makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Dampak Perubahan Sovereign Credit Rating Indonesia ke Pasar Saham, Ini yang Perlu Investor Cermati

author
Content Management
author
26 Agustus 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Meski Indonesia masih mempertahankan status investment grade, Moody’s dan Fitch telah merevisi outlook menjadi negatif pada 2026, sementara S&P tetap mempertahankan outlook stabil. 
  • Perubahan outlook dapat meningkatkan volatilitas pasar, antara lain melalui tekanan pada IHSG, potensi capital outflow, pelemahan rupiah, serta kenaikan yield SBN yang menekan harga obligasi. 
  • Investor perlu mencermati perkembangan defisit fiskal, beban bunga utang, dan kinerja sektor ekspor-impor karena faktor-faktor tersebut menjadi perhatian utama lembaga pemeringkat internasional.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik, sovereign credit rating Indonesia kembali menjadi sorotan. Secara sederhana, sovereign credit rating adalah penilaian kelayakan kredit suatu negara yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat independen internasional seperti Moody’s Investors Service, S&P Global Ratings, dan Fitch Ratings. 

Penilaian ini mencerminkan kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban pembayaran utangnya, baik yang diterbitkan dalam mata uang domestik maupun mata uang asing, secara penuh dan tepat waktu. 

Keberadaan sovereign credit rating menjadi sangat penting karena sering dijadikan referensi oleh investor global sebelum membeli obligasi pemerintah, melakukan investasi langsung (foreign direct investment), maupun menempatkan dana pada berbagai instrumen keuangan di suatu negara. Semakin baik peringkat yang dimiliki, semakin rendah persepsi risiko yang melekat pada negara tersebut.

Bagi investor domestik maupun asing, sovereign credit rating negara memberikan panduan cepat untuk menilai tingkat risiko investasi. Oleh karena itu, memahami peringkat kredit Indonesia dapat menjadi salah satu langkah penting yang perlu diperhatikan sebelum menentukan keputusan investasi.

Sovereign Credit Rating Indonesia

Secara umum, sistem peringkat tersebut terbagi menjadi dua kategori besar.

1. Layak investasi (investment grade)

Negara yang masuk kategori ini dianggap memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah sehingga lebih menarik bagi investor global.

  • S&P dan Fitch: AAA, AA, A, BBB
  • Moody’s: Aaa, Aa, A, Baa

2. Spekulatif (speculative grade atau junk bond)

Kategori ini menunjukkan risiko kredit yang lebih tinggi dan lebih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi maupun politik.

  • S&P dan Fitch: BB, B, CCC, CC, C, D
  • Moody’s: Ba, B, Caa, Ca, C

Penting untuk diketahui bahwa sistem penilaian tersebut memiliki tingkatan tambahan. Pada S&P dan Fitch, simbol “+” atau “-” digunakan untuk menunjukkan posisi relatif dalam suatu kategori. Sementara itu, Moody’s menggunakan angka 1, 2, dan 3. Semakin kecil angkanya, semakin kuat posisi kredit dalam kategori yang sama. Sebagai contoh, Baa1 memiliki kualitas kredit yang lebih baik dibandingkan Baa2 maupun Baa3.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut merupakan posisi terbaru sovereign credit rating Indonesia per Juli 2026.

Tabel 1. Perkembangan Sovereign Credit Rating Indonesia

Sumber: Bank Indonesia 

Catatan rating:

*Penegasan rating (tidak ada perubahan)

**outlook direvisi dari positif menjadi stabil

***outlook direvisi dari stabil menjadi positif

****outlook direvisi dari stabil menjadi negatif

*****outlook direvisi dari negatif menjadi stabil

Secara umum, Indonesia masih mempertahankan status investment grade dari ketiga lembaga utama tersebut. Namun, perhatian pasar saat ini lebih tertuju pada perubahan outlook yang mulai menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap kondisi fiskal dan kebijakan ekonomi nasional. Perubahan tersebut terlihat dari penilaian masing-masing lembaga dalam dua tahun terakhir.

Moody’s sebelumnya mempertahankan rating Baa2 karena menilai ketahanan ekonomi, kebijakan fiskal dan moneter, serta berbagai instrumen BI masih cukup kuat. Namun pada Februari 2026, outlook diubah menjadi negatif karena meningkatnya kekhawatiran terhadap konsistensi kebijakan fiskal dan potensi risiko kewajiban negara di masa depan. 

