makmur-logo
Masuk / Daftar
Artikel

Suku Bunga Acuan BI Naik 50 bps di Mei 2026 untuk Menguatkan Mata Uang Rupiah, Apa yang Investor Perlu Lakukan?

author
Content Management
author
20 Mei 2026
Facebook
Instagram
Tiktok
blog-detail

Key Takeaways:

  • Kebijakan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% merupakan langkah strategis BI untuk meredam tekanan nilai tukar Rupiah. 
  • Arus keluar dana asing atau capital outflow menjadi salah satu penyebab tekanan nilai tukar Rupiah terhadap USD. 
  • Dengan menaikkan suku bunga acuan, BI ingin meningkatkan daya tarik aset keuangan berbasis Rupiah agar aliran modal asing kembali masuk.
  • Stabilitas nilai tukar Rupiah dan kepercayaan pasar saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia.

Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75% di April 2026 menjadi 5,25%, hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting yang diambil pada tahun 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan, sekaligus menjadi kenaikan suku bunga acuan pertama setelah BI mempertahankannya selama tujuh bulan berturut-turut sejak Oktober 2025.

Pelemahan mata uang Rupiah sempat menyentuh level Rp17.785 per US dollar (USD) pada 19 Mei 2026, dipicu oleh tekanan global dan domestik. Dari sentimen global, The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama karena ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid. Kondisi ini memicu arus keluar dana asing atau capital outflow dari negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor asing lebih memilih aset berbasis USD karena imbal hasilnya dianggap kompetitif.

Melalui rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28–29 April 2026, The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,50%–3,75% untuk meredam tekanan inflasi dan menjaga stabilitas ekonomi domestik AS. Di saat yang sama, Indonesia juga menghadapi tekanan fiskal akibat defisit APBN yang meningkat pada Kuartal I 2026.

Per Maret 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit ini dipengaruhi kenaikan belanja negara serta membengkaknya subsidi energi akibat lonjakan harga minyak dunia. Situasi tersebut membuat investor cenderung bersikap wait and see, yaitu kondisi ketika investor menunda keputusan investasi dan menunggu kepastian terkait arah kebijakan pemerintah dan perkembangan kondisi ekonomi nasional.

Di tengah tekanan tersebut, kenaikan suku bunga acuan BI menjadi sinyal bahwa BI ingin menjaga stabilitas mata uang Rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.

Alasan Langkah Menaikkan Suku Bunga Acuan Diambil Saat Ini

Kebijakan kenaikan suku bunga acuan dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Di tengah tekanan global dan domestik yang cukup besar, BI perlu mengambil langkah cepat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, di antaranya:

1. Menstabilkan nilai tukar Rupiah

Salah satu alasan utama kenaikan suku bunga acuan BI adalah untuk memperkuat nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan akibat capital outflow. Strategi ini dikenal sebagai langkah front-loading dan pre-emptive, yaitu kebijakan yang dilakukan lebih awal untuk meredam tekanan yang berpotensi semakin besar.

Sepanjang periode 1 Januari-19 Mei 2026, nilai tukar Rupiah melemah sekitar 1.017 poin dari Rp16.675 menjadi Rp17.692 per USD. Secara year-to-date (YTD), pelemahan ini mencapai sekitar 6,10%.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sempat mengungkapkan bahwa sepanjang Kuartal I 2026 terjadi capital outflow yang cukup besar dari pasar keuangan Indonesia. Tekanan terbesar terjadi di pasar saham dengan nilai outflow mencapai Rp26,06 triliun.

Setelah memasuki April 2026, tekanan capital outflow di pasar saham masih berlanjut sebesar Rp12,49 triliun. Meski pada Mei 2026 sempat terjadi arus masuk dana asing atau capital inflow sebesar Rp10,91 triliun, secara akumulasi tahunan pasar saham Indonesia masih mencatatkan capital outflow sekitar Rp27,64 triliun.

Tekanan tersebut juga tercermin pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun sekitar 27,77%, dari level 8.748 ke 6.318 secara YTD per 20 Mei 2026. Jadi, melalui kenaikan suku bunga acuan, BI ingin meningkatkan daya tarik instrumen keuangan berbasis mata uang Rupiah agar investor asing kembali masuk ke pasar Indonesia. Jika aliran dana asing mulai kembali stabil, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga berpotensi berkurang secara bertahap.

2. Mengantisipasi penurunan cadangan devisa

Selain menjaga nilai tukar mata uang Rupiah, kenaikan suku bunga juga bertujuan mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa Indonesia. Selama beberapa bulan terakhir, BI harus melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menjual USD dan membeli mata uang Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Posisi cadangan devisa Indonesia memang masih relatif kuat, tetapi trennya terus menurun sejak awal tahun 2026.

