Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%.
Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulanan yang umumnya dilaksanakan pada pertengahan bulan. Langkah ini menunjukkan adanya urgensi untuk merespons perkembangan ekonomi dan keuangan yang terjadi dalam waktu singkat.
Mata uang rupiah menunjukkan penguatan pada hari pengumuman tersebut. Pada penutupan perdagangan (9/6), rupiah tercatat menguat sebesar 0.66% ke level Rp18.055 per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai faktor yang melatarbelakangi keputusan BI kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu berdekatan. Lalu, apa saja pertimbangan yang mendasari kebijakan tersebut? Mari kita bahas secara detail.
Kenaikan suku bunga acuan bukanlah keputusan yang diambil tanpa alasan. Berdasarkan keterangan resmi Bank Indonesia, kebijakan ini merupakan langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan eksternal, di antaranya:
Salah satu pertimbangan kenaikan suku bunga acuan pada Juni 2026 adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang mengalami tekanan cukup besar dalam beberapa waktu terakhir. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS berlangsung lebih cepat dibandingkan proyeksi awal akibat meningkatnya ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik di Timur Tengah. Mata uang rupiah melemah ke level Rp18.175 pada 8 Juni 2026.
Sebagai informasi, asumsi nilai tukar rupiah dalam kerangka ekonomi makro tahun 2026 berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Berikut data pergerakan rupiah dalam satu bulan terakhir:
Tabel 1. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam 1 bulan terakhir

Sumber: Investing.com
Berdasarkan data tersebut, rupiah mengalami pelemahan sekitar 4,66% dalam waktu satu bulan dari 8 Mei-8 Juni 2026. Bahkan, nilai tukar rupiah sempat menyentuh intraday low di Rp18.197,5 sebelum ditutup menguat di Rp18.05.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko inflasi, terutama pada barang dan bahan baku yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Oleh karena itu, kenaikan suku bunga dipandang sebagai salah satu cara untuk menjaga daya tarik instrumen investasi di Indonesia, yang pada akhirnya dapat berkontribusi meredam pelemahan nilai tukar rupiah.
Selain menjaga stabilitas rupiah, BI juga mempertimbangkan faktor inflasi dalam pengambilan keputusan. Kebijakan ini bersifat antisipatif agar realisasi inflasi tahun 2026 dan 2027 tetap berada dalam kisaran target pemerintah, yaitu 2,5% ± 1%. Berikut data inflasi Indonesia sepanjang tahun 2026.
Tabel 2. Data inflasi Indonesia tahun 2026

Sumber: Bank Indonesia
Data tersebut menunjukkan bahwa inflasi pada Maret hingga Mei 2026 masih berada dalam kisaran target pemerintah. Namun, inflasi yang sempat mencapai 4,76% pada Februari 2026 menjadi pengingat bahwa tekanan harga dapat muncul sewaktu-waktu.
Apalagi, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga barang impor yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan inflasi di Indonesia. Jadi, keputusan menaikkan suku bunga acuan juga dipandang sebagai salah satu langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga ke depan.
Pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah menjaga daya tarik pasar keuangan Indonesia. Secara teori, kenaikan suku bunga acuan akan diikuti oleh peningkatan imbal hasil berbagai instrumen investasi berbasis rupiah.
Dengan demikian, instrumen investasi di Indonesia menjadi kompetitif di mata investor asing, sehingga arus modal keluar atau capital outflow dapat diminimalisir. Namun, data pasar menunjukkan fenomena yang menarik.
Tabel 3. Data capital outflow dan performa IHSG sebelum dan setelah kenaikan suku bunga acuan

Sumber: Bursa Efek Indonesia
Net sell atau dana investor asing yang keluar dari Indonesia justru meningkat dari Rp447,05 miliar menjadi Rp2,45 triliun pada (9/6), bertepatan dengan pengumuman kenaikan suku bunga acuan. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan investor asing tidak semata dipengaruhi oleh suku bunga acuan. Secara year-to-date (YTD) hingga Juni 2026, total akumulasi capital outflow di pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp64,2 triliun.
Faktor lain, seperti kondisi ekonomi global, pergerakan dolar AS, hingga strategi penyesuaian portofolio, juga memiliki pengaruh yang signifikan. Meski demikian, peningkatan arus modal keluar tersebut tidak serta-merta menekan pasar saham Indonesia.
Di tengah meningkatnya aksi jual investor asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mencatat penguatan sebesar 7,57% pada (9/6) setelah sebelumnya terkoreksi 4,52%. Pergerakan tersebut mengindikasikan bahwa terdapat sentimen positif yang mampu menopang kepercayaan pelaku pasar.
Salah satu faktor yang dinilai berkontribusi adalah adanya rapat koordinasi di Gedung DPR RI pada Selasa, (9/6), yang membahas rencana pembelian kembali atau buyback saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengalami tekanan akibat gejolak pasar global.
Pertemuan tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad dan dihadiri oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi. Selain itu, sejumlah institusi pengelola dana negara turut dilibatkan, seperti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), PT Taspen, BPJS Ketenagakerjaan, dan Indonesia Investment Authority.
Rapat tersebut diselenggarakan sebagai respons atas pelemahan IHSG serta koreksi yang terjadi pada saham perbankan milik negara di tengah tekanan eksternal dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Rencana pembelian kembali saham BUMN merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar modal serta memperkuat kepercayaan investor terhadap fundamental perusahaan strategis nasional.
Kenaikan suku bunga acuan dan sinyal dukungan dari pemerintah menjadi sentimen positif bagi pasar modal Indonesia. Di satu sisi, BI menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Di sisi lain, pemerintah berupaya menjaga kepercayaan pasar melalui keterlibatan berbagai institusi pengelola dana negara. Hasilnya, meskipun capital outflow cukup besar pada (9/6), pasar saham mampu bangkit dengan mencatatkan penguatan signifikan pada hari yang sama.
Bagi investor, memahami arah kebijakan BI dan upaya pemerintah dapat membantu dalam mengambil keputusan ekonomi dan investasi dengan lebih bijak. Kenaikan suku bunga acuan berpotensi mendorong peningkatan imbal hasil instrumen pasar uang, termasuk deposito secara bertahap.
Dalam kondisi tersebut, instrumen investasi seperti reksa dana pasar uang yang memiliki eksposur pada deposito dan surat utang jangka pendek dapat menjadi salah satu alternatif yang bisa Anda pertimbangkan.
Anda bisa membeli reksa dana pasar uang melalui Makmur, perusahaan wealth-tech yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana, serta telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada beragam reksa dana pasar uang yang bisa Anda pertimbangkan di Makmur, salah satunya Insight Retail Cash Fund. Berdasarkan data per 11 Juni 2026, reksa dana tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,66% dalam 1 tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Bonanza dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali menjadi perhatian setelah DPR mengesahkan APBN 2027 pada 29 September 2026 dengan target pertumbuhan ekonomi 6%. Target tersebut berada dalam kisaran 5,8% hingga 6,5% yang sebelumnya diusulkan pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 dan disampaikan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Mei 2026. Sebagai […]
Key Takeaways: Kebutuhan pembiayaan pemerintah merupakan salah satu faktor yang menentukan arah imbal hasil di pasar obligasi domestik. Semakin besar utang yang harus diterbitkan, semakin ketat persaingan memperebutkan dana yang tersedia di pasar. APBN 2027 yang disahkan DPR pada September 2026 menargetkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) neto sebesar Rp833,7 triliun. Angka tersebut naik 4,28% […]
Key Takeaways: Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) untuk efek bersifat ekuitas menjadi 7% secara asimetris melalui Surat Keputusan Direksi Nomor Kep-00157/BEI/10-2026 tentang Peraturan Nomor II-A. ARB merupakan batas maksimal penurunan harga saham dalam satu hari perdagangan. Ketentuan yang mendapat dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ini berlaku di Pasar Reguler dan […]
Key Takeaways: Melalui Grup Salim, Anthoni Salim mengendalikan sejumlah perusahaan di sektor konsumer dan agribisnis. Dua di antaranya yang dikenal luas oleh investor di pasar modal Indonesia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Kedua perusahaan tersebut dikenal lewat produk populer seperti Indomie, mi instan yang telah […]
Harga saham perdana ditetapkan sebelum saham diperdagangkan di pasar, sehingga penilaian investor terutama bertumpu pada informasi dalam prospektus. Ketelitian membaca dokumen tersebut menjadi pembeda utama dalam menilai penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Pada 2026, sektor kesehatan menjadi sektor yang paling banyak muncul dalam proses IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per […]
Key Takeaways: Imbal hasil instrumen jangka pendek menjadi salah satu acuan penting bagi investor yang menempatkan dana pada deposito, surat utang bertenor pendek, maupun reksa dana pasar uang. Salah satu acuannya adalah hasil lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Pada lelang 9 Oktober 2026, rata-rata tertimbang yield SRBI tenor 12 bulan yang dimenangkan tercatat […]