makmur-logo
Reksa Dana
Bangun Kekayaan Anda Lebih Cerdas
dengan Reksa Dana
Maksimalkan produk reksa dana terkurasi dari para
profesional, untuk bantu capai tujuan finansial Anda.
Pelajari

Berinvestasi lebih mudah dengan
beragam fitur pintar
Dikelola oleh profesional yang bersertifikasi
Mudah & Dapat diakses dimana saja
Investasi mulai dari Rp10.000
Produk sesuai profil risiko
Alokasi aset dibantu oleh Mavis
faq-illustration
Ada Pertanyaan Seputar Makmur?
Kunjungi FAQ Kami
arrow-right-green
Artikel

Cara Membedakan Saham Undervalued dengan Value Trap

author
Content Management
author
11 November 2025
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Saham undervalued memiliki kinerja fundamental yang baik, tetapi dihargai rendah oleh pasar.
  • Saham value trap adalah saham yang tampak murah secara valuasi, tetapi kinerjanya terus memburuk.
  • Saham undervalued biasanya memiliki katalis seperti pemulihan ekonomi atau ekspansi bisnis, sedangkan value trap justru minim potensi pertumbuhan di masa depan.

Ketika berinvestasi saham, banyak investor ingin mendapatkan saham undervalued, yaitu saham yang harganya saat ini lebih rendah dari nilai wajarnya, sehingga memiliki potensi kenaikan di masa depan. Namun, tidak semua saham murah layak dibeli. Anda perlu berhati-hati pada saham value trap, yaitu saham yang tampak menarik secara valuasi tetapi ternyata memiliki fundamental yang terus memburuk atau prospek bisnis yang buruk di masa depan, sehingga justru berisiko merugikan investor.

Ciri-Ciri Saham yang Undervalued

Sebelum menentukan apakah suatu saham termasuk undervalued, Anda perlu menganalisis laporan keuangan secara tepat untuk mendapatkan nilai wajar perusahaan. Selain itu, saham yang undervalued memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Kinerja keuangan stabil dan tumbuh

Saham undervalued merupakan emiten dengan kinerja keuangan yang stabil atau terus meningkat. Pendapatan dan laba bersihnya cenderung tumbuh dari waktu ke waktu, meskipun harga sahamnya tidak mencerminkan hal tersebut. Anda dapat memeriksa laporan keuangan secara rutin untuk melihat tren pertumbuhan penjualan, margin laba, serta tingkat efisiensi biaya operasional.

2. Rasio keuangan di bawah rata-rata industri

Beberapa rasio keuangan seperti Price to Earnings Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), dan Price to Cash Flow (P/CF) dapat membantu menilai valuasi suatu saham. Jika rasio-rasio tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata industri, tetapi perusahaan tetap mencatat pertumbuhan kinerja, saham emiten tersebut potensial dan merupakan saham undervalued.

3. Fundamental dan manajemen yang kuat

Saham emiten yang undervalued umumnya memiliki fundamental yang kuat. Neraca keuangan menunjukkan struktur modal yang efisien, rasio utang yang sehat, dan arus kas positif. Selain itu, manajemen perusahaan biasanya memiliki rekam jejak yang baik, dengan strategi bisnis yang realistis dan mampu beradaptasi terhadap perubahan pasar.

4. Memiliki prospek bisnis yang jelas

Saham undervalued umumnya berasal dari sektor yang tengah mengalami penurunan sementara namun memiliki prospek pemulihan dalam jangka menengah hingga panjang. Sebagai contoh, sektor perbankan Indonesia sempat mengalami tekanan pada tahun 2023 akibat tingginya suku bunga dan perlambatan pertumbuhan kredit, meskipun secara fundamental industri ini tetap sehat. Dengan memahami kondisi makroekonomi dan tren industri, investor dapat menilai apakah penurunan harga saham bersifat sementara karena faktor siklus atau justru mencerminkan penurunan kinerja jangka panjang.

Ciri-Ciri Saham yang Termasuk Value Trap

Saham value trap juga terlihat murah di mata investor, namun di balik angka valuasi yang rendah, terdapat masalah mendasar yang membuat harga saham sulit naik kembali. Berikut tanda-tanda yang perlu Anda waspadai:

1. Penurunan kinerja yang konsisten

Ciri utama saham value trap adalah kinerja perusahaan yang terus menurun dari tahun ke tahun. Pendapatan, laba bersih, dan margin keuntungan mengalami penurunan tanpa tanda perbaikan. Penurunan ini biasanya disebabkan oleh hilangnya daya saing, manajemen yang tidak adaptif, atau perubahan tren industri yang membuat produk perusahaan tidak lagi relevan.

2. Valuasi murah karena alasan yang tepat

Harga saham yang rendah tidak selalu berarti undervalued. Bisa jadi pasar menilai murah karena memang kinerja perusahaan buruk. Misalnya, perusahaan memiliki utang besar, arus kas negatif, atau tidak mampu menghasilkan keuntungan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kondisi ini, valuasi rendah justru mencerminkan risiko yang tinggi, bukan peluang investasi.

3. Tidak ada katalis pertumbuhan

Saham yang termasuk value trap umumnya tidak memiliki katalis pertumbuhan di masa depan. Tidak ada inovasi produk dari emiten atau berhentinya ekspansi pasar, dan tanpa prospek bisnis yang jelas, maka kecil kemungkinan harga saham akan pulih, meskipun terlihat murah secara valuasi.

