






Industri bank digital terus berkembang di Indonesia, hadir sebagai pilihan bagi investor yang tertarik untuk memanfaatkan potensi keuntungan di sektor perbankan. Secara fungsi dan regulasi, baik bank digital maupun konvensional wajib terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keduanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dana masyarakat, seperti tabungan dan deposito, kemudian menyalurkannya kembali dalam bentuk pinjaman atau kredit.
Namun, bank digital dirancang untuk beroperasi sepenuhnya atau utamanya melalui saluran digital tanpa ketergantungan pada kantor cabang fisik, sedangkan bank konvensional masih memiliki jaringan kantor fisik. Hal tersebut membuat bank digital memiliki biaya operasional yang lebih efisien karena tidak bergantung pada jaringan kantor cabang fisik, sehingga mampu memberikan suku bunga simpanan lebih tinggi dan biaya administrasi bulanan yang lebih rendah (bahkan gratis) dibandingkan bank konvensional.
Banyak bank digital yang mulai menawarkan sahamnya kepada publik melalui proses Initial Public Offering (IPO), memberikan peluang bagi investor untuk berinvestasi dalam perusahaan yang memiliki model bisnis baru dan inovatif. Namun, sebelum memutuskan untuk membeli saham bank digital yang sudah IPO, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, terutama jika Anda berencana untuk hold jangka panjang.
Memutuskan untuk hold saham sektor keuangan dalam jangka panjang bukanlah keputusan yang mudah, karena Anda perlu melakukan analisis fundamental dan riset mendalam terhadap beberapa aspek.
Berikut adalah beberapa aspek penting dari saham bank digital, dengan mengacu pada kinerja dan data dari PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) yang baru saja tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) per 17 Desember 2025:
Salah satu pertimbangan utama dalam memilih saham bank digital yang sudah IPO untuk hold jangka panjang adalah kinerja keuangan perusahaan. Sebagai investor, Anda perlu menilai bagaimana bank digital tersebut menghasilkan pendapatan dan laba, serta sejauh mana pertumbuhannya berkelanjutan.
Kinerja keuangan yang kuat adalah indikator dalam menilai potensi keberhasilan jangka panjang suatu perusahaan, termasuk bank digital yang baru IPO. Mari kita lihat bagaimana kinerja keuangan SUPA hingga November 2025.
SUPA membukukan laba sebelum pajak (EBT) sebesar Rp122,4 miliar hingga November 2025. Meski baru melantai di BEI melalui IPO, bank digital ini berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang cukup baik.
Pendapatan bunga bersih tumbuh 165% secara year-on-year (yoy) menjadi Rp1,4 triliun, didorong oleh pertumbuhan intermediasi yang terus berlanjut. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat meningkat sebesar 149% yoy, mencapai Rp11,0 triliun, sementara penyaluran kredit juga naik sebesar 58% yoy, mencapai Rp9,3 triliun.
Seiring meningkatnya pendapatan dan laba, total aset SUPA juga tumbuh sebesar 69% secara yoy menjadi Rp18,0 triliun pada akhir November 2025.
Modal inti SUPA kini telah melebihi Rp6 triliun, yang menempatkan bank ini di kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2 setelah IPO. Hal ini menjadi pertanda bahwa SUPA memiliki struktur permodalan yang kuat, yang akan membantu memperkuat pertumbuhannya ke depannya.
Selain kinerja keuangan, prospek industri bank digital juga perlu menjadi perhatian investor, termasuk bagaimana kinerja sahamnya sejak resmi tercatat di BEI.
Bank digital tidak hanya menyediakan layanan transaksi perbankan, tetapi juga terus mengembangkan inovasi dan integrasi teknologi untuk meningkatkan pengalaman pengguna. Sebagai gambaran, SUPA telah berhasil mengintegrasikan teknologi dalam layanannya dan bahkan melaporkan lebih dari 1 juta transaksi harian, dengan pertumbuhan transaksi lebih dari 40% pada kuartal ketiga 2025.
Kinerja saham setelah IPO juga menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan apakah saham bank digital layak untuk di-hold dalam jangka panjang. SUPA mencatatkan harga IPO sebesar Rp635 per lembar. Kemudian naik menjadi Rp1.350 pada 7 Februari 2026 atau naik 112,6% dibandingkan harga IPO. Hal tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap saham bank digital masih sangat tinggi.
Tata kelola yang baik dan tim manajemen yang kompeten sangat penting dalam memastikan bahwa perusahaan dapat mempertahankan kinerjanya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan sejauh mana manajemen perusahaan dapat mengelola risiko dan peluang yang ada, serta bagaimana strategi dalam mengembangkan perusahaan ke depannya.
Sebagai gambaran, berikut adalah gambaran manajemen dan tata kelola perusahaan SUPA:
SUPA, yang dipimpin oleh Presiden Direktur Tigor M. Siahaan, menekankan pentingnya fokus pada pembangunan layanan perbankan digital yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari.