Tabel 1. Cadangan Devisa Indonesia pada tahun 2026

Tahun 2026Cadangan Devisa (Miliar)
JanuariUS$154,6
FebruariUS$151,9
MaretUS$148,2
AprilUS$146,2

Sumber: Bank Indonesia

Data cadangan devisa negara di atas menunjukkan bahwa BI cukup aktif melakukan stabilisasi nilai tukar melalui operasi pasar. Jika kondisi tersebut berlangsung terlalu lama tanpa dukungan kebijakan suku bunga, cadangan devisa berisiko terus tergerus.

Di sisi lain, selisih imbal hasil investasi antara Indonesia dan AS juga menjadi pertimbangan penting. Sebelum kenaikan suku bunga acuan BI, selisih imbal hasil antara Indonesia dan AS yang menyempit turut mengurangi daya tarik relatif aset berbasis rupiah bagi investor global. 

Dengan kenaikan suku bunga menjadi 5,25%, aset keuangan berbasis mata uang Rupiah seperti obligasi pemerintah dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi lebih kompetitif dibanding sebelumnya. Kondisi ini diharapkan mampu menarik kembali dana investor asing dan mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa nasional.

3. Mengendalikan inflasi

BI juga perlu menjaga agar pelemahan nilai tukar Rupiah tidak berubah menjadi tekanan inflasi yang lebih besar. Ketika nilai tukar melemah tajam, harga barang impor otomatis meningkat karena pelaku usaha membutuhkan lebih banyak mata uang Rupiah untuk membeli USD.

Kenaikan harga impor ini dapat memicu kenaikan harga barang konsumsi dalam negeri, terutama produk yang bergantung pada bahan baku impor seperti gandum, kedelai, BBM, hingga peralatan elektronik. Berikut data inflasi Indonesia sepanjang 2026:

Tabel 2. Data inflasi Indonesia sepanjang tahun 2026

Tahun 2026Inflasi year-on-year (YoY) (%)
April2,42%
Maret3,48%
Februari4,76%
Januari3,55%

Sumber: Bank Indonesia

Jika melihat data tersebut, tekanan inflasi sebenarnya masih relatif terkendali. Inflasi bahkan berhasil turun ke level 2,42% YoY pada April 2026 setelah sempat meningkat pada awal tahun. Namun, pelemahan nilai tukar Rupiah yang terlalu tajam tetap berpotensi meningkatkan imported inflation atau inflasi dari barang impor. Oleh karena itu, kenaikan suku bunga acuan BI dilakukan untuk memperkuat nilai tukar Rupiah dan menjaga ekspektasi inflasi tetap stabil.

Setelah pengumuman kenaikan suku bunga sebesar 50 bps, nilai tukar Rupiah sempat menguat ke kisaran Rp17.598 per USD pada perdagangan 20 Mei 2026 sore, dari level pembukaan di angka Rp17.680 per USD atau menguat sekitar 0,46%. Penguatan ini menunjukkan bahwa pasar merespons positif langkah BI dalam menjaga stabilitas moneter nasional.

Kenaikan suku bunga acuan BI menjadi tanda bahwa stabilitas nilai tukar Rupiah dan kepercayaan pasar saat ini menjadi prioritas pemerintah Indonesia. Bagi investor saham, volatilitas pasar berpotensi masih akan tinggi dalam jangka pendek. Sektor atau industri yang sensitif terhadap perubahan suku bunga seperti properti, konstruksi, dan emiten dengan utang besar cenderung menghadapi tekanan karena biaya pendanaan meningkat.

Namun, kondisi ini juga dapat membuka peluang akumulasi bertahap pada saham dengan fundamental solid yang memiliki arus kas stabil dan tingkat utang rendah. Anda bisa mempertimbangkan secara selektif dan fokus pada perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga acuan berpotensi mendorong peningkatan imbal hasil deposito secara bertahap. Kondisi tersebut membuat instrumen investasi seperti reksa dana pasar uang bisa dipertimbangkan. Reksa dana pasar uang merupakan jenis reksa dana yang mengalokasikan dana kelolaan pada deposito dan surat utang jangka pendek. 

Anda bisa membeli reksa dana pasar uang melalui Makmur, perusahaan wealth-tech yang menyediakan layanan investasi terpadu untuk saham dan reksa dana, serta telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ada beragam reksa dana pasar uang yang bisa Anda pertimbangkan di Makmur, salah satunya Insight Retail Cash Fund. Berdasarkan data per 20 Mei 2026, reksa dana tersebut mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,81% dalam 1 tahun terakhir.

*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.

Tentang Makmur

PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.

Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.


Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Momentum May dan Semua Bisa Makmur.

