Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite kebijakan moneter Federal Reserve resmi menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026. Keputusan tersebut disetujui secara bulat melalui voting, dengan hasil 12 suara setuju tanpa adanya perbedaan pendapat.
Dalam pernyataan resminya, komite FOMC menempatkan keputusan tersebut sebagai bagian dari upaya menjalankan mandat ganda bank sentral. Komite menilai inflasi masih berada pada level tinggi dan menyatakan bahwa kebijakan tersebut diperlukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2%.
Di sisi lain, penilaian komite FOMC terhadap kondisi ekonomi masih relatif kuat. Aktivitas ekonomi disebut tumbuh solid, belanja domestik tetap tangguh, pertumbuhan produktivitas kuat, dan investasi modal berada pada level cukup tangguh. Tingkat pengangguran juga tercatat di level 4,1% pada Agustus 2026 dan relatif tidak berubah.
Bagi investor, terdapat satu poin penting lain dalam keputusan tersebut. Komite menyatakan akan tetap menjaga cadangan perbankan pada tingkat yang memadai. Dengan demikian, pengetatan kali ini terutama dilakukan melalui kenaikan suku bunga, sementara The Fed tetap menjaga cadangan perbankan pada tingkat yang memadai.
Dari keputusan tersebut, terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan lebih lanjut, yaitu tekanan politik terhadap kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, dampak kebijakan The Fed terhadap Indonesia, serta dampaknya terhadap aset berdasarkan tingkat risikonya.
Keputusan FOMC yang diambil tanpa perbedaan pendapat tetap mendapat kritik dari Presiden Donald Trump. Penolakannya terhadap kenaikan suku bunga dapat dilihat dari beberapa konsekuensi ekonomi yang menjadi perhatian Donald Trump selama ia menjabat pada periode keduanya ini.
Total utang pemerintah Amerika Serikat mencapai sekitar US$ 40,2 triliun pada Agustus 2026, sementara belanja bunga bersih diproyeksikan sekitar US$1,04 triliun pada tahun fiskal 2026, atau sekitar 14% dari total pengeluaran pemerintah berdasarkan proyeksi belanja sekitar US$7,4 triliun.
Perhitungan sederhana berikut dapat menunjukkan mengapa kenaikan suku bunga menjadi perhatian dari sisi fiskal. Belanja bunga Amerika Serikat saat ini mencapai US$ 1,04 triliun. Jika belanja bunga sebesar US$1,04 triliun dibandingkan secara sederhana dengan total utang sekitar US$40,2 triliun, rasio tersebut mencapai sekitar 2,59%. Angka ini bukan merupakan tingkat bunga efektif utang pemerintah AS, tetapi hanya ilustrasi sederhana mengenai besarnya beban bunga terhadap total outstanding debt.
Dengan tingkat suku bunga yang masih tinggi, penerbitan kembali surat utang yang jatuh tempo dapat meningkatkan beban bunga secara bertahap karena utang lama digantikan dengan surat utang baru dengan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi.
Melalui salah satu post-nya di Truth Social, Presiden Donald Trump menuntut agar suku bunga diturunkan ke kisaran 1% atau lebih rendah. Jika dibandingkan dengan median suku bunga saat ini yang sebesar 3,875%, tuntutan tersebut setara dengan pemangkasan sekitar 287,5 basis poin. Permintaan tersebut sangat jauh berbeda dengan proyeksi FOMC yang menunjukkan median suku bunga pada akhir 2026 sebesar 4,1%.
Perlu diketahui bahwa basis poin sendiri merupakan satuan yang digunakan untuk menyatakan perubahan suku bunga. Seratus basis poin setara dengan 1 poin persentase.
Alasan yang disampaikan mencakup klaim bahwa Amerika Serikat sedang mengalami peningkatan investasi dan memiliki kualitas kredit yang sangat kuat. Trump juga menyatakan bahwa tingkat suku bunga yang tinggi dapat mengurangi daya saing Amerika Serikat dan berkaitan dengan defisit perdagangan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan Presiden Amerika Serikat dan bukan penilaian independen terhadap kondisi ekonomi.
Selain itu, terdapat perbedaan antara catatan resmi FOMC dan pernyataan politik yang disampaikan Presiden Trump. Trump menyatakan masih mengandalkan Ketua The Fed Kevin Warsh, tetapi menilai Warsh menghadapi anggota dewan yang tidak mendukung pandangannya mengenai suku bunga.
Namun, catatan resmi FOMC menunjukkan bahwa keputusan untuk menaikkan suku bunga disetujui oleh seluruh anggota komite. Hasil voting tersebut merupakan fakta yang tercatat dalam keputusan komite, sedangkan penilaian mengenai kondisi dewan merupakan pernyataan yang disampaikan oleh Presiden.
