Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang year-to-date (YTD) 2026 per 18 Agustus menunjukkan tekanan yang cukup tinggi. Rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.000/USD pada awal April 2026 dan terus melemah hingga menyentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp18.201/USD secara intraday pada 8 Juni 2026.
Sepanjang pertengahan Agustus 2026, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.700 hingga Rp18.000/USD. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas valuta asing (valas) yang cukup tinggi terhadap rupiah. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, seperti sentimen global, eskalasi geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, serta lonjakan harga minyak dunia.
Dalam kondisi seperti ini, risiko investasi meningkat karena volatilitas valas dapat memengaruhi berbagai instrumen keuangan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, diperlukan strategi investasi yang lebih adaptif dalam mengelola portofolio. Salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan adalah diversifikasi aset, yang bertujuan mengurangi potensi risiko tanpa harus sepenuhnya mengorbankan peluang imbal hasil.
Dalam praktiknya, diversifikasi tidak hanya berarti memiliki banyak aset, tetapi juga memastikan aset tersebut memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Strategi ini membantu menjaga stabilitas portofolio ketika salah satu komponennya mengalami tekanan.
Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan.
Melakukan diversifikasi pada berbagai aset berbasis valas dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi konsentrasi risiko pada aset domestik dan meredam dampak volatilitas nilai tukar terhadap portofolio secara keseluruhan.
Untuk lebih memperjelasnya, mari lihat harga rata-rata dolar AS, euro, dan yen Jepang di pasaran Jakarta pada Januari hingga Juni 2026.
Tabel 1. Harga Rata-Rata Valas di Pasaran Jakarta Tahun 2026

Sumber: Badan Pusat Statistik
Data tersebut menunjukkan tren kenaikan bertahap pada dolar AS, dari kisaran Rp16.700 pada awal tahun hingga menembus Rp17.200 pada akhir April, lalu terus menguat ke rata-rata Rp18.141 pada pekan kedua Juni yang bertepatan dengan rekor terlemah rupiah pada 8 Juni. Setelah itu, dolar AS bergerak turun ke kisaran Rp17.800 pada akhir Juni seiring rupiah yang mulai menguat. Euro mengikuti pola serupa dengan puncak di kisaran Rp20.900 pada pertengahan Juni, sementara yen Jepang relatif lebih stabil di rentang Rp106 hingga Rp113.
Pergerakan ini menegaskan bahwa nilai tukar bersifat sangat volatil, dapat berubah dalam waktu singkat, dan berayun dua arah. Oleh karena itu, memiliki aset dalam berbagai valuta asing dapat membantu mengurangi dampak depresiasi rupiah terhadap portofolio.
Beberapa instrumen yang dapat dipertimbangkan antara lain:
Secara umum, diversifikasi pada aset valas dapat berfungsi sebagai lapisan perlindungan tambahan bagi nilai portofolio. Saat rupiah melemah, nilai aset dalam valas cenderung meningkat ketika dikonversi kembali ke rupiah, sehingga dapat membantu menjaga stabilitas portofolio. Meski begitu, efek kurs ini bekerja dua arah, karena penguatan rupiah seperti yang mulai terjadi pada akhir Juni justru akan mengurangi nilai konversinya.
Strategi berikutnya adalah melakukan diversifikasi ke berbagai negara atau kawasan. Perbedaan kondisi ekonomi antarnegara dapat menciptakan peluang sekaligus memberikan perlindungan terhadap risiko yang bersifat domestik.
Tabel 2. Kinerja Indeks Saham Beberapa Negara

Sumber: IDX
Data menunjukkan bahwa performa pasar global sangat bervariasi. Sepanjang 2026, IHSG terkoreksi cukup dalam, sementara sebagian pasar lain seperti Taiwan dan Amerika Serikat justru mencatatkan kenaikan. Perbedaan arah ini menegaskan bahwa tidak semua pasar bergerak seragam, sehingga penyebaran aset ke beberapa negara dapat menurunkan risiko yang terpusat pada satu pasar.
Salah satu instrumen yang dapat dipertimbangkan untuk strategi diversifikasi ini adalah reksa dana berbasis valas dengan eksposur aset global. Sebagai platform wealth-tech, Makmur menyediakan sejumlah produk reksa dana berbasis dolar AS, salah satunya Eastspring Syariah Greater China Equity USD Kelas A. Produk ini menggunakan dolar AS sebagai mata uang acuan dan menempatkan dana pada saham di kawasan Tiongkok, Hong Kong, dan Taiwan dengan pendekatan syariah.
Sesuai karakter reksa dana saham berbasis efek luar negeri, komposisi portofolionya dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kebijakan manajer investasi. Berdasarkan data per 30 Juni 2026, beberapa saham dengan bobot terbesar di antaranya adalah:
1. Advanced Micro-Fabrication-A (2,63%)
2. Alibaba Group Holding Ltd. (3,21%)
3. ASMPT Ltd. (2,92%)
4. Giga Device Semiconductor (Beijing) – A (2,82%)
5. Wuxi AppTec Co Ltd – CNY1 H (2,80%)
6. Delta Electronics, Inc. (3,60%)
7. Naura Technology Group Co-A (2,59%)
8. MediaTek Inc. (4,82%)
9. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company, Ltd. (10,94%)
10. Zhongji Innolight Co Ltd. (2,87%)
Dengan komposisi tersebut, reksa dana ini menggabungkan dua pendekatan diversifikasi sekaligus, yaitu berbasis valas dan berbasis aset global.
Berdasarkan data per 18 Agustus 2026, Eastspring Syariah Greater China Equity USD Kelas A mencatatkan imbal hasil 24,70% dalam satu tahun terakhir, sementara IHSG pada periode yang sama bergerak negatif. Performa tersebut menunjukkan bahwa pasar global dapat memberikan dinamika yang berbeda dibandingkan pasar domestik.
Meski demikian, kinerja produk ini tetap memiliki tingkat volatilitas yang tinggi. Pada periode yang sama, nilainya tercatat turun sekitar 13% dalam satu bulan terakhir dan masih membukukan kinerja negatif dalam horizon lima tahun. Dengan tingkat risiko yang tergolong sangat tinggi serta expense ratio sebesar 5,30%, produk ini lebih sesuai bagi investor berprofil agresif yang memahami potensi fluktuasi dan memiliki orientasi investasi jangka panjang.
Diversifikasi juga perlu dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan tujuan investasi serta profil risiko. Menempatkan seluruh dana pada aset global maupun aset berbasis valas tetap berpotensi meningkatkan risiko apabila tidak diimbangi dengan komposisi portofolio yang tepat.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Spin-off perusahaan adalah aksi korporasi di mana sebuah perusahaan induk memisahkan unit bisnis atau anak perusahaannya untuk menjadi entitas mandiri yang berdiri sendiri. Aksi korporasi ini kerap dipilih oleh perusahaan untuk lebih fokus pada bisnis inti dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, spin-off perusahaan tidak hanya berpengaruh pada struktur internal organisasi, tetapi juga dapat […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, terdapat berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, di antaranya melalui pembagian dividen dan saham bonus. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada pemegang saham, tetapi mekanisme dan dampaknya terhadap investasi sangat berbeda. Lalu, mana yang lebih memperbesar portofolio investor, saham bonus atau dividen? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu cara kerja masing-masing aksi […]
Key Takeaways: Kemampuan emiten dalam menjaga kualitas pendapatan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan. Salah satu metrik yang sering digunakan untuk mengukur kualitas tersebut adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU sendiri merupakan metrik yang menunjukkan rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per bulan. Metrik […]
Key Takeaways: Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, dan Perry resmi berhenti dari jabatannya pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI untuk mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut. […]
Key Takeaways: Di tengah maraknya tren yang menunjukkan gaya hidup mewah di media sosial, banyak investor dengan kemampuan finansial yang baik justru memilih untuk tidak menampilkan kekayaan secara berlebihan. Tren tersebut dikenal sebagai silent wealth, yaitu konsep yang memandang pertumbuhan aset dan kesehatan finansial tidak diukur dari barang yang dimiliki atau ditunjukkan, melainkan dari aset […]