Link: Promo di Makmur

Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.

Download Makmur

Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.

Web Aplikasi Makmur

Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:

Website: Makmur.id


Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani

Bagikan
Facebook
Instagram
Tiktok
Artikel lainnya
Artikel

The Fed Naikkan Suku Bunga ke 3,75%–4,00%, Apa Dampaknya bagi Investor Indonesia?

Key Takeaways: Federal Open Market Committee (FOMC) atau komite kebijakan moneter Federal Reserve resmi menaikkan kisaran target suku bunga sebesar seperempat poin persentase menjadi 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026. Keputusan tersebut disetujui secara bulat melalui voting, dengan hasil 12 suara setuju tanpa adanya perbedaan pendapat.  Dalam pernyataan resminya, komite FOMC menempatkan keputusan tersebut […]

author
Content Management
calendar
18 September 2026
Artikel

Menilai Penggunaan Dana Hasil Right Issue, Apa yang Harus Diperhatikan Investor Sebelum Menebusnya?

Key Takeaways: Right issue merupakan salah satu aksi korporasi yang cukup sering dilakukan oleh emiten di pasar modal. Aksi right issue memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk menambah kepemilikan dengan harga tertentu sebelum saham baru ditawarkan lebih luas. Menilai penggunaan dana right issue menjadi langkah krusial sebelum memutuskan untuk menebus atau melepas hak tersebut. […]

author
Content Management
calendar
17 September 2026
Artikel

Mengapa Investor Wajib Menghitung Risiko Negative Real Return? Ini Alasannya

Key Takeaways: Banyak investor merasa puas ketika melihat nilai investasi mereka terus bertambah dari waktu ke waktu. Namun, pertumbuhan nominal tersebut belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang sebenarnya. Ada satu faktor penting yang sering diabaikan, yaitu inflasi. Investor wajib menghitung risiko negative real return karena inflasi yang tinggi dapat membuat nilai riil atau daya beli […]

author
Content Management
calendar
16 September 2026
Artikel

Tertarik Investasi Saham Ala Lo Kheng Hong? Ini Cara Memilih Perusahaan yang Fundamentalnya Kuat

Key Takeaways: Lo Kheng Hong dikenal sebagai salah satu investor terkemuka di Indonesia yang telah menunjukkan konsistensinya dalam berinvestasi di saham sejak lama. Dengan mengadopsi filosofi value investing, Lo Kheng Hong percaya bahwa investasi yang baik harus didasarkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat, bukan hanya sekadar fluktuasi harga jangka pendek.  Mari kita ulas lebih […]

author
Content Management
calendar
15 September 2026
Artikel

Belanja Pemerintah dan Investasi: Seberapa Besar Keterkaitannya?

Key Takeaways: Multiplier effect adalah kondisi ketika perubahan awal pada pengeluaran menghasilkan dampak yang lebih besar terhadap pendapatan maupun output ekonomi secara keseluruhan. Proses ini terjadi karena pengeluaran satu pihak akan menjadi pendapatan bagi pihak lain, yang kemudian kembali dibelanjakan sehingga menciptakan putaran aktivitas ekonomi baru. Salah satu sumber multiplier effect yang paling sering dibahas […]

author
Content Management
calendar
10 September 2026
Artikel

Ke Mana Dana Asing Mengalir? Membaca Sinyal Pasar Lewat Makro Flow of Funds Analysis

Key Takeaways: Aliran dana asing merupakan pergerakan masuk dan keluarnya modal investasi dari investor asing ke suatu negara. Pergerakan ini menjadi salah satu indikator yang sering diamati pelaku pasar karena dapat memberikan gambaran mengenai preferensi risiko investor global terhadap suatu negara. Di tengah ketidakpastian ekonomi global sepanjang 2026, sikap investor asing terhadap Indonesia menunjukkan dinamika […]

author
Content Management
calendar
09 September 2026
Hak Cipta © PT Inovasi Finansial Teknologi
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) adalah perusahaan yang berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dan Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). PT Inovasi Finansial Teknologi telah mendapatkan izin sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik dari Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia serta telah tersertifikasi ISO 27001:2022 dalam penerapan standar internasional pada Sistem Manajemen Keamanan Informasi.
Reksa dana adalah instrumen investasi dan produk pasar modal yang dikelola oleh Manajer Investasi (MI). Makmur tidak bertanggung jawab atas pengelolaan portofolio reksa dana yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Saham adalah tanda penyertaan modal atas suatu persereoan terbatas yang terdaftar dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Seluruh instrumen investasi mengandung risiko dan memiliki kemungkinan berkurangnya nilai investasi. Kinerja historis instrumen investasi tidak menjamin kinerja dimasa yang akan datang.
Makmur V.1.0.0