makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Ke Mana Dana Asing Mengalir? Membaca Sinyal Pasar Lewat Makro Flow of Funds Analysis

author
Content Management
author
09 September 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Dana asing tidak sepenuhnya keluar dari pasar keuangan Indonesia, tetapi data menunjukkan pergeseran alokasi dari saham dan tenor SBN yang lebih panjang ke instrumen dengan durasi lebih pendek. 
  • BBCA, BBRI, dan BMRI mencatat net foreign sell sekitar Rp58,80 triliun sepanjang Januari hingga Juli 2026, sementara kepemilikan asing di SBN relatif bertahan.
  • Kepemilikan asing di SRBI meningkat dari Rp121,90 triliun menjadi Rp287,06 triliun, menunjukkan meningkatnya alokasi ke instrumen jangka pendek.

Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika yang cukup kompleks. Tekanan jual terjadi cukup dalam pada pasar saham, tetapi pada saat yang sama terdapat penambahan posisi yang besar pada instrumen jangka pendek.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk membaca arah pergerakan dana di pasar adalah flow of funds analysis, yaitu analisis terhadap aliran dana antar-aset atau instrumen keuangan. Dalam konteks artikel ini, pendekatan tersebut digunakan untuk melihat bagaimana dana asing dialokasikan di antara saham, SBN, dan instrumen moneter seperti SRBI.

Aliran Dana Asing pada Beberapa Instrumen

Pergerakan dana asing tidak terjadi secara acak. Investor institusi global mempertimbangkan risiko, potensi imbal hasil, kondisi suku bunga, serta prospek ekonomi sebelum mengalokasikan modalnya. 

Oleh karena itu, membaca arus dana pada beberapa instrumen sekaligus dapat membantu memahami arah preferensi risiko secara lebih akurat dibandingkan mengamati satu instrumen saja.

1. Pasar saham

Ketika dana asing mengalir masuk ke pasar saham, kondisi tersebut umumnya menjadi sinyal bahwa investor global sedang berada dalam mode risk-on, yaitu lebih berani mengambil risiko. Sebaliknya, arus keluar yang besar mencerminkan penurunan selera risiko.

Karena saham merupakan instrumen yang likuid, perubahan aliran dana asing pada saham berkapitalisasi besar (big cap) sering kali menjadi indikator awal perubahan preferensi investor global terhadap Indonesia sebelum dampaknya terlihat pada instrumen lain.

Berikut data net foreign buy dan net foreign sell pada tiga emiten berkapitalisasi besar sepanjang 1 Januari hingga 31 Juli 2026.

Tabel 1. Net Foreign Buy dan Net Foreign Sell pada Tiga Emiten Big Cap (1 Januari sampai 31 Juli 2026)

Sumber: Makmur App

Ketiga emiten tersebut (BBCA, BBRI, dan BMRI) memiliki bobot yang besar terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan bobot ketiga emiten tersebut yang besar terhadap IHSG, net foreign sell sebesar Rp58,80 triliun turut memberikan tekanan terhadap pergerakan indeks. Pada periode yang sama, IHSG ditutup di level 6.236,13 pada 31 Juli 2026 atau melemah 27,88% secara year to date (YTD).

Tekanan jual dan pelemahan harga saham dapat turut mendorong kompresi valuasi, dengan rasio Price to Earnings (P/E) dan Price to Book Value (P/B) berpotensi bergerak mendekati atau di bawah rata-rata historisnya. Bagi investor, kondisi ini perlu dibaca dua arah. Valuasi yang lebih rendah dapat membuka peluang, tetapi juga dapat mencerminkan ekspektasi pasar terhadap laba yang lebih rendah pada periode berikutnya.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah tekanan jual asing tidak berlangsung merata sepanjang periode. Otoritas Jasa Keuangan mencatat IHSG ditutup di level 5.643,19 pada akhir kuartal II 2026 atau terkoreksi 19,93% secara quarter to quarter, kemudian menguat 10,51% sepanjang Juli 2026.

