makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

Mengandalkan Model Altman Z-Score dalam Investasi Saham? Berikut Faktor Lain yang Perlu Investor Evaluasi Lebih Dalam

author
Content Management
author
04 Februari 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways 

  • Model Altman Z-Score dapat membantu investor menilai kesehatan finansial perusahaan dan potensi kebangkrutan.
  • Investor tetap perlu memperhatikan rasio keuangan, sektor industri, dan sisi kompetitif perusahaan untuk analisis yang lebih komprehensif.
  • Menggabungkan model statistik dan analisis fundamental dapat meminimalisir risiko investasi saham dalam jangka panjang. 

Investasi saham memerlukan analisis yang mendalam dan cermat, mengingat tingginya fluktuasi pasar dan risiko kegagalan dari perusahaan yang dipilih oleh investor. Untuk mengurangi risiko tersebut, berbagai metode analisis kuantitatif dan kualitatif terus berkembang. 

Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah penggunaan model statistik, yang memungkinkan analisis yang objektif dan terukur dengan mengolah data keuangan yang kompleks menjadi informasi yang lebih mudah dipahami untuk menilai kesehatan perusahaan. 

Selain itu, model statistik juga memungkinkan pemrosesan data historis untuk memproyeksikan kinerja perusahaan di masa depan, seperti potensi risiko kebangkrutan atau pertumbuhan laba. Pendekatan ini membantu investor dalam mengelola risiko dan membuat keputusan investasi yang lebih tepat dan efektif.

Mengenal Model Altman Z-Score

Model Altman Z-Score merupakan salah satu indikator yang efektif untuk memprediksi risiko kebangkrutan perusahaan sekaligus membantu dalam memilih saham perusahaan yang sehat secara keuangan. Model ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1968 oleh Edward Altman, seorang profesor bisnis di New York University, Amerika Serikat (AS). 

Model Altman menghitung lima rasio keuangan yang khusus dirancang untuk perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa saham. Kelima rasio tersebut meliputi modal kerja terhadap total aset, laba ditahan terhadap total aset, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap total aset, nilai pasar ekuitas terhadap total utang, serta penjualan terhadap total aset.

Kombinasi dari rasio di atas menghasilkan satu nilai yang disebut Z-Score. Berdasarkan nilai Z-Score, perusahaan dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu 

  • Sehat (zona aman)
  • Rawan (zona abu-abu)
  • Berisiko bangkrut (zona bahaya).

Secara matematis, persamaan Altman Z-Score untuk perusahaan manufaktur dirumuskan sebagai berikut:

Z = 1,2(A) + 1,4(B) + 3,3(C) + 0,6(D) + 1,0(E)

Dimana variabel-variabel tersebut mewakili:

  • A: Modal kerja (Aset lancar-utang lancar) ÷ total aset.
  • B: Laba ditahan ÷ total aset.
  • C: Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) ÷ total aset.
  • D: Nilai pasar (kapitalisasi pasar) ÷ total utang.
  • E: Penjualan ÷ total aset.

Perhitungan tersebut menghasilkan angka yang disebut sebagai Z-Score. Angka tersebut lantas diinterpretasikan sebagai berikut:

  • Z > 2,99

Perusahaan berada dalam zona sehat dan tidak mengalami masalah keuangan yang berarti.

  • 1,81 < Z < 2,99

Perusahaan berada di zona rawan (grey area), berpotensi mengalami masalah keuangan jika tidak ada perbaikan signifikan dalam manajemen atau struktur keuangannya.

  • Z < 1,81

Perusahaan berada dalam zona bahaya (distress) dan memiliki risiko kebangkrutan yang cukup tinggi.

Model Altman Z-Score membantu dalam membuat simulasi sederhana terhadap laporan keuangan emiten sebelum membelinya, sehingga dapat melihat posisi perusahaan tersebut secara kuantitatif. Simulasi dilakukan dengan memasukkan angka-angka dari laporan keuangan ke dalam rumus. 