Sementara itu, Fitch mempertahankan rating BBB, menilai pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara masih mampu menopang stabilitas fiskal. Sayangnya, Fitch justru merevisi outlook dari stabil ke negatif pada Maret 2026 karena adanya ketidakstabilan makroekonomi.

Di sisi lain, S&P mempertahankan rating BBB dengan outlook stabil. Pada 13 Juli 2026, S&P kembali mengafirmasi peringkat tersebut, menjadikannya satu-satunya dari tiga lembaga utama yang tidak mengubah outlook Indonesia sepanjang 2026.  

Keputusan tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan ekonomi yang masih solid, yakni sekitar 5,1% pada 2026 dengan rata-rata 4,9% sepanjang 2026 hingga 2029, ditopang realisasi pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,6% secara tahunan. S&P juga menilai komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3% PDB, sesuai amanat undang-undang, sebagai indikator penting bagi kredibilitas fiskal Indonesia, dengan rekam jejak lintas pemerintahan dalam mematuhi batas tersebut menjadi nilai tambah tersendiri. 

Rasio utang pemerintah yang relatif rendah dan pemulihan penerimaan negara pada kuartal I tahun ini juga turut dinilai memberikan ruang fiskal yang memadai, sementara tekanan fiskal dan eksternal yang terjadi saat ini dipandang bersifat sementara.

Hal yang Perlu Dicermati Investor

Setelah mengetahui perkembangan sovereign credit rating Indonesia, investor perlu memahami bahwa perhatian pasar saat ini lebih banyak tertuju pada perubahan outlook, bukan penurunan peringkat sovereign credit rating secara langsung. 

Meski Indonesia masih mempertahankan status investment grade, perubahan outlook tetap dapat memengaruhi sentimen pasar dan berbagai instrumen investasi. Berikut beberapa hal yang perlu dicermati. 

1. Dampak langsung ke pasar saham (IHSG)

Investor perlu memahami bahwa perubahan outlook pada sovereign credit rating dapat memberikan dampak langsung terhadap pasar saham.

Hal ini terlihat ketika Moody’s mengubah outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif per Februari 2026. Perubahan outlook Moody’s pada Februari 2026 berlangsung di tengah tekanan pasar yang cukup kuat. Pada perdagangan saat itu, IHSG sempat turun sekitar 1,5% pada sesi pagi, dengan pelemahan terjadi di berbagai sektor, terutama energi, keuangan, dan properti.

Pada 4 Maret 2026, IHSG kembali terkoreksi 4,57% ke level 7.577 di tengah kombinasi sentimen geopolitik global dan revisi outlook Fitch menjadi negatif. 

Pada 13 Juli 2026, saat S&P mempertahankan rating BBB dengan outlook stabil, IHSG menguat 1,92%. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan sovereign rating dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar, meskipun bukan satu-satunya penggerak IHSG. 

2. Risiko arus modal asing dan nilai tukar rupiah

Perubahan persepsi terhadap risiko akibat penurunan outlook dari sovereign credit rating Indonesia tidak hanya memengaruhi pasar saham, tetapi arus modal asing berpotensi keluar dari pasar domestik atau dikenal sebagai capital outflow. Dampaknya, nilai tukar rupiah akan menjadi lebih rentan terhadap volatilitas.

Apabila tekanan terhadap rupiah semakin besar, Bank Indonesia dapat meningkatkan intervensi pasar maupun menyesuaikan kebijakan suku bunga. Per Juli 2026, BI Rate tercatat berada di level 5,75% setelah mengalami kenaikan 100 basis poin sepanjang tahun ini.

3. Cermat memilih sektor saham

Ketika terjadi tekanan akibat capital outflow dan pelemahan nilai rupiah, tidak semua sektor saham akan merasakan dampak yang sama.

Sektor berbasis ekspor seperti batu bara, mineral, dan perkebunan berpotensi memperoleh keuntungan dari pendapatan dalam dolar AS. Sebaliknya, sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor atau memiliki utang dalam denominasi dolar AS berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar akibat kenaikan biaya operasional maupun biaya pendanaan.

Oleh karena itu, investor perlu lebih cermat dalam menilai kualitas pertumbuhan laba emiten, terutama di tengah potensi kenaikan suku bunga dan meningkatnya biaya impor. 