 Pada bulan yang sama, investor asing di pasar saham secara keseluruhan justru membukukan net buy sebesar Rp1,62 triliun. Angka kumulatif pada Tabel 1 karena itu mencerminkan akumulasi tekanan sepanjang tujuh bulan, bukan kondisi yang berlangsung terus-menerus hingga akhir periode.

2. Pasar surat berharga

Selain saham, pasar surat berharga juga menjadi instrumen yang menerima aliran dana asing. Di Indonesia, terdapat dua instrumen yang penting untuk diamati, yaitu Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Kepemilikan asing di SBN

SBN merupakan surat berharga yang diterbitkan oleh pemerintah yang digunakan investor global untuk memperoleh imbal hasil dengan risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan saham. Dalam data resmi, kepemilikan investor asing dicatat pada kategori nonresiden.

Tabel 2. Kepemilikan Nonresiden pada SBN Berdasarkan Tenor, Januari sampai Juli 2026 (Rp Miliar)

Sumber: Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.

Secara total, kepemilikan nonresiden di SBN justru naik tipis dari Rp878,75 triliun pada Januari menjadi Rp892,44 triliun pada Juli 2026, atau bertambah 1,56%. Titik terendahnya terjadi pada Maret 2026 di Rp853,56 triliun, lalu berangsur pulih pada kuartal berikutnya.

Pola ini berbeda dari pasar saham. Meskipun investor asing melakukan penjualan besar pada saham, posisi mereka di pasar surat utang pemerintah tidak mengalami penarikan yang setara. Yang berubah bukan besaran totalnya, melainkan komposisinya.

Jika dicermati berdasarkan tenor, penurunan terbesar terjadi pada kelompok jangka panjang:

  • Tenor di atas 5 sampai 10 tahun: turun dari Rp376,04 triliun menjadi Rp336,96 triliun, atau berkurang 10,4%.
  • Tenor di atas 10 tahun: turun dari Rp160,62 triliun menjadi Rp132,03 triliun, atau berkurang 17,8%.

Sebagai gantinya, kelompok tenor menengah bertambah cukup besar. Kepemilikan pada tenor di atas 2 sampai 5 tahun naik dari Rp249,76 triliun menjadi Rp330,52 triliun atau tumbuh 32,3%. Akibatnya, pangsa tenor di atas 5 tahun terhadap total kepemilikan nonresiden turun dari 61,07% pada Januari menjadi 52,55% pada Juli 2026, sementara pangsa tenor di atas 2 sampai 5 tahun naik dari 28,42% menjadi 37,04%.

Perlu digarisbawahi bahwa perpindahan tersebut tidak menuju tenor yang sangat pendek. Pangsa kelompok 0 sampai 2 tahun justru relatif tidak berubah, yaitu 10,51% pada Januari dan 10,41% pada Juli. 

Lonjakan pada tenor 0 sampai 1 tahun memang sempat terjadi pada Mei 2026 hingga Rp71,04 triliun, tetapi posisinya kembali menurun menjadi Rp60,67 triliun pada Juli. Dengan kata lain, yang terjadi adalah pemendekan durasi dari ujung kurva yang panjang ke bagian tengah kurva, bukan perpindahan menyeluruh ke instrumen jangka sangat pendek.

Obligasi bertenor panjang memang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga sehingga harganya lebih rentan berfluktuasi. Mengurangi porsi tenor panjang merupakan cara untuk menurunkan risiko durasi tanpa harus meninggalkan kelas asetnya. 

Pada periode tersebut, kondisi makroekonomi juga cukup relevan, karena Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 21 hingga 22 Juli 2026 sementara nilai tukar rupiah masih berada di bawah tekanan.

