makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Perusahaan dengan WACC Rendah Dianggap Efisien, Benarkah Selalu Menguntungkan Investor?

author
Content Management
author
05 Juni 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • WACC adalah indikator yang digunakan untuk menilai efisiensi biaya pendanaan perusahaan.
  • Meskipun WACC yang rendah sering dikaitkan dengan efisiensi, perusahaan dengan leverage tinggi dapat menghadapi risiko yang signifikan.
  • Perusahaan yang sudah memasuki tahap matang sering kali memiliki WACC yang rendah karena bisnisnya sudah ditahap stabil.
  • Untuk mengetahui apakah perusahaan benar-benar menciptakan nilai, investor harus membandingkan WACC dengan ROIC.

Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar?

WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal yang ditanggung perusahaan untuk mendanai asetnya, baik melalui utang maupun ekuitas. Secara umum, WACC dihitung dengan rumus berikut:

WACC = (E/V × Re) + (D/V) × Rd × (1 – T)
  • E = Nilai kapitalisasi pasar
  • D = Nilai utang
  • V = E + D (total modal)
  • Re = Biaya ekuitas (CAPM)
  • Rd = Biaya utang 
  • T = Tarif pajak

WACC Rendah Bisa Menandakan Perusahaan Efisien

WACC rendah sering dianggap sebagai sinyal bahwa perusahaan mampu mendapatkan pendanaan dengan biaya yang relatif murah. Ini memberikan beberapa keunggulan:

1. Biaya modal lebih rendah

WACC yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan dapat memperoleh dana dengan biaya yang lebih terjangkau, baik itu dari utang maupun ekuitas. Biaya modal yang lebih rendah memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke dalam ekspansi atau operasional, tanpa terbebani dengan beban biaya yang tinggi. Hal ini memberi perusahaan peluang lebih besar untuk menjalankan proyek yang berpotensi menghasilkan laba lebih tinggi daripada biaya modal, sehingga meningkatkan laba bersih dan kinerja keuangan.

2. Hurdle rate lebih rendah

Hurdle rate adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan agar suatu investasi proyek dianggap layak. Jika WACC lebih rendah, maka hurdle rate yang digunakan emiten untuk menilai kelayakan proyek investasi juga akan lebih rendah, berarti perusahaan bisa mempertimbangkan proyek-proyek yang mungkin tidak memberikan pengembalian yang sangat tinggi, tetapi tetap cukup menguntungkan.

3. Nilai perusahaan lebih tinggi

Semakin rendah WACC, semakin tinggi Net Present Value (NPV) dari arus kas masa depan perusahaan. NPV adalah metrik keuangan yang menghitung nilai semua arus kas masa depan dari suatu proyek perusahaan, yang didiskontokan kembali ke nilai saat ini. Semakin tinggi NPV, semakin banyak nilai yang dihasilkan perusahaan dari investasinya, yang membuatnya lebih bernilai di mata pasar. 

Dengan WACC yang rendah, perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak nilai dari modal yang digunakan, yang meningkatkan NPV dan berdampak positif terhadap valuasi saham perusahaan. Hal ini meningkatkan daya tarik perusahaan bagi investor dan berpotensi meningkatkan harga saham.

4. Akses pendanaan lebih baik

Perusahaan dengan biaya modal rendah menunjukkan bahwa mereka memiliki struktur keuangan yang efisien dan stabil. Hal ini membuat investor dan kreditur lebih percaya bahwa perusahaan mampu mengelola pendanaan dengan baik, sehingga lebih mudah bagi perusahaan untuk mendapatkan pendanaan eksternal. Akses terhadap pendanaan menjadi lebih mudah dan murah, yang memungkinkan perusahaan untuk terus berkembang dan memperluas operasional tanpa harus menghadapi kendala pendanaan yang berat.

