






Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2025 tercatat sebesar 0,21% month-to-month (mtm) dan 2,65% year-on-year (yoy). Capaian ini masih berada dalam kisaran sasaran inflasi nasional, yang menunjukkan keberhasilan BI dalam menjaga stabilitas harga di tengah ketidakpastian global.
Stabilitas ini juga mencerminkan konsistensi kebijakan moneter serta sinergi kuat antara BI dan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Pencapaian ini juga memperkuat keyakinan bahwa inflasi Indonesia masih terkendali dan berpotensi tetap stabil hingga tahun 2026, sesuai dengan proyeksi BI.
Di bawah ini merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi terjaganya inflasi pada bulan September 2025, di antaranya:
Salah satu faktor utama yang menjaga inflasi tetap rendah adalah stabilitas harga pangan, terutama pada komoditas bergejolak seperti beras, cabai, dan bawang. Pemerintah bersama BI melalui TPIP atau TPID secara aktif melaksanakan GNPIP sejak 2023 dan terus berlanjut hingga 2025.
Program ini meliputi langkah-langkah peningkatan pasokan, distribusi antar daerah, serta kerja sama antar wilayah, yang terbukti membantu meredam tekanan harga pangan di berbagai provinsi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau hanya memberi andil sekitar 0,11 poin persentase terhadap inflasi bulanan, menandakan tekanan harga pangan relatif terkendali.
Konsistensi koordinasi antara kebijakan moneter BI dan kebijakan fiskal pemerintah juga memainkan peran penting dalam menjaga inflasi. Sepanjang tahun 2025, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali, dengan total penurunan sebesar 125 basis points (bps), dari 6% pada awal tahun menjadi 4,7% pada September 2025.
Penurunan bertahap tersebut dilakukan pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan terakhir pada September 2025, seiring dengan meredanya tekanan inflasi dan perlunya menjaga daya dorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Sementara itu, pemerintah mempertahankan kebijakan fiskal yang ekspansif dengan alokasi subsidi energi sekitar Rp203,4 triliun dalam APBN 2025 yang mencakup BBM, LPG, dan listrik. Kebijakan ini menjaga biaya produksi dan transportasi agar tetap stabil, sehingga tidak menimbulkan lonjakan harga barang konsumsi.
Sinergi antara pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan fiskal yang menjaga daya beli masyarakat berhasil meredam dampak eksternal dari fluktuasi harga minyak dunia serta pelemahan mata uang global.
BI secara konsisten melakukan komunikasi publik dan memberikan panduan kebijakan yang jelas untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat tetap terkendali. Upaya ini dilakukan melalui berbagai kanal, seperti survei konsumen bulanan, laporan ekspektasi inflasi, dan pernyataan resmi pasca-Rapat Dewan Gubernur (RDG).
Misalnya, dalam Survei Konsumen BI bulan Juli 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat sebesar 118,1, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mencapai 129,6. Acuan angka survei tersebut memiliki makna bahwa nilai di atas 100 menunjukkan optimisme, sedangkan di bawah 100 menandakan pesimisme. Dengan IKK dan IEK yang berada jauh di atas 100, hal ini berarti konsumen Indonesia masih yakin terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang.
Melalui komunikasi kebijakan yang konsisten dan hasil survei yang positif tersebut, BI berhasil menjaga kepercayaan publik terhadap arah kebijakan moneter. Dampaknya, potensi spiral inflasi akibat sentimen negatif dapat diminimalkan, sementara optimisme pelaku usaha dan konsumen tetap terjaga.
Nilai tukar rupiah pada September 2025 relatif stabil meskipun ada gejolak global akibat kebijakan moneter negara maju dan ketegangan geopolitik. BI memperkuat kebijakan triple intervention, yakni intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar obligasi pemerintah, termasuk pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menyerap kelebihan likuiditas dan menjaga pasar keuangan.
Pemerintah juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas eksternal dengan memastikan defisit transaksi berjalan dan defisit APBN tetap terkendali. Berdasarkan data BI pada kuartal II tahun 2025, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar sekitar USD 3,0 miliar atau 0,8% terhadap PDB, yang menunjukkan posisi eksternal Indonesia masih berada dalam batas aman.
Stabilitas nilai tukar ini berdampak langsung terhadap terkendalinya harga barang impor, terutama bahan baku industri dan produk konsumsi, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan di pasar domestik. Upaya terpadu antara kebijakan moneter dan fiskal ini membantu menahan tekanan inflasi dari luar negeri dan menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia sepanjang 2025.
Secara keseluruhan, inflasi pada September 2025 berada pada tingkat yang terkendali dan sejalan dengan target nasional. Kondisi ini mencerminkan efektivitas kebijakan moneter BI, sinergi kuat antara BI dan Pemerintah, serta peran aktif TPIP dan TPID dalam menjaga stabilitas harga di tingkat nasional dan daerah.
Ke depan, BI memperkirakan inflasi akan tetap stabil dalam kisaran sasaran 2,5±1% pada tahun 2025 hingga 2026, dengan dukungan dari kebijakan moneter yang konsisten, koordinasi lintas sektor, dan keberlanjutan program pengendalian inflasi pangan di seluruh wilayah Indonesia.
Di tengah kondisi inflasi yang stabil dan suku bunga yang menurun, prospek investasi di Indonesia diperkirakan tetap positif. Namun, stabilitas inflasi saja tidak cukup menjadi dasar untuk menentukan instrumen investasi terbaik. Faktor lain seperti arah kebijakan moneter, dinamika pasar global, dan kinerja sektor riil juga perlu dipertimbangkan.
Oleh karena itu, salah satu langkah yang bijak adalah melakukan diversifikasi investasi melalui berbagai jenis reksa dana. Anda dapat membeli reksa dana pendapatan tetap untuk mendapatkan stabilitas imbal hasil, karena sedikitnya 80% dari dana kelolaan akan dialokasikan oleh manajer investasi (MI) ke surat utang atau obligasi.
Selain itu, Anda juga bisa berinvestasi di reksa dana campuran untuk menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil. Jenis reksa dana ini mengalokasikan dana secara proporsional maksimal 79% dari total portofolio ke masing-masing instrumen pasar uang, obligasi, dan saham. Reksa dana pasar uang juga bisa menjadi opsi, karena sangat likuid dan memiliki tingkat risiko paling rendah dibandingkan jenis reksa dana lainnya.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo October Boost, promo Semua Bisa Makmur dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Strategi buy and hold pada reksa dana merupakan pendekatan investasi jangka panjang, di mana investor mempertahankan investasinya tanpa melakukan penjualan atau pencairan. Tujuannya adalah memperoleh pertumbuhan aset secara bertahap dan optimal. Berbeda dengan trading aktif yang mengandalkan timing pasar, strategi ini lebih konsisten dan disiplin. Dalam reksa dana, strategi investasi ini didukung oleh […]
Reksa dana pasar uang (RDPU) merupakan instrumen investasi dengan risiko relatif rendah dan likuid, sehingga cocok untuk berbagai profil investor. Reksa dana ini 100% dialokasikan ke instrumen pasar uang seperti deposito dan obligasi yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun. Oleh karena itu, RDPU ideal untuk tujuan investasi jangka pendek dan menawarkan potensi imbal […]
Sebagai instrumen investasi yang relatif stabil, reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menjadi salah satu pilihan utama investor di Indonesia. Hal ini tercermin dari Asset Under Management (AUM) yang mencapai Rp266,82 triliun per Februari 2026, naik 5,05% dibandingkan Desember 2025, tertinggi di antara jenis reksa dana lainnya. Untuk memastikan kualitas reksa dana, Makmur menyeleksi RDPT dari […]
Reksa dana campuran merupakan instrumen investasi yang mengalokasikan dana pada instrumen saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, dengan masing-masing aset tidak melebihi 79% dari total portofolio. Diversifikasi ini memberikan keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan stabilitas, sehingga cocok bagi investor dengan profil risiko moderat dan tujuan investasi jangka menengah hingga panjang. Makmur menyeleksi reksa dana campuran […]
Pasar saham domestik bergerak volatil sepanjang year-to-date (YTD) per 31 Maret 2026 akibat kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, berlanjutnya konflik Timur Tengah mendorong harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 79% YTD, disertai kekhawatiran inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama. Dari sisi domestik, sentimen dipengaruhi kekhawatiran fiskal dan pembekuan rebalancing […]
Key Takeaways: Reverse stock atau penggabungan saham merupakan tindakan perusahaan untuk mengurangi jumlah saham beredar di pasar dengan cara menggabungkan sejumlah saham yang beredar menjadi satu saham baru. Pada umumnya, reverse stock sering dilakukan oleh perusahaan yang memiliki harga saham yang sangat rendah. Proses ini bertujuan untuk meningkatkan harga saham per lembar, sehingga terlihat lebih […]