Investasi saham memerlukan analisis yang mendalam dan cermat, mengingat tingginya fluktuasi pasar dan risiko kegagalan dari perusahaan yang dipilih oleh investor. Untuk mengurangi risiko tersebut, berbagai metode analisis kuantitatif dan kualitatif terus berkembang.
Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah penggunaan model statistik, yang memungkinkan analisis yang objektif dan terukur dengan mengolah data keuangan yang kompleks menjadi informasi yang lebih mudah dipahami untuk menilai kesehatan perusahaan.
Selain itu, model statistik juga memungkinkan pemrosesan data historis untuk memproyeksikan kinerja perusahaan di masa depan, seperti potensi risiko kebangkrutan atau pertumbuhan laba. Pendekatan ini membantu investor dalam mengelola risiko dan membuat keputusan investasi yang lebih tepat dan efektif.
Model Altman Z-Score merupakan salah satu indikator yang efektif untuk memprediksi risiko kebangkrutan perusahaan sekaligus membantu dalam memilih saham perusahaan yang sehat secara keuangan. Model ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1968 oleh Edward Altman, seorang profesor bisnis di New York University, Amerika Serikat (AS).
Model Altman menghitung lima rasio keuangan yang khusus dirancang untuk perusahaan manufaktur yang terdaftar di bursa saham. Kelima rasio tersebut meliputi modal kerja terhadap total aset, laba ditahan terhadap total aset, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) terhadap total aset, nilai pasar ekuitas terhadap total utang, serta penjualan terhadap total aset.
Kombinasi dari rasio di atas menghasilkan satu nilai yang disebut Z-Score. Berdasarkan nilai Z-Score, perusahaan dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu
Secara matematis, persamaan Altman Z-Score untuk perusahaan manufaktur dirumuskan sebagai berikut:
| Z = 1,2(A) + 1,4(B) + 3,3(C) + 0,6(D) + 1,0(E) |
Dimana variabel-variabel tersebut mewakili:
Perhitungan tersebut menghasilkan angka yang disebut sebagai Z-Score. Angka tersebut lantas diinterpretasikan sebagai berikut:
Perusahaan berada dalam zona sehat dan tidak mengalami masalah keuangan yang berarti.
Perusahaan berada di zona rawan (grey area), berpotensi mengalami masalah keuangan jika tidak ada perbaikan signifikan dalam manajemen atau struktur keuangannya.
Perusahaan berada dalam zona bahaya (distress) dan memiliki risiko kebangkrutan yang cukup tinggi.
Model Altman Z-Score membantu dalam membuat simulasi sederhana terhadap laporan keuangan emiten sebelum membelinya, sehingga dapat melihat posisi perusahaan tersebut secara kuantitatif. Simulasi dilakukan dengan memasukkan angka-angka dari laporan keuangan ke dalam rumus.
Sebagai contoh, PT. XYZ adalah sebuah perusahaan manufaktur baja ringan. Perusahaan ini baru saja merilis laporan keuangan tahunan. Angka yang tercatat adalah:
Berdasarkan data tersebut, didapatkan rasio sebagai berikut:
Setelah rasio didapatkan, langkah selanjutnya adalah melakukan hitungan menggunakan formula dari Model Altman Z-Score. Berikut adalah penghitungannya:
Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan skor Z=26,08. Angka tersebut dapat diinterpretasikan bahwa PT XYZ berada di zona aman (safety zone). Perhitungan menunjukkan bahwa PT XYZ dalam kondisi sehat secara fundamental.
Sebagai informasi, di Indonesia, efektivitas model ini juga pernah diuji. Berdasarkan penelitian Ika Prayanthi (2011) yang menggunakan teknik statistik binomial test of proportion pada perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2005–2010, ditemukan bahwa model Altman Z-Score tidak sepenuhnya dapat diandalkan untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan manufaktur maupun non-manufaktur dalam kurun waktu satu hingga dua tahun sebelum kejadian.
Daya tahan perusahaan di Indonesia mungkin berbeda dengan perusahaan di AS. Oleh karena itu, prediksi kebangkrutan mungkin membutuhkan horizon waktu lebih dari dua tahun. Sebagai tambahan juga, meskipun terdapat indikator yang dapat digunakan untuk meminimalkan risiko, investor harus memahami bahwa tidak ada satu indikator pun yang dapat menjamin kepastian investasi tanpa mempertimbangkan berbagai faktor pendukung lainnya.
Mengandalkan Altman Z-Score saja tidak cukup untuk menganalisis sebuah perusahaan. Sebab model ini fokus pada kesehatan finansial secara historis, sehingga untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, Anda harus menggabungkan analisis model ini dengan analisis fundamental. Berikut adalah faktor selain Altman Z-Score yang harus dievaluasi oleh investor.
Kapitalisasi pasar merupakan indikator yang dapat membantu investor untuk melihat nilai dan ukuran perusahaan, serta sering digunakan sebagai dasar segmentasi dalam analisis portofolio. Kapitalisasi pasar menggambarkan skala suatu perusahaan, sehingga menjadi salah satu faktor kunci dalam membandingkan emiten, terutama yang berada dalam industri atau sektor yang sama.
Namun, selain ukuran perusahaan, likuiditas saham juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor. Likuiditas mencerminkan seberapa aktif suatu saham diperdagangkan di pasar, yang umumnya tercermin dari nilai transaksi harian dan volume perdagangan. Saham dengan likuiditas yang tinggi cenderung lebih mudah diperjualbelikan, memiliki selisih harga jual dan beli (bid-ask spread) yang lebih sempit, serta relatif lebih stabil dalam kondisi pasar yang volatil.
Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sekaligus memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. Saham BBCA secara konsisten mencatatkan nilai transaksi harian yang besar, mencerminkan tingginya minat dan partisipasi investor terhadap saham tersebut. Kondisi ini membuat BBCA sering dijadikan acuan dalam analisis saham berkapitalisasi besar dan likuid di pasar modal Indonesia.
Sebagai pembanding, emiten dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil umumnya memiliki likuiditas yang lebih terbatas. Hal ini dapat memengaruhi kemudahan investor dalam melakukan transaksi, terutama dalam kondisi pasar yang bergejolak.
Selain rasio yang digunakan dalam Z-Score, Anda juga perlu memperhatikan rasio keuangan perusahaan. Melakukan analisis beberapa rasio akan memberikan gambaran yang lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan satu model statistik saja. Terdapat beberapa rasio keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk menganalisis. Berikut adalah beberapa rasio keuangan yang perlu Anda analisis:
Selain meninjau sektor dan industri perusahaan, Anda juga perlu menilai nilai kompetitif seperti pangsa pasar, kekuatan merek, inovasi produk, dan kualitas manajemen. Hal ini karena perusahaan dengan keunggulan kompetitif cenderung lebih tahan terhadap tekanan pasar dan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang di masa depan.
Sebagai contoh, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) & PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) memiliki keunggulan kompetitif dalam segmen mie instan dalam kemasan. Hal ini karena dominasi produk perusahaan di pasar Indonesia, yaitu Indomie.
Menurut data dari Top Brand Award, Indomie mendapatkan angka 71,6% di Top Brand Index Fase 1 2026 pada kategori mie instan dalam kemasan. Angka ini jauh di atas kompetitor terdekatnya, Mie Sedaap dengan Top Brand Index di angka 14,5%. Selisih 57,1% antara Indomie dan kompetitor terdekatnya menunjukkan sisi kompetitif perusahaan.
Jadi, model Altman Z-Score memang bisa digunakan untuk mendeteksi kesehatan finansial emiten dan potensi risiko kebangkrutan. Namun, penggunaannya tidak boleh berdiri sendiri sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.
Dinamika pasar yang kompleks menuntut investor untuk mengintegrasikan hasil perhitungan Z-Score dengan evaluasi faktor lain, mulai dari analisis sektor industri hingga sisi kompetitif perusahaan. Namun, harus diakui bahwa menerapkan analisis mendalam seperti perhitungan Z-Score dan analisis fundamental membutuhkan dedikasi waktu serta keahlian. Oleh karena itu, apabila Anda tidak memiliki waktu untuk melakukan analisis yang mendalam, bisa mempertimbangkan untuk berinvestasi melalui reksa dana saham. Hal ini karena reksa dana saham dikelola oleh manajer investasi (MI) yang mampu menganalisis saham dan menilai kinerja perusahaan secara mendalam.
Terdapat beragam produk reksa dana saham yang bisa Anda pertimbangkan di Makmur, salah satunya adalah Bahana Icon Syariah Kelas G. Berdasarkan data per 03 Februari 2026, reksa dana saham tersebut mencatatkan kinerja positif sebesar 60,22% dalam 1 tahun terakhir.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo February Fortune dan promo Semua Bisa Makmur.
Link: Promo-Promo di Makmur
Silakan unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini. Jangan lupa berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi Makmur juga menyediakan aplikasi melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Bagi investor saham, terdapat berbagai cara untuk memperoleh keuntungan, di antaranya melalui pembagian dividen dan saham bonus. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada pemegang saham, tetapi mekanisme dan dampaknya terhadap investasi sangat berbeda. Lalu, mana yang lebih memperbesar portofolio investor, saham bonus atau dividen? Untuk menjawabnya, penting memahami terlebih dahulu cara kerja masing-masing aksi […]
Key Takeaways: Kemampuan emiten dalam menjaga kualitas pendapatan menjadi faktor yang lebih penting dibanding sekadar mengejar pertumbuhan jumlah pelanggan. Salah satu metrik yang sering digunakan untuk mengukur kualitas tersebut adalah Average Revenue Per User (ARPU). ARPU sendiri merupakan metrik yang menunjukkan rata-rata pendapatan yang dihasilkan dari setiap pelanggan dalam periode tertentu, misalnya per bulan. Metrik […]
Key Takeaways: Perry Warjiyo mengundurkan diri secara sukarela dari jabatan Gubernur Bank Indonesia pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut diterima Presiden Prabowo Subianto, dan Perry resmi berhenti dari jabatannya pada 27 Juli 2026. Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, kemudian ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Gubernur BI untuk mengisi kekosongan kepemimpinan tersebut. […]
Key Takeaways: Di tengah maraknya tren yang menunjukkan gaya hidup mewah di media sosial, banyak investor dengan kemampuan finansial yang baik justru memilih untuk tidak menampilkan kekayaan secara berlebihan. Tren tersebut dikenal sebagai silent wealth, yaitu konsep yang memandang pertumbuhan aset dan kesehatan finansial tidak diukur dari barang yang dimiliki atau ditunjukkan, melainkan dari aset […]
Key Takeaways: Struktur kepemilikan saham merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor saat menilai kualitas suatu emiten. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah insider ownership, yaitu porsi saham yang dimiliki secara langsung oleh pihak internal perusahaan, seperti anggota direksi, komisaris, pendiri, atau pihak manajemen tertentu. Besarnya insider ownership perlu dipantau investor publik karena […]
Key Takeaways: Prajogo Pangestu dikenal sebagai salah satu pengusaha dan investor paling berpengaruh di Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemegang saham utama Grup Barito, sebuah konglomerasi yang memiliki lini bisnis di sektor energi terbarukan, petrokimia, pertambangan, infrastruktur, hingga utilitas. Berkat ekspansi bisnis yang konsisten selama puluhan tahun, namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya di […]