Menariknya, arah tersebut mulai berbalik pada akhir periode. Antara Mei dan Juli 2026, kepemilikan pada tenor di atas 5 sampai 10 tahun bertambah Rp18,18 triliun dan tenor di atas 10 tahun bertambah Rp5,82 triliun. Perkembangan ini bertepatan dengan pemulihan IHSG pada Juli, meskipun perubahan dalam beberapa bulan belum cukup untuk memastikan apakah pola tersebut akan berlanjut.

Aliran dana di SRBI

Instrumen kedua yang perlu diperhatikan adalah SRBI, yaitu instrumen moneter jangka pendek yang diterbitkan Bank Indonesia.

Tabel 3. Kepemilikan SRBI oleh Investor Nonresiden, Januari sampai Juli 2026 (Rp Triliun)

BulanKepemilikan NonresidenTotal SRBI BeredarPangsa Nonresiden
Januari 2026121,90754,7616,15%
Februari 2026150,79837,2218,01%
Maret 2026143,91831,2117,31%
April 2026192,17957,9120,06%
Mei 2026216,48979,8822,09%
Juni 2026293,161.072,6227,33%
Juli 2026287,061.059,3027,10%

Sumber: Bank Indonesia, data kepemilikan SRBI. Kolom pangsa merupakan hasil perhitungan.

Di sinilah pergeseran alokasi terlihat paling jelas. Kepemilikan nonresiden di SRBI meningkat dari Rp121,90 triliun pada Januari 2026 menjadi Rp287,06 triliun pada Juli 2026, atau naik Rp165,16 triliun setara 135,5%. Pangsanya terhadap total SRBI beredar juga naik dari 16,15% menjadi 27,10%.

Kenaikan ini tidak hanya berasal dari bertambahnya jumlah SRBI yang diterbitkan. Total SRBI beredar memang tumbuh dari Rp754,76 triliun menjadi Rp1.059,30 triliun pada periode yang sama, tetapi kenaikan pangsa nonresiden menunjukkan bahwa porsi asing bertambah lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasokannya.

Beberapa karakteristik SRBI dapat menjelaskan daya tariknya. Tenornya pendek, umumnya antara 6 hingga 12 bulan, sehingga risiko perubahan harga akibat pergerakan suku bunga (duration risk) jauh lebih rendah dibandingkan obligasi bertenor panjang. Instrumen ini juga diterbitkan Bank Indonesia sehingga memiliki risiko kredit yang relatif rendah, sementara imbal hasilnya pada beberapa lelang berada pada level yang bersaing dengan SBN tenor menengah.

Meski begitu, tren tersebut tidak berjalan lurus. Pada Juli 2026, kepemilikan nonresiden justru turun Rp6,10 triliun atau 2,08% dibandingkan Juni 2026. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan menguatnya IHSG dan masuknya net buy asing di pasar saham pada bulan yang sama. Pola tersebut dapat menjadi indikasi awal bahwa sebagian dana mulai bergerak kembali ke aset berisiko, tetapi satu bulan data belum cukup untuk memastikannya.

Secara keseluruhan, gambaran dari ketiga instrumen menunjukkan bahwa dana asing tidak sepenuhnya meninggalkan pasar keuangan Indonesia. Data tersebut mengindikasikan adanya pergeseran alokasi, yaitu tekanan jual pada saham, posisi yang relatif bertahan di SBN, dan peningkatan kepemilikan pada instrumen jangka pendek. Pola ini konsisten dengan preferensi terhadap likuiditas tinggi dan risiko durasi yang lebih rendah, bukan dengan penarikan dana secara menyeluruh.

Bagi investor domestik, dinamika ini memberikan pelajaran mengenai pengelolaan portofolio. Ketika ketidakpastian meningkat, langkah yang umum dilakukan investor institusi bukan keluar dari pasar, melainkan melakukan rebalancing portofolio ke instrumen dengan risiko dan durasi yang lebih rendah. Strategi ini menjaga likuiditas sekaligus mengelola risiko tanpa menghentikan aktivitas investasi secara keseluruhan.

