






Dalam membangun portofolio investasi saham, salah satu tantangan terbesar bagi investor adalah membedakan antara saham yang benar-benar berkualitas (best buy) dan saham yang sebaiknya dihindari (worst buy). Tidak semua saham yang harganya murah layak dibeli, dan tidak semua saham yang populer menjamin keuntungan. Memahami perbedaan fundamental antara kedua kategori ini adalah langkah krusial untuk melindungi modal dan mengoptimalkan potensi imbal hasil jangka panjang.
Saham best buy adalah saham dari perusahaan sehat dengan potensi pertumbuhan di masa depan, yang idealnya dibeli pada harga wajar atau di bawah nilai intrinsiknya. Sebaliknya, saham worst buy sering kali tampak menarik di permukaan, misalnya karena harganya yang sudah turun banyak, namun sebenarnya menyimpan risiko fundamental yang dapat merugikan investor.
Saham yang layak disebut sebagai best buy umumnya memiliki serangkaian karakteristik positif yang menunjukkan kualitas dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Berikut adalah ciri-ciri yang dapat diperhatikan:
Perusahaan di balik saham best buy menunjukkan kinerja keuangan yang sehat dan konsisten. Ini tercermin dari pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang stabil dari tahun ke tahun, arus kas operasional yang positif, serta neraca keuangan yang kuat dengan tingkat utang yang terkendali.
Sebagai contoh, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) secara konsisten menunjukkan pertumbuhan laba bersih yang solid. Berdasarkan data historis, laba bersih BBCA meningkat dari Rp31,42 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp40,74 triliun pada tahun 2022 atau bertumbuh 29,64%, kemudian naik lagi menjadi Rp48,64 triliun pada tahun 2023 atau naik 19,40%, dan mencapai Rp54,84 triliun pada tahun 2024 atau naik 12,74%. Pertumbuhan yang konsisten selama empat tahun berturut-turut mencerminkan fundamental yang kuat serta kemampuan manajemen dalam menjaga kinerja bisnis.
Salah satu kunci dari saham best buy adalah harganya yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya. Investor dapat menggunakan berbagai metrik valuasi seperti Price-to-Earnings (P/E Ratio), Price-to-Book Value (PBV), atau analisis Discounted Cash Flow (DCF) untuk menilai apakah harga saham tersebut wajar atau sudah terlalu mahal dibanding fundamentalnya.
Sebagai ilustrasi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) per 11 Februari 2026 diperdagangkan pada Price-to-Book Value (PBV) sekitar 1,7x, lebih rendah dibandingkan rata-rata industri sebesar 2x. Valuasi yang menarik ini menjadikan BBRI sebagai salah satu contoh saham yang layak dipertimbangkan oleh investor yang mencari saham undervalued dengan fundamental solid.
Perusahaan yang unggul biasanya memiliki economic moat atau keunggulan kompetitif yang sulit ditiru oleh kompetitor. Keunggulan ini memberikan perusahaan posisi yang kuat di pasar dan membuatnya lebih sulit untuk dikalahkan. Beberapa contoh keunggulan kompetitif termasuk merek yang terkenal, teknologi yang dipatenkan, jaringan distribusi yang luas, atau efisiensi biaya produksi yang tinggi.
Misalnya, PT Astra International Tbk (ASII) memiliki jaringan distribusi otomotif yang sangat luas di seluruh Indonesia, yang membuatnya sulit disaingi oleh perusahaan otomotif lain. Dengan jaringan dealer yang tersebar di hampir setiap kota besar dan kecil, Astra bisa menjangkau pelanggan di seluruh nusantara dengan mudah, memberikan layanan purna jual yang baik, serta memastikan ketersediaan suku cadang.
Sementara itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menguasai infrastruktur telekomunikasi nasional, mencakup jaringan kabel, internet, serta layanan telekomunikasi lainnya. Keunggulan infrastruktur ini membuat Telkom memiliki posisi dominan dalam menyediakan layanan komunikasi di seluruh Indonesia, yang sulit ditiru oleh kompetitor lainnya. Keunggulan yang tidak dimiliki pesaing ini membentuk economic moat yang memberikan daya saing jangka panjang bagi perusahaan.
Kualitas tim manajemen adalah faktor penentu keberhasilan perusahaan. Manajemen yang baik memiliki rekam jejak yang terbukti, visi strategis yang jelas, dan menjalankan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance) dengan transparan dan akuntabel.
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), yang mengelola jaringan minimarket Alfamart di seluruh Indonesia, adalah contoh nyata bagaimana manajemen yang kompeten dapat mengembangkan dan mempertahankan stabilitas bisnis. Dengan lebih dari 23.277 gerai dan 56 gudang (termasuk stock point) yang tersebar di berbagai daerah, perusahaan ini membutuhkan keahlian dan pengalaman yang mendalam dalam manajemen logistik untuk memastikan bahwa stok barang tetap terjaga dan tersedia di semua gerai.
