






Diversifikasi portofolio saham adalah salah satu prinsip dalam investasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko dengan memperluas aset pada berbagai sektor saham. Namun, diversifikasi yang berlebihan juga dapat menekan kinerja portofolio. Mengapa demikian? Mari bahas lebih lanjut.
Sebagai investor, penting untuk mengenali tanda diversifikasi berlebihan dalam portofolio. Jika tidak dikelola dengan bijak, portofolio yang terlalu terdiversifikasi berpotensi merugikan, baik dari modal maupun hilangnya potensi keuntungan. Berikut adalah beberapa tanda portofolio Anda sudah terlalu terdiversifikasi, di antaranya:
Jika kinerja portofolio Anda hampir sama atau bahkan di bawah benchmark seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), ini bisa menjadi indikasi adanya diversifikasi yang berlebihan. Misalnya, Anda memiliki dua puluh saham dari berbagai sektor. Ketika portofolio Anda naik 2%, IHSG juga naik dalam kisaran yang sama atau bahkan lebih tinggi. Dalam kondisi ini, meskipun Anda melakukan lebih banyak transaksi dan pengelolaan portofolio, keuntungan yang diperoleh tidak jauh berbeda dengan hasil pergerakan indeks pasar.
Selain kinerja menyerupai benchmark, salah satu tanda portofolio diversifikasi berlebih adalah ketika lonjakan harga terjadi pada satu atau dua saham unggulan tidak memberikan dampak signifikan terhadap total nilai portofolio Anda. Keuntungan besar yang didapat dari satu emiten akan terdilusi oleh performa saham lain yang stagnan atau dalam kondisi floating loss.
Sebagai contoh, Anda memiliki investasi bernilai Rp100 juta yang terbagi rata ke dalam dua puluh saham, masing-masing Rp5 juta atau dengan bobot 5%. Ketika salah satu saham Anda mengalami kenaikan harga signifikan sebesar 20%, pertumbuhan total portofolio Anda hanya 1%, dari Rp100 juta menjadi Rp101 juta.
Selanjutnya, tanda portofolio diversifikasi berlebih adalah portofolio yang bergerak di sektor atau industri yang sama. Sebagai contoh, Anda membeli tiga saham yang berbeda, tetapi berasal dari sektor atau industri yang sama, yaitu saham PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Kondisi tersebut terkonsentrasi pada sektor perbankan, sehingga apabila sektor perbankan turun, maka seluruh portofolio Anda cenderung akan mengalami penurunan.
Diversifikasi berlebihan dalam satu industri dapat menyebabkan penyebaran risiko tidak efektif. Pada contoh tiga saham tadi, ketiganya berada dalam sektor perbankan. Secara fundamental, harga saham bank-bank besar ini sangat dipengaruhi oleh faktor yang sama, seperti suku bunga Bank Indonesia, kebijakan kredit, pertumbuhan ekonomi, serta risiko kredit dan likuiditas. Karena dipengaruhi oleh variabel yang sama, pergerakan harga sahamnya cenderung searah atau berkorelasi tinggi.
Diversifikasi adalah strategi yang penting dalam investasi untuk mengurangi risiko. Namun, diversifikasi yang dilakukan secara berlebihan justru mengurangi efektivitas strategi tersebut dan berpotensi menekan kinerja portofolio secara keseluruhan.
Apabila ingin memiliki portofolio yang terdiversifikasi dengan baik, Anda bisa membeli reksa dana saham yang dikelola oleh manajer investasi (MI) yang profesional. MI akan memilih saham potensial dengan mempertimbangkan analisis fundamental dan riset mendalam, agar risiko dapat diminimalkan dan memberikan potensi imbal hasil yang optimal.
Ada beragam produk reksa dana saham di Makmur yang bisa Anda pilih, salah satunya Sucorinvest Maxi Fund. Makmur merupakan perusahaan wealth-tech berizin OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang menyediakan platform investasi terpadu untuk reksa dana dan saham.
Berdasarkan data per 25 Mei 2026, reksa dana Sucorinvest Maxi Fund mencatatkan kenaikan 54,74% dalam lima tahun terakhir, lebih tinggi dari kinerja IHSG yang bertumbuh sebesar 6,71% dalam periode yang sama. Kinerja tersebut mencerminkan penerapan strategi pemilihan saham dan diversifikasi yang optimal dalam periode tersebut.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Momentum May dan Semua Bisa Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Reksa dana saham dikenal sebagai instrumen investasi yang berfokus pada pertumbuhan nilai melalui kenaikan harga saham yang menjadi portofolionya. Namun, selain potensi capital gain, beberapa reksa dana saham juga memberikan pembagian dividen tunai kepada investor. Pembagian dividen ini menjadi salah satu aspek yang sering dipertimbangkan oleh investor yang ingin memperoleh sumber penghasilan tambahan […]
Key Takeaways: Pada 20 Mei 2026, Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75% di April 2026 menjadi 5,25%, hasil dari Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kebijakan ini menjadi salah satu langkah penting yang diambil pada tahun 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang terus mengalami tekanan, sekaligus […]
Key Takeaways: Exchange Traded Fund (ETF) dan reksa dana sering dianggap serupa karena keduanya memungkinkan investor untuk berinvestasi dalam portofolio yang terdiversifikasi tanpa harus membeli saham secara langsung. Meskipun demikian, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam mekanismenya. Exchange Traded Fund (ETF) adalah jenis reksa dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa efek seperti saham […]
Key Takeaways: Bagi investor saham, memahami capital inflow sangatlah penting karena dapat membantu membaca sentimen pasar, mengidentifikasi peluang, dan mengukur risiko investasi dengan lebih baik. Capital inflow adalah aliran dana asing yang masuk ke suatu negara dalam bentuk investasi portofolio maupun langsung. Di Indonesia, capital inflow dipantau secara rutin oleh Bank Indonesia melalui tiga jalur, […]
Key Takeaways: Membangun portofolio reksa dana saham bukan hanya tentang memilih produk dengan return terbaik. Salah satu keputusan penting yang sering diabaikan investor adalah menentukan apakah sebaiknya menempatkan seluruh investasi pada satu manajer investasi (MI) atau membaginya ke beberapa MI sekaligus. Kedua pendekatan ini memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar […]