






Dalam dunia investasi saham, terdapat dua fenomena yang kerap terjadi menjelang dan setelah pergantian tahun, yaitu window dressing dan January effect. Keduanya sering dimanfaatkan oleh investor untuk merancang strategi yang lebih terarah pada akhir dan awal tahun.
Window dressing adalah strategi yang dilakukan oleh manajer investasi dan institusi keuangan menjelang akhir tahun untuk memperbaiki tampilan portofolio mereka. Langkah ini biasanya diwujudkan melalui pembelian saham berkapitalisasi besar sehingga tampilan portofolio terlihat lebih “sehat” saat dilaporkan.
Di sisi lain, January effect menggambarkan kecenderungan kenaikan harga saham pada bulan Januari, terutama pada saham berkapitalisasi kecil hingga menengah yang sebelumnya tertekan atau kurang diminati selama periode window dressing. Fenomena ini sering membuka peluang lanjutan dari reli akhir tahun bahkan rebound setelah aksi jual. Kedua pola ini mencerminkan dinamika psikologis dan strategi pasar yang dapat dimanfaatkan secara optimal dengan dukungan analisis yang solid.
Secara historis, bulan Desember menunjukkan pola kinerja yang cenderung positif di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Berikut adalah performa IHSG di bulan Desember dari tahun 2014 hingga 2024:
Tabel 1. Data IHSG saat Window Dressing 2014-2024
| Desember Tahun | Kenaikan/Penurunan (%) | Perubahan |
| 2024 | –0,48% | Negatif |
| 2023 | 2,71% | Positif |
| 2022 | –3,26% | Negatif |
| 2021 | 0,73% | Positif |
| 2020 | 6,53% | Positif |
| 2019 | 4,79% | Positif |
| 2018 | 2,28% | Positif |
| 2017 | 6,78% | Positif |
| 2016 | 2,87% | Positif |
| 2015 | 3,30% | Positif |
| 2014 | 1,50% | Positif |
Sumber: Investing
Artinya, dalam 11 tahun terakhir, window dressing terbukti memberikan dorongan positif terhadap IHSG di bulan Desember, meskipun tidak terjadi secara mutlak setiap tahun.
Kinerja tertinggi tercatat pada Desember 2020 dengan kenaikan 6,53%, sedangkan penurunan terbesar terjadi di Desember 2022 dengan –3,26%. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi positif sangat besar, namun tetap perlu diwaspadai adanya risiko tertentu dari sentimen global maupun domestik.
Jika window dressing memberikan dorongan di akhir tahun, bagaimana dengan bulan Januari?
Tabel 2. Data IHSG saat January Effect 2014-2024
| Januari Tahun | Kenaikan/Penurunan (%) | Perubahan |
| 2024 | –0,89% | Negatif |
| 2023 | –0,16% | Negatif |
| 2022 | 0,75% | Positif |
| 2021 | –1,95% | Negatif |
| 2020 | –5,71% | Negatif |
| 2019 | 5,46% | Positif |
| 2018 | 3,93% | Positif |
| 2017 | –0,05% | Negatif |
| 2016 | 0,48% | Positif |
| 2015 | 1,19% | Positif |
| 2014 | 3,38% | Positif |
Sumber: Investing
Berdasarkan data historis 11 tahun terakhir, performa IHSG di bulan Januari menunjukkan bahwa pasar bergerak seimbang antara kenaikan dan penurunan. Dari total periode tersebut, IHSG mencatat 6 kali bulan Januari dengan hasil positif dan 5 kali negatif, sehingga menghasilkan win-rate sebesar 54%.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa January effect tidak sejalan dengan window dressing. Kenaikan tertinggi terjadi pada Januari 2019 sebesar 5,46%, sedangkan penurunan terdalam terjadi pada Januari 2020, sebesar -5,71%.
Dengan demikian, January effect tidak dapat dijadikan sinyal pasti. Meski begitu, ketika dipadukan dengan analisis fundamental yang tepat, fenomena musiman ini tetap dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan peluang yang muncul di awal tahun.
Untuk mengoptimalkan peluang dari dua fenomena musiman tersebut, Anda dapat mempertimbangkan langkah-langkah berikut:
Sebelum mengambil keputusan, penting untuk mencermati faktor makro seperti suku bunga, inflasi, nilai tukar, stabilitas politik, hingga sentimen pasar. Ketika kondisi makro mendukung, potensi window dressing dan January effect biasanya lebih kuat. Namun, jika situasinya tidak stabil, risiko volatilitas justru meningkat.
Beberapa sektor kerap menunjukkan performa lebih baik di akhir dan awal tahun, seperti sektor keuangan, konsumsi, serta komoditas. Anda bisa menganalisis historis kinerja sektor-sektor ini pada Desember dan Januari untuk menyaring emiten potensial. Pertimbangkan juga sentimen pasar yang sedang berkembang terhadap masing-masing sektor.
Meskipun ada pola musiman, keputusan investasi tetap harus dibangun berdasarkan analisis fundamental. Pastikan emiten memiliki kinerja keuangan yang solid, arus kas yang sehat, serta prospek pertumbuhan yang jelas. Hindari saham dengan valuasi yang sudah terlalu mahal dan fokus pada emiten yang menawarkan valuasi menarik serta potensi perbaikan ke depan.
Window dressing dan January effect merupakan fenomena jangka pendek. Banyak investor ritel terpancing membeli saham hanya karena ramai dibicarakan saat Desember atau Januari. Anda sebaiknya tetap berpegang pada analisis, bukan pada rumor sesaat. Evaluasi kembali portofolio Anda dan sesuaikan dengan profil risiko. Hindari keputusan emosional hanya karena ingin mengejar kenaikan jangka pendek.
Window dressing dan January effect adalah dua fenomena musiman yang memiliki potensi memberikan keuntungan di pasar saham, terutama apabila melihat pergerakan IHSG. Anda dapat memanfaatkan fenomena ini dengan mengamati kondisi makro, memilih sektor yang tepat, serta melakukan analisis mendalam terhadap emiten. Dengan strategi yang disiplin dan berbasis data, peluang dari dua fenomena ini dapat dimaksimalkan untuk meraih keuntungan optimal di akhir dan awal tahun.
Jika Anda belum memiliki cukup waktu atau keahlian untuk menganalisis saham secara langsung, reksa dana saham dapat menjadi pilihan investasi yang praktis dan terjangkau. Portofolio Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang menerapkan berbagai strategi, termasuk memanfaatkan momentum musiman seperti window dressing dan January effect.
Anda memiliki beragam pilihan produk reksa dana saham jika berinvestasi melalui Makmur, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Berdasarkan data per 18 Desember 2025, reksa dana ini memberikan return sebesar 56,22% secara year-to-date (ytd).
Di Makmur, Anda bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo December Thrive, promo Semua Bisa Makmur dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75% di April 2026 menjadi 5,25%, hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting yang diambil pada tahun 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan, sekaligus […]
Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]
Key Takeaways: Dalam investasi reksa dana, investor umumnya ingin memahami potensi imbal hasil, termasuk pada reksa dana saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur potensi tersebut adalah expected return atau potensi imbal hasil yang diharapkan. Expected return digunakan untuk memperkirakan rata-rata imbal hasil yang dapat diperoleh di masa […]
Key Takeaways: Revisi aturan royalti mineral sempat diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) pada konsultasi publik pada 8 Mei 2026. Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyesuaian tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya royalti sektor mineral. Melalui revisi tersebut, pemerintah ingin meningkatkan penerimaan negara dari […]