






Ketika berinvestasi saham, banyak investor ingin mendapatkan saham undervalued, yaitu saham yang harganya saat ini lebih rendah dari nilai wajarnya, sehingga memiliki potensi kenaikan di masa depan. Namun, tidak semua saham murah layak dibeli. Anda perlu berhati-hati pada saham value trap, yaitu saham yang tampak menarik secara valuasi tetapi ternyata memiliki fundamental yang terus memburuk atau prospek bisnis yang buruk di masa depan, sehingga justru berisiko merugikan investor.
Sebelum menentukan apakah suatu saham termasuk undervalued, Anda perlu menganalisis laporan keuangan secara tepat untuk mendapatkan nilai wajar perusahaan. Selain itu, saham yang undervalued memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Saham undervalued merupakan emiten dengan kinerja keuangan yang stabil atau terus meningkat. Pendapatan dan laba bersihnya cenderung tumbuh dari waktu ke waktu, meskipun harga sahamnya tidak mencerminkan hal tersebut. Anda dapat memeriksa laporan keuangan secara rutin untuk melihat tren pertumbuhan penjualan, margin laba, serta tingkat efisiensi biaya operasional.
Beberapa rasio keuangan seperti Price to Earnings Ratio (PER), Price to Book Value (PBV), dan Price to Cash Flow (P/CF) dapat membantu menilai valuasi suatu saham. Jika rasio-rasio tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata industri, tetapi perusahaan tetap mencatat pertumbuhan kinerja, saham emiten tersebut potensial dan merupakan saham undervalued.
Saham emiten yang undervalued umumnya memiliki fundamental yang kuat. Neraca keuangan menunjukkan struktur modal yang efisien, rasio utang yang sehat, dan arus kas positif. Selain itu, manajemen perusahaan biasanya memiliki rekam jejak yang baik, dengan strategi bisnis yang realistis dan mampu beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Saham undervalued umumnya berasal dari sektor yang tengah mengalami penurunan sementara namun memiliki prospek pemulihan dalam jangka menengah hingga panjang. Sebagai contoh, sektor perbankan Indonesia sempat mengalami tekanan pada tahun 2023 akibat tingginya suku bunga dan perlambatan pertumbuhan kredit, meskipun secara fundamental industri ini tetap sehat. Dengan memahami kondisi makroekonomi dan tren industri, investor dapat menilai apakah penurunan harga saham bersifat sementara karena faktor siklus atau justru mencerminkan penurunan kinerja jangka panjang.
Saham value trap juga terlihat murah di mata investor, namun di balik angka valuasi yang rendah, terdapat masalah mendasar yang membuat harga saham sulit naik kembali. Berikut tanda-tanda yang perlu Anda waspadai:
Ciri utama saham value trap adalah kinerja perusahaan yang terus menurun dari tahun ke tahun. Pendapatan, laba bersih, dan margin keuntungan mengalami penurunan tanpa tanda perbaikan. Penurunan ini biasanya disebabkan oleh hilangnya daya saing, manajemen yang tidak adaptif, atau perubahan tren industri yang membuat produk perusahaan tidak lagi relevan.
Harga saham yang rendah tidak selalu berarti undervalued. Bisa jadi pasar menilai murah karena memang kinerja perusahaan buruk. Misalnya, perusahaan memiliki utang besar, arus kas negatif, atau tidak mampu menghasilkan keuntungan dalam beberapa tahun terakhir. Dalam kondisi ini, valuasi rendah justru mencerminkan risiko yang tinggi, bukan peluang investasi.
Saham yang termasuk value trap umumnya tidak memiliki katalis pertumbuhan di masa depan. Tidak ada inovasi produk dari emiten atau berhentinya ekspansi pasar, dan tanpa prospek bisnis yang jelas, maka kecil kemungkinan harga saham akan pulih, meskipun terlihat murah secara valuasi.