4. Dampak ke pasar obligasi dan yield SBN

Selain berdampak pada pasar saham, investor juga perlu mencermati perkembangan outlook sovereign credit rating terhadap Surat Berharga Negara (SBN).

Perubahan outlook menjadi negatif biasanya meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap prospek fiskal dan stabilitas ekonomi jangka menengah. Akibatnya, harga obligasi dapat mengalami tekanan sementara investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.

Dilansir dari Investing.com, per 27 Juli 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di sekitar 7,3%. Pergerakan yield tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ekspektasi suku bunga, kondisi global, aliran dana asing, serta persepsi terhadap risiko fiskal Indonesia. 

Perlu dipahami bahwa kenaikan yield berbanding terbalik dengan harga obligasi. Artinya, ketika yield meningkat, harga SBN yang telah diterbitkan sebelumnya cenderung mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan oleh investor.

5. Waspadai agenda kalender review indeks global

Faktor lain yang sering luput dari perhatian adalah agenda evaluasi indeks global. Memasuki paruh kedua 2026, agenda penyedia indeks global menjadi semakin krusial bagi pasar Indonesia. Rangkaian dimulai pada Agustus melalui MSCI Quarterly Index Review dan tinjauan FTSE Russell yang berpotensi memicu penyesuaian portofolio dana pasif akibat perubahan konstituen indeks. 

Ke depan, investor juga perlu mencermati hasil evaluasi MSCI dan FTSE Russell karena perubahan konstituen maupun klasifikasi pasar dapat memengaruhi aliran dana asing, terutama dari investor pasif yang mengikuti indeks. Risiko ini menjadi semakin relevan bagi Indonesia karena status emerging market masih dalam evaluasi MSCI. Jika terjadi perubahan yang memperburuk posisi Indonesia dalam indeks global, tekanan terhadap IHSG, nilai tukar rupiah, dan yield SBN berpotensi meningkat. 

Meski demikian, situasi saat ini belum sepenuhnya negatif. Indonesia masih mempertahankan status investment grade dari seluruh lembaga pemeringkat utama. Selain itu, MSCI juga masih mengklasifikasikan Indonesia sebagai emerging market, meskipun status tersebut saat ini masih dalam proses evaluasi.

Memasuki kuartal IV, fokus akan bergeser ke evaluasi yang lebih fundamental. FTSE Annual Review pada Oktober dapat menjadi benchmark kesiapan implementasi reformasi pasar modal oleh OJK, BEI, dan KSEI, terutama terkait transparansi data kepemilikan saham dan free float

Sementara itu, MSCI Semi-Annual Index Review pada November menjadi agenda paling menentukan karena bertepatan dengan tenggat evaluasi klasifikasi pasar Indonesia. MSCI menyatakan bahwa apabila kemajuan yang memadai belum terlihat, terdapat kemungkinan konsultasi re-klasifikasi dari emerging markets ke frontier markets

Terakhir, tahun 2026 akan ditutup dengan agenda rebalancing FTSE pada Desember sebagai tindak lanjut atas hasil review September, sedangkan S&P Dow Jones Indices hingga Juli 2026 masih mempertahankan pendekatan observasi tanpa menerapkan reklasifikasi maupun special measures terhadap Indonesia.

Investor juga memperhatikan potensi respons dari penyedia indeks global tersebut. Jika terjadi perubahan yang memperburuk posisi Indonesia dalam indeks global, maka risiko capital outflow dapat meningkat tajam dan kembali berpotensi memberikan tekanan pada pasar saham, nilai tukar rupiah, dan yield SBN.

Namun, terdapat beberapa indikator yang perlu terus dipantau agar outlook dan peringkat sovereign credit rating setidaknya dapat dipertahankan.

Pertama, tekanan terhadap defisit fiskal. Berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, batas maksimal defisit APBN adalah 3% terhadap PDB. Jika defisit secara konsisten melampaui batas tersebut, risiko terhadap outlook dan penurunan sovereign credit rating dapat meningkat.

Kedua, rasio pembayaran bunga utang terhadap penerimaan negara. S&P menyebut rasio pembayaran bunga pemerintah terhadap penerimaan negara yang bertahan di atas 15% secara berkelanjutan sebagai salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risiko penurunan peringkat.

Ketiga, kondisi sektor ekspor-impor. Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mencatat defisit US$1,61 miliar, berbalik dari surplus US$0,09 miliar pada bulan sebelumnya. 

