Key Takeaways:
Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek.
Mari kita ulas lebih lanjut tentang cara Lo Kheng Hong dalam memilih saham yang dinilai memiliki fundamental kuat untuk jangka panjang, serta bagaimana Anda dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip ini dalam investasi Anda.
Lo Kheng Hong memiliki pendekatan yang sangat selektif dalam memilih saham yang akan dibelinya. Lo Kheng Hong lebih mementingkan kualitas perusahaan yang akan diinvestasikan daripada sekadar melihat potensi harga jangka pendek.
Beberapa kriteria dasar yang digunakan Lo Kheng Hong untuk memilih saham berdasarkan fundamental yang kuat antara lain adalah memilih saham yang undervalued, memiliki laba yang besar dan bertumbuh secara konsisten, serta tata kelola perusahaan yang baik.
Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai cara-cara yang digunakan Lo Kheng Hong dalam memilih saham.
Salah satu prinsip utama yang diterapkan Lo Kheng Hong adalah membeli saham yang undervalued, yaitu ketika harga pasar saham berada jauh di bawah nilai fundamentalnya. Meskipun sebuah perusahaan memiliki kinerja yang baik, Lo Kheng Hong tidak akan membeli saham jika harga sudah terlalu tinggi.
Salah satu contoh nyata dari strategi ini adalah ketika Lo Kheng Hong mulai membeli saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada tahun 2012. Pada waktu itu, harga komoditas batu bara global jatuh, dan BUMI terbebani utang yang sangat besar.
Sentimen pasar yang sangat negatif membuat saham BUMI jatuh tajam, bahkan banyak investor yang panik dan menjual sahamnya karena khawatir perusahaan tersebut akan bangkrut. Namun, Lo Kheng Hong justru melihat peluang besar di tengah kesulitan ini. Dengan melakukan analisis mendalam, Lo Kheng Hong menyimpulkan bahwa nilai intrinsik BUMI jauh lebih tinggi daripada harga pasar sahamnya yang terus menurun.
Dengan keyakinan tersebut, Lo Kheng Hong mulai membeli saham BUMI secara bertahap, bahkan ketika harga sahamnya terus terpuruk hingga menyentuh level sekitar Rp50 per lembar saham. Lo Kheng Hong membeli saham ini dengan rata-rata harga sekitar Rp300 sejak 2012 hingga 2017. Kemudian pada akhirnya Lo Kheng Hong mengumpulkan sekitar 1 miliar lembar saham, setara dengan 2,7% dari total saham yang beredar, sebagaimana dijelaskan dalam buku Lo Kheng Hong: Orang Miskin yang Menjadi Triliuner di Bursa Efek Indonesia karya Lukas Setia Atmaja.
Ketika harga saham BUMI mulai kembali naik, Lo Kheng Hong memutuskan untuk mengambil keuntungan dengan menjual sekitar 90% sahamnya di harga yang jauh lebih tinggi, sehingga posisinya berbalik menguntungkan.
Prinsip ini menunjukkan bagaimana Lo Kheng Hong memanfaatkan margin of safety dalam memilih saham, yakni selisih atau batasan antara nilai intrinsik suatu aset dengan harga pasarnya. Namun, perlu dicatat bahwa hasil ini tidak selalu terjadi dan sangat bergantung pada kondisi pasar.
Lo Kheng Hong juga memperhatikan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dan mempertahankan kinerja keuangan yang baik. Pertumbuhan laba yang konsisten dapat menjadi salah satu indikator dalam menilai kualitas fundamental dan prospek perusahaan dalam jangka panjang.
Salah satu perusahaan yang pernah menjadi bagian dari portofolio Lo Kheng Hong adalah PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL). Berdasarkan laporan Bursa Efek Indonesia (BEI), Lo Kheng Hong memiliki porsi kepemilikan sebesar 6,7% di GJTL. GJTL merupakan salah satu produsen ban terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas produksi yang besar serta jaringan penjualan yang menjangkau pasar domestik maupun ekspor.
Kinerja keuangan GJTL kemudian menunjukkan perbaikan. Setelah mencatatkan rugi sebesar Rp191 miliar pada tahun 2022, perusahaan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,18 triliun pada tahun 2023. Kinerja positif tersebut berlanjut dengan laba bersih sebesar Rp1,19 triliun pada tahun 2024 dan meningkat menjadi Rp1,24 triliun pada tahun 2025.
Perbaikan tersebut menunjukkan kemampuan GJTL untuk memulihkan kinerja laba setelah mengalami kerugian pada 2022. Hal ini menjadi salah satu aspek fundamental yang dapat diperhatikan investor ketika menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba secara berkelanjutan.
Meski demikian, kinerja perusahaan di masa lalu tidak menjamin kinerja maupun pergerakan harga saham di masa mendatang sehingga investor tetap perlu melakukan analisis secara menyeluruh sebelum berinvestasi.
Dividen merupakan faktor penting lainnya yang menjadi pertimbangan utama Lo Kheng Hong dalam memilih saham. Kebijakan dividen yang konsisten dapat menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor dalam menilai kemampuan perusahaan menghasilkan dan membagikan laba kepada pemegang saham.
Lo Kheng Hong tercatat memiliki saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 125 juta lembar saham, dengan harga beli rata-rata sekitar Rp3.390 per saham. Untuk tahun buku 2025, BBRI membagikan dividen final sekitar Rp209 per saham yang dibayarkan pada Mei 2026.
Dengan asumsi jumlah saham yang dimilikinya tidak berubah, Lo Kheng Hong diperkirakan menerima dividen final sekitar Rp26,13 miliar. Dividen ini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan Lo Kheng Hong, meski besarannya tidak dijamin sama setiap tahun.
Investasi ala Lo Kheng Hong berfokus pada pemilihan saham yang didasarkan pada fundamental yang kuat dan analisis yang mendalam. Melalui ketiga prinsip tersebut, Lo Kheng Hong telah berhasil membangun kekayaan yang signifikan melalui investasi saham, dan prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan oleh siapa saja yang ingin melakukan investasi jangka panjang. Namun, perlu diingat bahwa hasil yang diterima setiap investor dapat berbeda dan tetap memiliki risiko.
Dengan memahami cara-cara yang digunakan Lo Kheng Hong dalam memilih saham, investor dapat membuat keputusan investasi yang lebih terukur dalam memilih saham dengan potensi pertumbuhan yang baik. Dalam berinvestasi, pemahaman mendalam terhadap perusahaan yang diinvestasikan adalah kunci untuk mencapai keberhasilan jangka panjang.
Sebagai investor tentunya Anda tidak selalu memiliki waktu dan pengetahuan dalam mengidentifikasi saham tertentu dengan indikator tersebut. Tersedia pilihan instrumen investasi seperti reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berpengalaman yang mampu melakukan analisis mendalam dalam menentukan alokasi aset.
Salah satu opsi reksa dana saham yang dapat Anda perhitungkan adalah Sucorinvest Maxi Fund yang telah berhasil mencatatkan kinerja positif sebesar 40,33% selama satu tahun berdasarkan data per 14 September 2026.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]
Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]
Key Takeaways: Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika […]
Key Takeaways: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat sepanjang paruh pertama 2026. Dari all-time high penutupan di level 9.134,70 pada 20 Januari 2026, indeks turun hingga menyentuh 5.342,14 pada 8 Juni 2026, posisi terendah dalam lima tahun terakhir. Hingga penutupan Semester I pada 30 Juni 2026, IHSG berada di level 5.643,19 atau terkoreksi […]