Namun, penting untuk diingat bahwa WACC yang terlalu rendah bisa menjadi ilusi efisiensi, terutama bila didorong oleh penggunaan utang yang berlebihan. Sebagai contoh, mari kita telaah perhitungan WACC PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) berdasarkan laporan keuangan 2023.

Contoh Perhitungan WACC WSKT

Perlu dicatat bahwa saham WSKT saat ini berada dalam status suspensi pada harga Rp202, namun angka tersebut tetap digunakan sebagai acuan nilai pasar ekuitas. 

  • E = Rp5,82 triliun, berdasarkan harga saham Rp202 x 28,8 Miliar lembar saham.
  • D = Rp81,20 triliun, total utang bank dan obligasi.
  • V = Rp87,02 triliun, merupakan E+D.
  • Re = 24,08%, dihitung dengan model penilaian CAPM: 6,7% (risk free rate + β 1,81 × market risk premium 9,6%)
    • Risk free rate diambil dari yield atau imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia tenor 10 tahun (ID10Y).
    • Beta diambil dari Data historis pergerakan saham WSKT dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) atau benchmark. Data ini biasanya diambil dari penyedia data seperti Yahoo Finance, Bloomberg, atau Reuters.
    • Market risk premium diambil dari selisih antara CAGR return IHSG 5 tahun dengan tingkat bebas risiko. Sehingga, risk premium diperoleh 9,6%.
  • Rd = 5,42%, beban bunga tahunan dibagi total utang.
  • T = 22%, tarif PPh Badan yang berlaku.
WACC = (5,82/87,02) × 24,08 + (81,20/87,02) × 5,42 × (1 – 22)

Hasil perhitungan WACC berdasarkan data WSKT adalah 5,55%, meskipun angka WACC terlihat sangat rendah (murah), ini adalah contoh yang cukup berisiko bagi investor. Rendahnya WACC disebabkan oleh porsi utang yang mencapai 93,31%, karena utang lebih murah daripada ekuitas, maka secara matematis WACC akan ikut turun.

WACC yang Rendah Tidak Selalu Menguntungkan Investor

Di bawah ini merupakan alasan mengapa WACC yang rendah tidak selalu menguntungkan investor, karena:

1. Risiko utang berlebih

Leverage tinggi memang dapat menurunkan WACC melalui manfaat pajak yang diperoleh dari pengurangan bunga utang. Namun, jika perusahaan terlalu banyak bergantung pada utang, risikonya meningkat. Ketika pendapatan operasi perusahaan tidak cukup untuk menutupi beban bunga, maka perusahaan menghadapi risiko kebangkrutan. Bagi pemegang saham, ini bisa berarti potensi kerugian besar karena utang yang belum terbayar atau bahkan pembubaran perusahaan.

2. Pertumbuhan yang melambat

Perusahaan yang sudah memasuki tahap matang atau stabil biasanya memiliki WACC yang rendah, karena tingkat risiko bisnis yang lebih rendah dan stabilitas yang lebih baik. Namun, WACC rendah ini juga bisa menjadi tanda bahwa perusahaan sudah tidak lagi memiliki peluang ekspansi yang agresif atau potensi pertumbuhan yang signifikan. Bagi investor yang mencari perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi, WACC rendah bisa mengindikasikan stagnasi atau kurangnya inovasi, yang dapat mengurangi daya tarik perusahaan dalam jangka panjang.

Selain itu, WACC perlu dianalisis secara industri. Misalnya, industri utilitas cenderung memiliki WACC yang rendah karena pendapatan yang stabil dan risiko yang lebih kecil. Namun, untuk industri yang lebih dinamis seperti teknologi, WACC yang terlalu rendah bisa menjadi indikator kurangnya inovasi atau kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pasar. 

WACC memang merupakan salah satu tools dalam mengevaluasi efisiensi dan kesehatan finansial perusahaan. Namun, investor tidak boleh terjebak pada angka nominal yang rendah tanpa memahami konteksnya. WACC rendah bisa berarti efisiensi, tapi juga bisa menyembunyikan risiko besar, terutama jika disebabkan oleh utang yang terlampau besar.

