






Perubahan nilai tukar US Dollar (USD) terhadap rupiah bukan sekadar indikator makroekonomi yang jauh dari aktivitas sehari-hari. Bagi pelaku pasar modal, pergerakan USD memiliki implikasi langsung terhadap kinerja keuangan sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perubahan nilai tukar dapat menjadi katalis positif maupun negatif terhadap kinerja emiten, bergantung pada karakteristik bisnis masing-masing sektor.
Ketika berinvestasi, pemahaman terhadap sektor yang dapat terpengaruh oleh nilai tukar menjadi penting untuk membaca proyeksi revenue emiten. Beberapa sektor bahkan berpotensi diuntungkan ketika USD menguat, terutama emiten yang bergantung pada harga komoditas global yang ditentukan dalam USD, namun memiliki biaya operasional dalam rupiah.
Berikut ini tiga sektor yang pendapatannya terpengaruh oleh perubahan nilai tukar rupiah terhadap USD, yaitu sektor energy, sektor basic materials, dan sektor consumer non-cyclicals, khususnya pada industri perkebunan, meski dengan tingkat dan mekanisme keterkaitan yang berbeda-beda.
Sektor energy merupakan salah satu sektor yang terdampak oleh perubahan nilai USD. Hal ini disebabkan oleh mekanisme harga komoditas global seperti batu bara dan minyak yang ditetapkan dalam USD di pasar global, sementara komponen biaya terbesar emiten domestik masih menggunakan rupiah. Dengan demikian, penguatan USD langsung memperlebar margin antara pendapatan dan biaya operasional, sekaligus menciptakan lindung nilai alami (natural hedge) terhadap risiko nilai tukar dalam struktur keuangan emiten.
Untuk memberikan gambaran konkret, berikut data revenue beberapa emiten di sektor energi pada Q1 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC):
Tabel 1. Pendapatan Emiten Sektor Energi pada Kuartal I 2026 dan Kuartal I 2025

Sumber: IDX
Kenaikan revenue pada Q1 2026 dibandingkan tahun sebelumnya tidak terjadi secara kebetulan. Peningkatan ini didorong oleh dua faktor utama, yaitu kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah sepanjang Q1 2026 dan lonjakan harga komoditas global.
BUMI mencatat nilai ekspor sebesar $216 juta, sementara ADRO sebesar $141 juta. Kinerja ini didukung oleh kenaikan harga batu bara sebesar 34,83%, dari $105,65 menjadi $142,45 per ton selama periode Januari hingga Maret 2026.
Namun, dalam transaksi ekspor–impor energi yang cenderung fluktuatif, emiten dan konsumen umumnya menggunakan kontrak jangka panjang dengan harga tetap. Strategi ini bertujuan mengurangi risiko akibat perubahan harga.
Sebagai ilustrasi, misalkan kedua emiten menggunakan harga batu bara sebesar $110 per ton dalam kontrak. Meskipun harga tersebut tetap, kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah sebesar 1,9% selama Q1 tetap memberikan tambahan keuntungan. Dampak tersebut pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan kinerja keuangan emiten.
Dengan asumsi volume penjualan relatif konstan, revenue BUMI meningkat sekitar 19,75% (setara $68,88 juta), atau sekitar 56,67% dari potensi maksimal $121,55 juta. Sementara itu, ADRO mencatat pertumbuhan sekitar 23,40% (tambahan revenue $89,29 juta), atau sekitar 67,18% dari potensi $132,91 juta. Potensi maksimal ini berasal dari kenaikan harga batu bara sepanjang Q1 2026. Selisih antara potensi dan realisasi menunjukkan adanya faktor lain, seperti perubahan volume penjualan atau perbedaan waktu pengakuan dalam laporan keuangan.
Artinya, kenaikan harga batu bara tidak sepenuhnya tercermin pada pertumbuhan pendapatan karena dipengaruhi faktor lain seperti kontrak penjualan, volume produksi, dan waktu pengakuan pendapatan.
Berbeda dengan batu bara, industri minyak dan gas menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. MEDC mencatat pertumbuhan revenue sebesar 19,24% dibandingkan Q1 tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh lonjakan harga minyak mentah sebesar 79,48%, dari $57,32 menjadi $102,88 per barel pada Q1 2026.
Selain itu, MEDC mencatat piutang usaha dalam USD sebesar $405 juta, naik 8,27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan tingginya keterpaparan perusahaan terhadap USD.
MEDC juga menggunakan asumsi kurs sebesar Rp16.950 per USD dalam laporan keuangannya. Penetapan kurs ini memengaruhi nilai pelaporan aset, termasuk piutang, serta berdampak pada kinerja keuangan secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, terdapat regulasi yang memengaruhi arus kas perusahaan energi yang bertransaksi dalam USD, yaitu ketentuan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Sejak 1 Maret 2025, ketentuan ini diperbarui melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun 2025 yang mengubah PP No. 36 Tahun 2023. Berdasarkan aturan terbaru, eksportir sumber daya alam nonmigas termasuk pertambangan batu bara seperti BUMI dan ADRO wajib menempatkan 100% devisa hasil ekspornya di sistem keuangan domestik selama 12 bulan.
Adapun untuk sektor migas seperti MEDC, ketentuannya tetap merujuk pada PP No. 36 Tahun 2023, yaitu penempatan 30% selama minimal 3 bulan. Tujuannya adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat cadangan devisa nasional. Meskipun bersifat pembatasan, kebijakan ini juga berdampak pada fleksibilitas dan manajemen likuiditas perusahaan.
Sektor basic materials, khususnya sub-industri logam & mineral seperti nikel, timah, tembaga, dan emas, memiliki mekanisme keterkaitan dengan USD yang paling mirip dengan sektor energy. Komoditas ini diperdagangkan dan diberi harga acuan global dalam USD (melalui London Metal Exchange untuk nikel dan tembaga, atau harga spot untuk emas), sementara sebagian besar emiten di sektor ini benar-benar mengekspor produknya dan biaya operasionalnya tetap didominasi rupiah. Artinya, sektor ini juga memiliki natural hedge yang serupa dengan sektor energy, bukan mekanisme harga acuan domestik seperti pada sektor consumer non-cyclicals.
Berikut data revenue tiga emiten sektor basic materials pada Q1 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Timah Tbk (TINS). Berbeda dengan Tabel 1 dan Tabel 3, angka pada tabel ini ditampilkan dalam mata uang pelaporan asli masing-masing emiten karena ANTM dan TINS melaporkan dalam rupiah, sedangkan INCO melaporkan dalam USD:
Tabel 2. Pendapatan Emiten Sektor Basic Materials pada Kuartal I 2026 dan Kuartal I 2025

Sumber: IDX
Ketiganya mencatat pertumbuhan revenue Q1 2026 dibandingkan Q1 2025: ANTM naik 12,12% menjadi Rp29,32 triliun, didorong kinerja segmen nikel dan penguatan emas. INCO naik 22,3% menjadi US$252,7 juta, seiring kenaikan rata-rata harga jual nikel matte. Yang paling mencolok adalah TINS, dengan revenue naik 160,5% menjadi Rp5,47 triliun, didorong kombinasi kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata timah di London Metal Exchange yang naik 34,7% secara tahunan.
Yang penting dicatat: TINS melaporkan 97% penjualan logam timahnya berasal dari ekspor, dengan tujuan utama China, India, Korea Selatan, Italia, Singapura, dan Belanda, jauh berbeda dari AALI, LSIP, SIMP di sektor consumer non-cyclicals yang penjualannya masih didominasi pasar domestik. Ini menegaskan bahwa basic materials memiliki eksposur USD yang jauh lebih langsung dan terukur dibandingkan CPO, sehingga lebih layak disandingkan dengan sektor energy sebagai contoh natural hedge yang jelas.
Meski begitu, pertumbuhan revenue di sektor ini juga tidak semata-mata berasal dari pergerakan USD, kenaikan harga komoditas global (nikel, timah) dan perubahan volume produksi/penjualan tetap menjadi faktor dominan, sebagaimana berlaku di sektor energy.
Sektor consumer non-cyclicals, khususnya industri perkebunan, juga menunjukkan keterkaitan dengan perubahan nilai USD. Komoditas seperti minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) memiliki harga yang dipengaruhi pasar global, meskipun sebagian transaksi dilakukan dalam rupiah.
Kenaikan harga komoditas global sering kali terjadi bersamaan dengan penguatan USD pada periode tertentu sehingga dapat mendorong kenaikan harga jual. Di sisi lain, beban produksi emiten yang masih menggunakan rupiah tidak langsung ikut melonjak. Kombinasi ini membuka ruang bagi emiten perkebunan untuk meraih pertumbuhan revenue, meski besarannya sangat ditentukan oleh struktur kontrak dan waktu penjualan.
Berikut data revenue beberapa emiten sektor consumer non-cyclicals pada industri CPO, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Tbk (LSIP), dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), pada Q1 2026:
Tabel 3. Pendapatan Emiten Industri CPO pada Kuartal I 2026 dan Kuartal I 2025

Sumber: IDX
Secara umum, pertumbuhan revenue sektor ini tergolong moderat. AALI mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,80%, diikuti LSIP sebesar 2,89%, dan SIMP sebesar 1,08%.
Pertumbuhan yang relatif rendah ini terjadi karena Q1 umumnya merupakan periode penurunan produksi kelapa sawit. Pada periode ini, jumlah tandan buah matang biasanya berada di bawah 15% dari total pokok, sehingga volume produksi lebih rendah dibandingkan kuartal berikutnya.
Selain itu, berdasarkan laporan keuangan ketiga emiten tersebut, ekspor CPO dan produk turunannya masih belum signifikan. Kinerja penjualan masih didominasi oleh pasar domestik.
Di sisi lain, harga CPO mengalami kenaikan signifikan sebesar 20,86%, dari $1.045,64 menjadi $1.263,78 per ton. Kenaikan ini mendorong peningkatan harga referensi yang ditetapkan pemerintah, yang kemudian menjadi acuan dalam transaksi domestik, termasuk di pasar lelang seperti PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).
Untuk mempermudah pencatatan dalam laporan keuangan, setiap emiten juga menetapkan kebijakan kurs. Dalam periode ini, kurs yang digunakan adalah Rp16.993 per USD.
Meskipun kenaikan harga meningkatkan perolehan devisa dan pendapatan emiten perkebunan, dampaknya ke pasar domestik tetap terbatas. Hal ini disebabkan oleh kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO) yang bertujuan menjaga stabilitas harga minyak goreng serta memastikan keterjangkauan harga CPO dalam program biodiesel nasional.
Perlu dicatat bahwa peningkatan pendapatan emiten tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar USD, tetapi juga oleh kenaikan harga komoditas global. Emiten yang memiliki eksposur terhadap harga komoditas global, baik melalui ekspor langsung maupun mekanisme harga acuan domestik, juga berpotensi diuntungkan dari kondisi tersebut, namun dampaknya tidak selalu langsung tercermin dalam laporan keuangan karena perbedaan mekanisme pencatatan dan struktur kontrak.
Memahami karakteristik masing-masing sektor menjadi langkah penting dalam membaca peluang dan risiko investasi. Pergerakan nilai tukar bukan sekadar angka, melainkan variabel yang dapat mengubah arah kinerja emiten secara signifikan. Karena itu, pemantauan tren nilai tukar USD terhadap rupiah dapat menjadi dasar dalam menentukan alokasi portofolio yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar.
Jika Anda tertarik memanfaatkan potensi imbal hasil dari pergerakan nilai USD, tersedia alternatif investasi berupa produk reksa dana USD. Makmur menyediakan beberapa pilihan reksa dana USD, salah satunya adalah Sucorinvest USD Balanced Fund. Reksa dana campuran ini dikelola oleh manajer investasi (MI) untuk mengoptimalkan alokasi aset pada instrumen saham, termasuk alokasi pada emiten sektor energy seperti BUMI. Sebagai gambaran, per 13 Juli 2026 Sucorinvest USD Balanced Fund mencatatkan kinerja positif sebesar 26,50% dalam satu tahun terakhir.
Selain reksa dana USD, Anda juga dapat mempertimbangkan reksa dana campuran lain sebagai sarana diversifikasi portofolio. Salah satu contohnya adalah Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A yang mencatatkan kinerja sebesar 23,15% dalam satu tahun terakhir per 13 Juli 2026. Mengombinasikan beberapa jenis reksa dana dapat membantu menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan tingkat risiko yang sesuai dengan profil Anda.
*Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
Tentang Makmur
PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur) merupakan perusahaan yang telah berizin dan terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), serta menjadi Mitra Pemasaran Perantara Pedagang Efek Kelembagaan Level II di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makmur berkomitmen memperluas akses investasi yang inklusif, sejalan dengan visi Smart Wealth Building Made Simple, dengan mengedepankan prinsip simplicity, trust, dan clarity dalam setiap proses investasi, baik melalui reksa dana terkurasi maupun investasi saham.
Didirikan oleh para profesional teknologi dan finansial berpengalaman dari Silicon Valley dan Wall Street, Makmur memanfaatkan teknologi analitik berbasis data untuk membantu investor membangun kekayaan jangka panjang. Komitmen ini turut diakui melalui penghargaan Most Trusted Financial Brands Awards 2026 dari Investortrust dan Infovesta dalam kategori Agen Penjual Efek Reksa Dana Online.
Di Makmur, Anda juga bisa memilih lebih dari 100 produk reksa dana pilihan lainnya, baik itu reksa dana pendapatan tetap, reksa dana saham, reksa dana pasar uang, maupun reksa dana campuran. Anda bisa berinvestasi reksa dana dengan memanfaatkan promo seperti promo Makmur Anchor dan Road to Makmur.
Link: Promo di Makmur
Unduh aplikasi Makmur melalui link di bawah ini dan berikan ulasan mengenai pengalaman investasi Anda di Makmur.
Perlu diketahui, selain melalui aplikasi, Anda juga dapat menggunakan aplikasi Makmur melalui situs web jika ingin berinvestasi menggunakan laptop atau komputer. Silakan klik link di bawah ini untuk informasi lebih lanjut.
Anda juga dapat menambah wawasan dengan membaca informasi atau artikel menarik di situs web Makmur. Silakan klik link di bawah ini:
Website: Makmur.id
Editor: Merry Putri Sirait (bersertifikasi WPPE)
Penulis: Lia Andani
Key Takeaways: Dinamika pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan sementara rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada 27 Januari 2026. Keputusan tersebut tidak terlepas dari isu transparansi free float serta struktur kepemilikan saham yang dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar. Sebagai respons, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa […]
Key Takeaways: Proses cleansing dalam reksa dana syariah merupakan mekanisme yang memastikan seluruh keuntungan yang diperoleh investor bersumber dari aktivitas yang halal dan sesuai dengan prinsip Islam. Proses ini sangat penting untuk menjaga agar portofolio investasi tetap selaras dengan ketentuan syariah, sebagaimana ditetapkan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis […]
Key Takeaways: Sepanjang Juli 2026, sejumlah emiten secara resmi menyatakan kesiapannya menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Dua nama yang cukup mencuri perhatian adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), yang pada 6 Juli 2026 mulai melaksanakan distribusi saham kepada para investor. Distribusi ini menandai bahwa […]
Key Takeaways: Berinvestasi pada saham yang ditawarkan melalui Initial Public Offering (IPO) menjadi salah satu pilihan yang banyak dipertimbangkan oleh investor ritel di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya aktivitas di pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan sebanyak 50 perusahaan melakukan IPO sepanjang 2026. Pada awal Juli 2026, sudah ada sejumlah perusahaan dijadwalkan untuk melakukan IPO, antara […]
Key Takeaways: Papan Utama adalah salah satu dari tiga kategori papan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI), selain Papan Pengembangan dan Papan Akselerasi. Klasifikasi ini dibuat untuk mengelompokkan perusahaan tercatat berdasarkan karakteristik bisnis dan kinerja keuangannya. Sebagai informasi, per 9 Februari 2026, terdapat 258 saham yang tercatat di Papan Utama. Papan Utama merupakan kumpulan perusahaan […]