4. Dividen tinggi tetapi tidak berkelanjutan

Beberapa saham value trap menawarkan dividen besar untuk menarik investor. Namun, jika laba perusahaan menurun terus-menerus, pembayaran dividen seperti itu tidak dapat dipertahankan. Bahkan, bisa jadi dividen tersebut dibiayai dari utang atau cadangan kas, yang justru memperburuk kondisi keuangan perusahaan di masa depan.

Membedakan saham undervalued dengan value trap membutuhkan analisis yang cermat dan objektif. Saham undervalued memiliki kinerja yang stabil, prospek bisnis, serta valuasi rendah karena sentimen sementara. Di sisi lain, saham value trap tampak murah secara valuasi, tetapi sebenarnya memiliki risiko tinggi akibat penurunan kinerja dan minimnya prospek pertumbuhan.

Anda perlu berhati-hati dalam menilai harga saham, gunakan data keuangan yang valid, perhatikan tren industri, dan pastikan ada katalis positif yang dapat mendorong perbaikan kinerja. Dengan pendekatan yang rasional, Anda dapat menghindari saham value trap.

Namun, jika Anda merasa tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan analisis secara mandiri, maka berinvestasi di reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang tepat. Produk reksa dana saham dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang telah memiliki wawasan dan keahlian dalam memilih saham undervalued yang potensial, sehingga bisa memberikan return optimal.

Reksa dana saham Bahana Icon Syariah Kelas G misalnya, berdasarkan data per tanggal 10 November 2025 memiliki tingkat pengembalian yang cukup tinggi, sebesar 43,54% secara year to date (ytd). 

*kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Prosperity November, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Makmur Premium Tour.

Link: Promo-Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

BI Rate Naik 25 bps ke 5,50% di Luar Jadwal RDG, Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Key Takeaways: Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada 9 Juni 2026, dari 5,25% menjadi 5,50%. Sebelumnya, pada 20 Mei 2026, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dari 4,75% menjadi 5,25%. Pengumuman tersebut tergolong tidak biasa karena diputuskan melalui rapat mingguan di luar jadwal […]

author
Content Management
calendar
11 Juni 2026
Artikel

Tips Memilih Reksa Dana Saham: Evaluasi Konsistensi Kinerja dan Bandingkan dengan Benchmark

Key Takeaways: Perubahan nilai aktiva bersih (NAB) pada reksa dana saham, baik dalam tren naik maupun turun, merupakan kondisi yang wajar. Hal ini disebabkan oleh pergerakan harga saham yang dipengaruhi berbagai faktor, seperti sentimen global, kondisi makroekonomi, serta fundamental perusahaan. Oleh karena itu, tujuan berinvestasi pada reksa dana saham bukan untuk sepenuhnya menghindari penurunan, melainkan […]

author
Content Management
calendar
09 Juni 2026
Artikel

Gaji Terasa Cepat Habis? Ini Cara Melakukan Review Keuangan Bulanan Agar Optimal

Key Takeaways: Gaji yang terasa cepat habis sering menjadi persoalan yang berulang dari bulan ke bulan. Ketika awal gajian, kondisi keuangan tampak terkendali, namun tanpa disadari, pengeluaran kecil justru menyebabkan total pengeluaran membengkak. Akibatnya, sisa dana di akhir bulan tidak sesuai dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi ini umumnya bukan hanya disebabkan oleh besarnya […]

author
Content Management
calendar
08 Juni 2026
Artikel

Perusahaan dengan WACC Rendah Dianggap Efisien, Benarkah Selalu Menguntungkan Investor?

Key Takeaways: Efisiensi biaya pendanaan sering kali dikaitkan dengan kemampuan perusahaan dalam mengelola struktur modalnya. Salah satu indikator dalam menilai efisiensi tersebut adalah Weighted Average Cost of Capital (WACC). Banyak yang menganggap WACC rendah sebagai tanda efisiensi dan daya tarik bagi investor. Namun, apakah asumsi ini selalu benar? WACC adalah rata-rata tertimbang dari biaya modal […]

author
Content Management
calendar
05 Juni 2026
Artikel

Tertarik Investasi di Reksa Dana Indeks? Pahami Mekanisme Replikasi dan Rebalancing Portofolio

Key Takeaways: Reksa dana indeks semakin sering menjadi pilihan dalam perencanaan investasi. Produk ini dirancang untuk meniru kinerja suatu indeks pasar, seperti LQ45, IDX30, IHSG, dan JII. Alih-alih mengandalkan strategi pemilihan saham secara aktif, reksa dana indeks berupaya mengikuti arah pergerakan indeks acuannya. Banyak investor tertarik karena kinerjanya yang sejalan dengan pasar tanpa perlu analisis […]

author
Content Management
calendar
03 Juni 2026
Artikel

Bagaimana Cara Mendeteksi Akumulasi Saham Menggunakan Data Broker Flow? Ini Penjelasannya

Key Takeaways: Sebagai investor, pemahaman terhadap pergerakan saham sangat diperlukan untuk membuat keputusan investasi yang lebih baik. Salah satu fitur yang dapat membantu investor untuk memprediksi pergerakan saham adalah data broker flow. Broker Flow adalah data yang merangkum aktivitas transaksi (beli dan jual) yang dilakukan oleh perusahaan sekuritas atau broker dalam periode waktu tertentu. Data […]

author
Content Management
calendar
03 Juni 2026
Bangun Kekayaan Jangka Panjang Bersama Makmur
Hak Cipta ©2019 - 2026 PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 270001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0