berjalan beriringan. Pertumbuhan investasi perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas pekerja dan tingkat upah yang memadai agar manfaat ekonomi benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas.
Apabila peningkatan investasi tidak diikuti oleh perbaikan daya beli masyarakat, maka efektivitas kebijakan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah. Inilah salah satu alasan mengapa investor perlu memperhatikan indikator konsumsi rumah tangga selain hanya berfokus pada sektor yang memperoleh insentif secara langsung.
Selain saham, terdapat instrumen investasi lain yang menarik untuk diperhatikan ketika kebijakan pemerintah yang menguntungkan bagi bisnis mulai berjalan, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh emiten terdampak.
Emiten biasanya menerbitkan obligasi untuk memperoleh pendanaan dalam skala besar guna membiayai ekspansi, menjalankan proyek baru, maupun melakukan pelunasan utang yang telah jatuh tempo. Instrumen ini sering dipilih karena memungkinkan emiten memperoleh tambahan modal tanpa harus mengurangi kepemilikan pemegang saham melalui penerbitan saham baru.
Oleh karena itu, obligasi juga dapat menjadi salah satu instrumen yang memperoleh dampak dari kebijakan tersebut.
Salah satu contoh yang dapat dicermati oleh investor adalah PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang menerbitkan Obligasi Berkelanjutan V Indah Kiat Pulp & Paper Tahap I Tahun 2024. Obligasi tersebut tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 7 Oktober 2024 dengan tujuan melakukan refinancing utang dan mendukung kebutuhan ekspansi bisnis.
Pada periode yang berdekatan, PMK Nomor 69 Tahun 2024 yang memperpanjang fasilitas tax holiday ditandatangani pada 8 Oktober 2024, sehari setelah obligasi tersebut tercatat di BEI. Perlu ditekankan bahwa keduanya tidak memiliki kaitan langsung, karena penerbitan obligasi murni berkaitan dengan kebutuhan pendanaan emiten. Namun, secara konseptual, keberadaan insentif fiskal pada sektor industri pionir dapat mendukung iklim investasi dan ekspansi bisnis di sektor-sektor yang tercakup.
Contoh ini menunjukkan bahwa peluang investasi berdasarkan teori trickle down economics tidak hanya dapat dicari melalui saham, tetapi juga melalui instrumen obligasi yang diterbitkan oleh emiten-emiten yang berpotensi memperoleh manfaat dari kebijakan pemerintah.
Kebijakan yang memberikan insentif kepada sektor-sektor strategis dapat menciptakan peluang investasi yang muncul secara bertahap, mulai dari industri yang memperoleh manfaat langsung, sektor pendukung seperti perbankan, hingga instrumen lain seperti obligasi yang digunakan untuk membiayai ekspansi bisnis. Memahami rantai dampak tersebut dapat membantu investor mengidentifikasi peluang yang mungkin muncul lebih awal dibanding pelaku pasar lainnya.
Untuk memperoleh eksposur terhadap peluang tersebut, investasi dapat dilakukan melalui reksa dana saham maupun reksa dana pendapatan tetap yang memiliki portofolio pada sektor-sektor terdampak dan instrumen obligasi terkait. Strategi ini dapat menjadi alternatif bagi investor yang ingin memperoleh diversifikasi tanpa harus memilih setiap instrumen secara individual.
Salah satu produk yang dapat dipertimbangkan adalah reksa dana pendapatan tetap Sucorinvest Bond Fund yang memberikan eksposur pada instrumen obligasi berkualitas.
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, reksa dana pendapatan tetap sering menjadi salah satu pilihan karena karakteristik risikonya yang relatif lebih stabil dibanding saham. Sucorinvest Bond Fund mengalokasikan mayoritas dananya pada instrumen obligasi, termasuk obligasi korporasi, dan mencatatkan kinerja 5,69% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 21 Agustus 2026, dengan tingkat risiko yang tergolong rendah. Produk ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk melengkapi strategi investasi jangka menengah hingga panjang, dengan tetap memperhatikan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Ketergantungan terhadap pembiayaan berdenominasi dolar sudah lama menjadi salah satu titik kerentanan struktur utang Indonesia. Ketika kondisi keuangan global berubah atau premi risiko meningkat, tekanan terhadap nilai tukar rupiah biasanya ikut naik dan berdampak pada beban pembayaran utang pemerintah. Sepanjang 2026, tekanan tersebut cukup terasa. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.836 per […]
Key Takeaways: Spin-off perusahaan adalah aksi korporasi di mana sebuah perusahaan induk memisahkan unit bisnis atau anak perusahaannya untuk menjadi entitas mandiri yang berdiri sendiri. Aksi korporasi ini kerap dipilih oleh perusahaan untuk lebih fokus pada bisnis inti dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, spin-off perusahaan tidak hanya berpengaruh pada struktur internal organisasi, tetapi juga dapat […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, terdapat berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, di antaranya melalui pembagian dividen dan saham bonus. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada pemegang saham, tetapi mekanisme dan dampaknya terhadap investasi sangat berbeda. Lalu, mana yang lebih memperbesar portofolio investor, saham bonus atau dividen? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu cara kerja masing-masing aksi […]
Key Takeaways: Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang year-to-date (YTD) 2026 per 18 Agustus menunjukkan tekanan yang cukup tinggi. Rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/USD pada awal April 2026 dan terus melemah hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp18.201/USD secara intraday pada 8 Juni 2026. Sepanjang pertengahan Agustus 2026, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.700 […]
Key Takeaways: Kemampuan emiten dalam menjaga kualitas pendapatan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan. Salah satu metrik yang sering digunakan untuk mengukur kualitas tersebut adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU sendiri merupakan metrik yang menunjukkan rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per bulan. Metrik […]