Perubahan sovereign credit rating maupun outlook pada peringkat kredit memang tidak selalu langsung mengubah kondisi ekonomi suatu negara. Namun, perubahan tersebut sering kali memengaruhi persepsi risiko investor, arus modal, pasar saham, pasar obligasi, hingga stabilitas nilai tukar. Karena itu, perkembangan rating ini terhadap Indonesia perlu menjadi salah satu indikator penting dalam proses pengambilan keputusan investasi.

Bagi investor yang ingin membangun portofolio secara lebih terdiversifikasi, pemilihan instrumen yang sesuai dengan profil risiko tetap menjadi langkah yang perlu diprioritaskan. Melalui Makmur, tersedia berbagai pilihan investasi mulai dari saham hingga reksa dana yang dapat disesuaikan dengan profil risiko setiap investor.

Salah satu alternatif instrumen investasi yang dapat dipertimbangkan adalah reksa dana pasar uang Danapathi Money Market Fund. Dalam satu tahun terakhir, produk ini mencatatkan kinerja positif sebesar 5,5% berdasarkan data per 24 Agustus 2026. Meskipun tingkat imbal hasilnya tidak setinggi instrumen berisiko tinggi, karakteristik reksa dana pasar uang yang cenderung lebih stabil dapat menjadi pilihan untuk menjaga likuiditas sekaligus mengoptimalkan pengelolaan dana di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

Belanja Pemerintah dan Investasi: Seberapa Besar Keterkaitannya?

Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]

author
Content Management
calendar
10 September 2026
Artikel

Ke Mana Dana Asing Mengalir? Membaca Sinyal Pasar Lewat Makro Flow of Funds Analysis

Key Takeaways: Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika […]

author
Content Management
calendar
09 September 2026
Artikel

Portofolio Terus Mengalami Penurunan? Ini Strategi Psikologis Menghadapi Penurunan Portofolio

Key Takeaways:  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang paruh pertama 2026. Dari all-time high penutupan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks turun hingga menyentuh 5.342,14 pada 8 Juni 2026, posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Hingga penutupan Semester I pada 30 Juni 2026, IHSG berada di level 5.643,19 atau terkoreksi […]

author
Content Management
calendar
08 September 2026
Artikel

Memahami Peran Ultimate Shareholder Dalam Perusahaan, Apakah Menentukan Arah Kebijakan Dan Keputusan Bisnis Jangka Panjang?

Key Takeaways: Dalam struktur kepemilikan perusahaan, ultimate shareholder merupakan individu atau entitas yang menjadi pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dan memiliki atau mengendalikan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui struktur kepemilikan berlapis. Peran ini penting untuk memahami struktur pengendalian dan arah kebijakan perusahaan, karena keputusan strategis seperti ekspansi, restrukturisasi, dan aksi korporasi […]

author
Content Management
calendar
03 September 2026
Artikel

Bagaimana Menilai Saham Syariah Paling Likuid dan Pengaruhnya terhadap Likuiditas Pasar Saham

Key Takeaways: Bagi investor yang ingin berinvestasi sesuai prinsip syariah, tingkat likuiditas saham menjadi aspek yang tidak kalah penting dibandingkan analisis fundamental perusahaan. Likuiditas menggambarkan seberapa mudah suatu saham diperjualbelikan di pasar tanpa memicu perubahan harga yang signifikan. Semakin likuid suatu saham, semakin mudah investor bertransaksi pada harga yang mendekati nilai wajarnya. Dalam pasar modal […]

author
Content Management
calendar
02 September 2026
Artikel

Tekanan Inflasi Masih Membayangi Kebijakan The Fed, Ini Risiko dan Strategi yang Dapat Dipertimbangkan Investor Jelang FOMC September

Key Takeaways: Simposium Jackson Hole pada 28 Agustus 2026 menjadi titik balik perdebatan kebijakan moneter Amerika Serikat. Dalam pidatonya, Warsh menyatakan sasaran 2% berbasis PCE adalah target yang tegas dan tetap, serta mengingatkan bahwa inflasi tidak selalu kembali ke rata-rata dengan sendirinya. Sebagai gambaran, PCE atau Personal Consumption Expenditures (Pengeluaran Konsumsi Pribadi) sendiri merupakan ukuran […]

author
Content Management
calendar
01 September 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0