Key Takeaways:
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang paruh pertama 2026. Dari all-time high penutupan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks turun hingga menyentuh 5.342,14 pada 8 Juni 2026, posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Hingga penutupan Semester I pada 30 Juni 2026, IHSG berada di level 5.643,19 atau terkoreksi sekitar 34,7% secara year-to-date (YTD).
Salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap pasar saham adalah capital outflow yang cukup besar. Hingga 7 September 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai jual bersih investor asing mencapai Rp68,73 triliun secara YTD di pasar saham Indonesia. Kondisi ini menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan internasional.
Pada saat yang bersamaan, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Dari level Rp16.683 per dolar AS pada 2 Januari 2026, rupiah melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS pada Juni 2026 dan ditutup di Rp18.022 per dolar AS pada 31 Juli 2026. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari penyesuaian bobot saham Indonesia dalam indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, hingga ketidakpastian terkait implementasi sejumlah kebijakan domestik.
Meskipun demikian, kondisi pasar tidak berhenti di titik terendah. Memasuki September 2026, IHSG bergerak pulih ke level 6.619,67 pada 7 September 2026, atau menguat sekitar 23,91% dari posisi terendahnya pada 8 Juni. Rupiah juga menguat kembali ke kisaran Rp17.635 per dolar AS pada 7 September 2026. Dinamika inilah yang membuat pengelolaan emosi menjadi bagian penting dari proses investasi.
Penurunan portofolio dapat memicu rasa takut, panik, atau keinginan untuk segera mengurangi kerugian. Oleh karena itu, kemampuan mengelola emosi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menganalisis pasar.
Berikut beberapa strategi psikologis yang dapat membantu investor mengambil keputusan secara lebih rasional.
1. Evaluasi kembali tujuan investasi dan fundamental aset
Langkah pertama yang dapat dilakukan ketika portofolio mengalami penurunan adalah mengevaluasi kembali tujuan investasi yang telah ditetapkan sejak awal. Investor perlu memahami apakah instrumen yang dimiliki memang ditujukan untuk kebutuhan jangka pendek atau untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang.
Sebagai ilustrasi, seorang investor membeli saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 20 Januari 2026 dengan tujuan memperoleh potensi dividen sekaligus berpartisipasi dalam pertumbuhan bisnis emiten dalam jangka panjang. Dengan modal Rp50 juta dan harga pembelian Rp9.100 per saham, investor tersebut dapat membeli 54 lot saham BBCA di dalam portofolionya.
Beberapa bulan kemudian, ketika kondisi pasar memburuk dan IHSG mengalami koreksi, harga saham BBCA ikut turun menjadi Rp5.825 per saham pada 2 Juni 2026 sehingga nilai portofolionya terkoreksi sekitar 35,99%. Namun, sebelum mengambil keputusan untuk cut loss, investor perlu mengevaluasi apakah koreksi harga tersebut juga diikuti oleh penurunan kualitas fundamental emiten.
Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2026, BBCA membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp29,5 triliun atau tumbuh sekitar 1,8% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Penyaluran kredit tumbuh 8% yoy menjadi Rp1.036 triliun, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada di level 1,9% dengan loan at risk (LAR) 4,9%.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun harga saham mengalami koreksi tajam, profitabilitas emiten masih relatif terjaga. Meskipun demikian, kinerja tersebut bukan tanpa tantangan. Pendapatan bunga bersih BBCA tercatat turun 0,6% yoy menjadi Rp42,4 triliun akibat tekanan margin, sehingga pertumbuhan laba lebih banyak ditopang pendapatan nonbunga yang naik 11% yoy.
2. Tentukan langkah lanjutan berdasarkan hasil evaluasi
Setelah melakukan evaluasi terhadap tujuan investasi dan fundamental emiten, investor dapat menentukan langkah yang paling sesuai. Apabila kualitas fundamental emiten masih terjaga, koreksi harga dapat menjadi peluang untuk melakukan akumulasi secara bertahap.
Dalam kondisi seperti ini, investor dapat menyusun rencana pembelian bertahap sesuai dengan tingkat koreksi harga yang terjadi. Sebagai contoh, investor dapat mengalokasikan tambahan dana dalam porsi kecil dan menambahnya secara terukur jika harga terus turun.
Fase koreksi pada awal Juni 2026 dapat menjadi gambaran bagaimana rencana tersebut dijalankan.
Tabel 1. Penurunan Harga Saham BBCA pada Awal Juni 2026

Sumber: IDX, harga penutupan harian
Strategi tersebut memungkinkan investor menurunkan harga rata-rata pembelian atau average cost secara bertahap. Perlu dipahami bahwa akumulasi bertahap juga memperbesar eksposur pada satu emiten, sehingga langkah ini sebaiknya hanya dilakukan setelah fundamental benar-benar dievaluasi dan disesuaikan dengan kemampuan menanggung risiko.
Setelah fase koreksi berakhir, harga bergerak memasuki periode konsolidasi. Pada awal September 2026, saham BBCA bergerak dalam rentang yang jauh lebih stabil dibandingkan Juni.
