Key Takeaways:
Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi.
Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli uang Anda menyusut, meskipun nominal investasi terlihat bertambah. Dengan kata lain, keuntungan atau return investasi yang diperoleh belum tentu mampu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa di masa depan.
Sebelum mengambil keputusan investasi, Anda perlu memahami bahwa hasil investasi harus dinilai secara riil, bukan sekadar nominal. Berikut beberapa alasan mengapa perhitungan negative real return menjadi hal yang wajib diperhatikan.
Banyak investor hanya berfokus pada persentase atau nominal return. Padahal, return secara nominal belum tentu berarti kekayaan Anda benar-benar bertambah. Sebagai ilustrasi, misalkan investasi Anda menghasilkan imbal hasil sebesar 3% dalam satu tahun.
Di saat yang sama, tingkat inflasi mencapai 4%. Secara nominal, investasi memang mengalami pertumbuhan. Namun, secara riil Anda justru mengalami penurunan daya beli sebesar sekitar 1%.
Kondisi inilah yang disebut sebagai negative real return. Investor merasa memperoleh return, padahal daya beli uang tersebut untuk membeli barang dan jasa justru berkurang. Oleh karena itu, Anda perlu melihat data inflasi sebagai bagian dari evaluasi kinerja investasi.
Tabel 1. Inflasi Indonesia Januari–Agustus 2026 (Year-on-Year)

Sumber: Badan Pusat Statistik
Berdasarkan data tersebut, rata-rata tingkat inflasi year-on-year Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 berada di kisaran 3,34%. Namun, angka tersebut tidak dapat digunakan sebagai acuan langsung untuk menghitung real return, karena periode pengukurannya berbeda. Untuk menghitung real return, tingkat inflasi perlu dibandingkan dengan return investasi pada periode yang sama.
Perlu dicatat bahwa angka pada tabel merupakan inflasi year on year (YoY), yaitu perbandingan tingkat harga terhadap bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Angka ini berbeda dari inflasi tahun berjalan atau year-to-date (YTD), yang mengukur kenaikan harga sejak awal tahun. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, inflasi YTD tercatat 1,86%. Perbedaan keduanya penting ketika Anda membandingkannya dengan kinerja investasi, karena periode pengukurannya harus setara.
Investor juga perlu menyadari bahwa inflasi memiliki dampak langsung terhadap kemampuan memenuhi kebutuhan di masa depan. Uang hasil investasi Anda di masa depan tidak akan mampu membeli barang dalam jumlah yang sama dengan hari ini. Sebagai contoh, biaya pendidikan, layanan kesehatan, maupun kebutuhan hidup sehari-hari cenderung meningkat dari waktu ke waktu.
Jika investasi yang Anda miliki memiliki pertumbuhan di bawah laju inflasi, target finansial jangka panjang memiliki risiko tidak tercapai. Tabungan dana pensiun yang saat ini cukup, mungkin tidak lagi cukup ketika benar-benar dibutuhkan. Demikian pula dengan dana pendidikan anak yang dapat mengalami kekurangan akibat kenaikan biaya pendidikan.
Menghitung risiko negative real return membantu Anda menyusun strategi investasi yang lebih realistis. Anda dapat menyesuaikan ekspektasi imbal hasil, memilih instrumen investasi yang sesuai dengan tujuan investasi, serta melakukan evaluasi kinerja portofolio.
Untuk mengetahui apakah investasi benar-benar menghasilkan return, Anda perlu menghitung tingkat pengembalian riil atau real return. Rumus sederhananya adalah sebagai berikut:
| Real return = Return nominal − Tingkat inflasi |
Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, terdapat dua kemungkinan kondisi.
Melalui pendekatan ini, Anda dapat mengevaluasi efektivitas investasi secara lebih objektif.
Sebagai contoh, berdasarkan data per 31 Agustus 2026, reksa dana pasar uang Avrist Ada Kas Mutiara membukukan return sebesar 4,81% dalam satu tahun terakhir. Apabila dibandingkan dengan inflasi tahunan Indonesia per Agustus 2026 (year-on-year) sebesar 3,19%, maka estimasi real return dapat dihitung sebagai berikut:
Artinya, imbal hasil nominal 4,81% masih berada di atas laju inflasi, sehingga nilai investasi tersebut mengalami peningkatan secara riil. Kondisi inilah yang disebut positive real return.
Perhitungan di atas dapat digunakan karena kedua angkanya diukur pada rentang waktu yang sama, yaitu periode 12 bulan yang berakhir pada Agustus 2026. Kesetaraan periode inilah yang membuat hasilnya dapat dibaca secara langsung.
Sebagai perbandingan, hasilnya akan berbeda apabila periodenya tidak setara. Jika imbal hasil satu tahun tersebut dibandingkan dengan inflasi tahun kalender atau year-to-date per Agustus 2026 yang sebesar 1,86%, maka hasilnya menjadi:
Angka 2,95% perlu dilihat dengan mempertimbangkan perbedaan periode pengukuran, karena imbal hasil dihitung dalam periode 12 bulan, sementara inflasi yang digunakan baru mencakup delapan bulan, sehingga keduanya belum sepenuhnya berada dalam periode yang sama. Untuk menilai kinerja riil investasi secara lebih tepat, periode return dan inflasi yang dibandingkan sebaiknya diselaraskan terlebih dahulu.
Sebagai catatan, pengurangan langsung antara return nominal dan inflasi merupakan pendekatan sederhana yang umum digunakan. Perhitungan yang lebih presisi dapat menggunakan rumus [(1 + return nominal) / (1 + inflasi)] − 1. Dengan pendekatan tersebut, hasil pada contoh pertama menjadi 1,57%, sehingga perbedaannya relatif kecil untuk besaran angka tersebut.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Perhitungan sederhana ini dapat menjadi salah satu cara untuk membandingkan berbagai instrumen investasi. Sebab, pertumbuhan nilai investasi secara nominal belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan apabila inflasi bergerak lebih tinggi. Oleh karena itu, biasakan untuk selalu mengevaluasi investasi berdasarkan nilai riil.
Untuk jangka waktu yang lebih panjang, berdasarkan data per 31 Agustus 2026, Avrist Ada Kas Mutiara mencatatkan pertumbuhan kumulatif sebesar 16,52% dalam periode tiga tahun terakhir. Nilai tersebut setara dengan sekitar 5,23% per tahun secara majemuk. Sebagai perbandingan, inflasi secara YTD hingga Agustus 2026 tercatat sebesar 1,86%.
Meski begitu, perlu dipahami bahwa reksa dana pasar uang dirancang untuk menjaga likuiditas dan stabilitas nilai, bukan sebagai instrumen pertumbuhan jangka panjang. Perannya lebih sesuai untuk dana darurat, dana yang akan digunakan dalam waktu dekat, atau sebagai penyeimbang dalam portofolio. Untuk tujuan keuangan berjangka panjang, kesesuaian instrumen tetap bergantung pada horizon investasi, kebutuhan likuiditas, dan toleransi risiko masing-masing investor.
Anda dapat membeli reksa dana pasar uang Avrist Ada Kas Mutiara melalui Makmur, perusahaan wealth-tech yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana, serta telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]
Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek. Mari kita ulas lebih […]
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]
Key Takeaways: Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika […]
Key Takeaways: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang paruh pertama 2026. Dari all-time high penutupan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks turun hingga menyentuh 5.342,14 pada 8 Juni 2026, posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Hingga penutupan Semester I pada 30 Juni 2026, IHSG berada di level 5.643,19 atau terkoreksi […]