Dalam konferensi pers, pimpinan The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa independensi bank sentral merupakan bagian dari upaya menjalankan kebijakan sesuai mandatnya. Ia juga menggambarkan independensi sebagai hubungan dua arah, dengan setiap pihak tetap menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, termasuk dalam kebijakan perdagangan dan fiskal.
Bagi investor, perbedaan tersebut membuat keputusan kebijakan The Fed dan data ekonomi yang menjadi dasarnya lebih relevan untuk dipantau dibandingkan pernyataan politik yang menyertainya.
Untuk menilai sejauh mana keputusan The Fed dapat memengaruhi pasar domestik, siklus pengetatan pada 2022 sampai 2023 dapat digunakan sebagai salah satu pembanding.
Namun, kondisi saat ini memiliki sejumlah perbedaan penting sehingga pola sebelumnya tidak dapat diterapkan secara langsung. Mari simak pembahasan berikut.
Proyeksi ekonomi yang dirilis bersamaan dengan keputusan FOMC menunjukkan median suku bunga pada akhir 2026 sebesar 4,1%, yang mengindikasikan bahwa sebagian peserta masih melihat kemungkinan tingkat suku bunga yang lebih tinggi dari kisaran saat ini.
Median proyeksi suku bunga untuk 2027 juga berada di 4,1%, meskipun delapan pejabat memperkirakan angkanya dapat mencapai 4,4%. Seluruh angka tersebut merupakan proyeksi individual peserta pertemuan dan bukan komitmen terhadap kebijakan yang akan diambil.
Salah satu dasar yang dapat menjelaskan proyeksi tersebut adalah selisih antara suku bunga dan tingkat inflasi. Jika dihitung secara sederhana dengan mengurangkan inflasi PCE Juli sebesar 3,7% dari titik tengah suku bunga The Fed sebesar 3,875%, selisihnya sekitar 0,18 poin persentase.
Bahkan jika dibandingkan dengan proyeksi inflasi inti akhir 2026 sebesar 3,4%, selisihnya hanya sekitar 0,48 poin persentase. Kedua perhitungan tersebut merupakan pengurangan sederhana, sehingga lebih tepat digunakan sebagai ilustrasi mengenai posisi suku bunga nominal terhadap inflasi, bukan sebagai satu-satunya ukuran stance kebijakan moneter.
Bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga dari kisaran 0% sampai 0,25% pada Maret 2022 menjadi 5,25% sampai 5,50% pada Juli 2023. Kenaikan tersebut mencapai 525 basis poin dalam sekitar 16 bulan.
Bank Indonesia merespons dengan menaikkan BI-Rate dari 3,50% menjadi 5,75% antara Agustus 2022 dan Januari 2023. BI kemudian kembali menaikkannya menjadi 6,00% pada Oktober 2023 dan 6,25% pada April 2024.
Perbedaan penting dalam kondisi saat ini terlihat dari besarnya selisih suku bunga. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur 18 sampai 19 Agustus 2026. Pada periode yang sama, suku bunga deposit facility berada di 4,75% dan lending facility di 6,50%.
Jika dibandingkan dengan titik tengah target suku bunga The Fed sebesar 3,875%, selisih dengan BI-Rate mencapai sekitar 187,5 basis poin. Sebagai pembanding, pada puncak siklus Juli 2023, selisih tersebut hanya sekitar 37,5 basis poin. Bahkan jika The Fed melakukan satu kenaikan tambahan, selisihnya masih berada di sekitar 162,5 basis poin.
Perbedaan pertama terlihat pada kondisi likuiditas sistem. Pada siklus 2022, kenaikan suku bunga berlangsung bersamaan dengan pengurangan neraca bank sentral. Pengetatan pada saat itu terjadi melalui harga dana sekaligus kuantitas likuiditas.
Dalam kondisi saat ini, komite menyatakan akan tetap menjaga cadangan perbankan pada tingkat yang memadai. Dengan demikian, mekanisme pengetatan kali ini berbeda dari periode ketika kenaikan suku bunga berlangsung bersamaan dengan pengurangan neraca The Fed. Dampaknya terhadap kondisi likuiditas global tetap bergantung pada perkembangan neraca dan operasi pasar The Fed.
Perbedaan berikutnya terdapat pada posisi inflasi domestik terhadap sasaran Bank Indonesia. Inflasi Indonesia tercatat 3,19% secara tahunan pada Agustus 2026, naik dari 2,88% pada Juli, tetapi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% ± 1%.