Manajemen yang baik di PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk berhasil mengelola distribusi barang dengan efisien dan terus meningkatkan kinerja perusahaan. Pada tahun 2024, perusahaan ini berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,15 triliun. Selain itu, AMRT secara konsisten membagikan dividen kepada pemegang saham dalam beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan kinerja keuangan yang solid dan pengelolaan yang transparan. Keberhasilan ini mencerminkan kemampuan manajemen dalam mengambil keputusan strategis serta pengelolaan operasional yang efektif.
Di sisi lain, saham worst buy adalah saham yang memiliki risiko fundamental tinggi dan sebaiknya dihindari oleh investor yang berorientasi pada kualitas. Berikut adalah tanda-tandanya:
Ciri paling jelas dari saham worst buy adalah penurunan pendapatan dan laba bersih secara konsisten. Perusahaan mungkin kehilangan daya saing, produknya tidak lagi relevan, atau menghadapi masalah operasional yang kronis. Arus kas negatif juga menjadi tanda bahaya yang serius.
Perusahaan dengan beban utang yang sangat besar, khususnya utang jangka pendek, memiliki risiko kebangkrutan yang lebih tinggi. Jika arus kas perusahaan tidak cukup untuk menutupi biaya bunga dan pokok pinjaman, stabilitas keuangannya akan sangat terancam.
Saham worst buy sering kali berasal dari industri yang sedang mengalami disrupsi atau penurunan struktural. Perusahaan tersebut tidak memiliki inovasi, katalis pertumbuhan, atau strategi yang jelas untuk beradaptasi dengan perubahan pasar.
Ini adalah saham yang terlihat murah berdasarkan metrik valuasi (misalnya P/E Ratio yang sangat rendah), namun harganya terus turun seiring dengan memburuknya kinerja fundamental. Investor yang tergoda oleh harga murah tanpa menganalisis lebih dalam sering kali terjebak dalam saham seperti ini.
Tabel 1. Perbandingan saham best buy vs worst buy
| Kriteria | Saham Kategori Best Buy | Saham Kategori Worst Buy |
| Kinerja Keuangan | Pendapatan dan laba stabil atau bertumbuh | Pendapatan dan laba terus menurun |
| Valuasi | Wajar atau undervalued | Terlihat murah namun berpotensi menjadi jebakan nilai (value trap) |
| Struktur Modal | Tingkat utang sehat dan terkendali | Beban utang sangat tinggi |
| Keunggulan Kompetitif | Memiliki keunggulan kompetitif yang kuat dibanding kompetitor | Tidak memiliki keunggulan kompetitif |
| Manajemen | Kompeten dan transparan | Buruk atau tidak transparan |
| Prospek Masa Depan | Memiliki katalis pertumbuhan | Prospek industri menurun |
Membedakan antara saham best buy dan worst buy adalah inti dari investasi saham yang cerdas. Keputusan investasi tidak boleh hanya didasarkan pada popularitas atau pergerakan harga jangka pendek. Dengan melakukan analisis fundamental secara menyeluruh terhadap kinerja keuangan, valuasi, kualitas manajemen, dan prospek industri, investor dapat membangun portofolio yang berisi saham-saham berkualitas yang berpotensi memberikan imbal hasil optimal dalam jangka panjang.
Di Bursa Efek Indonesia (BEI), terdapat berbagai pilihan saham dari berbagai sektor yang dapat Anda analisis untuk menemukan saham best buy. Namun, jika Anda tidak memiliki waktu atau keahlian untuk melakukan analisis fundamental dan riset mendalam secara mandiri, reksa dana saham dapat menjadi alternatif yang lebih efisien dan efektif. Melalui reksa dana saham, portofolio Anda akan dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang memiliki pemahaman mendalam tentang analisis fundamental, akses terhadap data dan riset eksklusif, serta pengalaman dalam memilih saham-saham best buy dan menghindari saham worst buy.
Salah satu reksa dana saham yang dapat Anda pertimbangkan di Makmur adalah Sucorinvest Maxi Fund. Reksa dana saham ini mencatatkan kinerja yang sangat baik, berdasarkan data per 1 April 2026 telah bertumbuh 73,88% dalam satu tahun terakhir.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo April Resilience dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Diversifikasi portofolio saham adalah salah satu prinsip dalam investasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko dengan memperluas aset pada berbagai sektor saham. Namun, diversifikasi yang berlebihan juga dapat menekan kinerja portofolio. Mengapa demikian? Mari bahas lebih lanjut. Tanda Diversifikasi Portofolio Sudah Berlebihan Sebagai investor, penting untuk mengenali tanda diversifikasi berlebihan dalam portofolio. Jika tidak […]
Key Takeaways: Reksa dana saham dikenal sebagai instrumen investasi yang berfokus pada pertumbuhan nilai melalui kenaikan harga saham yang menjadi portofolionya. Namun, selain potensi capital gain, beberapa reksa dana saham juga memberikan pembagian dividen tunai kepada investor. Pembagian dividen ini menjadi salah satu aspek yang sering dipertimbangkan oleh investor yang ingin memperoleh sumber penghasilan tambahan […]
Key Takeaways: Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75% di April 2026 menjadi 5,25%, hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting yang diambil pada tahun 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan, sekaligus […]
Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]