






Key Takeaways:
Dalam industri tambang batu bara, harga komoditas global kerap menjadi acuan utama dalam menentukan pendapatan emiten. Untuk batu bara termal, acuan yang umum dipakai adalah indeks seperti Newcastle atau ICI, sedangkan batu bara metalurgi (kokas) mengacu pada harga hard coking coal.
Pergerakan harga ini sangat dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran global, sehingga sering kali berada di luar kendali emiten. Kondisi tersebut membuat pendapatan emiten batu bara cenderung fluktuatif dan sulit diprediksi hanya dari sisi harga jual.
Namun, dalam praktiknya faktor penentu kinerja emiten tambang tidak hanya berasal dari harga jual rata-rata atau average selling price (ASP). Struktur operasional dan efisiensi biaya juga memegang peran yang tidak kalah penting. Untuk melihat gambaran yang lebih konkret, berikut adalah kinerja PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) pada tahun 2025 yang dapat dijadikan contoh.
Sepanjang tahun 2025, bisnis batu bara ADRO yang dijalankan melalui anak usahanya, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatatkan peningkatan kinerja operasional yang cukup solid. Realisasi produksi batu bara kokas mencapai 7,41 juta ton, naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 6,63 juta ton. Volume penjualan juga meningkat 12% menjadi 6,28 juta ton, melampaui target yang berada di kisaran 5,6 hingga 6,1 juta ton.
Tabel I. Kinerja Keuangan ADRO

Sumber: Laporan Tahunan ADRO 2025
*Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Meskipun volume produksi dan penjualan sama-sama meningkat, ADRO justru mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 10% dibandingkan tahun 2024. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya ASP batu bara kokas, yang turun dari sekitar US$205 menjadi sekitar US$155 per ton, atau sekitar 24%, akibat normalisasi permintaan global. Dengan kata lain, kenaikan volume belum cukup untuk mengimbangi turunnya harga jual per ton. Perlu dicatat, pendapatan konsolidasi ADRO tidak hanya berasal dari penjualan batu bara kokas, tetapi juga dari segmen jasa pertambangan (mining services) dengan porsi yang hampir setara. Sehingga pelemahan ASP batu bara kokas menjadi penyebab utama tekanan di segmen tambang, namun bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi total pendapatan konsolidasi ADRO.
Fenomena ini menunjukkan bahwa peningkatan volume tidak selalu sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, terutama ketika harga komoditas sedang mengalami tekanan.
Adapun penurunan laba bersih ADRO pada 2025 tidak dapat dibaca hanya dari sisi harga, karena turut dipengaruhi oleh perubahan struktur perusahaan. Pada 2024, Grup Adaro melakukan langkah strategis melalui spin-off yang memisahkan bisnis batu bara termal ke dalam entitas tersendiri, yaitu PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI).
Seiring langkah tersebut, induk usaha yang sebelumnya bernama PT Adaro Energy Indonesia Tbk berganti nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan mengalihkan fokusnya ke energi terbarukan serta hilirisasi mineral, sementara bisnis batu bara kokas tetap dijalankan melalui anak usaha ADMR.
Karena kinerja AADI masih terkonsolidasi ke dalam laporan keuangan ADRO sepanjang 2024, laba bersih tahun itu tercatat jauh lebih tinggi. Setelah AADI beroperasi sebagai entitas mandiri, laba bersih 2025 tidak lagi mencakup kontribusi bisnis batu bara termal, sehingga penurunannya tampak tajam meski tidak sepenuhnya mencerminkan pelemahan kinerja operasional.
Oleh karena itu, diperlukan indikator lain untuk memahami secara lebih menyeluruh bagaimana emiten tambang menghasilkan keuntungan.
Salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan dalam menilai proyeksi pendapatan emiten batu bara adalah biaya produksi, yang sangat dipengaruhi oleh stripping ratio (SR).
SR adalah rasio antara volume tanah penutup (overburden) yang harus dipindahkan dan jumlah batu bara yang dihasilkan (dalam ton). Berikut adalah rumus dasar SR yang perlu dipahami:
● SR = Total Volume Overburden (dalam bank cubic meter/bcm) / Total Produksi Batu Bara (dalam ton)
Dari rumus tersebut, terlihat bahwa SR menggambarkan tingkat kesulitan penambangan. Semakin tinggi angka SR, semakin banyak lapisan tanah yang harus dipindahkan sebelum mencapai batu bara.
Dampaknya terhadap biaya cukup signifikan. Ketika SR meningkat, kebutuhan bahan bakar seperti solar untuk alat berat juga meningkat. Selain itu, jam kerja alat berat menjadi lebih panjang, yang berarti biaya operasional dan kontraktor ikut naik.
Angka SR bersifat dinamis karena sangat bergantung pada kedalaman lapisan batu bara yang sedang ditambang. Pada tahap awal, lapisan batu bara biasanya lebih dekat ke permukaan sehingga SR cenderung rendah. Namun, seiring waktu, emiten harus menggali lebih dalam, yang menyebabkan SR meningkat.
Untuk memahami dampaknya secara lebih konkret, di bawah ini adalah perhitungan SR ADMR pada tahun 2025. Data operasional berikut juga bersumber dari Laporan Tahunan 2025.
Data operasional ADMR tahun 2025
● Volume overburden: 26,33 juta bank cubic meter (bcm)
● Produksi batu bara: 7,41 juta ton
Berdasarkan data tersebut, perhitungan SR adalah:
● SR = 26,33 juta bcm / 7,41 juta ton
● SR = 3,55x
Angka 3,55x atau 3,55:1 berarti untuk menghasilkan 1 ton batu bara, emiten harus memindahkan sekitar 3,55 bcm tanah penutup.
Dalam industri tambang batu bara, angka ini umumnya tergolong rendah dan mencerminkan efisiensi operasional yang baik. Sebagai perbandingan, beberapa tambang lain dapat memiliki SR hingga 6x bahkan 10x, yang secara signifikan meningkatkan biaya produksi.
Untuk memahami implikasinya terhadap kinerja emiten, berikut beberapa dampak utama dari SR yang rendah.
● Biaya produksi lebih efisien
SR yang rendah berarti volume tanah yang dipindahkan relatif sedikit. Hal ini berdampak langsung pada penghematan konsumsi bahan bakar alat berat serta biaya kontraktor, sehingga beban pokok pendapatan dapat ditekan.
● Margin keuntungan lebih terjaga
Dengan beban pokok yang lebih rendah, emiten memiliki ruang margin yang lebih luas per ton batu bara. Struktur biaya yang ramping ini memungkinkan emiten menjaga selisih antara harga jual dan biaya produksi tetap sehat.
● Ketahanan saat harga turun
Emiten dengan SR rendah memiliki titik impas (harga jual minimum agar tetap untung) yang lebih rendah. Kondisi ini membuatnya lebih mampu bertahan dalam siklus penurunan harga komoditas dibandingkan emiten dengan SR tinggi yang titik impasnya jauh lebih mahal.
Meskipun demikian, aktivitas penambangan batu bara masih tetap dijalankan, khususnya pada segmen batu bara kokas. Jenis batu bara ini memiliki peran penting dalam transisi energi karena digunakan sebagai bahan baku produksi baja, yang diperlukan dalam pembangunan infrastruktur energi terbarukan seperti turbin angin dan kendaraan listrik.
Secara keseluruhan, harga batu bara global memang tetap menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja emiten tambang, tetapi indikator operasional seperti stripping ratio (SR) memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menentukan tingkat profitabilitas. Dengan mempertimbangkan baik faktor harga maupun efisiensi produksi, analisis terhadap sektor ini dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih seimbang dan mendalam. Memperhatikan indikator seperti SR dapat membantu mengidentifikasi emiten yang memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi siklus komoditas tambang yang fluktuatif.
Terdapat berbagai reksa dana saham di Makmur yang dikelola oleh manajer investasi (MI) berkompeten yang telah melakukan analisis mendalam pada setiap langkah pengelolaan. Salah satunya adalah Sucorinvest Maxi Fund yang mencatatkan imbal hasil positif sebesar 51,24% selama satu tahun berdasarkan data per 17 Juli 2026. Perlu dipahami bahwa produk ini tergolong reksa dana saham dengan profil risiko agresif, sehingga lebih sesuai untuk investasi jangka panjang.
Bagi Anda yang ingin melakukan diversifikasi dengan risiko yang relatif lebih terukur, tersedia pula pilihan reksa dana campuran, salah satunya Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A yang mencatatkan kinerja sebesar 24,16% dalam satu tahun. Reksa dana campuran memadukan saham, obligasi, dan instrumen pasar uang, sehingga dapat menjadi alternatif untuk menyeimbangkan potensi imbal hasil dan risiko dalam portofolio.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Investasi saham sering menjadi pilihan bagi para investor yang bertujuan memperoleh keuntungan. Meskipun menawarkan potensi keuntungan yang signifikan, investasi saham juga memiliki risiko yang cukup tinggi, termasuk bila harga saham yang dibeli mengalami penurunan. Terdapat beberapa strategi untuk mengatasi kerugian tersebut, salah satunya adalah average down. Strategi ini memungkinkan investor membeli lebih banyak […]
Key Takeaways: Masuk ke pasar modal melalui Initial Public Offering (IPO) merupakan salah satu langkah besar dalam perjalanan sebuah bisnis. Dengan IPO, akses terhadap pendanaan menjadi lebih luas melalui penerbitan saham. Namun dalam praktiknya, IPO bukanlah satu-satunya cara untuk memperoleh dana tambahan. Banyak emiten tetap aktif menghimpun dana melalui instrumen lain, salah satunya obligasi korporasi. […]
Key Takeaways: Menyusun target keuangan tahunan sering kali terdengar sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak selalu mudah dijalankan secara konsisten. Ketika tidak disertai dengan perencanaan yang jelas, target tersebut berisiko tidak terealisasi. Di sinilah pentingnya menggunakan metode perencanaan keuangan yang lebih terstruktur, salah satunya melalui metode SMART. Metode ini membantu Anda menyusun tujuan keuangan secara lebih […]
Key Takeaways: Ketika berinvestasi di saham, memahami laporan keuangan perusahaan bisa saja belum cukup untuk mengambil keputusan yang tepat. Investor juga perlu memperhatikan berbagai indikator makroekonomi yang dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk membaca kondisi ekonomi adalah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). IKK merupakan hasil survei yang mengukur tingkat […]
Key Takeaways: Perubahan nilai tukar US Dollar (USD) terhadap rupiah bukan sekadar indikator makroekonomi yang jauh dari aktivitas sehari-hari. Bagi pelaku pasar modal, pergerakan USD memiliki implikasi langsung terhadap kinerja keuangan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan nilai tukar dapat menjadi katalis positif maupun negatif terhadap kinerja emiten, bergantung pada karakteristik bisnis masing-masing […]