Investor perlu membandingkan WACC dengan Return on Invested Capital (ROIC) untuk menilai apakah perusahaan benar-benar menciptakan nilai. ROIC adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan modal yang diinvestasikan untuk menghasilkan laba. ROIC dihitung dengan membagi laba bersih setelah pajak dengan total modal yang diinvestasikan dalam bisnis, yang meliputi ekuitas dan utang. 

Semakin tinggi ROIC dibandingkan dengan WACC, semakin efektif perusahaan dalam menghasilkan nilai yang lebih besar daripada biaya modalnya. ROIC yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan laba yang lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan untuk pendanaan (baik utang maupun ekuitas). Dengan kata lain, perusahaan tidak hanya menutupi biaya modalnya, tetapi juga menghasilkan keuntungan yang signifikan.

Bila Anda tidak memiliki pengalaman atau waktu yang cukup untuk menganalisis WACC suatu saham secara mendalam, berinvestasi di reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang lebih efektif. Manajer investasi (MI) pada reksa dana saham akan melakukan analisis fundamental dan mengukur WACC emiten yang ada dalam portofolio.

Di Makmur, terdapat berbagai pilihan reksa dana saham yang dapat Anda pilih sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi Anda. Salah satunya adalah Bahana Icon Syariah Kelas G, yang telah menunjukkan performa mengesankan. Berdasarkan data per 3 Juni 2026, reksa dana ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 35,96% dalam 3 tahun terakhir.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan InfoVesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Bonanza dan Road to Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Target Pertumbuhan Ekonomi 6% dalam APBN 2027, Ini Instrumen Investasi yang Perlu Dicermati

Key Takeaways: Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah DPR mengesahkan APBN 2027 pada 29 September 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi 6%. Target tersebut berada dalam kisaran 5,8% hingga 6,5% yang sebelumnya diusulkan pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Sebagai […]

author
Content Management
calendar
21 Oktober 2026
Artikel

Penerbitan SBN dan Beban Bunga Utang Meningkat, Kapan Crowding Out Menjadi Risiko Nyata bagi Yield dan Ekuitas?

Key Takeaways: Kebutuhan pembiayaan pemerintah merupakan salah satu faktor yang menentukan arah imbal hasil di pasar obligasi domestik. Semakin besar utang yang harus diterbitkan, semakin ketat persaingan memperebutkan dana yang tersedia di pasar. APBN 2027 yang disahkan DPR pada September 2026 menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp833,7 triliun. Angka tersebut naik 4,28% […]

author
Content Management
calendar
20 Oktober 2026
Artikel

BEI Pangkas Batas ARB Jadi 7% Usai IHSG Anjlok 11,57%, Apa Dampaknya bagi Investor?

Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas menjadi 7% secara asimetris melalui Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A. ARB merupakan batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Ketentuan yang mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berlaku di Pasar Reguler dan […]

author
Content Management
calendar
19 Oktober 2026
Artikel

INDF vs ICBP: Mana Saham Anthoni Salim yang Lebih Menarik?

Key Takeaways: Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah […]

author
Content Management
calendar
15 Oktober 2026
Artikel

Sektor Kesehatan Paling Banyak di Pipeline IPO 2026, Apa yang Perlu Dinilai Investor Sebelum Masuk Saham Perdana?

Harga saham perdana ditetapkan sebelum saham diperdagangkan di pasar, sehingga penilaian investor terutama bertumpu pada informasi dalam prospektus. Ketelitian membaca dokumen tersebut menjadi pembeda utama dalam menilai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Pada 2026, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak muncul dalam proses IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per […]

author
Content Management
calendar
13 Oktober 2026
Artikel

Yield Lelang SRBI Turun ke Kisaran 6,5%, Apa Artinya bagi Likuiditas Pasar dan Imbal Hasil Instrumen Domestik?

Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]

author
Content Management
calendar
12 Oktober 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0