Sebagai pembanding, inflasi PCE Amerika Serikat berada sekitar 1,7 poin persentase di atas target The Fed sebesar 2%. Sementara itu, inflasi Indonesia pada puncak siklus sebelumnya mencapai 5,95% pada September 2022.
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia berikutnya dijadwalkan pada 22 sampai 23 September 2026. Oleh karena itu, keputusan BI pada periode tersebut menjadi salah satu perkembangan yang perlu dipantau.
Setiap kelas aset memiliki sensitivitas yang berbeda terhadap perubahan suku bunga seperti yang terjadi saat ini.
Perbedaan tersebut menjadi lebih mudah dipahami ketika aset dikelompokkan berdasarkan tingkat risikonya.
Saham cenderung merespons perubahan suku bunga melalui perubahan tingkat diskonto yang digunakan untuk menilai arus kas masa depan. Tingkat diskonto merupakan tingkat imbal hasil yang digunakan untuk menghitung nilai arus kas masa depan ke nilai saat ini.
Emiten dengan valuasi yang sangat bergantung pada pertumbuhan jangka panjang, rasio utang yang tinggi, atau kewajiban dalam denominasi dolar dapat lebih sensitif ketika suku bunga dan risiko nilai tukar meningkat secara bersamaan.
Namun, sensitivitas terhadap suku bunga tidak berarti arah harga saham dapat dipastikan. Penilaian komite yang menyebut belanja domestik tetap tangguh dan investasi modal berada pada level kuat dapat menjadi faktor yang mendukung emiten dengan permintaan dan fundamental operasional yang solid.
Obligasi dan reksa dana pendapatan tetap menghadapi risiko suku bunga melalui hubungan terbalik antara yield pasar dan harga obligasi. Ketika yield meningkat, harga obligasi yang telah beredar secara umum mengalami tekanan.
Besarnya dampak dipengaruhi oleh durasi, yaitu ukuran sensitivitas harga obligasi terhadap perubahan yield. Sebagai ilustrasi, obligasi dengan modified duration sekitar lima tahun secara teoretis dapat mengalami penurunan harga sekitar 5% ketika yield meningkat 100 basis poin. Instrumen dengan durasi dua tahun secara teoretis mengalami penurunan sekitar 2% dalam kondisi yang sama.
Angka tersebut merupakan hasil perhitungan mekanis berdasarkan pendekatan durasi, bukan proyeksi harga. Dalam praktiknya, perubahan harga dapat berbeda karena faktor kredit, likuiditas, dan kondisi pasar lainnya.
Instrumen pasar uang, deposito, dan surat berharga negara dengan tenor di bawah satu tahun memiliki sensitivitas harga yang relatif rendah karena sisa jatuh temponya pendek. Dalam siklus kenaikan suku bunga, imbal hasil instrumen tersebut juga cenderung menyesuaikan mengikuti suku bunga acuan, meskipun penyesuaiannya dapat berlangsung dengan jeda waktu.
Instrumen berjangka pendek juga memberikan fleksibilitas karena dana dapat ditempatkan kembali dalam waktu relatif singkat, sementara sensitivitas harganya terhadap perubahan yield cenderung lebih rendah.
Arah kebijakan Amerika Serikat kini kembali menuju pengetatan, tetapi titik akhirnya belum dapat dipastikan karena proyeksi komite masih menunjukkan ruang untuk kenaikan lanjutan. Karena itu, perkembangan data ekonomi yang menjadi dasar keputusan The Fed berikutnya menjadi hal yang perlu dipantau.
Bagi investor Indonesia, dampak kebijakan The Fed bekerja secara tidak langsung melalui selisih suku bunga, nilai tukar, inflasi, serta ruang kebijakan Bank Indonesia. Perkembangan faktor-faktor tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam memahami respons masing-masing kelas aset, yang tetap bergantung pada karakteristik instrumen dan profil risiko investor.
Investor yang ingin mempertahankan porsi aset likuid dalam portofolionya dapat mempertimbangkan reksa dana pasar uang. Reksa dana pasar uang berinvestasi pada instrumen pasar uang dan/atau surat utang dengan jatuh tempo pendek, sehingga fluktuasi nilainya secara umum cenderung lebih rendah dibandingkan jenis reksa dana lainnya.
Melalui Makmur sebagai platform wealth-tech yang menyediakan beragam produk saham dan reksa dana, tersedia berbagai pilihan reksa dana pasar uang. Salah satunya adalah Danapathi Money Market Fund, yang mencatatkan imbal hasil sebesar 5,49% dalam satu tahun terakhir berdasarkan data per 17 September 2026.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]
Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]
Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek. Mari kita ulas lebih […]
Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]
Key Takeaways: Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika […]