Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, dan Perry resmi berhenti dari jabatannya pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI untuk mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut.
Pada 10 Agustus 2026, Presiden Prabowo secara resmi mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI melalui Surat Presiden (Surpres) yang diserahkan Mensesneg Prasetyo Hadi kepada pimpinan DPR RI. Selanjutnya, Komisi XI DPR akan menjalankan proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) untuk menilai kelayakan calon pejabat publik, sebelum keputusan akhir mengenai pengangkatan Gubernur BI dilakukan.
Pergantian pimpinan bank sentral menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter. Namun, prospek rupiah tidak hanya ditentukan oleh sosok gubernur BI. Kondisi suku bunga, inflasi, arus modal, cadangan devisa, serta sentimen global juga memiliki peran penting.
Sebelum membedah lebih jauh proyeksi penguatan rupiah, ada baiknya mencermati dulu posisi indikator moneter domestik terkini yang menjadi acuan utama arah kebijakan ekonomi nasional.
Tabel 1. Posisi Indikator Moneter Indonesia

Sumber: Bank Indonesia, BPS.
*Catatan: BI Rate adalah suku bunga acuan kebijakan moneter, sedangkan Deposit Facility dan Lending Facility merupakan suku bunga untuk fasilitas simpanan dan pinjaman di BI.
Meski nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp18.076 per dolar AS pada akhir Juli 2026, posisi kurs kini sudah bergerak ke kisaran Rp17.800-an pada pekan kedua Agustus. Pergerakan tersebut menunjukkan adanya peluang stabilisasi rupiah, yang didukung oleh sejumlah faktor berikut.
Kenaikan akumulatif BI Rate sebesar 100 bps sepanjang Mei-Juni 2026 hingga mencapai 5,75% mempertegas komitmen pro-stability BI dalam meredam volatilitas nilai tukar. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21-22 Juli 2026, BI memilih menahan suku bunga tersebut sembari memperluas insentif bagi arus masuk investasi portofolio asing, serta memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Selisih suku bunga (interest rate differential, atau perbedaan tingkat bunga antarnegara) yang lebar antara BI Rate dan Fed Funds Rate menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah bagi investor asing. BI mencatat investasi portofolio asing pada kuartal II 2026 membukukan net inflows atau aliran dana masuk bersih sebesar US$8,5 miliar, terutama ke instrumen SBN dan SRBI. Memasuki kuartal III 2026, investasi portofolio asing masih mencatat net inflows sebesar US$0,1 miliar hingga 20 Juli 2026 yang terutama berasal dari investasi pada SBN. Selisih imbal hasil SBN tenor 10 tahun dengan US Treasury pun dinilai masih kompetitif, sehingga daya tarik instrumen rupiah bagi investor asing tetap terjaga.
Inflasi tahunan yang sebelumnya 3,34% pada Juni 2026 melandai menjadi 2,88% pada Juli 2026. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5% ± 1%.
Kondisi inflasi yang relatif terkendali memberikan ruang bagi BI untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai rupiah dan kebutuhan mendukung pertumbuhan ekonomi.
BI terus melakukan intervensi terukur di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar SBN sekunder untuk menopang pasokan valuta asing domestik. Cadangan devisa akhir Juli 2026 tercatat US$145,3 miliar, relatif stabil dibanding akhir Juni yang sebesar US$145,6 miliar, dan setara pembiayaan 5,5 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan.
Stabilitas rupiah dan suku bunga yang masih tinggi dapat memberikan peluang sekaligus risiko bagi sejumlah instrumen investasi. Bagi investor, beberapa faktor berikut dapat menjadi pertimbangan.
Level BI Rate yang masih tinggi membuat imbal hasil SBN dan obligasi korporasi tetap relatif menarik. Per 11 Agustus 2026 sendiri, yield SBN tenor 10 tahun berada di angka 7,20%.
Dengan inflasi yang semakin terkendali di 2,88%, selisih antara yield obligasi dan inflasi Indonesia tetap tinggi, sehingga nilai investasi riil investor lebih terjaga dari ketidakpastian harga.
Suku bunga acuan diperkirakan telah mencapai puncak siklus pengetatan (peak rate) di level saat ini. Jika arah kebijakan moneter mulai melunak, harga obligasi berpotensi menguat dan memberikan peluang capital gain bagi pemegang RDPT.
Meski sentimen di atas cukup positif, kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya kondusif. Pelaku pasar cenderung bersikap wait and see menjelang pengumuman rebalancing MSCI, sementara ketidakpastian geopolitik global masih membayangi pergerakan aset berisiko. Di sisi lain, arah kebijakan The Fed tetap menjadi faktor penting bagi pasar global dan dapat memengaruhi arus modal serta pergerakan rupiah.
Dengan kondisi tersebut, investor dapat mempertimbangkan instrumen yang relatif defensif, seperti RDPT yang berfokus pada obligasi, dan reksa dana pasar uang (RDPU) yang menempatkan dana pada instrumen jangka pendek seperti deposito dan SBN tenor pendek.
RDPT umumnya sesuai bagi investor dengan tujuan investasi menengah hingga panjang yang mengejar potensi yield dan capital gain, dengan tingkat volatilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan saham. Sementara itu, RDPU dapat menjadi pilihan bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas dalam jangka pendek, terutama di tengah ketidakpastian pasar. Kombinasi keduanya juga dapat menjadi strategi diversifikasi di tengah level suku bunga yang masih tinggi.
Salah satu produk RDPT yang dapat dipertimbangkan adalah Syailendra Sharia Fixed Income Fund Kelas A, yang mencatatkan imbal hasil sebesar 6,55% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 11 Agustus 2026.
Selain itu di Makmur juga tersedia RDPU Danapathi Money Market Fund yang mencatatkan imbal hasil 5,44% pada periode yang sama, sehingga dapat menjadi alternatif untuk menempatkan sebagian dana pada instrumen pasar uang.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Struktur kepemilikan saham merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor saat menilai kualitas suatu emiten. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah insider ownership, yaitu porsi saham yang dimiliki secara langsung oleh pihak internal perusahaan, seperti anggota direksi, komisaris, pendiri, atau pihak manajemen tertentu. Besarnya insider ownership perlu dipantau investor publik karena […]
Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]
Key Takeaways: Seorang investor perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang cara menilai kinerja sebuah saham. Salah satu metode yang sering digunakan untuk menilai kinerja saham adalah Excess Returns Model (ERM). Model ini membantu investor mengukur kinerja saham dengan membandingkan actual return dengan expected return berdasarkan risiko pasar. Mari kita bahas lebih lanjut tentang bagaimana menggunakan […]
Key Takeaways: Dalam dunia investasi, pemahaman terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pergerakan harga aset menjadi kunci untuk mengoptimalkan hasil. Salah satu fenomena yang menarik adalah efek musiman, yaitu fenomena di mana pasar atau sektor tertentu mengalami perubahan performa yang dapat diprediksi berdasarkan waktu atau periode tertentu dalam setahun. Efek musiman sering kali memberikan peluang berharga bagi […]
Key Takeaways: Kinerja ekonomi Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan ketahanan yang cukup solid di tengah dinamika global yang tidak menentu. Sepanjang tahun 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 5,11%. Pertumbuhan ini ditopang oleh sektor investasi dan ekspor yang tetap ekspansif di tengah tekanan geopolitik seperti perang dagang AS–China. Memasuki tahun 2026, proyeksi […]