Sebagai contoh, PT. XYZ adalah sebuah perusahaan manufaktur baja ringan. Perusahaan ini baru saja merilis laporan keuangan tahunan. Angka yang tercatat adalah:

  • Modal kerja: Rp1,6 triliun
  • Total aset: Rp3,8 triliun
  • Laba ditahan: Rp1,2 triliun
  • EBIT: Rp1,2 triliun
  • Nilai pasar: Rp19,2 triliun
  • Total utang: Rp504,7 miliar
  • Penjualan: Rp3,5 triliun

Berdasarkan data tersebut, didapatkan rasio sebagai berikut: 

  • A = Rp1,6 triliun / Rp3,8 triliun = 0,42
  • B = Rp1,2 triliun / Rp3,8 triliun = 0,32
  • C = Rp1,2 triliun / Rp3,8 triliun = 0,32
  • D = Rp19,2 triliun / Rp504,7 miliar = 38,04
  • E = Rp3,5 triliun / Rp3,8 triliun = 0,92

Setelah rasio didapatkan, langkah selanjutnya adalah melakukan hitungan menggunakan formula dari Model Altman Z-Score. Berikut adalah penghitungannya: 

  • Z=1,2(0,41)+1,4(0,32)+3,3(0,31)+0,6(38,04)+1,0(0,92)
  • Z=26,08

Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan skor Z=26,08. Angka tersebut dapat diinterpretasikan bahwa PT XYZ berada di zona aman (safety zone). Perhitungan menunjukkan bahwa PT XYZ dalam kondisi sehat secara fundamental. 

Sebagai informasi, di Indonesia, efektivitas model ini juga pernah diuji. Berdasarkan penelitian Ika Prayanthi (2011) yang menggunakan teknik statistik binomial test of proportion pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005–2010, ditemukan bahwa model Altman Z-Score tidak sepenuhnya dapat diandalkan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan manufaktur maupun non-manufaktur dalam kurun waktu satu hingga dua tahun sebelum kejadian.

Daya tahan perusahaan di Indonesia mungkin berbeda dengan perusahaan di AS. Oleh karena itu, prediksi kebangkrutan mungkin membutuhkan horizon waktu lebih dari dua tahun. Sebagai tambahan juga, meskipun terdapat indikator yang dapat digunakan untuk meminimalkan risiko, investor harus memahami bahwa tidak ada satu indikator pun yang dapat menjamin kepastian investasi tanpa mempertimbangkan berbagai faktor pendukung lainnya.

Faktor Selain Altman Z-Score yang Perlu Dievaluasi oleh Investor

Mengandalkan Altman Z-Score saja tidak cukup untuk menganalisis sebuah perusahaan. Sebab model ini fokus pada kesehatan finansial secara historis, sehingga untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, Anda harus menggabungkan analisis model ini dengan analisis fundamental. Berikut adalah faktor selain Altman Z-Score yang harus dievaluasi oleh investor. 

1. Kapitalisasi pasar dan likuiditas

Kapitalisasi pasar merupakan indikator yang dapat membantu investor untuk melihat nilai dan ukuran perusahaan, serta sering digunakan sebagai dasar segmentasi dalam analisis portofolio. Kapitalisasi pasar menggambarkan skala suatu perusahaan, sehingga menjadi salah satu faktor kunci dalam membandingkan emiten, terutama yang berada dalam industri atau sektor yang sama.

Namun, selain ukuran perusahaan, likuiditas saham juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Likuiditas mencerminkan seberapa aktif suatu saham diperdagangkan di pasar, yang umumnya tercermin dari nilai transaksi harian dan volume perdagangan. Saham dengan likuiditas yang tinggi cenderung lebih mudah diperjualbelikan, memiliki selisih harga jual dan beli (bid-ask spread) yang lebih sempit, serta relatif lebih stabil dalam kondisi pasar yang volatil.

Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sekaligus memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Saham BBCA secara konsisten mencatatkan nilai transaksi harian yang besar, mencerminkan tingginya minat dan partisipasi investor terhadap saham tersebut. Kondisi ini membuat BBCA sering dijadikan acuan dalam analisis saham berkapitalisasi besar dan likuid di pasar modal Indonesia.

Sebagai pembanding, emiten dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil umumnya memiliki likuiditas yang lebih terbatas. Hal ini dapat memengaruhi kemudahan investor dalam melakukan transaksi, terutama dalam kondisi pasar yang bergejolak.

2. Lihat rasio keuangan perusahaan

Selain rasio yang digunakan dalam Z-Score, Anda juga perlu memperhatikan rasio keuangan perusahaan. Melakukan analisis beberapa rasio akan memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan satu model statistik saja. Terdapat beberapa rasio keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk menganalisis. Berikut adalah beberapa rasio keuangan yang perlu Anda analisis: 

  • Current ratio, mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar. Rasio ini dihitung dengan membagi total aset lancar dengan total kewajiban lancar.
  • Quick ratio, menghitung aset lancar yang sangat likuid (seperti kas dan piutang) untuk menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek.
  • Debt to equity ratio (DER), mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang dibandingkan dengan modal yang dimiliki pemegang saham. Rasio ini dihitung dengan membagi total utang dengan ekuitas perusahaan.
  • Return on assets (ROA), mengukur efisiensi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aset yang dimiliki. Rasio ini dihitung dengan membagi laba bersih dengan total aset.
  • Return on equity (ROE), mengukur tingkat pengembalian yang diperoleh pemegang saham dari investasi mereka di perusahaan. Rasio ini dihitung dengan membagi laba bersih dengan ekuitas pemegang saham.
  • Price to earnings atau PE Ratio, digunakan untuk menilai valuasi saham dengan membandingkan harga saham perusahaan dengan laba per sahamnya. Rasio ini menunjukkan berapa lama waktu yang dibutuhkan investor untuk mendapatkan kembali investasinya.
  • Price to book value (PBV), mengukur valuasi pasar saham perusahaan dibandingkan dengan nilai bukunya. PBV dihitung dengan membagi harga saham perusahaan dengan nilai buku per saham. 

3. Menilai Sisi Kompetitif Perusahaan

Selain meninjau sektor dan industri perusahaan, Anda juga perlu menilai nilai kompetitif seperti pangsa pasar, kekuatan merek, inovasi produk, dan kualitas manajemen. Hal ini karena perusahaan dengan keunggulan kompetitif cenderung lebih tahan terhadap tekanan pasar dan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di masa depan. 

Sebagai contoh, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) & PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki keunggulan kompetitif dalam segmen mie instan dalam kemasan. Hal ini karena dominasi produk perusahaan di pasar Indonesia, yaitu Indomie.

Menurut data dari Top Brand Award, Indomie mendapatkan angka 71,6% di Top Brand Index Fase 1 2026 pada kategori mie instan dalam kemasan. Angka ini jauh di atas kompetitor terdekatnya, Mie Sedaap dengan Top Brand Index di angka 14,5%. Selisih 57,1% antara Indomie dan kompetitor terdekatnya menunjukkan sisi kompetitif perusahaan.

Jadi, model Altman Z-Score memang bisa digunakan untuk mendeteksi kesehatan finansial emiten dan potensi risiko kebangkrutan. Namun, penggunaannya tidak boleh berdiri sendiri sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan. 

Dinamika pasar yang kompleks menuntut investor untuk mengintegrasikan hasil perhitungan Z-Score dengan evaluasi faktor lain, mulai dari analisis sektor industri hingga sisi kompetitif perusahaan. Namun, harus diakui bahwa menerapkan analisis mendalam seperti perhitungan Z-Score dan analisis fundamental membutuhkan dedikasi waktu serta keahlian. Oleh karena itu, apabila Anda tidak memiliki waktu untuk melakukan analisis yang mendalam, bisa mempertimbangkan untuk berinvestasi melalui reksa dana saham. Hal ini karena reksa dana saham dikelola oleh manajer investasi (MI) yang mampu menganalisis saham dan menilai kinerja perusahaan secara mendalam.