Dengan modal inti yang kini telah melampaui Rp6 triliun, SUPA memiliki rencana untuk ekspansi yang berfokus pada perluasan akses kredit untuk nasabah ritel dan UMKM. Rencana ini memberikan gambaran bahwa, sebagai bank digital yang sudah IPO, SUPA memiliki strategi jangka panjang yang jelas dan matang.
Investasi pada saham bank digital menawarkan beberapa keuntungan, terutama terkait dengan inovasi yang terus berkembang dan potensi pertumbuhan pasar yang pesat. Bank digital yang sudah IPO, seperti SUPA, dapat memberikan kesempatan bagi investor untuk memperoleh potensi pertumbuhan dari perusahaan yang berada pada posisi strategis di industri keuangan digital. Berikut adalah keuntungan investasi saham bank digital dalam jangka panjang yang perlu diketahui:
Bank digital umumnya mampu menarik lebih banyak nasabah karena menawarkan layanan yang lebih cepat dan mudah diakses. Hal tersebut berpotensi meningkatkan akuisisi nasabah dan mendukung pertumbuhan bisnis bank dalam jangka panjang melalui peningkatan jumlah nasabah yang menginginkan akses perbankan yang lebih mudah.
Karena pasar bank digital masih dalam tahap berkembang, ada potensi keuntungan jangka panjang yang signifikan bagi investor yang memilih untuk hold saham bank digital. Jika sebuah bank digital memiliki kinerja yang konsisten, maka potensi untuk memberikan hasil positif dalam jangka panjang bagi investor semakin besar.
Saham bank digital yang sudah IPO menawarkan peluang menarik bagi investor yang ingin berinvestasi dalam sektor yang berkembang pesat ini.
Kinerja keuangan yang solid, prospek industri yang cerah, serta manajemen yang berpengalaman adalah faktor-faktor kunci yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk hold saham dalam jangka panjang.
Dengan berbagai faktor yang mendukung, keputusan untuk hold saham bank digital yang sudah IPO bisa menjadi opsi investasi yang dapat Anda pertimbangkan.
Bagi investor yang ingin memperoleh potensi imbal hasil jangka panjang, tetapi memiliki keterbatasan waktu maupun pengetahuan dalam memilih saham, reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) dapat menjadi alternatif investasi yang tepat.
Terdapat beragam reksa dana saham di Makmur yang dapat Anda pertimbangkan, salah satunya adalah Sucorinvest Maxi Fund dengan catatan kenaikan kinerja sebesar 45,41% dalam 1 tahun terakhir per 26 Juni 2026.
Sementara itu, bagi investor yang lebih mengutamakan likuiditas dan fleksibilitas dalam mengelola dana, reksa dana pasar uang (RDPU) dapat menjadi alternatif yang layak dipertimbangkan. RDPU berinvestasi pada instrumen pasar uang dan surat utang dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun, sehingga cenderung memiliki fluktuasi yang lebih rendah serta lebih mudah dicairkan dibandingkan investasi saham.
Salah satu produk RDPU yang tersedia di Makmur adalah Insight Retail Cash Fund. Reksa dana ini dikelola secara aktif untuk mengoptimalkan potensi imbal hasil sekaligus menjaga likuiditas dana, dengan mencatatkan imbal hasil sebesar 5,57% dalam satu tahun terakhir per 26 Juni 2026.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo June Bonanza dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO), salah satu keputusan paling strategis yang perlu diambil adalah memilih underwriter atau penjamin emisi efek. Underwriter (penjamin emisi efek) berperan dalam memastikan keberhasilan proses IPO, mulai dari penetapan harga saham, distribusi kepada investor, hingga menjamin penyerapan saham di pasar. Penetapan harga harus mampu […]
Key Takeaways: Mulai Januari 2026, terdapat perubahan fundamental di pasar modal Indonesia. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas investasi saham bagi perusahaan asuransi dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada institusi pengelola dana, tetapi juga berpotensi memengaruhi kinerja portofolio investasi investor. Perubahan batas investasi dapat memengaruhi dinamika harga […]
Key Takeaways: Sepanjang year-to-date (YTD) 2026 hingga 22 Juni 2026, pasar obligasi Indonesia menghadapi tekanan dari faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan moneter dan tensi geopolitik yang masih berlanjut meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas […]
Key Takeaways: Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 18 Juni 2026 menjadi 5,75% dari sebelumnya 5,50%. Kenaikan ini merupakan yang ketiga sejak Mei 2026 setelah BI lebih dulu menaikkan suku bunga pada 20 Mei dan 9 Juni 2026. Langkah tersebut diambil sebagai […]
Key Takeaways: Dalam ekosistem pasar modal Indonesia, terdapat dua lembaga yang berperan penting dalam mendukung kelancaran transaksi efek, yaitu Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Berdasarkan POJK Nomor 31 Tahun 2025 tentang Penerapan Tata Kelola Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, baik KSEI maupun KPEI […]