Tabel 2. Pergerakan Harga Saham BBCA pada Awal September 2026

Sumber: IDX, harga penutupan harian
Perbandingan kedua tabel memperlihatkan pola yang sering terjadi di pasar. Setelah menyentuh Rp4.850 pada 8 Juni 2026, harga saham BBCA menguat sekitar 36,6% dari titik terendahnya. Meskipun demikian, posisi tersebut masih berada di bawah harga pembelian awal, sehingga proses pemulihan portofolio belum sepenuhnya selesai.
Gambaran ini menunjukkan bahwa keputusan yang diambil ketika pasar berada dalam tekanan dapat memengaruhi hasil investasi. Investor yang menjual karena kepanikan berpotensi merealisasikan kerugian tanpa terlebih dahulu mengevaluasi kondisi aset. Sebaliknya, evaluasi fundamental dan kesesuaian aset dengan tujuan investasi dapat membantu investor mengambil keputusan secara lebih rasional.
3. Perkuat manajemen risiko
Selain menentukan langkah investasi yang tepat, investor juga perlu memastikan bahwa portofolionya telah disusun sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan yang dimiliki. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui diversifikasi, yaitu menyebarkan investasi ke beberapa sektor maupun instrumen yang berbeda.
Misalnya, investor yang hanya memiliki saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di dalam portofolionya akan sangat bergantung pada kinerja sektor perbankan. Apabila pemulihan sektor perbankan berlangsung lebih lambat dibandingkan sektor lainnya, pertumbuhan nilai portofolio juga berpotensi berjalan lebih lambat.
Diversifikasi dapat membantu mengurangi ketergantungan portofolio pada satu sektor. Misalnya, investor yang hanya memiliki saham BBCA akan sangat bergantung pada kinerja sektor perbankan. Untuk mengurangi konsentrasi tersebut, investor dapat mempertimbangkan eksposur ke sektor lain dengan karakteristik yang berbeda, seperti sektor konsumsi primer.
Salah satu emiten di sektor tersebut adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Berdasarkan laporan keuangan Semester I 2026, ICBP membukukan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp41,86 triliun atau tumbuh 11% yoy. Laba usaha juga meningkat 8% menjadi Rp9,15 triliun, dengan margin laba usaha yang tetap terjaga di kisaran 21,9%.
Namun, laba bersih ICBP justru turun 33% yoy menjadi Rp3,70 triliun. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya rugi selisih kurs yang belum terealisasi dari kegiatan pembiayaan seiring pelemahan rupiah. Di sisi lain, core profit yang lebih mencerminkan kinerja operasional masih tumbuh 1% menjadi Rp5,40 triliun.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya melihat kinerja emiten secara lebih menyeluruh, tidak hanya melalui perubahan laba bersih. Bagi investor, pemisahan antara kinerja operasional dan dampak faktor non-operasional seperti selisih kurs dapat membantu memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai fundamental perusahaan dan prospeknya dalam jangka panjang.
Melalui diversifikasi yang tepat dan evaluasi portofolio secara berkala, investor dapat menghadapi volatilitas pasar dengan lebih terukur sekaligus menjaga portofolio tetap selaras dengan tujuan investasi jangka panjang.
Bagi investor yang ingin memperluas pilihan investasi, Makmur sebagai platform wealth-tech menyediakan akses ke berbagai reksa dana dan saham yang dapat disesuaikan dengan profil risiko serta strategi masing-masing. Salah satu pilihan untuk mendapatkan eksposur ke berbagai saham melalui reksa dana, Sucorinvest Maxi Fund mencatatkan kinerja 43,79% dalam satu tahun terakhir per 7 September 2026, dengan alokasi saham di atas 97,44% dan tingkat risiko tinggi.
Sementara itu, investor yang ingin berinvestasi langsung pada emiten blue chip dapat mempertimbangkan saham BBCA, yang pada tanggal yang sama ditutup di Rp6.625 per saham, dengan ROE 21,5% dan dividend yield sekitar 4,9%. Kedua instrumen memiliki karakteristik risiko berbeda, sehingga pemilihannya perlu disesuaikan dengan profil risiko dan jangka waktu investasi masing-masing.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]
Key Takeaways: Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika […]
Key Takeaways: Dalam struktur kepemilikan perusahaan, ultimate shareholder merupakan individu atau entitas yang menjadi pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dan memiliki atau mengendalikan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui struktur kepemilikan berlapis. Peran ini penting untuk memahami struktur pengendalian dan arah kebijakan perusahaan, karena keputusan strategis seperti ekspansi, restrukturisasi, dan aksi korporasi […]
Key Takeaways: Bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai prinsip syariah, tingkat likuiditas saham menjadi aspek yang tidak kalah penting dibandingkan analisis fundamental perusahaan. Likuiditas menggambarkan seberapa mudah suatu saham diperjualbelikan di pasar tanpa memicu perubahan harga yang signifikan. Semakin likuid suatu saham, semakin mudah investor bertransaksi pada harga yang mendekati nilai wajarnya. Dalam pasar modal […]
Key Takeaways: Simposium Jackson Hole pada 28 Agustus 2026 menjadi titik balik perdebatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam pidatonya, Warsh menyatakan sasaran 2% berbasis PCE adalah target yang tegas dan tetap, serta mengingatkan bahwa inflasi tidak selalu kembali ke rata-rata dengan sendirinya. Sebagai gambaran, PCE atau Personal Consumption Expenditures (Pengeluaran Konsumsi Pribadi) sendiri merupakan ukuran […]