Perlu digarisbawahi bahwa aliran dana asing merupakan indikator preferensi risiko, bukan penilaian atas nilai wajar suatu aset. Investor asing dapat menjual karena alasan yang tidak berkaitan dengan fundamental emiten, misalnya penyesuaian alokasi regional, kebutuhan likuiditas, atau perubahan asumsi nilai tukar. Karena itu, arus dana sebaiknya diperlakukan sebagai konteks tambahan, bukan sebagai dasar tunggal dalam mengambil keputusan investasi.

Dalam kondisi seperti ini, reksa dana pasar uang menjadi salah satu instrumen yang kerap dipilih investor untuk menjaga likuiditas sekaligus mengelola risiko portofolio. Instrumen ini umumnya mengalokasikan dana kelolaan pada deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga memiliki tingkat volatilitas yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen berisiko tinggi seperti saham.

Melalui Makmur, investor dapat mengakses berbagai pilihan investasi dalam satu platform wealth-tech, mulai dari saham hingga reksa dana. Dalam kategori reksa dana pasar uang, Insight Retail Cash Fund dapat menjadi salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Produk ini berfokus pada likuiditas dan stabilitas di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi, dengan kinerja positif sebesar 5,17% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 8 September 2026.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan. 

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Belanja Pemerintah dan Investasi: Seberapa Besar Keterkaitannya?

Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]

author
Content Management
calendar
10 September 2026
Artikel

Portofolio Terus Mengalami Penurunan? Ini Strategi Psikologis Menghadapi Penurunan Portofolio

Key Takeaways:  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang paruh pertama 2026. Dari all-time high penutupan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks turun hingga menyentuh 5.342,14 pada 8 Juni 2026, posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Hingga penutupan Semester I pada 30 Juni 2026, IHSG berada di level 5.643,19 atau terkoreksi […]

author
Content Management
calendar
08 September 2026
Artikel

Memahami Peran Ultimate Shareholder Dalam Perusahaan, Apakah Menentukan Arah Kebijakan Dan Keputusan Bisnis Jangka Panjang?

Key Takeaways: Dalam struktur kepemilikan perusahaan, ultimate shareholder merupakan individu atau entitas yang menjadi pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dan memiliki atau mengendalikan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui struktur kepemilikan berlapis. Peran ini penting untuk memahami struktur pengendalian dan arah kebijakan perusahaan, karena keputusan strategis seperti ekspansi, restrukturisasi, dan aksi korporasi […]

author
Content Management
calendar
03 September 2026
Artikel

Bagaimana Menilai Saham Syariah Paling Likuid dan Pengaruhnya terhadap Likuiditas Pasar Saham

Key Takeaways: Bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai prinsip syariah, tingkat likuiditas saham menjadi aspek yang tidak kalah penting dibandingkan analisis fundamental perusahaan. Likuiditas menggambarkan seberapa mudah suatu saham diperjualbelikan di pasar tanpa memicu perubahan harga yang signifikan. Semakin likuid suatu saham, semakin mudah investor bertransaksi pada harga yang mendekati nilai wajarnya. Dalam pasar modal […]

author
Content Management
calendar
02 September 2026
Artikel

Tekanan Inflasi Masih Membayangi Kebijakan The Fed, Ini Risiko dan Strategi yang Dapat Dipertimbangkan Investor Jelang FOMC September

Key Takeaways: Simposium Jackson Hole pada 28 Agustus 2026 menjadi titik balik perdebatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam pidatonya, Warsh menyatakan sasaran 2% berbasis PCE adalah target yang tegas dan tetap, serta mengingatkan bahwa inflasi tidak selalu kembali ke rata-rata dengan sendirinya. Sebagai gambaran, PCE atau Personal Consumption Expenditures (Pengeluaran Konsumsi Pribadi) sendiri merupakan ukuran […]

author
Content Management
calendar
01 September 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0