Terdapat beragam produk reksa dana saham yang bisa Anda pertimbangkan di Makmur, salah satunya adalah Bahana Icon Syariah Kelas G. Berdasarkan data per 03 Februari 2026, reksa dana saham tersebut mencatatkan kinerja positif sebesar 60,22% dalam 1 tahun terakhir.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan promo Semua Bisa Makmur.

Link: Promo-Promo di Makmur

Silakan unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini. Jangan lupa berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi Makmur juga menyediakan aplikasi melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini: 

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Ingin Hold Jangka Panjang Saham Bank Digital yang Sudah IPO? Ini Hal yang Perlu Anda Pertimbangkan

Key Takeaways: Industri bank digital terus berkembang di Indonesia, hadir sebagai pilihan bagi investor yang tertarik untuk memanfaatkan potensi keuntungan di sektor perbankan. Secara fungsi dan regulasi, baik  bank digital maupun konvensional wajib terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keduanya berfungsi sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dana masyarakat, seperti tabungan dan deposito, kemudian […]

author
Content Management
calendar
29 Juni 2026
Artikel

Sekuritas Lokal, Asing, atau BUMN, Mana yang Sering Menjadi Underwriter Perusahaan IPO?

Key Takeaways: Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO), salah satu keputusan paling strategis yang perlu diambil adalah memilih underwriter atau penjamin emisi efek. Underwriter (penjamin emisi efek) berperan dalam memastikan keberhasilan proses IPO, mulai dari penetapan harga saham, distribusi kepada investor, hingga menjamin penyerapan saham di pasar. Penetapan harga harus mampu […]

author
Content Management
calendar
24 Juni 2026
Artikel

Memahami Regulasi Batas Investasi Dana Pensiun dan Asuransi, Apa Manfaatnya bagi Investor?

Key Takeaways: Mulai Januari 2026, terdapat perubahan fundamental di pasar modal Indonesia. Pemerintah bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menaikkan batas investasi saham bagi perusahaan asuransi dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada institusi pengelola dana, tetapi juga berpotensi memengaruhi kinerja portofolio investasi investor. Perubahan batas investasi dapat memengaruhi dinamika harga […]

author
Content Management
calendar
23 Juni 2026
Artikel

Sucorinvest Premium Sovereign Balanced Fund Kelas A: Tetap Stabil di Tengah Tekanan Pasar Obligasi

Key Takeaways: Sepanjang year-to-date (YTD) 2026 hingga 22 Juni 2026, pasar obligasi Indonesia menghadapi tekanan dari faktor eksternal maupun domestik. Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan moneter dan tensi geopolitik yang masih berlanjut meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Sementara dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas […]

author
Content Management
calendar
22 Juni 2026
Artikel

BI Naikkan Suku Bunga saat Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Reksa Dana?

Key Takeaways: Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 18 Juni 2026 menjadi 5,75% dari sebelumnya 5,50%. Kenaikan ini merupakan yang ketiga sejak Mei 2026 setelah BI lebih dulu menaikkan suku bunga pada 20 Mei dan 9 Juni 2026.  Langkah tersebut diambil sebagai […]

author
Content Management
calendar
19 Juni 2026
Artikel

Peran Strategis KSEI dan KPEI dalam Mendukung Proses Kliring, Penyelesaian, dan Penjaminan Transaksi Efek

Key Takeaways: Dalam ekosistem pasar modal Indonesia, terdapat dua lembaga yang berperan penting dalam mendukung kelancaran transaksi efek, yaitu Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI). Berdasarkan POJK Nomor 31 Tahun 2025 tentang Penerapan Tata Kelola Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjaminan, serta Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, baik KSEI maupun KPEI […]

author
Content Management
calendar
18 Juni 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0