Beberapa saham value trap menawarkan dividen besar untuk menarik investor. Namun, jika laba perusahaan menurun terus-menerus, pembayaran dividen seperti itu tidak dapat dipertahankan. Bahkan, bisa jadi dividen tersebut dibiayai dari utang atau cadangan kas, yang justru memperburuk kondisi keuangan perusahaan di masa depan.
Membedakan saham undervalued dengan value trap membutuhkan analisis yang cermat dan objektif. Saham undervalued memiliki kinerja yang stabil, prospek bisnis, serta valuasi rendah karena sentimen sementara. Di sisi lain, saham value trap tampak murah secara valuasi, tetapi sebenarnya memiliki risiko tinggi akibat penurunan kinerja dan minimnya prospek pertumbuhan.
Anda perlu berhati-hati dalam menilai harga saham, gunakan data keuangan yang valid, perhatikan tren industri, dan pastikan ada katalis positif yang dapat mendorong perbaikan kinerja. Dengan pendekatan yang rasional, Anda dapat menghindari saham value trap.
Namun, jika Anda merasa tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan analisis secara mandiri, maka berinvestasi di reksa dana saham bisa menjadi pilihan yang tepat. Produk reksa dana saham dikelola oleh manajer investasi (MI) profesional yang telah memiliki wawasan dan keahlian dalam memilih saham undervalued yang potensial, sehingga bisa memberikan return optimal.
Reksa dana saham Bahana Icon Syariah Kelas G misalnya, berdasarkan data per tanggal 10 November 2025 memiliki tingkat pengembalian yang cukup tinggi, sebesar 43,54% secara year to date (ytd).
*kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Prosperity November, promo Semua Bisa Makmur, dan promo Makmur Premium Tour.
Link: Promo-Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]
Key Takeaways: Dalam investasi reksa dana, investor umumnya ingin memahami potensi imbal hasil, termasuk pada reksa dana saham yang memiliki volatilitas lebih tinggi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur potensi tersebut adalah expected return atau potensi imbal hasil yang diharapkan. Expected return digunakan untuk memperkirakan rata-rata imbal hasil yang dapat diperoleh di masa […]
Key Takeaways: Revisi aturan royalti mineral sempat diusulkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (Kementerian ESDM) pada konsultasi publik pada 8 Mei 2026. Pemerintah berencana merevisi PP Nomor 19 Tahun 2025 terkait penyesuaian tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya royalti sektor mineral. Melalui revisi tersebut, pemerintah ingin meningkatkan penerimaan negara dari […]
Key Takeaways: Akuisisi perusahaan merupakan aksi korporasi yang berdampak material terhadap harga saham dan kinerja keuangan pihak-pihak yang terlibat, di mana suatu perusahaan membeli atau mengendalikan perusahaan lain untuk memperluas bisnis atau meningkatkan nilai. Bagi investor yang memiliki saham pada perusahaan pengakuisisi, penting untuk mengevaluasi berbagai aspek untuk memahami implikasi jangka pendek dan jangka panjang dari […]
Key Takeaways: Charlie Munger adalah salah satu investor legendaris di dunia dan merupakan rekan dari Warren Buffett di Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan investasi (holding company) multinasional asal Amerika Serikat. Charlie Munger menjabat sebagai vice chairman sejak 1978. Ia adalah sosok yang meyakinkan Buffett untuk beralih dari strategi cigar butt menjadi berfokus pada perusahaan berkualitas dengan […]
Key Takeaways: Private placement saham adalah proses penerbitan saham baru yang ditujukan kepada investor institusi tanpa melalui pasar terbuka. Biasanya, perusahaan memilih private placement sebagai cara untuk memperkuat posisi keuangan atau mendanai proyek ekspansi. Walaupun disebut sebagai pendanaan strategis, apakah private placement selalu menguntungkan bagi investor? Mari kita bahas lebih dalam mengenai cara kerja private […]